googleb2757ebb443295f5 Kebenaran Kristiani: Mengapa Kristus mati dan menderita
Tampilkan postingan dengan label Mengapa Kristus mati dan menderita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengapa Kristus mati dan menderita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Membuat yang bersalah menjadi benar

Karya Yesus disalib memungkinkan terjadinya suatu transaksi yang mengherankan. Dia mati sebagai ganti kita. Dia membayar hukuman mati yang patut kita terima karena dosa-dosa kita. Hal ini tidak hanya memberi kita kesempatan kedua dengan Tuhan. Dia melakukan sesuatu yang lebih radikal. Paulus menjelaskan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.'(2 Korintus 5:21). Dengan demikian, Tuhan membuat kita tidak bersalah dengan menghapuskan setiap jejak pelanggaran dan ketidak-layakan kita. Kita kemudian menjadi kudus di mata-Nya.

Hal ini mungkin nampak terlalu radikal sampai Anda memikirkan apa arti sebenarnya. Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita. Yesaya 61:10 mengatakan kepada kita bahwa Tuhan mengenakan jubah kekudusan kepada kita, yang Yesaya bandingkan dengan seorang pengantin perempuan dengan perhiasannya. Tuhan menyatakan bahwa kita tidak bersalah untuk segala sesuatu yang pernah kita lakukan, yang lalu, sekarang dan yang akan datang. Di mata-Nya, hidup kita semurni kehidupan Putra-Nya, Yesus. Pelanggaran dosa kita tidak hanya dihapuskan. Kita menjadi tak berdosa di hadapan Tuhan. Seolah-olah kita tidak pernah berdosa, tak peduli betapa buruknya masa lalu kita.

Sungguh luar biasa karya Yesus diatas kayu salib! Orang-orang yang telah menerima anugerah pembenaran ini, akan selalu punya kerinduan untuk hidup dalam kebenaran. Ia tidak akan menikmati dosa, sekalipun masih bisa berdosa. Ketika ia jatuh dalam dosa maka ia akan mengakuinya dan bertobat di hadapan Allah dan memilih menyesuaikan cara hidupnya dengan Firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus.

Terimalah dan hayatilah karya Yesus di atas salib itu, untuk membenarkan saudara dan mulailah berjalan di dalam kebenaran-Nya. Dia sudah mematahkan rantai-rantai dosa dan memberikan kemerdekaan untuk hidup dalam kebenaran untuk melayani-Nya.

Oleh Adhi Sutikno
Baca Selengkapnya...

Senin, 02 April 2012

Keselamatan kekal dari Allah

I. PENGERTIAN DOSA

Dosa pada dasarnya bukanlah suatu yang bersifat pasif, seperti: kelemahan, kesalahan atau ketidaksempurnaan. Dosa merupakan suatu permusuhan yang aktif terhadap Tuhan dan secara aktif melanggar hukum atau perintah Tuhan (1 Yohanes 3:4), sehingga menyebabkan kesalahan, kelemahan. Dosa ini diakibatkan dari manusia sendiri dengan kebebasannya menolak untuk tunduk kepada Allah yang berotoritas dan menolak untuk mengikuti petunjuk atau perintah-Nya. Dengan kebebasan sendiri, manusia memilih petunjuk Iblis, sehingga manusia tidak setia kepada Tuhan, menyimpang dari jalan dan sasaran yang benar, melanggar hukum dan perjanjian dengan Allah. Pengertian ini dapat kita lihat dari Adam dan Hawa yang dengan kebebasannya secara aktif memilih untuk mengikuti apa yang mereka mau dan cocok dengan pendapat iblis, melawan Tuhan yang berotoritas yang seharusnya mereka percayai dan sandari sepenuhnya (Kejadian 2-3). Dosa yang telah menjangkiti manusia menyebabkan manusia terpisah dengan Allah yang suci.



II. KEMATIAN ADALAH AKIBAT DOSA

Upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Maut atau kematian adalah akibat atau upah dari dosa. Manusia yang berdosa ini dikatakan telah mati. "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu" (Efesus 2:1). Kalau kita memperhatikan Efesus 2:1, dikatakan bahwa kondisi manusia yang dulu sudah mati, padahal mereka masih hidup secara fisik. Hal ini membuat kita memperhatikan arti mati di sini bukan mati tubuh atau fisik. Alkitab mengajarkan tiga (3) macam kematian, yaitu: kematian tubuh atau fisik, kematian rohani dan kematian kedua - perpisahan kekal atau penghukuman selama-lamanya.

Alkitab dari sejak mula, menyatakan upah dari suatu pelanggaran (dosa) adalah mati :

* Kejadian 2:17
LAI TB, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.
KJV, But of the tree of the knowledge of good and evil, thou shalt not eat of it: for in the day that thou eatest thereof thou shalt surely die.
Hebrewוּמֵעֵץ הַדַּעַת טֹוב וָרָע לֹא תֹאכַל מִמֶּנּוּ כִּי בְּיֹום אֲכָלְךָ מִמֶּנּוּ מֹות תָּמֽוּת ׃
Translit Interlinear, UME'ETS {dan dari pohon} HADA'AT {pengetahuan itu} TOV {yang baik} VARA' {dan yang jahat} LO' {jangan} TO'KHAL {engkau makan} MIMENU {darinya} KI {karena} BEYOM {pada hari} 'AKHALKHA {engkau makan} MIMENU {darinya} MOT {mati} TAMUT {engkau mati}

Upah kematian, harus ditebus dengan kematian. Apabila manusia ingin terlepas dari "vonis nyawa" ini, tidak bisa tidak manusia harus membayar harga-pengampunan yang setimpal, yaitu membayar dengan nyawa sesuai hukum Taurat "Nyawa ganti nyawa…" (Keluaran 21:24).


III. ALLAH MENAWARKAN KESELAMATAN

Allah melalui ketentuan hukum Taurat, menetapkan: hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), lihat ayat ini.

* Ibrani 9:22,
LAI TB, Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
KJV, And almost all things are by the law purged with blood; and without shedding of blood is no remission.
TR, και σχεδον εν αιματι παντα καθαριζεται κατα τον νομον και χωρις αιματεκχυσιας ου γινεται αφεσις
Translit, kai skhedon en haimati panta katharizetai kata ton nomon kai khôris haimatekkhusias ou ginetai aphesis


Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah". Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb :
- Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
- Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/ minyak
- Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
- Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
- Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar
diatas korban "darah" binatang orang lain).
- Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah


Penumpahan darah sebagai korban pengampunan dosa ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah, berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias.

Allah sendiri yang memberikan jalan keluar atas dosa dan kematian, yaitu dengan sistem penggantian atau substitusi. Setelah manusia berdosa, dijalankan sistem penggantian. Setelah Adam berdosa di hadapan Allah, Allah menentukan sistem penggantian dengan darah yang dicucurkan, binatang yang mati dibunuh. Pertama, ada binatang yang dibunuh untuk diambil kulitnya untuk pakaian Adam dan Hawa.

Kemudian ada korban Habel yang diterima. Ada sistem penggantian. Tetapi sistem korban orang Israel tidak mencapai puncaknya, hanya merupakan satu simbol atau bayang-bayang yang akan datang. Kalau kita bandingkan dengan Ibrani 10:1-5, binatang tidak mungkin mengganti manusia karena ada perbedaan kualitas. Yang bisa menggantikan manusia haruslah manusia juga. Maka dikatakan, tidak ada cara lain, Allah Bapa menentukan Tuhan Yesus Kristus menjadi jalan pendamaian, yakni harus mati menebus dosa, harus mati untuk membayar hutang dosa dengan memakukan surat dakwaan, surat hutang itu di kayu salib (Roma 3:25; Kol. 2:14-15). Itu cara yang Allah tentukan, dan hanya satu cara itu. Manusia bersalah kepada Allah, harus Allah yang menentukan cara pengampunan, dan cara pengampunan itu adalah melalui kematian Kristus Yesus di kayu salib - yang menggantikan.

Keselamatan dari darah yang tertumpah dari kematian Yesus Kristus, tidak akan dimengerti tanpa kita mempelajari konsep kurban dalam Perjanjian Lama.

Ada banyak pertanyaan :

BUKANKAH ALLAH BISA MENGAMPUNI SAJA?
APA PERLUNYA ALLAH MENYERAHKAN NYAWA YESUS UNTUK PENEBUSAN DOSA?



MENGAMPUNI?

Apa yang ada dalam benak anda dengan istilah 'mengampuni' ?
Allah mensyaratkan pengampunan dalam arti yang amat mendasar, yaitu keharusan bagi si pengampun untuk membayar harga, harga tebusan!

Allah yang Maha Kuasa memang berkuasa mengampuni kita di setiap waktu, namun dosa kita tidak bisa diampuni begitu saja karena Allah juga Adil, dan konsekwen dengan hukum-pokok keadilanNya adalah Dia harus menghukum setiap dosa yang kita perbuat.

Di satu pihak Allah itu Maha Kasih, mau dan bisa mengampuni. Tetapi di lain pihak Allah itu Maha Adil, apabila hanya sekadar “melupakan” atau “membiarkan” kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga, yaitu yang disebut penebusan.


Anda bertanya, mengapa ada harga yang terlibat?

Ya, pemahaman kita atas Azaz Pengampunan cenderung larut menurut arti populer saja, bukan arti murninya.

Untuk mencernakannya kembali, kini pikirkanlah ada seorang anak Anda yang berbuat dosa terhadap Anda, misalnya ia memberontak dan membakar tas kantor Anda. Anda-pun marah. Mengapa?
Karena anda merasa dirugikan oleh perbuatan tersebut. Akhirnya sang anak sadar akan perbuatan kesalahannya dan minta pengampunan, dan anda rela mengampuninya.

Mengampuni adalah rela membayar harga tebusan!

Ketika anda rela mengampuninya, itu IDENTIK dengan anda rela menyedot dan membayar harga kerugian yang tadinya anda rasakan, yaitu kerugian moril maupun materiil. Anda mengampuninya dengan jalan menebus harga tersebut! Jadi, dalam setiap pengampunan ada harga yang harus dibayar, yang menuntut suatu penebusan!.

Kini, karena sudah ditetapkan Allah sendiri bahwa setiap pelaku dosa harus dihukum mati dalam kekekalan (dengan istilah "upah dosa adalah maut", Kejadian 2:17, Roma 6:23), maka manusia tidak mungkin bisa membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati di pengadilan yang tak bisa dilunaskan dengan jasa apapun yang pernah dibuat oleh si terhukum!
Maka, diperlukan pertolongan dan kekuatan dari luar sebagai penyelamat atau penebus.

Dicontohkan satu kasus tebusan sebagai berikut :

Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap di diskotik ketika sedang diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja-hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka, sang Hakim-pun bertanya kepada si tertuduh : “Anda bersalah atau tidak bersalah?”

Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang Hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10,000,000.-- atau penjara 3 bulan. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan semua orang dalam sidang tersebut. Sang Hakim turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang 10juta dari tas-nya untuk membayar denda si gadis. Mengapa? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapak dari si gadis. Walau bagaimanapun cinta yang bapak kepada anak-gadisnya, ia tetaplah Hakim yang adil dan tidak bisa berkata : “Aku mengampuni kamu, karena kamu menyesal dan bertobat”. Atau mengatakan : “Karena cintaku kepadamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.

Hukum keadilan tidak memungkinkan sang Hakim mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya



Dan inilah analogi untuk Yesus Kristus yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun ke dunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT di kayu salib, yang tidak sanggub dibayar oleh si pendosa sendiri yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa "Anak Manusia (Yesus) datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang" (Markus 10:45).

Maka hak-qisas (hukum pembalasan yang setimpal) terhadap hutang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia : "nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan… luka ganti luka, bengkak ganti bengkak" (Keluaran 21:24). Demi menebus kematian Anda dan saya!.


Bukankah Allah bisa mengampuni saja?

Akan timbul masalah lain :

Allah itu bebas tidak terbatas? Menghalalkan segala cara demi kasihNya

Disini, teologi agama-agama yang tidak mengenal konsep penebusan Yesus (tidak mengimani anugerah Ilahi), melainkan hanya mengenal konsep usaha diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala, akan menemui dilema yang besar. Mereka tidak mempunyai cara apapun untuk merekonsiliasikan kedua sifat Allah yang saling menentang, yaitu Maha Kasih versus Maha Adil.

Bagaimana Allah bisa-bisanya Maha Kasih (yang mengampuni dosa), padahal Ia juga Maha Adil(yang menghukum dosa), sungguh kontradiktif!

Sebab, jikalau Allah menghalalkan diriNya secara bebas dalam mengampuni, semata-mata karena Ia Maka Pengasih dan penyayang, maka tentulah Ia Non-Adil, karena berkolusi, dengan tidak menghukum dosa yang seharusnya tidak dihukum. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Allah yang Maha Adil, Maha Benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut 'putih' atas sesuatu yang sebenarnya 'hitam'. Hukum dan Jalan Allah itu lurus, dan itu yang menjadikan diri Allah terbatas, karena Ia tidak bisa keluar batas dengan mengingkari diriNya sendiri :

*2 Timotius 2:13
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

Walau demikian, masih banyak orang menafsirkan bahwa Allah itu adalah Pencipta Hukum. Jadi Dia berdaulat dan berdiri sepenuhnya diatas hukum, tidak ada yang bisa membatasi Allah!.
Namun, Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan "dibatasi" oleh hakikat keberadaanNya sendiri, bukan oleh pihak luar manapun. Dia sepenuhnya dapat dipercaya dan konsisten dengan Apa yang diucapkanNya. Dia selalu berkiprah dalam jalur/ batas ucapan dan hukumNya. Dia tidak berdiri di atas Hukum.
Melainkan diriNya adalah HukumNya, dan HukumNya adalah diriNya.

Dia tidak berubah, dahulu, sekarang dan selamanya!

Maka, Firman Allah itu selalu benar dan kekal, tak ada ayat-ayat susulan yang bisa membatalkan atau menggantikan ayat-ayat terdahulu. Allah yang Maha Tahu dan Benar tidak mengkoreksi diriNya sendiri, dengan alasan apapun! Makin Dia mengkoreksi, dan makin memberi alasan, makin bukan Allah-lah Dia.

Maka Allah yang Maha Kasih sekaligus Maha Adil melakukan keduanya sekaligus! Ia dengan kasihNya datang sebagai Kurban untuk pengganti "vonis nyawa-ganti nyawa" akibat dosa yang dilakukan manusia.


PENJELASAN KEMATIAN YESUS :
KEMATIAN KURBAN DAN DARAH PERJANJIAN UNTUK PENGAMPUNAN DOSA


Kematian Yesus bukanlah kematian "martir" yang bermakna “mati demi mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh Tuhan hingga akhir hayatnya”. Seseorang bisa saja menjadi martir “sebagai tanda cinta kepada Tuhan dan kebenaranNya”, sehingga ia dibunuh dalam kemartiran dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya.

Namun kematian Yesus adalah KEMATIAN-KURBAN, dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri untuk dikorbankan (masih bisa dihindari , tetapi ia merelakan) demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah sebuah kematian “tukar-guling” yang merupakan “win-win solution” (semua pihak diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya.

Jenis kematian diatas, total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas nama Tuhan atau ‘perjuangan’ :

* 1 Korintus 13:3
LAI TB, Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
KJV, And though I bestow all my goods to feed the poor, and though I give my body to be burned, and have not charity, it profiteth me nothing.
TR, και εαν ψωμισω παντα τα υπαρχοντα μου και εαν παραδω το σωμα μου ινα καυθησωμαι αγαπην δε μη εχω ουδεν ωφελουμαι
Translit, kai ean psômisô panta ta huparkhonta mou kai ean paradô to sôma mou hina kauthêsômai agapên de mê ekhô ouden ôpheloumai


* Yakobus 1:20
LAI TB, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
KJV, For the wrath of man worketh not the righteousness of God.
TR, οργη γαρ ανδρος δικαιοσυνην θεου ου κατεργαζεται
Translit, orgê gar andros dikaiosunên theou ou katergazetai


Kematian kurban itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dalam Yesaya 52:13 sampai dengan Yesaya 53:1-12 dengan judul perikop HAMBA TUHAN yang MENDERITA. Dituliskan tentang kedatangan seorang Hamba yang akan berkorban, dinubuatkan sejak awal bahwa Ia akan menderita, dihina, dianiaya dan mati sebagai korban tebusan bagi umat yang seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya.


Ia sendiri berkata dalam :

* Lukas 24:26
LAI TB, Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
KJV, Ought not Christ to have suffered these things, and to enter into his glory?
TR, ουχι ταυτα εδει παθειν τον χριστον και εισελθειν εις την δοξαν αυτου
Translit, oukhi tauta edei pathein ton khriston kai eiselthein eis tên doxan autou

Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus tidak ada hubungannya dengan emosi, kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi melainkan justru bertujuan membayar harga tebusan yang dapat langsung menyelamatkan jiwa umatNya. Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam perkataan Yesus sendiri :

* Yohanes 10:11,17-18
10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
10:18 Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.

Sumber: sarapanpagi.org
Baca Selengkapnya...

Rabu, 28 Maret 2012

Seorang Dokter Menganalisa Kisah Penyaliban

Seorang Dokter Menganalisa soal Penyaliban; Sebuah penjelasan kedokteran mengenai apa yang diderita Yesus pada hari Ia wafat; oleh Dr. C. Truman Davis. 

Beberapa tahun lalu aku tergerak berminat soal aspek2 penderitaan jasmani maupun perasaan Yesus Kristus ketika aku membaca peristiwa penyaliban itu dalam buku Jim Bishop, "The Day Christ Died". Tiba2 saja aku sadar bahwa aku telah terlalu menganggap penyaliban itu sebagai kejadian biasa2 saja selama tahun2 yang lalu ini - bahkan praktis tak berperasaan sama sekali terhadap kengeriannya sebab sudah terbiasa dengan semua rincian kekejaman itu. Akhirnya baru aku sadar bahwa, sebagai seorang dokter, aku sendiri saja tak tahu penyebab langsung kematian Kristus. Para penulis Injil tak banyak membantu dalam hal ini. Sebab pada zaman mereka penyaliban dan pencambukan begitu umum, mereka pasti menganggap suatu pemberitaan terperinci menjadi mubazir. Karenanya maka kita cuma memperoleh kabar berbentuk kata2 yang tepat dari para penginjil: "Pilatus, setelah menyesah Yesus, menyerahkan Dia kepada mereka untuk disalibkan.... dan mereka menyalibNya." 

Meski Injil membisu mengenai rincian penyaliban Kristus, ada banyak orang yang mendalami subjek ini dimasa silam. Dalam penyelidikanku mengenai kejadian ini dari segi pandang kedokteran, aku khususnya berhutang pada Dr. Pierre Barbet, seorang ahli bedah Perancis yang melakukan riset yang selain historis juga amat mendalam dan secara luas membahas topik itu.

Suatu usaha untuk menyelidiki tak terbatasnya penderitaan spirituil maupun batiniah dari Allah yang Berinkarnasi1 dalam penebusan2 dosa manusia yang telah terjatuh adalah diluar jangkauan dan bukan maksudnya penulisan ini. Meski begitu, kita bisa mendalami beberapa detil aspek derita batin Tuhan kita dari segi fisiologi dan anatomi. Apa sebenarnya yang diderita oleh tubuh Yesus dari Nasaret selama jam-jam penyiksaan itu?

Getsemani 

Derita jasmaniah Kristus dimulai ketika ditaman Getsemani. Dari banyaknya aspek2 penderitaan awalNya, khususnya yang menarik dari segi fisiologi ialah hal keringat darah. Sepadan menariknya, sang tabib, St. Lukas, adalah satu2nya penulis injil yang memberitakan kejadian ini. Katanya, "Ia sangat ketakutan dan makin bersunguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ketanah." (Luk. 22:44).

Setiap usaha yang terbayangkan telah dipakai oleh pengajar2 modern untuk menerangkan dan mengenyampingkan gejala fenomena peluh darah ini, rupa2nya karena dibawah kesan yang salah bahwa hal itu tidak ada samasekali. Padahal akan amat menghemat waktu maupun segala usaha sia2 itu seandainya mau berkonsultasi dan mempelajari literatur medis. Meskipun amat jarang terjadi, fenomena hematidrosis, atau berkeringat darah, secara jelas dan tegas ada dokumentasinya. Dibawah tekanan berat emosi, pembuluh2 kapiler kecil2 dalam kelenjar keringat bisa pecah, sehingga mencampurkan darah dengan keringat. Proses ini saja sudah bisa menyebabkan kelemahan yang nyata dan kemungkinan kena syok.

Meskipun pengkhianatan dan penangkapan Yesus adalah bagian2 penting dari kisah sengsara Kristus, kejadian selanjutnya ini - signifikan dari perspektif segi kedokteran - ialah hal pengadilanNya didepan sidang Sanhedrin dan Kaifas, sang imam agung. Disini trauma jasmaniah pertama disiksakan. Seorang serdadu langsung menampar wajah Yesus ketika ia membisu ketika ditanyai oleh Kaifas. Lalu para pengawal istana mengikat-nutupi mataNya, mencemooh menggodaNya untuk mengenali mereka satu2 ketika ber-putar2 melewatiNya, meludahiNya, dan lalu memukuli wajahNya.

Esok paginya, sudah serba benjut dan terluka, dehidrasi, dan ditambah beban karena semalaman tanpa tidur, Yesus dibawa melalui Yerusalem ke Pretorium dari Benteng Antonia, tempat kedudukan pemerintahan dari Prokurator Yudea, yaitu Pontius Pilatus. Kita sudah mengetahui ulah usaha Pilatus yang mencoba menggeserkan tanggung jawabnya kepada Herodes Antipas, penguasa di Yudea. Tampaknya ditangan Herodes ini Yesus tidak mengalami penyiksaan dan Ia dibalikkan ke Pilatus. Disinilah kemudian, dalam menanggapi jeritan dan demo massa, Pilatus lalu menyuruh membebaskan Barabas dan menetapkan agar Yesus disesah dan disalibkan.

Persiapan penyesahan Yesus dilaksanakan atas perintah Kaisar. Tahanan itu ditelanjangi dan tangan2Nya diikatkan kesuatu balok diatas kepalaNya. Serdadu Romawipun maju kedepan dengan flagrum, atau flagellum, dalam tangannya. Ini adalah semacam cambuk pendek terdiri dari beberapa lembar kulit tebal dan berat yang diujungnya masing2 diikati dua bola timah kecil. Pencambukan dipukulkan sepenuh tenaga lagi dan lagi, terus menerus diseluruh dan sekujur pundak, punggung, dan kaki2Nya. Pada awalnya lembaran2 kulit yang diberati itu hanya menembusi kulit saja. Lalu, ketika pemecutan berlanjut, terjadilah luka2 ibarat irisan kebawah jaringan2 dibawah kulit, mulailah perembesan darah dari kapiler2 dan pembuluh darah kulit dan akhirnya menyemprotlah darah arteri dari jaringan2 otot yaang didalam.

Mula2 bola2 timah yang kecil itu menyebabkan memar dalam yang akhirnya jadi pecah akibat pukulan2 susulan. Pada akhirnya, kulit dipunggung ter-cabik2 bergantungan seperti pita2 panjang, dan seluruh bidang itu sudah tak dapat dikenali lagi sebab kini telah merupakan jaringan2 yang ter-koyak2 penuh darah. Hanya saat seorang centurion (serdadu Romawi) yang bertugas menyatakan bahwa tahanan itu sudah hampir mati, barulah pencambukan akhirnya dihentikan.

Pengolok-olokan dan ejekan

Yesus yang setengah mati dan hampir pingsan kemudian dilepas ikatannya dan dibiarkan mendelosor lunglai kelantai batu, basah kuyup oleh dan dalam darahNya sendiri. Para serdadu Romawi rupa2nya melihat ada sebuah banyolan lucu sekali dalam diri orang Yahudi udik yang menganggap dirinya raja ini. Mereka melemparkan selembar jubah keatas pundakNya dan memberikan sebatang buluh ketanganNya sebagai tongkat kebesaran. Ah.... ya, mereka juga masih membutuhkan sebuah mahkota untuk melengkapi ejekannya. Ada ranting2 lentur berduri panjang runcing, biasanya dipakai untuk menyalakan perapian batu bara dihalaman dalam gedung, ini mereka bentuk-ikat menjadi semacam mahkota kasar. Ini lalu mereka paksa benamkan keatas kepalaNya dan lagi2 banyak darah keluar ketika duri2 itu menembusi banyak pembuluh darah dikepala. Setelah bosan meng-ejek2 dan memukuli wajahNya, para serdadu mengambil kembali buluh dari tanganNya, lalu dipakainya untuk memukuli kepalaNya, lagi2 makin menancapkan duri2 kedalam kulit kepalaNya. Lalu, setelah kenyang dan jemu membaduti dan berolah raga cara sadis begitu, mereka kemudian mencopot dan menarik jubah itu dari punggungNya. Jubah itu sebelumnya sudah menempel pada bercak2 darah dan serum luka2Nya, dan penarikannya, sama seperti hal pencopotan secara kasar perban suatu pembedahan, menyebabkan sakit yang luar biasa. Dan luka2pun kembali mengalami pendarahan.

Golgota

Dalam menghormati adat kebiasaan Yahudi, orang2 Romawi itu mengembalikan pakaian2Nya. Patibulum3 salib yang berat diikatkan keatas pundakNya. Dan mulailah arak2an prosesi Kristus yang dihujat, dua penjahat, dan rincian eksekusi oleh serdadu2 Romawi dipimpin oleh seorang centurion dengan lambat bergerak menelusuri rute yang hari ini kita kenal sebagai Via Dolorosa.

Meskipun Yesus berdaya mencoba berjalan tegak, namun beratnya balok kayu, ditambah segala syok akibat kehilangan banyak darah, semuanya terlalu berat dan banyak bagiNya. Ia terjerembab dan jatuh. Balok yang kayunya begitu kasar seakan tambah mencungkili kulit yang sudah ter-cabik2 dan otot2 dipundak itu. Ia masih mencoba bangkit berdiri, tapi kekuatan otot manusia sudah terdorong sampai lewat batas kekuatannya. Si centurion, sudah gemas dan tak sabar memulai penyaliban, memilih seorang penonton berwajah Afrika Utara, Simon dari Kirene, untuk membantu memikul salib itu. Yesus mengikuti, masih tetap belepotan darah di-mana2 dan berkeringat dingin, keringat lembab akibat syok. Jarak tempuh sekitar 600 m dari Benteng Antonia ke Golgota itu akhirnya terjalani. Tahanan kemudian ditelanjangi lagi seluruhnya kecuali selembar kain cawat yang diijinkan bagi orang2 Yahudi.

Penyaliban dimulai. Kepada Yesus ditawarkan anggur campur mur, semacam analgesik, adonan pemati rasa sakit. Ia menolak minuman itu. Simon diperintahkan meletakkan patibulum dilantai, dan Yesus cepat2 didorong tertelentang kebelakang, dengan pundakNya menekan pada kayu itu. Serdadu bayaran itupun meraba2, mencari dan merasakan lekuk depresi cekung didepan pergelangan tangan. Ia palu tembuskan paku besar, persegi empat besi cor, melewati pergelanganNya dan kedalam kayu sekali, Cepat2 ia pindah kesisi satunya dan mengulang tindakan itu, cukup ber-hati2 tidak kelewat meregangkan tangan2Nya, masih membiarkan sedikit lenturan dan ruang gerak. Kemudian patibulum ini diangkat dan ditempatkan dibagian atas yang bertuliskan "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi" dipakukan pada tempatnya.

Kaki kiri didorong kebelakang menekan kaki kanan. Dengan kedua kaki diluruskan, semua jari2 menghadap kebawah, sebatang besi cor besar dipakukan menembusi lengkung telapak kaki, membiarkan lutut kaki masih melentur sedikit. Korbanpun selesailah tersalib.

Di atas Salib

Saat Yesus perlahan mulai menggelantung kebawah dan dengan makin tambahnya beban pada paku2 dipergelangan tangan, rasa sakit tak terperikan, begitu teramat menusuk, menjalar lewat semua jari2 dan melalui lengan dan tangan untuk kemudian meledak dahsyat diotak. Paku2 dipergelangan tangan menyebabkan tekanan pada saraf2 median, kelompok besar kumpulan saraf2 yang melintasi pertengahan pergelangan dan telapak tangan. Ketika Ia mendorong diriNya keatas untuk menghindari siksaan yang berlanjut ini, Ia meletakkan seluruh beban beratNya pada paku yang menembusi kakinya. Lagi2 ada arus gelombang rasa sakit dan nyeri luar biasa saat paku itu merobek saraf2 yang ada diantara tulang2 metatarsal kakiNya.

Tepat pada saat ini, terjadilah fenomena lainnya. Ketika tangan2 kelewat lelah, gelombang2 besar kram/kekejangan menerjang semua otot2, seakan mengikatnya dalam rasa sakit teramat dalam yang ber-denyut2. Akibat tibanya serangan kram ini, mustahillah untuk mendorong menegakkan diriNya. Begitu tergantung lagi pada tangan2Nya, otot2 pektoral, yaitu otot2 besar dirongga dada, dilumpuhkan, akibatnya, otot2 antarkostal, yaitu otot2 kecil diantara tulang2 iga, tidak mampu untuk berfungs. Udara bisa dihirup masuk, tapi tak bisa dihembuskan keluar. Yesus bergumul untuk menegakkan diri hanya sekedar untuk mendapatkan sesaat nafas pendek. Akhirnya, tingkat karbon dioksida naik dalam paru2 dan dalam aliran darah ditubuh, dan sebagian dari serangan kram menghilang.

Kata-kata Terakhir

Secara tak teratur, Ia masih mampu mendorong menegakkan badanNya untuk bernafas. Pastilah diantara sela2 waktu ini Ia mengucapkan ketujuh kalimat2 singkat yang telah direkam.

Pertama - saat memandang kebawah melihati serdadu2 Romawi yang melemparkan dadu2 memperebutkan selembar jubahnya yang tak berjahit itu: "Bapa, ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan."

Kedua - kepada penjahat yang bertobat: "...sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama Aku didalam Firdaus."

Ketiga - menatap kebawah memandangi Maria ibuNya, Ia berkata: "Ibu, inilah anakmu!" Lalu, berbalik melihat remaja Yohanes yang ketakutan dan dipenuhi kepiluan, murid kesayanganNya, Ia berkata: "Inilah ibumu!"

Jeritan yang keempat ialah pembukaan awal Mazmur 22: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Ia menderita berjam-jam siksaan kesakitan yang tak terbatas, gelombang dan siklus2 yang memuntir, kram sedemikan menyerikan seakan mengoyak mencopot tiap persendian tulang, sebentar2 Ia alami sebagian sesak nafas karena kurangnya zat asam dalam darah, dan rasa sakit yang begitu hebat sekali ketika jaringan punggung-Nya seperti dicacah rajam dikelupas akibat gerakan naik turun saat bergesekan dengan permukaan kayu yang kasar itu. Lalu timbullah suatu penderitaan lain: sebuah rasa sakit yang amat sangat nyeri seakan menghimpit seluruh rongga dada ketika perikardium, kantung yang mengelilingi jantung, per-lahan2 mulai terisi oleh serum dan mulai menekan jantung.

Nubuat dalam Mazmur 22:15 telah digenapi: "Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh didalam dadaku."

Kesudahannya makin cepat mendekat. Cairan tubuh yang hilang telah mencapai tingkat kritis; jantung yang tertekan berjuang untuk memompa darah berat yang kental dan lambat pada jaringan2 tubuh, dan paru2 yang tersiksa berusaha mencoba, seperti kebingungan dan serba kalut, untuk menghirup sedikit2 udara. Sementara itu jaringan2 tubuhnya yang kekeringan mengirimkan gelombang rangsangan ke otak. Yesus terengah menjerit kelima kalinya: "Aku haus." Kembali kita membaca lagi dalam nubuat Mazmur: "Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kau letakkan aku." (Mzm. 22:15).

Sebuah bunga karang/sepons yang dicelupkan dalam posca, anggur asam murahan minuman utama para legioner Romawi, didekatkan kebibir Yesus. Tubuhnya kini sudah dalam keadaan sekarat ekstrim sekali, dan Ia bisa merasakan dinginnya maut merangkak memasuki jaringan2 tubuhNya. Kesadaran ini menyebabkanNya membisikkan kata keenam, mungkin hanya sedikit lebih keras daripada sekedar suatu bisikan tersiksa: "Sudah selesai." Misi penebusan dosa telah selesai dirampungkan. Akhirnya, Ia bisa membiarkan tubuhnya untuk mati. Dengan suatu hentakan terakhir himpunan kekuatan, Ia sekali lagi menekan-injakkan kakinya yang terkoyak pada paku, meluruskan kaki2Nya, menarik napas yang lebih dalam, dan melontarkan jeritan terakhir dan ketujuhNya: "Ya Bapa, kedalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu."

Kematian 

Cara umum untuk mengakhiri suatu penyaliban ialah lewat krurifraktur, yaitu pematahan tulang2 kaki. Ini menghindari sang korban untuk menegakkan dirinya; akibatnya tekanan pada otot2 didaerah dada tidak terlepaskan, dan terjadilah percepatan proses pencekikan. Kaki2 kedua penjahat dipatahkan, tapi ketika serdadu2 mendekati Yesus, mereka melihat proses ini tidak perlu bagiNya.

Rupa2nya, untuk memastikan benar2 telah mati, legiuner itu menikamkan tombaknya diantara tulang2 iga, keatas melewati perikardium dan kedalam jantung. Yohanes 19:34b mengatakan, "dan segera mengalir keluar darah dan air." Jadi ada cairan seperti air yang mengalir keluar dari kantung pengeliling jantung dan juga darah dari dalamnya jantung. Ini adalah bukti agak konklusif setelah kematian bahwa Yesus itu mati, bukan karena mati lemas tercekik seperti biasanya akibat penyaliban, melainkan karena kegagalan jantung disebabkan oleh syok dan penyesakan serta penyempitan jantung gara2 adanya cairan di perikardium.

Kebangkitan dari maut

Lewat dan dalam kejadian2 tadi, kita telah melihat sekelumit ringkasan kejahatan yang bisa manusia tunjukkan terhadap sesamanya dan terhadap Allah. Ini merupakan gambaran yang buruk dan mungkin bisa meninggalkan kita dalam keadaan hati yang remuk redam karena sedih dan tertekan.

Tetapi penyaliban itu bukanlah akhir dari kisah ini. Bukankah kita bisa bersyukur sekali bahwa kita masih mempunyai suatu sambungan: seperti mengintip kasih pengampunan tak terbatas dari Allah pada umat manusia - karunia penebusan, mujijat kebangkitan dari alam maut, dan harapan Paskah pagi.

1. Inkarnasi
2. Penebusan
3. Bagian mendatar dari salib
4. Bagian tegak lurus dari salib
5. Sebuah tanda kecil penyataan kejahatan2 sang korban
6. Perjudian
7. Yang menyesali dosa2nya dan memohon bantuan Yesus.
8. Sebab Yesus sekarat, Ia memberikan tanggung jawab pemeliharaan ibuNya pada teman yang dipercayai.
9. Menggantikan tempat kita lewat menderita hukuman mati untuk dosa-dosa kita.

Dari Majalah New Wine, April 1982. 
Digunakan dengan ijin. Terbitan asli di Arizona Medicine, Maret 1965, Arizona Medical Association.
Dr. C. Truman Davis adalah lulusan Universitas Tennessee Jurusan Farmasi. Beliau berpraktek ophthalmologist, seorang pendeta, dan pengarang buku mengenai obat-obatan dan Alkitab. 
Catatan Editor: Jika Yesus tetap mati, kekristenan akan menjadi tidak berarti selain dari sebuah janji kosong. Tetapi tiga hari setelah kematianNya, Dia bangkit kembali dari kematian. Inilah mujizat kebangkitan, yang dirayakan orang Kristen melalui Paskah. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai kebangkitan, bacalah Kitab Injil Yohanes Pasal 20 dan 21.

Sumber: sarapanpagi.org
Baca Selengkapnya...

Untuk belajar taat dan disempurnakan

"Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya - [Ibrani 5:8] "Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan - yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan - [Ibrani 2:10] Surat yang mengatakan bahwa Kristus "belajar taat" melalui penderitaan, bahwa Dia "[di]sempurnakan" dengan penderitaan, adalah surat yang sama yang juga mengatakan bahwa Dia tidak berdosa: "Sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15). Ajaran ini disampaikan secara konsisten di dalam seluruh Alkitab. Kristus tidak berdosa. Walaupun Dia adalah Anak Allah, Dia juga adalah manusia sejati, yang pernah merasakan segala pencobaan, keinginan dan kelemahan fisik seperti yang kita rasakan. Dia pernah merasa lapar (Matius 21:8), dan merasa marah serta sedih (Markus 3:5), dan merasa sakit (Matius 17:12). Tetapi hati-Nya secara sempurna mengasihi Allah dan Dia bertindak sesuai dengan kasih tersebut: "Ia tidak berbuat dosa dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya" (1 Petrus 2:22). Oleh karena itu, ketika Yesus "belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya", ini bukan berarti Dia belajar untuk menghentikan ketidaktaatan-Nya. Makna dari ayat ini adalah bahwa di dalam setiap pencobaan, Dia belajar dalam praktik - dan di dalam kesengsaraan - apa yang dimaksudkan dengan mentaati. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Dia "[di]sempurnakan....dengan penderitaan," ini bukan berarti Dia secara perlahan-lahan menghilangkan kekurangan yang ada pada diriNya. Makna ayat ini adalah bahwa Dia secara bertahap menggenapi kebenaran dan keadilan yang sempurna yang harus dimiliki-Nya agar bisa menyelamatkan kita. Itulah yang dikatakan-Nya pada saat Dia dibaptis. Dia tidak perlu dibabtis karena Dia tidak berdosa. Tetapi Dia menjelaskan kepada Yohanes Pembaptis, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15). Maksudnya adalah: Jika Anak Allah bergerak dari inkarnasi kepada Salib tanpa menjalani kehidupan yang penuh pencobaan dan penderitaan untuk menguji kebenaran dan kasih-Nya, maka Dia bukanlah Juruselamat yang sesuai bagi manusia. PenderitaanNya bukan hanya karena menanggung murka Allah. Penderitaan-Nya juga menggenapkan kemanusiaan-Nya dan menjadikan Dia layak memanggil kita sebagai saudara (Ibrani 2:17). Baca Selengkapnya...

Rabu, 21 Maret 2012

Untuk menanggung murka Allah

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" - [Galatia 3:13].
Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian (propisiasi) karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya - [Roma 3:25].

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian [propisiasi] bagi dosa-dosa kita - [1 Yohanes 4:10].

Andaikata Allah tidak adil, tidak akan ada tuntutan terhadap Anak-nya untuk menderita dan mati. Andaikata Allah tidak kasih, tidak akan ada kerelaan untuk mengaruniakan Anak-Nya untuk menderita dan mati. Tetapi Allah adalah adil dan kasih. Oleh karena itu, kasih-Nya rela untuk memenuhi tuntutan keadilan-Nya.

Hukum Allah menuntut, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:5). Tetapi kita lebih mengasihi hal lain. Inilah dosa - tidak menghormati Allah dengan lebih memilih hal lain daripada diri-Nya, dan bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Oleh karena itu, Alkitab berkata, "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Kita mendahulukan apa yang paling kita sukai. Sayangnya, yang kita sukai bukanlah Allah.

Oleh sebab itu, dosa bukan perkara kecil, karena dosa bukan melawan Pemegang Kedaulatan yang kecil. Seriusnya hinaan meningkat sesuai dignitas pihak yang dihina. Sang Pencipta alam semesta seharusnya berhak mendapatkan hormat dan pujian serta loyalitas yang tak terbatas. Oleh karena itu, kegagalan dalam mengasihi Dia bukanlah perkara yang sepele - ini adalah pengkhianatan. Kegagalan ini mencoreng nama baik Allah dan menghancurkan kebahagiaan manusia.

Karena Allah itu adil, Dia tidak serta merta mengabaikan kejahatan ini. Dia merasakan murka yang kudus terhadap kejahatan ini. Kejahatan ini layak dihukum, dan dia menegaskannya: "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 6:23). "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati" (Yehezkiel 18:4).

Terdapat kutuk yang kudus yang membayangi semua dosa. Tidak menghukum dosa berarti melakukan ketidakadilan. Ini akan menyebabkan didukungnya sikap menghina Allah. Kebohongan akan merajalela dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, Allah berkata, "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10; Ulangan 27:26).

Tetapi kasih Allah tidak terhenti karena kutuk yang membayangi manusia yang telah berdosa. Allah tidak puas dengan menyatakan murka, tidak peduli dengan kudusnya murka tersebut. Maka Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menanggung murka-Nya dan menanggung kutuk tersebut demi semua manusia yang percaya kepada-Nya. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita" (Galatia 3:13).

Inilah arti dari "jalan pendamaian" atau propisiasi dalam kutipan ayat diatas (Roma 3:25). Propisiasi berarti murka Allah diredakan karena telah disediakan pengganti yang setimpal yang menanggung murka tersebut. Pengganti itu disediakan oleh Allah sendiri. Sang Pengganti, Yesus Kristus, tidak hanya tidak hanya membatalkan penanggungan murka Allah kepada orang berdosa; Dia menanggung murka tersebut dengan mengalihkannya kepada diri-Nya. Murka Allah itu adil, dan murka itu telah dipuaskan, bukannya ditiadakan.

Marilah kita jangan bermain-main dengan Allah atau meremehkan kasih-Nya. Kita tidak akan pernah terkesima akan kasih Allah sampai kita menyadari betapa seriusnya dosa kita dan keadilan murka-Nya terhadap kita. Tetapi, ketika oleh anugerah, kita disadarkan akan ketidaklayakan kita, kita boleh melihat kepada penderitaan dan kematian Kristus dan berkata, "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian (propisiasi) bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4:10).

Sumber: Buku The Passion of Jesus Christ oleh John Piper.
Baca Selengkapnya...

Rabu, 14 Maret 2012

Yesus membatalkan tuntutan hukum Taurat terhadap kita

"Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu...telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukanNya pada kayu Salib" - Kolose 2:13-14.

Sangatlah bodoh jika kita memiliki pemikiran bahwa perbuatan baik kita pada suatu hari nanti akan cukup untuk membayar keburukan yang kita lakukan. Ada dua alasan mengapa kita mengatakan pemikiran itu bodoh.

Pertama, pemikiran itu sama sekali tidak benar. Semua perbuatan baik kita pun tidak sempurna karena kita tidak memuliakan Tuhan dalam cara kita melakukannya. Apakah kita melakukan kebaikan dalam ketergantungan dengan penuh sukacita pada Tuhan dengan tujuan menyatakan kemuliaanNya? Apakah kita telah memenuhi perintah untuk melayani "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan didalam segala sesuatu karena Yesus Kristus" (1 Petrus 4:11)?

Apa yang harus kita lakukan untuk menjawab Firman Tuhan, "Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa (Roma 14:23)? Menurut saya, kita seharusnya tidak berkata apa-apa. "Segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup dibawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut (Roma 3:19). Kita tidak akan berkata apapun. Merupakan kebodohan jika kita mengira bahwa kebaikan kita akan cukup untuk membayar kejahatan kita di hadapan Allah. Tanpa iman kepada Kristus, perbuatan kita hanyalah suatu pemberontakan.

Alasan kedua mengapa mengharapkan perbuatan baik untuk keselamatan kita merupakan kebodohan adalah karena ini bukan cara Tuhan dalam menyelamatkan. Jika kita diselamatkan dari akibat perbuatan jahat kita, itu pasti bukan dikarenakan perbuatan baik kita lebih banyak daripada perbuatan buruk kita. Tetapi dikarenakan "surat hutang [kita]" di Sorga telah dipakukan pada Salib Kristus. Tuhan tidak menyelamatkan orang berdosa dengan menimbang-nimbang perbuatan mereka. Tidak ada harapan bagi keselamatan di dalam perbuatan baik kita. Pengharapan hanya datang melalui penderitaan dan kematian Kristus.

Tidak ada keselamatan dengan cara menyeimbangkan perbuatan baik dengan perbuatan buruk. Keselamatan diberikan melalui penghapusan hutang. Catatan perbuatan jahat kita (termasuk perbuatan baik yang tidak sempurna yang kita lakukan), ditambah hukuman yang harus diterima, harus dihapus - bukan diseimbangkan. Inilah yang dikaruniakan Kristus melalui penderitaan dan kematianNya.

Penghapusan terjadi ketika semua perbuatan jahat kita "[di]pakukan" pada kayu Salib" (Kolose 2:14). Bagaimana bisa catatan semua hutang itu dipakukan di atas kayu Salib? Bukan kertas yang dipaku diatas kayu Salib, tetapi Kristus. Kristuslah yang menanggung semua akibat perbuatan buruk (dan baik) kita. Dia menanggung hukumannya. Dia menempatkan keselamatan saya pada landasan yang sama sekali berbeda. Dia menjadi satu-satunya harapan saya. Dan beriman kepada-Nya merupakan satu-satunya jalan saya kepada Allah.




Yohanes 14:6, Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.


Dikutip dari buku "The Passion of Jesus Christ" karangan John Piper.
Baca Selengkapnya...