IRAN, Teheran (MP) -- Setahun ditahan di Penjara Evin di Iran, Pastor Saeed Abedini diberitakan telah membawa lebih dari 30 orang mengenal Yesus Kristus (Isa al-Masih).
Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat.
"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com.
Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak.
Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat.
"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.
"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya.
Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000.
Sumber : Menarapenjaga.blogspot.com
Baca Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label underground church. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label underground church. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 September 2013
Selasa, 24 September 2013
Ketaatan Sister Chang
Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2 Kor 2:9.
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Senin, 23 September 2013
Kesaksian Enoch Wang (MUST READ TESTIMONY!!!)
Enoch Wang adalah pemimpin sebuah gerakan Kristen yang tumbuh dari ajaran Watchman Nee. Saat ini gerakan ini sudah mencapai jutaan orang percaya di seluruh Cina. Saudara Enoch telah menghabiskan 16 tahun dari 20 tahun terakhir ini di penjara demi Injil. Hanya setelah beberapa bulan memberikan wawancara ini, ia ditangkap lagi. Pemimpin penting dari gereja Cina ini berbicara tentang arti gerakan Kembali ke Yerusalem bagi diri-Nya dan ia membagikan sebuah kesaksian luar biasa yang sangat terkenal dan diteguhkan kebenarannya oleh banyak pemimpin gereja di Cina.
Saya pertama kali menjadi seorang Kristen pada tahun 1969 â yaitu saat berlangsungnya Revolusi Kebudayaan. Saat itu saya adalah seorang pimpinan Pasukan Tentara Merah Komunis. Iman saya kepada Allah pada tahun pertama itu sangat dangkal. Pada tahun 1970 saya sungguh-sungguh menjadi seorang anggota partai Komunis, sekalipun saya juga seorang pengikut Kristus! Tanpa menunggu lama, saya dipromosikan dalam posisi kepemimpinan Liga Kaum Muda Komunis, dan pada tahun 1972 saya ditugaskan untuk bekerja di sebuah pabrik senjata milik tentara pembebasan Cina. Barulah pada tahun 1973 saya menjadi serius tentang melayani Tuhan Yesus.
Pertama kali saya masuk penjara karena iman saya kepada Allah adalah dari tahun 1982 hingga 1994. Mereka tidak senang dengan kenyataan bahwa seorang Pasukan Tentara Merah yang ateis dan seorang pemimpin Liga Kaum Muda Komunis sekarang adalah seorang Pendeta Kristen! Dalam tahun-tahun itu mereka berusaha agar saya berpaling dari Tuhan, tetapi karena kasih karunia Allah mereka tidak bisa mengambil harta Allah di dalam hati saya.
Ketika saya ditangkap, putri kecil kami baru berusia tiga tahun. Adalah sangat menyakitkan dipisahkan dari istri dan anak saya, tetapi saat itu saya berharap bahwa orang-orang Kristen setempat bisa mengurus mereka saat saya tidak ada. Pihak penguasa mengetahui hal ini sehingga mereka memutuskan untuk mengawasi keluarga saya untuk mendeteksi apakah mereka memperoleh bantuan dari luar. Saya dihukum sebagai seorang penentang Revolusi dan seorang pengkhianat â sebuah kejahatan paling buruk di Cina. Siapapun yang didapati mencoba untuk menolong keluarga seorang Penentang Revolusi akan dituduh melakukan kejahatan yang sama, sehingga ketakutan akan hukuman akan membuat kawan-kawan Kristen saya tidak bisa membantu keluarga saya.
Kami tinggal di sebuah tanah pertanian, tetapi istri saya tdak tahu bagaimana menanam dan menuai padi, sehingga keluarga saya segera mengalami kelaparan dan menjalani suatu masa yang sangat sulit. Pada musim panas pertama, istri saya berusaha untuk memanen jagung di ladang kami sementara putri saya tinggal di rumah. Usianya yang baru menginjak empat tahun, ia telah belajar bagaimana memasak sehingga ia bisa membantu ibunya! Ia bahkan telah belajar bagaimana menyalakan api dan menanak air untuk memasak mi, atau masakan sederhana lainnya.
Tekanan terhadap putri kecil kami begitu besar. Tidak ada seorang anakpun yang seharusnya menghadapi kehidupan seperti yang harus ia jalani, tetapi Tuhan membantu mereka dan saat ini putri saya adalah seorang wanita muda yang cantik dan melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya.
Setelah saya dipindahkan ke sebuah kamp kerja paksa di sebuah wilayah lain dari provinsi kami, istri dan putrid saya juga pindah ke kota itu agar mereka bisa terus-menerus menjenguk saya. Selama bertahun-tahun, istri saya yang tercinta membesarkan putrid saya sendirian, tanpa dukungan dari sesama orang Kristen, tanpa suami dan tanpa uang. Kadang-kadang mereka harus mengais-ngais tong sampah untuk mencari remah makanan yang bisa mereka makan atau menemukan beberapa barang yang bisa mereka jual di pasar demi beberapa sen uang. Di saat lain, beberapa kali mereka terpaksa mengemis. Dalam sebuah kesempatan, ketika ia berada di titik terendahnya, Allah memberinya penglihatan akan Surga yang mendorong imannya dan membantunya untuk terus melangkah.
Banyak orang di seluruh dunia mendoakan para pendeta di Cina saat mereka dipenjarakan, dan kami berterimakasih untuk dukungan ini. Akan tetapi, perlu diingat juga untuk mendoakan keluarga para pendeta itu, karena penderitaan mereka seringkali lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang ada di dalam penjara. Lagipula, setidaknya saya memperoleh jatah makan setiap hari walau hanya makanan berkualitas rendah.
Kunjungan dari keluarga saya merupakan pengalaman yang pahit-manis. Mereka tidak pernah mengeluh atas kehidupan mereka, tetapi tubuh kurus kurang gizi mereka mengungkapkan pergulatan mereka yang berat. Saya rindu menemui mereka dan merasa dikuatkan saat mereka datang. Tetapi penderitaan karena mengetahui apa yang sedang mereka alami adalah penganiayaan terburuk yang bisa ditimpakan pihak penguasa kepada saya.
Putri saya tidak bisa bersekolah karena kami tidak memiliki uang untuk sekadar membeli buku atau seragam sekolah. Selain itu anak-anak kaum âkontrarevolusiâ diejek dan dilecehkan oleh para guru dan murid-murid lainnya. Saat saya dibebaskan dari penjara, orang-orang percaya di gereja berkumpul dan memutuskan untuk menyekolahkan putri saya ke universitas untuk mengejar ketertinggalan dari tahun-tahun dimana ia harus kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tuhan telah menolongnya dan tahun ini ia lulus.
Ketika saya akhirnya dibebaskan pada tahun 1994, saya pikir kami akan mengalami pertemuan kembali yang menggembirakan, tetapi saya tidak sepenuhnya menyadari apa yang telah istri dan putri saya alami selama tahun-tahun tersebut. Begitu banyak emosi dan penderitaan yang telah menumpuk selama 13 tahun tertumpah seperti banjir. Saya dan istri saya harus kembali memulai membangun hubungan kami dari awal. Hanya karena kemurahan kasih karunia Tuhan Yesus kami bisa mengalami kemajuan. Sekarang segala sesuatunya telah menjadi baik dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya seorang pasangan yang luar biasa. Tanpa istri saya, saya tidak bisa apa-apa! Tuhan selalu baik bagi kami.
Saat saya masuk penjara, saya beranggapan bahwa gereja saya benar-benar secara doktrin dan praktek, dan bahwa kelompok gereja lain di Cina melakukan kesalahan serius. Karena itu, pada tahun-tahun awal saya kurang atau tidak memiliki hubungan dengan tubuh Kristus lainnya di Cina, karena keyakinan bahwa saya melayani Allah dengan menghindari berhubungan dengan mereka. Barulah setelah saya dibebaskan dari penjara saya belajar untuk memiliki hati Allah bagi seluruh anak-anakNya.
Pada tahun 1997, saat kehidupan keluarga kami semakin mapan, saya ditangkap lagi dan menghabiskan tiga tahun lagi dipenjara. Hal yang sama terjadi saat Brother Yun dan Xu ditangkap, maupun banyak pemimpin gereja rumah lainnya. Saya sedang di dalam penjara ketika Allah secara ajaib memungkinkan Yun bisa meloloskan diri dari penjara, meskipun kakinya telah dipukuli habis-habisan sehingga ia dikenal sebagai âsi pincangâ. Allah secara adikodrati membuka pintu bagi Yun untuk melarikan diri. Saya adalah saksi dari kenyataan bahwa âapabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membukaâ (Wahyu 3:7). Saya ingin membagikan suatu bagian dari kesaksian saya yang langsung terkait dengan visi Kembali ke Yerusalem.
Pada tahun 1995, saya dan istri saya memiliki seorang putri lagi. Saya berusia 45 tahun dan tidak berharap menjadi ayah lagi. Alkitab berkata, âSesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.â (Mazmur 127:3). Kami sangat senang.
Pada Hari Tahun Baru 1997, sebuah pertemuan gabungan diadakan oleh Brother Yun di dekat kota tempat tinggal saya. Para pemimpin dari berbagai jaringan gereja rumah diundang untuk hadir agar kami bisa bersekutu satu dengan yang lain, berdoa bersama, dan meruntuhkan tembok pemisah yang ada diantara berbagai kelompok gereja yang berlainan. Saya sangat ingin hadir karena Tuhan telah menunjukkan kepada saya bahwa kesatuan di dalam gerakan gereja rumah adalah sangat penting jika kami ingin memajukan Injil sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Sebelum kami saling mengampuni dan melakukan rekonsiliasi, saya yakin bahwa Allah tidak akan pernah sepenuhnya memberkati pekerjaan kami.
Pada saat itu keluarga saya sedang dicari polisi. Kami tinggal di lantai empat sebuah apartemen yang masih dalam proses pembangunan. Kami tidak bisa memperoleh tempat tinggal yang wajar karena untuk melakukannya kami harus mendaftar pada penguasa setempat, yang tentu saja akan segera membuat kami tertangkap.
Di pagi hari ketika saya harus berangkat ke pertemuan gabungan itu, saya sedang berbicara di telepon saat saya mendengar teriakan. Istri saya lari memasuki ruangan sambil berteriak histeris. Putri tertua saya, yang berusia 18 tahun, tengah menggendong adiknya, yang saat itu berusia 15 bulan, diatas balkon sambil melihat ke jalan. Entah bagaimana bayi kami terlepas dari gendongannya. Ia jatuh dari lantai empat dengan kepala lebih dahulu mendarat diatas setumpuk batu bata yang ada di jalan.
Istri saya menggendong putri kecil kami sambil menangis. Ia berkata,âCepat, kita harus membawanya ke rumah sakit segera!â Saya segera bisa melihat bahwa bayi itu sudah meninggal dunia. Kepalanya terbentur dan sebagian dari lapisan otaknya keluar melalui bagian depan tengkoraknya yang retak.
Saya berkata, âTidak ada gunanya pergi ke rumah sakit. Ia sudah meninggal dunia. Tidak ada apapun yang bisa dilakukan oleh rumah sakit untuk memperbaiki kondisinya.â Sebuah gejolak emosi menguasai saya. Di satu sisi saya tahu bahwa ia sudah meninggal dunia, sehingga tidak perlu pergi ke rumah sakit. Saya juga tahu bahwa jika kami pergi ke rumah sakit pihak berwenang akan segera mengetahui bahwa kami bukan penduduk yang terdaftar, dan saya akan segera ditangkap dan dikirim kembali ke penjara, kemungkinan besar dengan tuduhan membunuh bayi saya sendiri. Kami akan mendapat masalah karena tinggal secara illegal di sebuah bangunan yang belum selesai, dan keluarga yang telah mengijinkan kami tinggal disana juga akan mendapatkan kesulitan.
Saya juga merasa bahwa insiden ini merupakan serangan langsung dari setan yang bermaksud untuk mengalihkan perhatian saya dan menghalangi saya dan rekan-rekan kerja saya yang akan menghadiri pertemuan gabungan yang penting itu. Setan tidak senang ketika umat Allah berkumpul bersama untuk meruntuhkan tembok-tembok pemisah diantara mereka. Iblis selama bertahun-tahun secara diam-diam mendirikan tembok-tembok pemisah berupa sikap tidak mengampuni, kesalahpahaman, dan prasangka. Saya saat itu tidak terkejut bahwa iblis akan melakukan apapun untuk menghalangi pertemuan itu berlangsung.
Saya pun berlutut dan berdoa. Saya dalam keadaan marah, terguncang dan berduka pada saat yang bersamaan. Saya berkata, âTuhan jika ini adalah kehendakMu bagi gereja di Cina untuk bersatu, maka aku berdoa kepadaMu agar Engkau menghidupkan kembali putriku. Aku berdoa agar hari ini Engkau mengembalikan napas kehidupan ke dalam tubuhnya, besok Engkau akan membuatnya berbicara, dan lusa ia akan kembali bisa berjalan. Tetapi, jika bukan kehendakMu bagi gereja di Cina untuk bersatu, maka aku akan bersembunyi dan tidak akan pernah lagi memberitakan Injil-Mu.â Tentu saja saya akan selalu mempercayai Tuhan, tetapi saya hanya akan menarik diri dari garis depan dan memutuskan untuk menjalani kehidupan yang damai dan tenang.
Sebagian orang Kristen mungkin akan berkata, saya tidak mempunyai hak untuk berbicara kepada Allah seperti itu, tetapi Anda perlu memahami bahwa saya sedang dalam keadaan terguncang dan marah dan saya tahu bahwa kecelakaan ini adalah sebuah tindakan Iblis yang sengaja dirancang untuk menghalangi saya datang ke pertemuan gabungan itu.
Istri saya terus memeluk bayi itu dan menggendong tubuh tanpa nyawa itu. Putri cantik kami telah berhenti bernapas, jantungnya berhenti berdenyut, dan wajahnya pucat.
Pertemuan it akan dimulai pada malam itu di sebuah lokasi sekitar 20 mil jauhnya dari rumah kami. Saya memutuskan untuk mengesampingkan rasa duka saya dan tetap datang ke pertemuan itu sebagai tanda sikap tidak tunduk kepada setan dan sebagai sebuah tindakan iman kepada Allah. Saya juga memutuskan untuk tidak menangis, sekalipun saya sangat berduka di dalam hati saya. Saya ingin menunjukkan kepada iblis bahwa ia tidak akan pernah bisa mengintimidasi atau menghentikan saya.
Di akhir sore itu, saya meninggalkan rumah saya menuju ke pertemuan itu, dibungkus pakaian hangat untuk menghadapi dinginnya udara musim dingin. Saat saya meninggalkan rumah istri saya masih menggendong bayi itu sambil menangis. Bagian otak yang keluar masih terlihat, mengalir keluar dari retakan tulang tengkoraknya. Putri tertua saya hancur hatinya, menyalahkan dirinya karena telah menjatuhkan adiknya dari balkon.
Ketika saya sampai di pertemuan, Brother Yun telah mulai berbicara. Saya dan rekan-rekan pelayanan saya mengambil tempat duduk kami dan tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang telah terjadi. Selama makan malam, kami memutuskan untuk tidak makan. Sebaliknya, kami berpuasa dan berdoa bersama-sama di ruang pertemuan, tetapi saya masih belum mau menceritakan apa yang telah terjadi kepada orang lain. Saya terus mengingatkan Tuhan betapa putri kecil kami adalah berkat yang luar biasa, dan betapa kelahirannya telah mendatangan sukacita bagi saya di usia saya yang ke-45 tahun. Saya menguji hati saya untuk melihat apakah hal ini terjadi karena ada dosa di dalam kehidupan saya.
Saya berkata kepada Tuhan, jika hal ini terjadi karena saya telah melukai hati-Nya maka saya tidak mempunyai alas an mengeluh. âApakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!â (Ayub 2:10, 1:21).
Setelah pertemuan hari pertama itu ditutup, saya tahu keluarga saya membutuhkan saya sehingga saya segera kembali ke rumah dimana saya mendapati istri dan putri saya masih menangis. Mata mereka merah dan bengkak. Istri saya masih menggendong bayi tak bernyawa itu dengan tangannya. Saya membungkuk maju dan mendoakan bayi saya di dalam nama Yesus Kristus. Tiba-tiba saya mendengar seperti suara embusan nafas lemah dari dalam mulutnya, seperti bunyi sendawa kecil. Saya sadar bahwa ia pasti bernafas dan saya, âTerpujilah Tuhan!â Kami berempat tidur di ruang yang sama, tetapi malam itu tak satupun dari kami yang tidur. Karena emosi kami sudah kering, kami hanya duduk disana berdoa secara perlahan. Pada pukul lima pagi, saya bangun dan kembali ke pertemuan gabungan itu dan menghabiskan seluruh hari dengan berdoa dan berdiskusi dengan sesame pemimpin gereja rumah lainnya, yang masih tidak tahu apa yang telah terjadi. Pada pukul sepuluh malam, pertemuan itu berakhir dan saya kembali pulang ke rumah.
Ketika saya memasuki pintu rumah kami, saya menemukan suasana yang berbeda. Putus asa telah berganti dengan sukacita. Istri saya menyusui putri kecil kami. Ia telah bernapas dengan baik, pipinya telah kembali memerah, dan ia lapar! Allah secara ajaib telah menyembuhkan tengkoraknya, dan kulit telah membungkus bagian otaknya yang tadi terlihat. Tidak ada bantuan medis yang telah diberikan kepadanya, kecuali dari Dokter Terbesar, Yesus. Yang tersisa hanyalah luka kecil di tengah dahinya.
Terlepas dari perbaikan yang nyata ini, ia masih jauh dari normal. Ia tidak bisa berjalan atau bergerak, matanya tertutup, dan ia hanya terbaring disana tidak bergerak kecuali bernapas dan menyusu.
Saya memanggil namanya, âSheng Lingâ, yang berarti âberkat rohaniâ. Ketika ia mendengar suara saya, ia berhenti minum susu dan sebuah suara kecil keluar dari mulutnya, seolah-olah ia memberi salam kepada saya. Malam itu saya bisa tidur dengan tenang, karena tahu bahwa Tuhan sedang melakukan sebuah keajaiban besar.
Keesokan paginya, saya kembali bangun awal dan menuju pertemuan di hari ketiga. Ada banyak pertobatan dan pengakuan dosa dari para pemimpin dari berbagai kelompok gereja. Kami mendengar berjam-jam kesaksian tentang bagaimana Allah sedang bekerja di setiap jaringan gereja rumah, dan kami semua menyadari bahwa Tuhan menyertai kelompok gereja lainnya sebagaimana Ia beserta dengan kami. Tahun-tahun kepahitan dan perpecahan runtuh dibawah kaki salib. Air mata mengalir saat kami saling berangkulan dan saling menerima sebagai saudara sejati di dalam Kristus. Iblis tentu sangat marah bahwa kami berkumpul bersama sebagai umat Allah yang bersatu. Ia ingin agar kami terus bekerja secara terpisah, dilemahkan oleh dinding-dinding pemisah. Keinginan Yesus adalah agar anak-anak-Nya berjalan bersama-sama. Dia berdoa dalam Yohanes 17:22-23,
"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. "
Saya yakin bahwa tanpa pertemuan itu, dan pertemuan lainnnya seperti ini, tidak aka nada kesatuan diantara berbagai ranting yang berlainan dari gereja rumah di Cina saat ini. Dalam kondisi kami sebelumnya yang tercerai berai, tidak mungkin kami akan memiliki kemungkinan untuk menaati panggilan Allah untuk membawa Injil melalui Negara-negara yang belum mengenal Allah kembali ke Yerusalem.
Ketika saya kembali ke rumah pada malam itu, istri saya masih menyusui putri saya. Saya mengulurkan lengan saya dan berkata, âSheng Ling, mari ayah gendong kamu.â Ia mengambil satu langkah ke arah saya dan limbung, tetapi kami semua gembira karena ia telah mengambil langkah pertamanya, hanya dua hari setelah ia meninggal dunia dengan otak keluar dari tengkoraknya yang retak. Saya mulai menangis dalam sukacita.
Pada malam ketiga inilah saya menceritakan kepada keluarga saya apa yang telah saya doakan ketika Sheng Ling jatuh dari jendela. Saya berkata kepada mereka, âKetika kamu pertama kali mengambil tubuhnya dari jalan, saya berlutut dan berkata kepada Allah, âAku berdoa agar Engkau mengembalikan nyawanya kedalam tubuhnya, besok Engkau akan membuatnya berbicara, dan lusa ia akan bisa berjalan.â
Ketika mereka mendengar hal ini, mereka sangat bersukacita, karena mengetahui bahwa Allah telah melakukan suatu keajaiban yang besar.
Pada pagi keempat, saya pergi ke pertemuan dengan sukacita yang sangat besar di dalam hati saya. Akan tetapi, antusiasme saya mendadak surut ketika sejumlah pemimpin gereja rumah mengacungkan telunjuknya kepada saya dan berkata, âMereka yang menghadiri pertemuan ini diharapkan untuk tinggal disini. Komitmen untuk bersatu seperti apakah yang Anda miliki jika untuk tetap bersama dengan kami pun Anda tidak bisa, sebaliknya setiap malam Anda justru tergesa-gesa pulang ke rumah begitu pertemuan berakhir?â Saya memang belum menceritakan apapun kepada pemimpin lainnya dalam pertemuan itu, sehingga mereka tidak tahu apa yang tengah terjadi dalam hidup saya.
Dalam sesi terakhir dari pertemuan itu, Brother Yun dijadwalkan untuk berbicara, kemudian para pemimpin bermaksud untuk berdoa bersama sekali lagi sebelum setiap orang kembali ke rumahnya masing-masing. Ketika ia tengah berbicara, putrid tertua saya memasuki ruangan dan dengan girang mulai membisikkan sesuatu ke telinga saya. Ia buru-buru datang ke tempat pertemuan itu untuk memberi tahu saya bahwa adiknya sekarang telah berjalan dan berbicara dengan normal! Pada tahap itulah saya merasa harus berdiri. Saya berkata kepada setiap orang, Saya tahu sekarang bahwa adalah kehendak Tuhan bagi gereja di Cina untuk bersatu!â Di hadapan lebih dari seratus orang pemimpin, saya memberikan kesaksian tentang apa yang telah terjadi pada putri kecil saya. Setiap orang memuji Tuhan. Mereka yang menegur saya karena selalu pulang setiap malam menemui saya dan meminta maaf.
Tuhan bukan hanya menyembuhkan Sheng ling dari kecelakaan itu, melainkan ia juga telah memberkatinya dengan cara yang sangat istimewa. Ia sekarang berusia delapan tahun dan sangat cerdas sehingga di sekolah ia melompat setahun lebih awal dari teman-teman sekelasnya! Ia tidak mengalami dampak kerusakan jangka panjang sebagai akibat kecelakaan yang dialaminya. Yang tersisa hanyalah tanda luka kecil di dahinya. Tampaknya Tuhan memang meninggalkan luka kecil itu untuk mengingatkan kami akan betapa besar kuasa dan kasih karuniaNya.
Anda semua silakan datang dan mengunjungi kami kapanpun! Anda akan melihat bahwa Sheng ling sekarang adalah seorang gadis kecil yang energik dan cerdas, yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Namanya yang bermakna âberkat rohaniâ sangat cocok untuknya.
Tuhan pertama kali berbicara kepada saya tentang membawa Injil kembali ke Yerusalem pada tahun 1979. Sejak itu, visi ini telah semakin menjadi tujuan saya dalam melayani Tuhan. Ini adalah perintah yang saya terima dari Tuhan, panggilanNya kepada saya.
Doakan agar gereja di Cina mengenal kehendak Allah sehingga kami akan mempersembahkan diri kami kepada Allah tanpa mendua hati dan ragu-ragu. Doakan agar semakin banyak orang percaya di Cina yang memiliki beban untuk membawa Injil kembali ke Yerusalem.
Doakan agar kami mampu bekerja sama dengan sesama orang percaya dari seluruh dunia sehingga kita bisa menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama. Ketika semua bangsa telah menerima kesaksian Injil, akhir zaman akan datang.
Baca Selengkapnya...
Jumat, 15 Juni 2012
Kontras Luncurkan Panduan Agar Polisi Lindungi Kelompok Minoritas
LSM HAM Kontras meluncurkan buku panduan berjudul "Pemolisian dan Hak Berkeyakinan, Beragama dan Beribadah". Buku itu dibuat untuk mendorong polisi agar bertanggung jawab melindungi hak-hak kelompok minoritas? Koordinator LSM Kontras Haris Azhar mengungkapkan, selama ini polisi gamang menindak kasus pelanggaran hak berkeyakinan. Polisi cenderung tunduk terhadap ketentuan lokal serta ancaman kekerasan.
“Ya, buku ini kan dibikin dalam rangka sebenarnya untuk memperkaya keberanian dan pengetahuan polisi untuk menjalankan tugasnya. Memberikan pelayanan di bidang hukum tapi juga hak azasi manusia. Harusnya polisi tahu di lapangan, kapan dan di mana, bagaimana memberikan perlindungan terhadap siapa, dalam konteks hari ini kan terhadap kelompok minoritas yang kesannya dibiarkan,” kata Haris.
Haris Azhar mengatakan, akan membagikan 10 ribu eksemplar buku ke kepolisian. Kontras berharap upaya ini bisa meningkatkan komitmen polisi dalam melindungi hak-hak warga negara dalam berkeyakinan, beribadah dan beragama.
Selama ini polisi dianggap membiarkan berbagai peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama. Misalnya kekerasan dan pelarangan beribadah terhadap jemaat HKBP Filadellfia Bekasi, pelarangan beribadat dan penyegelan GKI Yasmin bogor, penyerangan pemeluk Ahmadiyah dan sebagainya. []
Selengkapnya di: http://perisai.net/agama/kontras_luncurkan_panduan_agar_polisi_lindungi_kelompok_minoritas/#ixzz1xvEjVoK9
© PERISAI.net Baca Selengkapnya...
Senin, 11 Juni 2012
Meski Tertindas, Jemaat Gereja Tetap Doakan Presiden SBY
Kebersamaan didalam Pancasila di negeri ini seharusnya menjadi harga mati dan diperjuangkan secara bersama-sama oleh anak bangsa. Untuk itulah dalam rangka Hari Pancasila 1 Juni 2012, ratusan jemaat dari gereja tertindas, GKI Yasmin, HKBP Filedelfia dan simpatisan melakukan aksi damai di Istana Negara, Jakarta, Minggu (10/6). Menteri Sekretaris Negara era Presiden Abdurrahman Wahid, Bondan Gunawan yang ikut turun kejalan menyayangkan sikap pemerintah terutama Presiden SBY yang tidak bertindak terhadap penindasan gereja. "Semestinya presiden bertindak, bukan membiarkan, kenapa sampai saat ini jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filedelfia masih terkatung-katung menjalankan ibadahnya. Padahal, beribadah dijamin oleh konstitusi."
Meskipun banyak kecaman dan sikap tidak puas terhadap kepemimpinan Presiden SBY, namun pendeta dari HKBP, Patricia Silalahi dalam khotbahnya mengatakan bahwa jemaat tetap mengasihi SBY, dan berharap pintu hati orang nomor satu di republik ini dibuka. "Meski sulit beribadah, tapi kami tetap mencintai dan mengasihi Presiden SBY," ujarnya.
Setelah khotbah tersebut Pendeta Patricia menghimbau agar jemaat tidak benci dan menuntut balas terhadap siapapun yang telah menutup rumah ibadah. Dan Pendeta Patricia mengajak para jemaat menyanyikan 'Saya Mau Iring Yesus' yang segera diikuti oleh peserta aksi yang datang.
Dalam aksi damai tersebut hadir pula mantan Koordinator Kontras Usman Hamid, mantan Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Magdalena Sitorus, aktivis perempuan dan theolog Emmy Sahertian, dan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom.
Sumber :
Jaringnews
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Dua Gereja Nigeria Kembali Diserang, 4 Tewas
Boko Haram kembali menyerang gereja di Nigeria. Totalnya ada tiga orang tewas dan 41 orang luka-luka dalam serangan yang dilakukan di dua gereja berbeda pada Minggu (10/6) kemarin. Menurut para saksi dan petugas penyelamat, penyerang bom bunuh diri mengemudikan mobilnya ke arah sebuah gereja di kota Jos, Nigeria Tengah. Meski mobil tersebut tidak mencapai gereja, ledakan yang ditimbulkan mengakibatkan bangunan gereja itu roboh."41 orang cedera, penyerang bom itu dan dua orang lain tewas. Korban-korban cedera dirawat di Rumah Sakit Evangel, Jos," kata juru bicara pemerintah daerah Pam Ayuba kepada AFP, seperti dilansir dari metrotvnews, pada Senin (11/6).
Serangan kedua terjadi di sebuah gereja di kota Biu di negara bagian Borno di timur laut, menewaskan satu orang. "Tiga orang bersenjata memasuki halaman gereja dan menembaki orang di luar gereja sebelum akhirnya masuk ke dalam gereja melanjutkan aksi pembunuhan mereka," kata saksi mata Hamidu Wakawa, seperti dikutip dari vivanews, pada Minggu (10/6).
Kelompok Boko Haram sudah aktif melakukan serangan sejak tahun 2009. Selain menyerang gereja, kelompok ini juga mengincar sekolah, kantor polisi, dan gedung pemerintahan. Pemimpin mereka, Abubakar Shekau, berulangkali melakukan aksi penyerangan sebagai bentuk balas dendam atas pembunuhan umat muslim di Nigeria tengah.
Kebencian dan kemarahan selalu menjadi alasan seseorang untuk melegalkan sebuah kejahatan, padahal kekerasan tidak menyelesaikan apapun. Semoga umat Kristen di Nigeria bisa bertahan dalam iman dan menjadi terang dengan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Jumat, 08 Juni 2012
Ketahuan Murtad, Seorang Muslim Tunisia Disembelih
![]() |
| Ilustrasi |
Dipublikasikan oleh Raymond Ibrahim di Gatestone Institute, pada Senin (04/05/2012), mengutip program talkshow kontroversial di Mesir 'Egypt Today' di stasiun TV El-Faraeen, yang dibawakan oleh Tawfiq Okasha, pada Sabtu (02/06/2012), menampilkan sebuah video tentang seorang pemuda Tunisia yang disembelih oleh sekelompok pria muslim bertopeng dan bercadar hitam.
Dalam video berdurasi 5 menit tersebut diperlihatkankan sebuah aksi penghilangan nyawa oleh para muslim Tunisia, negara pemicu awal 'revolusi Arab', karena korban penyembelihan tersebut yang telah menjadi Kristen dan menolak berpaling ke agama Islam.
Sembari membacakan ayat-ayat dalam Quran dengan keras, salah seorang dari muslim tersebut menyeret pemuda naas itu, dengan menaruh sebilah pisau dilehernya. Terlihat pemuda itu tidak melawan dan pasrah dengan nasib yang dihadapinya.
Suara 'narasi' dari seorang muslim yang turut dalam aksi tersebut muncul kemudian, dengan
mendengungkan doa-doa para muslim yang isinya mengutuk Kekristenan, dengan mengatakan Tritunggal adalah sebuah kepercayaan polytheis (bertuhan lebih dari satu).
"Biarkan allah menghukum para murtad polytheis itu; allah menguatkan agamamu, membuat kemenangan melawan para polytheis; allah, mengalahkan para kafir ditangan para muslim," tuturnya.
Kemudian, sembari meneriakkan 'tuhan maha besar!', pria pemegang pisau mulai menggorok leher pemuda Kristen yang nampak menggangkat doa terakhirnya, beberapa saat kemudian tenggorokannya mulai terbelah.
Aksi keji itu dilanjutkan dengan mengiris wajah pemuda itu dengan pisau sehingga melukai pemuda yang sudah sekarat itu.
Dengan nada kecewa, Okasha, sang pembawa acara tersebut bertanya: "Apakah ini Islam? Apakah Islam yang melakukannya? Bagaimana Islam terlibat dengan hal ini?... ini adalah gambar yang telah tersebar ke semua media elektronik di Eropa dan Amerika... dapatkah anda membayangkannya?"
Selanjutnya, ia mengemukakan pertanyaan yang menyinggung dua kelompok Islam fundamentalis di Mesir, Ikwanul Muslimin dan Salafi yang secara gamblang menganjurkan aksi-aksi keji seperti ini.
"Bagaimana orang-orang seperti ini dapat menjalankan pemerintahan?"
Ucapannya ini dikaitkan dengan perkataan pemimpin Islam Salafi Mesir, Sheikh Yassir al Burhami saat debat kandidat presiden pada bulan Mei lalu yang kembali menegaskan, muslim yang murtad akan dibunuh.
"Apakah dibenarkan seorang muslim menjadi seorang Kristen atau agama lain? tentu saja tidak dibenarkan; ini adalah perihal peraturan sharia yang disampaikan secara jelas, sebab menurut hadith, hal itu tidak diperbolehkan... mengacu kepada ucapan nabi Muhammad, siapa saja yang meninggalkan agamanya [Islam], ia harus dibunuh."
Tawfiq Okasha, sang tokoh liberal Mesir yang baru-baru ini mencalonkan diri sebagai Presiden negara itu, dianggap kontroversial karena secara gamblang mendukung pemerintahan Mubarak selama masa 'revolusi' Mesir 2011 lalu serta menggunakan media yang dikelolanya sebagai senjata penyerang kelompok Islam fundamentalis, Ikwanul Muslimin dan Salafi yang dicap sebagai kelompok bertopeng agama yang oportunis, culas dan munafik.
Mohon perhatian!
Sebelum menonton video dibawah ini, kami memberitahukan:
Alasan kami menyediakan video ini sebagai bukti valid menampik sikap skeptis para intoleran yang menuduh jika berita ini hanyalah isapan jempol/ hoax/ muslihat/ rekayasa/ kabar bohong.
Video dibawah ini mengandung gambar sadis dan penuh kekerasan, sehingga kami mengharapkan agar anda memikirkan segala pertimbangan dahulu dengan matang sebelum menyaksikannya.
Bagi anda yang bimbang, ragu dan tidak mampu menyaksikan adegan sadis dan kekerasan, kami sarankan agar tidak menyaksikan video ini.
Sumber: Perisai.net Baca Selengkapnya...
Kamis, 31 Mei 2012
Pemerintah Cina Makin Tegas Berantas Gereja Rumah
Pihak berwenang Cina di provinsi barat daya Sichuan memberikan peringatan kepada pemimpin gereja untuk menghentikan kegiatan gerejanya yang berbasis keluarga. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk otoritas Cina untuk menghentikan gereja yang tidak resmi atau yang biasa disebut gereja rumah.
"Pihak berwenang telah meminta kami untuk mengakhiri kegiatan keluarga kami (jemaat gereja), mereka menyebut pertemuan kami ilegal," kata Pastor Li, pemimpin gereja rumah dengan 1.500 anggota yang berbasis di kota Qili, Langzhong Sichuan.
Menurut Li, pemberitahuan dari pemerintah itu dikirim ke rumah salah seorang jemaat bukan ke tempat pertemuan mereka. "Doa Pertemuan kami hari itu memiliki sekitar 20 orang percaya," kata Li, menambahkan bahwa karena ukuran besar jemaatnya, gereja pertemuan diadakan dalam kelompok kecil di desa-desa daerah.
Pemerintah Cina akhir-akhir ini makin tegas menghentikan kegiatan gereja-gereja rumah yang diperkirakan beranggotakan 40 juta jiwa ini dan memerintah jemaat untuk bergabung dengan gereja resmi. Ini adalah upaya pemerintah untuk tetap mengontrol kegiatan gereja.
Setiap negara memiliki kebijakannya tersendiri untuk mengontrol masyarakatnya. Semoga umat Kristen di Cina bisa bertahan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan menghalangi kebebasan beragama dan beribadah ini.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
"Pihak berwenang telah meminta kami untuk mengakhiri kegiatan keluarga kami (jemaat gereja), mereka menyebut pertemuan kami ilegal," kata Pastor Li, pemimpin gereja rumah dengan 1.500 anggota yang berbasis di kota Qili, Langzhong Sichuan.
Menurut Li, pemberitahuan dari pemerintah itu dikirim ke rumah salah seorang jemaat bukan ke tempat pertemuan mereka. "Doa Pertemuan kami hari itu memiliki sekitar 20 orang percaya," kata Li, menambahkan bahwa karena ukuran besar jemaatnya, gereja pertemuan diadakan dalam kelompok kecil di desa-desa daerah.
Pemerintah Cina akhir-akhir ini makin tegas menghentikan kegiatan gereja-gereja rumah yang diperkirakan beranggotakan 40 juta jiwa ini dan memerintah jemaat untuk bergabung dengan gereja resmi. Ini adalah upaya pemerintah untuk tetap mengontrol kegiatan gereja.
Setiap negara memiliki kebijakannya tersendiri untuk mengontrol masyarakatnya. Semoga umat Kristen di Cina bisa bertahan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan menghalangi kebebasan beragama dan beribadah ini.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Senin, 28 Mei 2012
Makin Beringas, Jemaat HKBP Filadelfia Dilempari Air Kencing
Massa intoleran makin bertindak beringas pada saat Minggu (27/5) kemarin. Sekitar pukul 08.00 WIB mereka menghadang Kepala HKBP Filadelfia, Tambun, Bekasi, Pendeta Palti Panjaitan yang hendak memimpin ibadah. “Massa bergerak menghadang di depan perumahan Vila Bekasi Indah 2, tidak jauh dari rumah saya. Anehnya, polisi membiarkan massa itu mendekati kami, dan malah bergerak bersama massa,” kata Panjaitan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (27/5).
Jemaat yang ingin beribadah itu dihujani bermacam-macam. Mulai dari batu, batok kelapa, botol-botol air mineral sampai telur busuk. Tak hanya itu, bahkan massa juga melempari jemaat HKBP dengan air kencing dan kodok sambil meneriakkan kata-kata kasar.
Disesalkan, petugas kepolisian yang semestinya melindungi jemaat tampak tak berdaya dan kalah oleh tekanan massa intoleran. Bahkan, akhirnya Kapolres Bekasi memerintahkan Pendeta Palti untuk membubarkan ibadah bila tidak ingin ada korban jatuh lebih parah dan lebih banyak. Maka kegiatan ibadah pun berhenti pada pukul 09.00 WIB.
Di sisi lain, ada beberapa pengaruh positif dari peristiwa ini. Jemaat GKI Yasmin Bogor pun melakukan kebaktian bersama jemaat HKBP Filadelfia sebagai salah satu wujud peduli. Pendeta Hariman Patianakota dari Gereja Kristen Pasundan yang ditunjuk PGI untuk memimpin ibadah menyerukan pada jemaat agar tetap memelihara kasih di tengah perbedaan dan konflik yang mereka hadapi. Tak hanya itu, beberapa simpatisan dan tokoh nasional tampil memberi orasi. Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian era Presiden Megawati menyatakan kekagumannya pada perjuangan jemaat. Kendati diperlakukan tidak adil, tetapi jemaat tetap memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi. Sekitar pukul 15.00 WIB jemaat membubarkan diri dengan tertib sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitar mereka.
Perjuangan mereka agar dapat bebas beribadah perlu mendapatkan perhatian dari semua umat Kristen di Indonesia bahkan di dunia. PBB pun menyoroti intoleransi yang terjadi di Indonesia. Kita tetap percaya bahwa Indonesia suatu hari akan diubah dan menjadi negara yang benar-benar Bhineka Tunggal Ika.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Jemaat yang ingin beribadah itu dihujani bermacam-macam. Mulai dari batu, batok kelapa, botol-botol air mineral sampai telur busuk. Tak hanya itu, bahkan massa juga melempari jemaat HKBP dengan air kencing dan kodok sambil meneriakkan kata-kata kasar.
Disesalkan, petugas kepolisian yang semestinya melindungi jemaat tampak tak berdaya dan kalah oleh tekanan massa intoleran. Bahkan, akhirnya Kapolres Bekasi memerintahkan Pendeta Palti untuk membubarkan ibadah bila tidak ingin ada korban jatuh lebih parah dan lebih banyak. Maka kegiatan ibadah pun berhenti pada pukul 09.00 WIB.
Di sisi lain, ada beberapa pengaruh positif dari peristiwa ini. Jemaat GKI Yasmin Bogor pun melakukan kebaktian bersama jemaat HKBP Filadelfia sebagai salah satu wujud peduli. Pendeta Hariman Patianakota dari Gereja Kristen Pasundan yang ditunjuk PGI untuk memimpin ibadah menyerukan pada jemaat agar tetap memelihara kasih di tengah perbedaan dan konflik yang mereka hadapi. Tak hanya itu, beberapa simpatisan dan tokoh nasional tampil memberi orasi. Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian era Presiden Megawati menyatakan kekagumannya pada perjuangan jemaat. Kendati diperlakukan tidak adil, tetapi jemaat tetap memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi. Sekitar pukul 15.00 WIB jemaat membubarkan diri dengan tertib sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitar mereka.
Perjuangan mereka agar dapat bebas beribadah perlu mendapatkan perhatian dari semua umat Kristen di Indonesia bahkan di dunia. PBB pun menyoroti intoleransi yang terjadi di Indonesia. Kita tetap percaya bahwa Indonesia suatu hari akan diubah dan menjadi negara yang benar-benar Bhineka Tunggal Ika.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 23 Mei 2012
Mohon Doa! Umat Kristen di Mesir Terancam Dilarang Mendirikan Gedung Gereja, jika Kandidat dari Fundamentalis Islam menjadi Presiden
KAIRO (MESIR) - Umat Kristen di Mesir menyatakan kekhawatiran mereka atas nasib Gereja di negara itu, diantaranya peningkatan pengianiayaan dan aksi-aksi diskriminasi oleh mayoritas muslim di negara itu, terutama pelarangan pendiran gedung gereja, jika para kandidat dari kelompok fundamentalis Islam, memenangkan pemilihan Presiden.
Kelompok Islam fundamental yang mengaku moderat, Ikwanul Muslim (Muslim Brotherhood) misalnya beberapa waktu lalu dalam kampanye partai mereka mengungkapkan akan membuat peraturan yang membatasi dan melarang pendirian gedung gereja dan rumah ibadah umat Kristen sebagai agenda utama mereka dalam setahun kedepan, guna mengambil hati kelompok muslim di negara itu.
Para kandidat yang getol menyerukan akan meng'islam'kan Mesir, antara lain Abdul Moneim Aboul Fotouh, seorang mantan pemimpin utama di Ikhwanul Muslim; Hazem Abu Ismail dari kelompok Salafi; dan Khairat Al-Shater pemimpin Ikwanul Muslim, yang pada April lalu dengan gamblang menyatakan Sharia Islam sebagai hukum utama di negara piramida itu.
Sementara itu, umat Kristen mengharapkan Ahmed Shafiq, kandidat independen yang merupakan bekas perdana menteri Mesir era Presiden Hosni Mubarak, dapat menjadi tumpuan akhir dari usainya peraturan diskriminatif di negara itu.
Peraturan pembangunan gedung Gereja di Mesir telah menjadi subjek debat penuh kebencian diantara umat Kristen dan muslim di negara itu. Sebuah undang-undang kontroversial yang lahir pada masa pergolakan ratusan tahun silam menyatakan secara tersirat, perbaikan gedung gereja dipersulit dengan berbagai persyaratan penuh diskriminasi, termasuk surat ijin langsung dari kepala negara, sedangkan untuk membangun sebuah masjid baru, kaum muslim malah dibantu oleh pemerintah.
Kurt J. Werthmuller, seorang peneliti di Hudson Institute's Center for Religious Freedom, kepada Christian Post melalui email, peraturan tersebut berasal dari abad ke 19, saat Mesir masih berada dalam pergolakan dengan Eropa, yang menimbulkan sentimen anti Kristen.
Sayangnya, peraturan diskriminatif itu bukannya hilang malah semakin dikembangkan, "dalam konteks Mesir masa kini, hal ini berarti umat Kristen diharuskan untuk memberikan sebuah pernyataan permohonan kepada presiden, hanya untuk membuat sebuah gedung gereja baru, sedang untuk memperluas, merenovasi atau hanya melakukan perbaikan kecil, adalah hal yang berbeda [membuat lagi petisi yang berbeda]," ujar Werthmuller.
Terkait hal itu, pada tahun 2005, mantan Presiden Mubarak, membuat peraturan dengan mengeluarkan dekrit presiden yang memberikan ijin pendirian gedung gereja melalui gubernur wilayah, sehingga umat Kristen tidak perlu repot-repot ke Kairo.
"Ini artinya," ungkap Werthmuller , "jika seorang pendeta disebuah desa harus memperbaiki sebuah toilet yang rusak atau retakan di gedung gereja, ia diharuskan meminta ijin kepada pemerintah wilayah (pemerintah provinsi). Kemudian, ia diharuskan mengikuti berbagai labirin administrasi dan birokrasi korup, dan sering sekali para pendeta ini dengan mudah 'dikalahkan' dalam permohonan ijin itu." (ChristianPost/TimPPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Kelompok Islam fundamental yang mengaku moderat, Ikwanul Muslim (Muslim Brotherhood) misalnya beberapa waktu lalu dalam kampanye partai mereka mengungkapkan akan membuat peraturan yang membatasi dan melarang pendirian gedung gereja dan rumah ibadah umat Kristen sebagai agenda utama mereka dalam setahun kedepan, guna mengambil hati kelompok muslim di negara itu.
Para kandidat yang getol menyerukan akan meng'islam'kan Mesir, antara lain Abdul Moneim Aboul Fotouh, seorang mantan pemimpin utama di Ikhwanul Muslim; Hazem Abu Ismail dari kelompok Salafi; dan Khairat Al-Shater pemimpin Ikwanul Muslim, yang pada April lalu dengan gamblang menyatakan Sharia Islam sebagai hukum utama di negara piramida itu.
Sementara itu, umat Kristen mengharapkan Ahmed Shafiq, kandidat independen yang merupakan bekas perdana menteri Mesir era Presiden Hosni Mubarak, dapat menjadi tumpuan akhir dari usainya peraturan diskriminatif di negara itu.
Peraturan pembangunan gedung Gereja di Mesir telah menjadi subjek debat penuh kebencian diantara umat Kristen dan muslim di negara itu. Sebuah undang-undang kontroversial yang lahir pada masa pergolakan ratusan tahun silam menyatakan secara tersirat, perbaikan gedung gereja dipersulit dengan berbagai persyaratan penuh diskriminasi, termasuk surat ijin langsung dari kepala negara, sedangkan untuk membangun sebuah masjid baru, kaum muslim malah dibantu oleh pemerintah.
Kurt J. Werthmuller, seorang peneliti di Hudson Institute's Center for Religious Freedom, kepada Christian Post melalui email, peraturan tersebut berasal dari abad ke 19, saat Mesir masih berada dalam pergolakan dengan Eropa, yang menimbulkan sentimen anti Kristen.
Sayangnya, peraturan diskriminatif itu bukannya hilang malah semakin dikembangkan, "dalam konteks Mesir masa kini, hal ini berarti umat Kristen diharuskan untuk memberikan sebuah pernyataan permohonan kepada presiden, hanya untuk membuat sebuah gedung gereja baru, sedang untuk memperluas, merenovasi atau hanya melakukan perbaikan kecil, adalah hal yang berbeda [membuat lagi petisi yang berbeda]," ujar Werthmuller.
Terkait hal itu, pada tahun 2005, mantan Presiden Mubarak, membuat peraturan dengan mengeluarkan dekrit presiden yang memberikan ijin pendirian gedung gereja melalui gubernur wilayah, sehingga umat Kristen tidak perlu repot-repot ke Kairo.
"Ini artinya," ungkap Werthmuller , "jika seorang pendeta disebuah desa harus memperbaiki sebuah toilet yang rusak atau retakan di gedung gereja, ia diharuskan meminta ijin kepada pemerintah wilayah (pemerintah provinsi). Kemudian, ia diharuskan mengikuti berbagai labirin administrasi dan birokrasi korup, dan sering sekali para pendeta ini dengan mudah 'dikalahkan' dalam permohonan ijin itu." (ChristianPost/TimPPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Waduh, Umat HKBP Filadelfia Dilempari Lumpur saat Beribadah
JAKARTA--MICOM: Kericuhan kembali terjadi di sekitar lokasi Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat, saat jemaat tengah menjalankan ibadah mereka. Sekitar 300 orang yang tidak diketahui identitasnya telah melakukan pelemparan terhadap para jemaat di gereja tersebut.
"Ada sekitar 300 orang, namun saya tidak tahu identitas mereka karena mereka tidak menggunakan atribut apa pun," ujar Pendeta Palti Panjaitan yang merupakan pimpinan dari HKBP Filadelfia, ketika dihubungi Mediaindonesia.com, di Jakarta, Minggu (20/5).
Ia mengatakan ketika kejadian ratusan orang tersebut berada sekitar 200 meter dari gereja dengan posisi menghadang para jemaah yang sedang beribadah.
Sementara itu, Palti juga menambahkan jika para jemaah tidak ada yang melakukan perlawanan atas kejadian tersebut. Mereka hanya pasrah dilempari berbagai macam benda mulai dari botol minuman, ban bekas. Bahkan disebutkan jika massa juga melempari jemaah dengan lumpur.
"Kita hanya bisa pasrah. Polisi yang tidak siaga juga menjadi korban pelemparan tersebut," sambungnya.
Atas kejadian tersebut, Palti mengatakan jika sampai saat ini tidak ada satu pun pejabat pemerintah yang mendatangi lokasi. Ia hanya berharap agar negara mau bertindak tegas dan menangkap para pelaku itu.
"Saya sudah tidak bisa hitung berapa kali gereja kami diperlakukan seperti ini. Kita harap negara mau bertindak tegas, itu saja," pasrahnya.
Permasalahan yang menjerat Gereja HKBP Filadelfia ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Pemerintah setempat menganggap izin pembangunan gereja ilegal.
Namun, Mahkamah Agung memutuskan pembangunan izin gereja sah. Oleh sebab itu, penolakan demi penolakan terus dilakukan oleh berbagai pihak terhadap gereja tersebut. (FA/OL-10)
Sumber: Mediaindonesia.com Baca Selengkapnya...
"Ada sekitar 300 orang, namun saya tidak tahu identitas mereka karena mereka tidak menggunakan atribut apa pun," ujar Pendeta Palti Panjaitan yang merupakan pimpinan dari HKBP Filadelfia, ketika dihubungi Mediaindonesia.com, di Jakarta, Minggu (20/5).
Ia mengatakan ketika kejadian ratusan orang tersebut berada sekitar 200 meter dari gereja dengan posisi menghadang para jemaah yang sedang beribadah.
Sementara itu, Palti juga menambahkan jika para jemaah tidak ada yang melakukan perlawanan atas kejadian tersebut. Mereka hanya pasrah dilempari berbagai macam benda mulai dari botol minuman, ban bekas. Bahkan disebutkan jika massa juga melempari jemaah dengan lumpur.
"Kita hanya bisa pasrah. Polisi yang tidak siaga juga menjadi korban pelemparan tersebut," sambungnya.
Atas kejadian tersebut, Palti mengatakan jika sampai saat ini tidak ada satu pun pejabat pemerintah yang mendatangi lokasi. Ia hanya berharap agar negara mau bertindak tegas dan menangkap para pelaku itu.
"Saya sudah tidak bisa hitung berapa kali gereja kami diperlakukan seperti ini. Kita harap negara mau bertindak tegas, itu saja," pasrahnya.
Permasalahan yang menjerat Gereja HKBP Filadelfia ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Pemerintah setempat menganggap izin pembangunan gereja ilegal.
Namun, Mahkamah Agung memutuskan pembangunan izin gereja sah. Oleh sebab itu, penolakan demi penolakan terus dilakukan oleh berbagai pihak terhadap gereja tersebut. (FA/OL-10)
Sumber: Mediaindonesia.com Baca Selengkapnya...
Jumat, 18 Mei 2012
Jemaat GKI Yasmin Melapor ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pemerintah Pusat dan Kota Bogor Ciptakan Jurus Baru
JAKARTA - Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin, Bogor yang telah 'digantung dan dipermainkan' oleh pemerintah Kota Bogor berkat tekanan dari ormas intoleran, nampaknya belum dapat bernafas lega dalam menjalankan ibadah mereka. Buktinya hingga kini, walaupun sudah 'ditegur' Mahkamah Agung dan Ombudsman, Diani Budiarto dan kroninya belum membuka gembok gedung gereja yang telah mereka klaim telah melanggar aturan.
Berbagai usaha dilakukan untuk menyatakan kebenaran dari ketidak adilan tersebut mulai dari melakukan ibadah di trotoar hingga melaporkan kasus tersebut ke Perserikatan Bangsa-bangsa.
Juru bicara GKI Taman Yasmin Bogor, Bona Sigalingging kepada KBR68H mengatakan, laporan itu disampaikan LSM Human Right Working Group dan LSM Kontras. Sidang pelanggaran HAM ini rencananya akan digelar pada Juni mendatang.
“Dan saya kira itu akan sangat menganggu kalau memang pemerintahan ini mau membangun image yang berhasil di dunia internasional. Saya ini akan sangat mencoreng sama sekali, masa mau pemerintah dicoreng oleh walikota gara-gara kasus ini di mata internasional.”
Penyelesaian Masalah Hukum dengan Pendekatan Non-Hukum (baca: Relokasi)??
Anehnya, Presiden SBY beberapa hari yang lalu dihadapan belasan diplomat dan organisasi internasional yang bertemu dengannya di Istana Negara dengan mantapnya menyatakan akan mengambil jalur non-hukum dalam menyelesaikan konflik yang sudah terjadi dua tahun ini.
“Kasus Gereja Yasmin kami terus mengelolanya melalui pendekatan hukum dan non-hukum. Karena menurut pengalaman kami, seperti di Ambon dan Poso, pendekatan hukum semata tidak bisa dengan efektif mengakhiri benturan. Tapi dengan pendekatan tambahan, justru lebih cepat dan permanen menyelesaikan konflik," ujar Presiden, sembari mengklaim pendekatan yang pernah digunakan di dua tempat konflik ini, sangat tepat dalam penyelesaian kasus yang telah mencoreng toleransi umat beragama di Indonesia.
Sayangnya bagi beberapa pengamat langkah itu dianggap bakal memperunyam masalah. Wacana tersebut dikhawatirkan dapat mengabaikan putusan hukum Mahkamah Agung yang memerintahkan pembukaan segel gereja.
Sebab, alih-alih memerintahkan Wali Kota Bogor Diani Budiarto menaati putusan Mahkamah Agung, Presiden SBY justru membuka wacana baru, yakni 'pendekatan non-hukum'.
Jalan keluar versi presiden ini sekaligus memuluskan niat Pemerintah Kota Bogor mengusir para jemaat keluar dari Kompleks Yasmin. Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan mengatakan jemaat GKI Yasmin harus keluar dari sana karena penolakan warga. Dia pun menyebut tiga lokasi untuk mereka.
“Kami tim kecil sudah dibentuk. Sekarang lagi mencari solusi pemindahan di luar Kompleks Yasmin. Kami ada kompensasi. Terserah GKI mau di Jalan Merdeka atau Jalan Suryakencana atau Jalan Siliwangi. Atau GKI punya pilihan lain, silakan akan kami akomodir,” kata Bambang saat diwawancarai KBR68H pada Kamis (16/02/2012).
Sikap Presiden dengan mengambil 'pendekatan non-hukum' dianggap tidak menghargai hukum. Ini karena Presiden dinilai mengabaikan semua proses hukum yang telah dijalani jemaat GKI Yasmin untuk selesaikan masalah ini. Direktur Eksekutif lembaga kajian hukum The Indonesia Legal Resource Center Uli Parulian Sihombing.
“Tawaran itu tidak masuk akal karena itu artinya tidak menghargai upaya GKI Yasmin yang sudah menempuh jalur hukum dari tingkat paling bawah yakni PTUN sampai Mahkamah Agung. Siapapun yang menempuh upaya hukum seharusnya dihargai. Kemudian ada beberapa rekomendasi yang dikeluarkan lembaga negara ataupun organisasi lain terkait masalah ini. Termasuk oleh Ombudsman. Semua sudah jelas.”
Hingga kini, Pemkot Bogor masih enggan menjalankan keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan Izin Mendirikan Bangunan GKI Yasmin sah.
Walikota Bogor justru melahirkan aturan baru yang melarang jemaat melakukan ibadah di gereja mereka. Pemkot Bogor dengan bantuan Satpol PP bahkan menyegel gereja tersebut. Lembaga pengaduan Ombudsman RI sudah mengeluarkan rekomendasi kepada Walikota Bogor untuk menjalankan keputusan Mahkamah Agung. Namun, rekomendasi itu juga diabaikan oleh Walikota Bogor.
Gagal di dalam negeri, jemaat GKI Yasmin pun meminta bantuan dunia internasional. Sejak 2010 lalu, kasus ini sudah sampai ke Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Kata Uli, lembaga itu sudah dua kali menyurati pemerintah terkait masalah ini. Tapi tetap tidak ada respon apapun.
Sementara itu, menurut Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging, PBB bakal menggelar sidang terkait masalah ini. Dalam forum itu, pemerintah bakal dipertanyakan soal penanganan sengkarut GKI Yasmin ini. Sidang itu rencananya digelar Juni mendatang.
“Dan saya kira itu akan sangat menganggu kalau memang pemerintahan ini mau membangun image yang berhasil di dunia internasional. Saya ini akan sangat mencoreng sama sekali, masa mau pemerintah dicoreng oleh walikota gara-gara kasus ini di mata internasional.”
Bona menduga pilihan penyelesaian masalah melalui jalur non-hukum adalah keinginan kelompok radikal yang selama ini menolak mereka. (KBR68H/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Berbagai usaha dilakukan untuk menyatakan kebenaran dari ketidak adilan tersebut mulai dari melakukan ibadah di trotoar hingga melaporkan kasus tersebut ke Perserikatan Bangsa-bangsa.
Juru bicara GKI Taman Yasmin Bogor, Bona Sigalingging kepada KBR68H mengatakan, laporan itu disampaikan LSM Human Right Working Group dan LSM Kontras. Sidang pelanggaran HAM ini rencananya akan digelar pada Juni mendatang.
“Dan saya kira itu akan sangat menganggu kalau memang pemerintahan ini mau membangun image yang berhasil di dunia internasional. Saya ini akan sangat mencoreng sama sekali, masa mau pemerintah dicoreng oleh walikota gara-gara kasus ini di mata internasional.”
Penyelesaian Masalah Hukum dengan Pendekatan Non-Hukum (baca: Relokasi)??
Anehnya, Presiden SBY beberapa hari yang lalu dihadapan belasan diplomat dan organisasi internasional yang bertemu dengannya di Istana Negara dengan mantapnya menyatakan akan mengambil jalur non-hukum dalam menyelesaikan konflik yang sudah terjadi dua tahun ini.
“Kasus Gereja Yasmin kami terus mengelolanya melalui pendekatan hukum dan non-hukum. Karena menurut pengalaman kami, seperti di Ambon dan Poso, pendekatan hukum semata tidak bisa dengan efektif mengakhiri benturan. Tapi dengan pendekatan tambahan, justru lebih cepat dan permanen menyelesaikan konflik," ujar Presiden, sembari mengklaim pendekatan yang pernah digunakan di dua tempat konflik ini, sangat tepat dalam penyelesaian kasus yang telah mencoreng toleransi umat beragama di Indonesia.
Sayangnya bagi beberapa pengamat langkah itu dianggap bakal memperunyam masalah. Wacana tersebut dikhawatirkan dapat mengabaikan putusan hukum Mahkamah Agung yang memerintahkan pembukaan segel gereja.
Sebab, alih-alih memerintahkan Wali Kota Bogor Diani Budiarto menaati putusan Mahkamah Agung, Presiden SBY justru membuka wacana baru, yakni 'pendekatan non-hukum'.
Jalan keluar versi presiden ini sekaligus memuluskan niat Pemerintah Kota Bogor mengusir para jemaat keluar dari Kompleks Yasmin. Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan mengatakan jemaat GKI Yasmin harus keluar dari sana karena penolakan warga. Dia pun menyebut tiga lokasi untuk mereka.
“Kami tim kecil sudah dibentuk. Sekarang lagi mencari solusi pemindahan di luar Kompleks Yasmin. Kami ada kompensasi. Terserah GKI mau di Jalan Merdeka atau Jalan Suryakencana atau Jalan Siliwangi. Atau GKI punya pilihan lain, silakan akan kami akomodir,” kata Bambang saat diwawancarai KBR68H pada Kamis (16/02/2012).
Sikap Presiden dengan mengambil 'pendekatan non-hukum' dianggap tidak menghargai hukum. Ini karena Presiden dinilai mengabaikan semua proses hukum yang telah dijalani jemaat GKI Yasmin untuk selesaikan masalah ini. Direktur Eksekutif lembaga kajian hukum The Indonesia Legal Resource Center Uli Parulian Sihombing.
“Tawaran itu tidak masuk akal karena itu artinya tidak menghargai upaya GKI Yasmin yang sudah menempuh jalur hukum dari tingkat paling bawah yakni PTUN sampai Mahkamah Agung. Siapapun yang menempuh upaya hukum seharusnya dihargai. Kemudian ada beberapa rekomendasi yang dikeluarkan lembaga negara ataupun organisasi lain terkait masalah ini. Termasuk oleh Ombudsman. Semua sudah jelas.”
Hingga kini, Pemkot Bogor masih enggan menjalankan keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan Izin Mendirikan Bangunan GKI Yasmin sah.
Walikota Bogor justru melahirkan aturan baru yang melarang jemaat melakukan ibadah di gereja mereka. Pemkot Bogor dengan bantuan Satpol PP bahkan menyegel gereja tersebut. Lembaga pengaduan Ombudsman RI sudah mengeluarkan rekomendasi kepada Walikota Bogor untuk menjalankan keputusan Mahkamah Agung. Namun, rekomendasi itu juga diabaikan oleh Walikota Bogor.
Gagal di dalam negeri, jemaat GKI Yasmin pun meminta bantuan dunia internasional. Sejak 2010 lalu, kasus ini sudah sampai ke Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Kata Uli, lembaga itu sudah dua kali menyurati pemerintah terkait masalah ini. Tapi tetap tidak ada respon apapun.
Sementara itu, menurut Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging, PBB bakal menggelar sidang terkait masalah ini. Dalam forum itu, pemerintah bakal dipertanyakan soal penanganan sengkarut GKI Yasmin ini. Sidang itu rencananya digelar Juni mendatang.
“Dan saya kira itu akan sangat menganggu kalau memang pemerintahan ini mau membangun image yang berhasil di dunia internasional. Saya ini akan sangat mencoreng sama sekali, masa mau pemerintah dicoreng oleh walikota gara-gara kasus ini di mata internasional.”
Bona menduga pilihan penyelesaian masalah melalui jalur non-hukum adalah keinginan kelompok radikal yang selama ini menolak mereka. (KBR68H/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Iran: Pihak berwenang semakin membatasi gereja dengan bahasa Farsi
Jakarta, 14 Mei, Disadur dari Compass Direct News — Gembala sidang Gereja Assemblies of God’s (AOG) (Gereja Sidang Jemaat Allah) di Teheran mengumumkan kepada jemaatnya pada Minggu, 6 Mei bahwa pihak berwajib tengah meminta daftar nama dan nomor identifikasi jemaat gereja, dan dapat dilihat bahwa resiko terbesar dalam upaya pengumpulan data ini adalah untuk mengkonversi jemaat untuk berpindah agama.
Pemimpin gereja meminta kesediaan para jemaat yang datang untuk menjadi nara sumber mereka. Gereja AOG ini mengadakan dua kali ibadah pada hari mingu, dan keduanya dilangsungkan dengan menggunakan Bahasa Farsi. Gereja ini adalah satu-satunya gereja yang mengadakan ibadah dalam Bahasa Farsi pada hari Minggu di Tehran.
“Pergerakan pemerintah ini pada dasarnya bertujuan agar jemaat di gereja tidak bertambah dan mengkondisikan kesulitan dan keresahan bagi mereka yang belum Kristen untuk datang ke gereja,” kata Monsour Borji, seorang Kristen dan seorang pejuang hak-hak inisiatif warga Iran kepada Compass. “Pada dasarnya ini hanyalah usaha untuk membatasi pergerakan gereja”. Perkembangan yang paling terakhir, menurut Borji, adalah bahwa sebagai anggota gereja AOG, mereka sedang mempertimbangkan untuk menyerahkan nama dan nomor identifikasi mereka, ada pula yang dihadapkan dengan dilema etis apakah mereka akan menyangkal Kristus dengan menolak untuk mengungkapkan identitas diri dengan cara ini. “Hal ini mengakibatkan dilema bagi para jemaat gereja yang tidak yakin dengan tindakan mereka, karena saya rasa dengan menyerahkan data mereka, sama saja berarti bunuh diri.”
Sumber: Opendoorsindonesia.org Baca Selengkapnya...
Pemimpin gereja meminta kesediaan para jemaat yang datang untuk menjadi nara sumber mereka. Gereja AOG ini mengadakan dua kali ibadah pada hari mingu, dan keduanya dilangsungkan dengan menggunakan Bahasa Farsi. Gereja ini adalah satu-satunya gereja yang mengadakan ibadah dalam Bahasa Farsi pada hari Minggu di Tehran.
“Pergerakan pemerintah ini pada dasarnya bertujuan agar jemaat di gereja tidak bertambah dan mengkondisikan kesulitan dan keresahan bagi mereka yang belum Kristen untuk datang ke gereja,” kata Monsour Borji, seorang Kristen dan seorang pejuang hak-hak inisiatif warga Iran kepada Compass. “Pada dasarnya ini hanyalah usaha untuk membatasi pergerakan gereja”. Perkembangan yang paling terakhir, menurut Borji, adalah bahwa sebagai anggota gereja AOG, mereka sedang mempertimbangkan untuk menyerahkan nama dan nomor identifikasi mereka, ada pula yang dihadapkan dengan dilema etis apakah mereka akan menyangkal Kristus dengan menolak untuk mengungkapkan identitas diri dengan cara ini. “Hal ini mengakibatkan dilema bagi para jemaat gereja yang tidak yakin dengan tindakan mereka, karena saya rasa dengan menyerahkan data mereka, sama saja berarti bunuh diri.”
Sumber: Opendoorsindonesia.org Baca Selengkapnya...
Pemerintah Lokal menutup 17 Gereja di Aceh Singkil
Jakarta, Indonesia, 10 Mei – Pemerintah lokal Aceh Singkil menutup 17 gereja dari lima denominasi pada tanggal 3 Mei 2012 lalu.
Keesokan harinya, 4 Mei, Gereja Katolik Kampong Nagapuluh menyatakan kekecewaannya terhadap penutupan yang terjadi dengan menuliskan surat ke kantor Menteri Agama. Dinyatakan dalam surat tersebut, gereja telah berdiri sejak tahun 1974.
Seorang pendeta asal Aceh yang identitasnya tidak ingin disebutkan mengatakan pada Open Doors, lima denominasi yang ditutup adalah : Gereja Misi Injili Indonesia (GMII), Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD), Gereja Katolik Kampong Nagapuluh, Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI) dan Huria Kristen Indonesia (HKI).
“Meskipun mereka tidak memiliki ijin resmi”, demikian dituturkan pendeta tadi, “Beberapa dari mereka telah beribadah di lokasinya selama 20 atau 30 tahun. Gereja terakhir yang berdiri justru mendapatkan ijin di tahun 2004. Saat itu, Surat Keputusan Bersama belum diberlakukan?”
Surat Keputusan Bersama tentang Ibadah dirancang dan diratifikasi oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri untuk mengatur kegiatan beragama dan pembangunan rumah ibadah oleh agma minoritas. Versi asli dirancang tahun 1969 saat serangan terhadap kelompok agama minoritas meningkat. Saat itu, Keputusan Bersama dimaksudkan untuk mengurangi tindakan kejahatan yanag ditujukan kepada kelompok minoritas, termasuk umat Kristen.
“Pada kenyataannya, hal ini justru memberikan dasar hukum kepada pemerintah lokal untuk menyegel dan menyerang gereja.” Seorang umat Kristen di Aceh menuturkan.
Selain Surat Keputusan Bersama tahun 2006, pemerintah Aceh juga memakai perjanjian Oktober 2011 antara komunitas Muslim dan Kristen di tiga sub-distrik Aceh Singkil : Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Meriah, dan Kecamatan Danau Paris.
“Perjanjian ini menyatakan bahwa umat Kristen hanya diperbolehkan membangun satu gedung gereja dan empat kapel.” Disampaikan Baron Ferryson Pandainga, kepala Badan Penasehat Komunitas Katolik di Aceh. “Tapi saat ini, ada 22 gereja diseluruh sub-distrik:
“Pemerintah Aceh akan segera menutup tiga gereja lagi dengan alasan perijinan.” Seorang nara sumber menyampaikan.
“Semua pemimpin gereja di Aceh Singkil akan mengadakan pertemuan dengan pemerintah lokal uantuk mencari jalan keluar.” Ujar seorang pendeta dari Aceh, “Sementara itu, kami akan mengadakan ibadah di rumah jemaat.”
Indonesia adalah negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia, saat ini jumlah umat Kristen berkisar 12.6% dari total populasi atau sekitar 36 juta dari 242.326.000. Dari 33 propinsi di Indonesia, hanya Aceh yang memiliki aparat khusus untuk memastikan semua penduduk mematuhi hukum Shariah. Tahun 1999, Presiden Bacharrudin Jusuf Habibie menandatangani perjanjian khusus yang memberikan ijin bagi Propinsi Aceh untuk mengimplementasikan hukum Shariah.
Berdoalah
1. Bagi para pemimpin yang akan mewakili 17 gereja dalam pertemuan dengan pemerintah Aceh. Berdoa bagi hikmat Tuhan.
2. Bagi umat Kristen di Aceh, untuk perlindungan Tuhan atas mereka, banyak dari mereka berasa dari latar belakang agama M. Berdoalah agar peristiwa ini menguatkan mereka untuk terus mencari dan berakar dalam Kristus.
3. Bagi pekerja Kristen di Aceh, banyak dari pelayanan mereka terganggu karena peristiwa ini.
Sumber: Opendoorsindonesia.org Baca Selengkapnya...
Keesokan harinya, 4 Mei, Gereja Katolik Kampong Nagapuluh menyatakan kekecewaannya terhadap penutupan yang terjadi dengan menuliskan surat ke kantor Menteri Agama. Dinyatakan dalam surat tersebut, gereja telah berdiri sejak tahun 1974.
Seorang pendeta asal Aceh yang identitasnya tidak ingin disebutkan mengatakan pada Open Doors, lima denominasi yang ditutup adalah : Gereja Misi Injili Indonesia (GMII), Gereja Kristen Pakpak Dairi (GKPPD), Gereja Katolik Kampong Nagapuluh, Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI) dan Huria Kristen Indonesia (HKI).
“Meskipun mereka tidak memiliki ijin resmi”, demikian dituturkan pendeta tadi, “Beberapa dari mereka telah beribadah di lokasinya selama 20 atau 30 tahun. Gereja terakhir yang berdiri justru mendapatkan ijin di tahun 2004. Saat itu, Surat Keputusan Bersama belum diberlakukan?”
Surat Keputusan Bersama tentang Ibadah dirancang dan diratifikasi oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri untuk mengatur kegiatan beragama dan pembangunan rumah ibadah oleh agma minoritas. Versi asli dirancang tahun 1969 saat serangan terhadap kelompok agama minoritas meningkat. Saat itu, Keputusan Bersama dimaksudkan untuk mengurangi tindakan kejahatan yanag ditujukan kepada kelompok minoritas, termasuk umat Kristen.
“Pada kenyataannya, hal ini justru memberikan dasar hukum kepada pemerintah lokal untuk menyegel dan menyerang gereja.” Seorang umat Kristen di Aceh menuturkan.
Selain Surat Keputusan Bersama tahun 2006, pemerintah Aceh juga memakai perjanjian Oktober 2011 antara komunitas Muslim dan Kristen di tiga sub-distrik Aceh Singkil : Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Meriah, dan Kecamatan Danau Paris.
“Perjanjian ini menyatakan bahwa umat Kristen hanya diperbolehkan membangun satu gedung gereja dan empat kapel.” Disampaikan Baron Ferryson Pandainga, kepala Badan Penasehat Komunitas Katolik di Aceh. “Tapi saat ini, ada 22 gereja diseluruh sub-distrik:
“Pemerintah Aceh akan segera menutup tiga gereja lagi dengan alasan perijinan.” Seorang nara sumber menyampaikan.
“Semua pemimpin gereja di Aceh Singkil akan mengadakan pertemuan dengan pemerintah lokal uantuk mencari jalan keluar.” Ujar seorang pendeta dari Aceh, “Sementara itu, kami akan mengadakan ibadah di rumah jemaat.”
Indonesia adalah negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia, saat ini jumlah umat Kristen berkisar 12.6% dari total populasi atau sekitar 36 juta dari 242.326.000. Dari 33 propinsi di Indonesia, hanya Aceh yang memiliki aparat khusus untuk memastikan semua penduduk mematuhi hukum Shariah. Tahun 1999, Presiden Bacharrudin Jusuf Habibie menandatangani perjanjian khusus yang memberikan ijin bagi Propinsi Aceh untuk mengimplementasikan hukum Shariah.
Berdoalah
1. Bagi para pemimpin yang akan mewakili 17 gereja dalam pertemuan dengan pemerintah Aceh. Berdoa bagi hikmat Tuhan.
2. Bagi umat Kristen di Aceh, untuk perlindungan Tuhan atas mereka, banyak dari mereka berasa dari latar belakang agama M. Berdoalah agar peristiwa ini menguatkan mereka untuk terus mencari dan berakar dalam Kristus.
3. Bagi pekerja Kristen di Aceh, banyak dari pelayanan mereka terganggu karena peristiwa ini.
Sumber: Opendoorsindonesia.org Baca Selengkapnya...
Kronologis Penyerangan Jemaat HKBP Filadelfia
Sekelompok Umat Kristiani melakukan doa bersama (FOTO: JG Photo/Yudhi Sukma Wijaya)
Jemaat dilempari kotoran dan diancam ketika hendak menuju lokasi gereja untuk beribadah merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Intimidasi terhadap jemaat Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat terjadi lagi pada hari ini. Jemaat dilempari kotoran dan diancam ketika hendak menuju lokasi gereja untuk beribadah merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Kuasa hukum jemaat Filadelfia, Judianto Simanjuntak, mengatakan bahwa intimidasi yang berupa pelemparan air kotor, urin dan bahkan katak dilakukan terjadi sekitar 300 meter dari lokasi gereja saat jemaah berdatangan menuju gereja untuk memulai ibadah yang telah dijadwalkan akan mulai jam 9 pagi.
“Jemaah yang mulai berdatangan dan menuju gereja dihalangi oleh sekelompok masa anti toleransi, padahal ini adalah jalan umum, sehingga warga lain, bukan hanya jemaah yang mau ibadah pun terhalang dan harus mencari jalan putar,” kata Judianto ketika dihubungi, hari ini.
Judianto menuturkan bahwa jemaah yang berkumpul di lokasi penghadangan itu lalu mencoba untuk bernegosiasi dengan aparat polisi yang juga sudah ada dan berjaga-jaga di lokasi. “Pada saat negosiasi ini pun kami sudah mulai dilempari macam-macam,” ujarnya.
Karena negosiasi yang dipimpin oleh Pendeta Palti Panjaitan gagal mencapai kesepakatan, Judianto mengatakan bahwa pendeta lalu meminta agar jemaah yang berjumlah sekitar 100 orang untuk duduk sebentar dan mendengarkan pengarahan darinya.
“Saat mau duduk, massa mengira kami mau melakukan ibadah dan saat itulah massa mulai merangsek akan menyerang kami dan mencoba menerobos penjagaan polisi,” ujar Judianto.
Judianto mengatakan Pendeta Palti sebenarnya hanya akan memberikan pengarahan pada jemaahnya untuk berdoa sebentar dan meminta mereka untuk pulang.
Dijelaskannya, polisi dapat mengamankan situasi sehingga tidak terjadi bentrokan fisik antara jemaah gereja dan massa yang diduga berasal dari kelompok Muslim garis keras dan diperkirakan berjumlah 600 orang.
Ketika situasi berhasil diamankan, pihak kepolisian menemui Palti. Namun, polisi malah menyalahkan jemaah gereja yang telah menempatkan polisi pada posisi bertentangan dengan masyarakat.
Keberadaan gereja di Desa Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi ini masih terus menjadi kontroversi. Pada tahun 2009, gereja ini disegel pemerintah kabupaten Bekasi dengan alasan izin pendirian gereja tidak sah.
Dua tahun kemudian, Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan yang membatalkan keputusan pemerintah setempat serta menyatakan gereja mempunyai izin pembangunan yang sah. Namun, keputusan MA ini ditolak Pemerintah Bekasi.
Penulis: Ismira Lutfia/ Wisnu Cipto
Sumber: Beritasatu.com Baca Selengkapnya...
Jemaat dilempari kotoran dan diancam ketika hendak menuju lokasi gereja untuk beribadah merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Intimidasi terhadap jemaat Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat terjadi lagi pada hari ini. Jemaat dilempari kotoran dan diancam ketika hendak menuju lokasi gereja untuk beribadah merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Kuasa hukum jemaat Filadelfia, Judianto Simanjuntak, mengatakan bahwa intimidasi yang berupa pelemparan air kotor, urin dan bahkan katak dilakukan terjadi sekitar 300 meter dari lokasi gereja saat jemaah berdatangan menuju gereja untuk memulai ibadah yang telah dijadwalkan akan mulai jam 9 pagi.
“Jemaah yang mulai berdatangan dan menuju gereja dihalangi oleh sekelompok masa anti toleransi, padahal ini adalah jalan umum, sehingga warga lain, bukan hanya jemaah yang mau ibadah pun terhalang dan harus mencari jalan putar,” kata Judianto ketika dihubungi, hari ini.
Judianto menuturkan bahwa jemaah yang berkumpul di lokasi penghadangan itu lalu mencoba untuk bernegosiasi dengan aparat polisi yang juga sudah ada dan berjaga-jaga di lokasi. “Pada saat negosiasi ini pun kami sudah mulai dilempari macam-macam,” ujarnya.
Karena negosiasi yang dipimpin oleh Pendeta Palti Panjaitan gagal mencapai kesepakatan, Judianto mengatakan bahwa pendeta lalu meminta agar jemaah yang berjumlah sekitar 100 orang untuk duduk sebentar dan mendengarkan pengarahan darinya.
“Saat mau duduk, massa mengira kami mau melakukan ibadah dan saat itulah massa mulai merangsek akan menyerang kami dan mencoba menerobos penjagaan polisi,” ujar Judianto.
Judianto mengatakan Pendeta Palti sebenarnya hanya akan memberikan pengarahan pada jemaahnya untuk berdoa sebentar dan meminta mereka untuk pulang.
Dijelaskannya, polisi dapat mengamankan situasi sehingga tidak terjadi bentrokan fisik antara jemaah gereja dan massa yang diduga berasal dari kelompok Muslim garis keras dan diperkirakan berjumlah 600 orang.
Ketika situasi berhasil diamankan, pihak kepolisian menemui Palti. Namun, polisi malah menyalahkan jemaah gereja yang telah menempatkan polisi pada posisi bertentangan dengan masyarakat.
Keberadaan gereja di Desa Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi ini masih terus menjadi kontroversi. Pada tahun 2009, gereja ini disegel pemerintah kabupaten Bekasi dengan alasan izin pendirian gereja tidak sah.
Dua tahun kemudian, Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan yang membatalkan keputusan pemerintah setempat serta menyatakan gereja mempunyai izin pembangunan yang sah. Namun, keputusan MA ini ditolak Pemerintah Bekasi.
Penulis: Ismira Lutfia/ Wisnu Cipto
Sumber: Beritasatu.com Baca Selengkapnya...
Jumat, 11 Mei 2012
GKI Yasmin Bogor Setujui Permintaan Walikota Membangun Masjid di Samping Gedung Gereja
BOGOR (JABAR) - Jemaat GKI Yasmin setuju Pemerintah Kota Bogor membangun masjid disebelah gereja mereka. Ini merupakan usul Dewan Ketahanan Nasional dalam pertemuan mediasi Jemaat GKI Yasmin dengan Pemkot Bogor.
Juru Bicara GKI Yasmin Bona Singgalingging mengatakan GKI Yasmin menyambut baik usulan tersebut karena upaya ini tidak melawan keputusan Mahkamah Agung dan Ombusdman RI.
Dia menambahkan usulan ini juga merupakan amanat Presiden yang mengedepankan solusi non hukum untuk menyelesaikan konflik GKI Yasmin.
“Sehingga konsep dari Dewan Ketahanan Nasional ini yang mengajak Pemkot Bogor untuk mengikuti putusan MA dan rekomendasi Ombusdman dan mengikutsertakan juga rencana pembangunan dari rumah ibadah lainnya di dekat lokasi gereja adalah sebuah terobosan dari sekian lama kevakuman penegakan hukum ini. Dan supaya menjaga keberagaman Indonesia ini tetap ada," ujarnya kepada KBR68H pada 3 Mei 2012
Sebelumnya, Walikota Bogor, Jawa Barat Diani Budiarto dan Jemaat GKI Yasmin bersepakat untuk menyelesaikan konflik. Jalan keluarnya adalah dengan membangun masjid di sebelah gedung gereja. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan HAM Albert Hasibuan menyampaikan hal ini dalam pertemuan membahas kasus GKI Yasmin bersama jemaat dan Dewan Ketahanan Nasional. Namun, tidak dihadiri Walikota Bogor.
Tidak Pernah Menolak
Jemaat GKI Yasmin membantah pernah menolak usulan dari Walikota Bogor yang memberikan solusi membangun masjid tepat di sebelah Gereja Yasmin.
Dalam pertemuan antara Dewan Pertimbangan Presiden dan GKI Yasmin, Walikota Bogor Diani Budiarto melalui suratnya mengaku pernah mengajukan usul untuk mendirikan tempat ibadah di sekitar Gereja Yasmin Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging mengatakan usul Walikota Bogor tersebut tidak pernah disampaikan kepada Jemaat GKI Yasmin.
“Point lima dari surat resminya Walikota adalah usulan dari Dewan Ketahanan Nasional untuk membangun masjid dan gereja secara berdampingan. Menurut Walikota Pernah disusulkan kepada GKI Yasmin pada September 2011 dan ditolak oleh GKI itu tulisan point limanya.”
Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging menambahkan, usulan mengenai pembangunan masjid tersebut pernah diterimanya dari Dewan Ketahanan Nasional pada awal tahun ini. Hal tersebut guna meminta pemerintah Kota Bogor mentaati keputusan Mahkamah Agung dan Ombusdman RI.
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Juru Bicara GKI Yasmin Bona Singgalingging mengatakan GKI Yasmin menyambut baik usulan tersebut karena upaya ini tidak melawan keputusan Mahkamah Agung dan Ombusdman RI.
Dia menambahkan usulan ini juga merupakan amanat Presiden yang mengedepankan solusi non hukum untuk menyelesaikan konflik GKI Yasmin.
“Sehingga konsep dari Dewan Ketahanan Nasional ini yang mengajak Pemkot Bogor untuk mengikuti putusan MA dan rekomendasi Ombusdman dan mengikutsertakan juga rencana pembangunan dari rumah ibadah lainnya di dekat lokasi gereja adalah sebuah terobosan dari sekian lama kevakuman penegakan hukum ini. Dan supaya menjaga keberagaman Indonesia ini tetap ada," ujarnya kepada KBR68H pada 3 Mei 2012
Sebelumnya, Walikota Bogor, Jawa Barat Diani Budiarto dan Jemaat GKI Yasmin bersepakat untuk menyelesaikan konflik. Jalan keluarnya adalah dengan membangun masjid di sebelah gedung gereja. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan HAM Albert Hasibuan menyampaikan hal ini dalam pertemuan membahas kasus GKI Yasmin bersama jemaat dan Dewan Ketahanan Nasional. Namun, tidak dihadiri Walikota Bogor.
Tidak Pernah Menolak
Jemaat GKI Yasmin membantah pernah menolak usulan dari Walikota Bogor yang memberikan solusi membangun masjid tepat di sebelah Gereja Yasmin.
Dalam pertemuan antara Dewan Pertimbangan Presiden dan GKI Yasmin, Walikota Bogor Diani Budiarto melalui suratnya mengaku pernah mengajukan usul untuk mendirikan tempat ibadah di sekitar Gereja Yasmin Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging mengatakan usul Walikota Bogor tersebut tidak pernah disampaikan kepada Jemaat GKI Yasmin.
“Point lima dari surat resminya Walikota adalah usulan dari Dewan Ketahanan Nasional untuk membangun masjid dan gereja secara berdampingan. Menurut Walikota Pernah disusulkan kepada GKI Yasmin pada September 2011 dan ditolak oleh GKI itu tulisan point limanya.”
Juru Bicara GKI Yasmin Bona Sigalingging menambahkan, usulan mengenai pembangunan masjid tersebut pernah diterimanya dari Dewan Ketahanan Nasional pada awal tahun ini. Hal tersebut guna meminta pemerintah Kota Bogor mentaati keputusan Mahkamah Agung dan Ombusdman RI.
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Selasa, 08 Mei 2012
Mohon Doa! Kristenphobia di Aceh Singkil akan Segel Dua Puluhan Gedung Gereja dengan Alasan Tidak Miliki Ijin
SINGKIL (ACEH) - Berita tidak sedap terkait penyegelan tempat ibadah kembali terjadi. Kini dua puluhan gedung gereja di wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Nangroe Aceh terancam akan ditutup oleh kelompok beragama yang merasa terancam dengan perkembangan umat Kristen di wilayah yang berbatasan dengan Propinsi Sumatera Utara itu.
Pada Selasa (01/05/2012), tim penyegel yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten menuju gedung Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) di Desa Pertabas, Kecamatan Simpang Kanan, sebagai sasaran pertama pemblokiran, namun gereja tersebut, urung disegel sebab warga jemaat menganggap penyegelan salah sasaran sebab jemaat tersebut adalah jemaat besar yang telah memiliki ijin ibadah.
Batal menyegel GKPPD Pertabas, tim penyegel bergerak ke Kecamatan Danau Paris. Di wilayah itu, tim menyegel tiga kapel (undung-undung) tak berizin. Masing-masing, dua unit di Desa Napagaluh, yakni GKPPD Napagaluh dan Gereja Katolik Napagaluh. Kemudian, undung-undung Katolik Santo Paulus di Desa Lae Balno.
Kepala Kapel Kampong Napagaluh yang masuk wilayah Paroki Tumbajae-Manduamas, Keuskupan Sibolga ini pun menyatakan ada kejanggalan terjadi dalam penyegelan tersebut.
Dalam surat yang dilayangkan oleh pengurus Gereja Kampong Nagapaluh kepada Bimas Katolik Depag Propinsi Aceh, mereka menulis “Kami sangat kesal, mengapa baru sekarang ditutup. Mengapa tidak sejak dulu. Sebab Undung-undung kami telah berdiri sejak tahun 1974. Mengapa setelah 38 tahun lamanya, baru ditutup oleh pemerintah."
Setelah menerima informasi ini pada Jumat (04/05/2012) kemarin, pihak Keuskupan Sibolga segera mengutus P. Servasius Sihotang OFMCap (Dekanus Tapanuli), P. Sebastianus Sihombing OFMCap (Pastor rekan Paroki Tumbajae) bersama dengan Fr. Frans R. Zai OFMCap (Biro Komsos) untuk meninjau lokasi kejadian dan mengumpulkan informasi berkaitan dengan peristiwa penyegelan gereja tersebut.
Setelah banyak informasi terkumpul, pada Kamis (10/05/2012) tim akan mengadakan pertemuan bersama dengan Kesbangpol, Humas KUB Kanwil Kemenag Provinsi Aceh dan Muspida di Aceh Singkil. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mencari solusi terbaik atas kasus ini.
Phobia Gereja
Sebelumnya, ratusan orang yang mengatasnamakan forum umat islam Aceh Singkil, Senin (30/04/2012) melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati di Pulau Sarok, Singkil. Massa menuntut Pemkab Aceh Singkil membongkar gereja dan undung-undung yang tidak mempunyai IMB dan melanggar kesepakatan, serta aturan lain.
Mereka menyatakan pembangunan gereja dan undung-undung di Aceh Singkil saat ini sudah mencapai 27 unit dan telah melanggar parjanjian dengan antara umat Kristen dan muslim di kabupaten itu. Sebab mereka menyepakati hanya boleh didirikan 1 gereja dan 4 undung-undung. Sehingga penambahan jumlah rumah ibadah umuat Kristen ini dinilai menyalahi batas kesepakatan serta toleransi umat Islam sebelumnya.
“Kami memberikan waktu 3x24 jam kepada Pemkab Aceh Singkil membongkar gereja yang didirikan tidak sesuai aturan. Bila tidak, maka mereka yang bongkar atau umat Islam yang bongkar,” kata Hambali mengancam.
Alhasil penertiban gereja yang dilakukan Pemkab Singkil selama seminggu ini berjalan tanpa hambatan berati. Dalam setiap penyegelannya mereka menempel sebuah papan yang berbunyi, “Dilarang membangun gereja dan undung-undung tanpa izin sesui SKB dua Menteri, Nomor 9 tahun 2006 dan Nomor 8 tahun 2006. Serta Pergub NAD Nomor 25 Tahun 2007 dan Qanun Aceh Singkil Nomor 7 Tahun 2007.”(JaringNews/TimPPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Pada Selasa (01/05/2012), tim penyegel yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten menuju gedung Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) di Desa Pertabas, Kecamatan Simpang Kanan, sebagai sasaran pertama pemblokiran, namun gereja tersebut, urung disegel sebab warga jemaat menganggap penyegelan salah sasaran sebab jemaat tersebut adalah jemaat besar yang telah memiliki ijin ibadah.
Batal menyegel GKPPD Pertabas, tim penyegel bergerak ke Kecamatan Danau Paris. Di wilayah itu, tim menyegel tiga kapel (undung-undung) tak berizin. Masing-masing, dua unit di Desa Napagaluh, yakni GKPPD Napagaluh dan Gereja Katolik Napagaluh. Kemudian, undung-undung Katolik Santo Paulus di Desa Lae Balno.
Kepala Kapel Kampong Napagaluh yang masuk wilayah Paroki Tumbajae-Manduamas, Keuskupan Sibolga ini pun menyatakan ada kejanggalan terjadi dalam penyegelan tersebut.
Dalam surat yang dilayangkan oleh pengurus Gereja Kampong Nagapaluh kepada Bimas Katolik Depag Propinsi Aceh, mereka menulis “Kami sangat kesal, mengapa baru sekarang ditutup. Mengapa tidak sejak dulu. Sebab Undung-undung kami telah berdiri sejak tahun 1974. Mengapa setelah 38 tahun lamanya, baru ditutup oleh pemerintah."
Setelah menerima informasi ini pada Jumat (04/05/2012) kemarin, pihak Keuskupan Sibolga segera mengutus P. Servasius Sihotang OFMCap (Dekanus Tapanuli), P. Sebastianus Sihombing OFMCap (Pastor rekan Paroki Tumbajae) bersama dengan Fr. Frans R. Zai OFMCap (Biro Komsos) untuk meninjau lokasi kejadian dan mengumpulkan informasi berkaitan dengan peristiwa penyegelan gereja tersebut.
Setelah banyak informasi terkumpul, pada Kamis (10/05/2012) tim akan mengadakan pertemuan bersama dengan Kesbangpol, Humas KUB Kanwil Kemenag Provinsi Aceh dan Muspida di Aceh Singkil. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mencari solusi terbaik atas kasus ini.
Phobia Gereja
Sebelumnya, ratusan orang yang mengatasnamakan forum umat islam Aceh Singkil, Senin (30/04/2012) melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati di Pulau Sarok, Singkil. Massa menuntut Pemkab Aceh Singkil membongkar gereja dan undung-undung yang tidak mempunyai IMB dan melanggar kesepakatan, serta aturan lain.
Mereka menyatakan pembangunan gereja dan undung-undung di Aceh Singkil saat ini sudah mencapai 27 unit dan telah melanggar parjanjian dengan antara umat Kristen dan muslim di kabupaten itu. Sebab mereka menyepakati hanya boleh didirikan 1 gereja dan 4 undung-undung. Sehingga penambahan jumlah rumah ibadah umuat Kristen ini dinilai menyalahi batas kesepakatan serta toleransi umat Islam sebelumnya.
“Kami memberikan waktu 3x24 jam kepada Pemkab Aceh Singkil membongkar gereja yang didirikan tidak sesuai aturan. Bila tidak, maka mereka yang bongkar atau umat Islam yang bongkar,” kata Hambali mengancam.
Alhasil penertiban gereja yang dilakukan Pemkab Singkil selama seminggu ini berjalan tanpa hambatan berati. Dalam setiap penyegelannya mereka menempel sebuah papan yang berbunyi, “Dilarang membangun gereja dan undung-undung tanpa izin sesui SKB dua Menteri, Nomor 9 tahun 2006 dan Nomor 8 tahun 2006. Serta Pergub NAD Nomor 25 Tahun 2007 dan Qanun Aceh Singkil Nomor 7 Tahun 2007.”(JaringNews/TimPPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Jumat, 20 April 2012
Youcef Nadarkhani Rayakan Ulang Tahun Dibalik Penjara
Meskipun dipenjara, Pendeta Youcef Nadarkhani, Senin (2/4), dapat melihat dan bercengkrama dengan anaknya yang bungsu yang hari itu berulang tahun.
Kedatangan sang buah hati merupakan hadiah istimewa bagi Nadarkhani juga, yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun ke-35 setelah ditahan selama dua setengah tahun.
"Hal ini bukan hanya untuk membuktikan Pendeta Youcef masih hidup, tetapi merupakan pengingat yang berharga dari apa yang kita perjuangkan - kebebasan untuk ayah yang penuh kasih, suami yang setia, seorang pendeta peduli, dan pengikut setia Kristus," demikian tulis Pusat Hukum dan Keadilan Amerika Serikat (ACLJ) dalam siaran pers.
Nadarkhani ditangkap otoritas Iran pada Oktober 2009 karena memprotes mata pelajaran wajib yang ditetapkan pemerintah. Ia pun akhirnya dituduh murtad dan sejak ditahan hingga kasusnya masuk ke pengadilan, ia sama sekali belum pernah merasakan udara kebebasan.
Masyarakat internasional dengan penuh perhatian mengikuti kasus Nadarkhani, terutama setelah pengadilan menyatakan Nadarkhani akan dieksekusi mati atas perbuatan kemurtadannya. Namun dalam proses jalannya pengadilan, pemerintah mengatakan tidak akan menghukum mati Nadarkhani.
Tidak lama dari pernyataan pemerintah tersebut, masyarakat internasional justru dikagetkan dengan beredarnya gambar-gambar palsu di internet yang memperlihatkan Nadarkhani digantung. ACLJ yang memantau kasus Nadrkhani dari sejak awal tidak mempercayai berita bohong tersebut. Hanya mereka yakin perintah eksekusi itu ada, tetapi belum dilaksanakan.
Sejauh ini, Brasil, Meksiko, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, merupakan negara-negara yang telah secara terbuka menuntut pembebasan Nadarkhani.
Sementara itu, sang istri, Fatema Pasindedih dan dua putra mereka, Daniel (9 tahun) dan Yoel (7 tahun) menyatakan akan tetap setia menunggu sampai kapan pun juga kebebasan Youcef Nadarkhani - suami dan ayah tercinta mereka - dari penjara.
Tidak ada seorang pun yang menginginkan merayakan kebahagiaan dengan keluarga terdekat di lembaga pemasyarakatan atau pun sel tahanan, tetapi jika ini yang terjadi, mari tetaplah bersukacita. Jangan sesali atau bersedih hati atas keadaan sekitar yang kurang menyenangkan tersebut. Justru naikkanlah ucapkanlah syukur bersama kepada Tuhan karena DIA memberi kesempatan bagi Anda berkumpul bersama secara utuh.
Sebuah pepatah berbunyi, “Di setiap situasi yang buruk, pasti ada hal baik yang bisa ditemukan. Oleh sebab itu, tetaplah memuji Tuhan karena kebaikan-Nya tetap sungguh nyata di dalam kehidupan kita.”
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Kedatangan sang buah hati merupakan hadiah istimewa bagi Nadarkhani juga, yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun ke-35 setelah ditahan selama dua setengah tahun.
"Hal ini bukan hanya untuk membuktikan Pendeta Youcef masih hidup, tetapi merupakan pengingat yang berharga dari apa yang kita perjuangkan - kebebasan untuk ayah yang penuh kasih, suami yang setia, seorang pendeta peduli, dan pengikut setia Kristus," demikian tulis Pusat Hukum dan Keadilan Amerika Serikat (ACLJ) dalam siaran pers.
Nadarkhani ditangkap otoritas Iran pada Oktober 2009 karena memprotes mata pelajaran wajib yang ditetapkan pemerintah. Ia pun akhirnya dituduh murtad dan sejak ditahan hingga kasusnya masuk ke pengadilan, ia sama sekali belum pernah merasakan udara kebebasan.
Masyarakat internasional dengan penuh perhatian mengikuti kasus Nadarkhani, terutama setelah pengadilan menyatakan Nadarkhani akan dieksekusi mati atas perbuatan kemurtadannya. Namun dalam proses jalannya pengadilan, pemerintah mengatakan tidak akan menghukum mati Nadarkhani.
Tidak lama dari pernyataan pemerintah tersebut, masyarakat internasional justru dikagetkan dengan beredarnya gambar-gambar palsu di internet yang memperlihatkan Nadarkhani digantung. ACLJ yang memantau kasus Nadrkhani dari sejak awal tidak mempercayai berita bohong tersebut. Hanya mereka yakin perintah eksekusi itu ada, tetapi belum dilaksanakan.
Sejauh ini, Brasil, Meksiko, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, merupakan negara-negara yang telah secara terbuka menuntut pembebasan Nadarkhani.
Sementara itu, sang istri, Fatema Pasindedih dan dua putra mereka, Daniel (9 tahun) dan Yoel (7 tahun) menyatakan akan tetap setia menunggu sampai kapan pun juga kebebasan Youcef Nadarkhani - suami dan ayah tercinta mereka - dari penjara.
Tidak ada seorang pun yang menginginkan merayakan kebahagiaan dengan keluarga terdekat di lembaga pemasyarakatan atau pun sel tahanan, tetapi jika ini yang terjadi, mari tetaplah bersukacita. Jangan sesali atau bersedih hati atas keadaan sekitar yang kurang menyenangkan tersebut. Justru naikkanlah ucapkanlah syukur bersama kepada Tuhan karena DIA memberi kesempatan bagi Anda berkumpul bersama secara utuh.
Sebuah pepatah berbunyi, “Di setiap situasi yang buruk, pasti ada hal baik yang bisa ditemukan. Oleh sebab itu, tetaplah memuji Tuhan karena kebaikan-Nya tetap sungguh nyata di dalam kehidupan kita.”
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Seruan Ibadah Di Alam Terbuka Demi Solidaritas Kristen Teraniaya
Release International mengundang gereja-gereja untuk melaksanakan ibadah di ruang terbuka mulai bulan depan dalam aksi solidaritas bagi orang Kristen di seluruh dunia yang terpaksa beribadah di alam terbuka akibat campur tangan negara. Orang-orang kristen di sebagian China, Indonesia dan Asia Tengah dilarang beribadah karena gedung gereja mereka telah ditutup oleh pihak berwenang.
Shuwang Church, salah satu gereja rumah terbesar di Beijing, beribadah di alam terbuka selama setahun terakhir setelah pihak berwenang menolak untuk mendaftarkan gereja tersebut secara resmi. Jemaat gereja secara rutin ditangkap karena melaksanakan ibadah di ruang terbuka.
Seorang juru bicara gereja berkata, “Meskipun kami sudah melewati bulan-bulan penuh perjuangan dan merasa lelah baik secara jiwa dan raga, namun keinginan kami untuk menyembah Allah tidak berubah.”
Di Indonesia, HKBP Filadelfia, dekat Jakarta, melakukan ibadah di alam terbuka sejak protes massal oleh kaum mayoritas menyebabkan ditutupnya gereja. GKI Yasmin, Jawa Barat, juga harus melakukan ibadah di alam terbuka setelah walikota setempat menentang rencana konstruksi gereja.
Gereja-gereja di Inggris diminta untuk mengambil bagian dalam Great Outdoors Church Service pada 20 atau 27 Mei mendatang.
“Apakah Anda mau beribadah di alam terbuka menghadapi segala cuaca ketika pemerintah menutup gereja Anda?” ujar CEO Release International, Andy Dipper.
“Dan apakah Anda siap dengan resiko ditangkap – setiap minggu – saat berkumpul dan memuji Tuhan bersama-sama? Untuk menunjukkan dukungan kami terhadap orang-orang Kristen yang dianiaya, kami mengundang gereja-gereja di seluruh Inggris dan Irlandia untuk berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudara seiman dengan menggelar ibadah di ruang terbuka pada hari Minggu.”
Walaupun mungkin terlalu sulit bagi beberapa gereja untuk bertemu di alam terbuka, Andy Dipper mendorong orang Kristen Inggris untuk bergabung dalam doa bagi mereka yang menolak kebebasan untuk beribadah di gedung gereja.
“Tolong berdoa agar orang-orang Kristen ini terus kuat di dalam Tuhan, memahami kebijaksanaan Ilahi dalam berhubungan dengan otoritas dan meresponi dengan kasih karunia bagi lawan mereka. Berdoa agar mereka akan mengenal kehadiran Allah saat beribadah di ruang terbuka dan kesaksian mereka akan berbicara secara kuat kepada pihak berwenang dari kasih Allah yang besar.
Sumber: jawaban.com Baca Selengkapnya...
Shuwang Church, salah satu gereja rumah terbesar di Beijing, beribadah di alam terbuka selama setahun terakhir setelah pihak berwenang menolak untuk mendaftarkan gereja tersebut secara resmi. Jemaat gereja secara rutin ditangkap karena melaksanakan ibadah di ruang terbuka.
Seorang juru bicara gereja berkata, “Meskipun kami sudah melewati bulan-bulan penuh perjuangan dan merasa lelah baik secara jiwa dan raga, namun keinginan kami untuk menyembah Allah tidak berubah.”
Di Indonesia, HKBP Filadelfia, dekat Jakarta, melakukan ibadah di alam terbuka sejak protes massal oleh kaum mayoritas menyebabkan ditutupnya gereja. GKI Yasmin, Jawa Barat, juga harus melakukan ibadah di alam terbuka setelah walikota setempat menentang rencana konstruksi gereja.
Gereja-gereja di Inggris diminta untuk mengambil bagian dalam Great Outdoors Church Service pada 20 atau 27 Mei mendatang.
“Apakah Anda mau beribadah di alam terbuka menghadapi segala cuaca ketika pemerintah menutup gereja Anda?” ujar CEO Release International, Andy Dipper.
“Dan apakah Anda siap dengan resiko ditangkap – setiap minggu – saat berkumpul dan memuji Tuhan bersama-sama? Untuk menunjukkan dukungan kami terhadap orang-orang Kristen yang dianiaya, kami mengundang gereja-gereja di seluruh Inggris dan Irlandia untuk berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudara seiman dengan menggelar ibadah di ruang terbuka pada hari Minggu.”
Walaupun mungkin terlalu sulit bagi beberapa gereja untuk bertemu di alam terbuka, Andy Dipper mendorong orang Kristen Inggris untuk bergabung dalam doa bagi mereka yang menolak kebebasan untuk beribadah di gedung gereja.
“Tolong berdoa agar orang-orang Kristen ini terus kuat di dalam Tuhan, memahami kebijaksanaan Ilahi dalam berhubungan dengan otoritas dan meresponi dengan kasih karunia bagi lawan mereka. Berdoa agar mereka akan mengenal kehadiran Allah saat beribadah di ruang terbuka dan kesaksian mereka akan berbicara secara kuat kepada pihak berwenang dari kasih Allah yang besar.
Sumber: jawaban.com Baca Selengkapnya...
Di Tunisa Gereja-gereja Dipaksa Tutup
PASCA revolusi di Tunisia, bermunculan gerakan-gerakan anti-Kristen yang memimpikan penerapan 'demokrasi' melalui syariat Islam. Dan salah satu bentuk penerapan 'demokrasi' tersebut yakni dengan menutup gereja-gereja yang ada serta membatasi aktifitas umat Kristen.
Menurut situs berita Tunisia, Al Quds, pada Selasa (03/04/2012), dibeberkan dari segelintir gedung gereja yang masih berdiri di Tunisia, Gereja Kristen Orthodoks di Tunisa yang terletak di pusat ibukota Tunis, dilecehkan dengan menerima 'pesan ancaman' dari kelompok Islam Salafi di negara itu.
Pelecehan itu dilakukan dengan menutupi salib yang ada di tembok depan dan samping gedung gereja dengan plastik sampah. Sedang pada hari-hari sebelumnya gereja tua itu dilempari dengan kotoran manusia.
Aksi kebencian para salafi ini dilakukan terus menerus setelah negara itu dikuasai oleh pemerintahan Islam, dengan tujuan akhir agar umat Kristen dapat keluar dari Tunisia.
Warga gereja yang ditemui, mengakui hidup dalam suasana penuh ancaman sehingga mereka meminta bantuan kepada kedutaan besar Rusia di Tunisa agar menyuarakan aspirasi mereka kepada Kementrian Dalam Negeri agar dapat 'melindungi gereja', sebab sejak revolusi di Tunisa, umat Kristen di negara itu telah menjadi warga kelas dua yang selalu diabaikan pemerintah.
Selain Gereja Orthodoks, beberapa gereja lainnya seperti Gereja Katolik dan Gereja Protestan telah lebih dahulu ditutup. Para salafi ini menyatakan, mereka tidak ingin melihat lagi Salib dan Umat Kristen di negeri itu.
Sebagai negara awal penyebar benih revolusi di Timur Tengah, Tunisa menyatakan diri sebagai negara yang berhasil menjalani perubahan, termasuk 'toleransi' di lingkungan masyarakat. Sayangnya 'toleransi' ini juga termasuk memaksa 'kaum kafir' di negara itu untuk tunduk pada aturan agama mayoritas, termasuk larangan mengekspresikan 'agama kafir' yang menurut mereka tidak sesuai dengan 'demokrasi' ala Islam.
sumber: Perisai.net Baca Selengkapnya...
Menurut situs berita Tunisia, Al Quds, pada Selasa (03/04/2012), dibeberkan dari segelintir gedung gereja yang masih berdiri di Tunisia, Gereja Kristen Orthodoks di Tunisa yang terletak di pusat ibukota Tunis, dilecehkan dengan menerima 'pesan ancaman' dari kelompok Islam Salafi di negara itu.
Pelecehan itu dilakukan dengan menutupi salib yang ada di tembok depan dan samping gedung gereja dengan plastik sampah. Sedang pada hari-hari sebelumnya gereja tua itu dilempari dengan kotoran manusia.
Aksi kebencian para salafi ini dilakukan terus menerus setelah negara itu dikuasai oleh pemerintahan Islam, dengan tujuan akhir agar umat Kristen dapat keluar dari Tunisia.
Warga gereja yang ditemui, mengakui hidup dalam suasana penuh ancaman sehingga mereka meminta bantuan kepada kedutaan besar Rusia di Tunisa agar menyuarakan aspirasi mereka kepada Kementrian Dalam Negeri agar dapat 'melindungi gereja', sebab sejak revolusi di Tunisa, umat Kristen di negara itu telah menjadi warga kelas dua yang selalu diabaikan pemerintah.
Selain Gereja Orthodoks, beberapa gereja lainnya seperti Gereja Katolik dan Gereja Protestan telah lebih dahulu ditutup. Para salafi ini menyatakan, mereka tidak ingin melihat lagi Salib dan Umat Kristen di negeri itu.
Sebagai negara awal penyebar benih revolusi di Timur Tengah, Tunisa menyatakan diri sebagai negara yang berhasil menjalani perubahan, termasuk 'toleransi' di lingkungan masyarakat. Sayangnya 'toleransi' ini juga termasuk memaksa 'kaum kafir' di negara itu untuk tunduk pada aturan agama mayoritas, termasuk larangan mengekspresikan 'agama kafir' yang menurut mereka tidak sesuai dengan 'demokrasi' ala Islam.
sumber: Perisai.net Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)














