"Mungkin Gulungan-gulungan Laut Mati memberikan pengaruh paling besar pada Alkitab. Gulungan tersebut memberikan manuskrip Perjanjian Lama yang berusia 1000 tahun lebih tua dari manuskrip tertua yang kita miliki sebelumnya. Gulungan-gulungan Laut Mati memperlihatkan bahwa Perjanjian Lama disalin dengan akurat selama selang waktu tersebut. Sebagai tambahan, gulungan tersebut juga memberikan banyak informasi mengenai era menjelang dan selama kedatangan Kristus." --Dr. Bryant Wood, arkeolog, Associates for Biblical Research
Penjelasan Gulungan-gulungan Kitab. Segera setelah diumumkannya penemuan gulungan-gulungan kitab, debat ilmiah tentang asal usul dan pentingnya penemuan tersebut bergulir. Debat memanas ketika isi gulungan yang menakjubkan tersebut disebarluaskan secara bertahap. Salah satu penemuan paling menarik adalah sebuah gulungan tembaga yang harus dipotong sebelum dapat dibuka dan mengandung daftar 60 harta karun yang terletak di berbagai lokasi di Yudea (namun satupun belum pernah ada yang ditemukan)! Gulungan lainnya, yang ditemukan oleh para arkeolog Israel pada tahun 1967 di bawah lantai sebuah penjual barang antik di Betlehem, menjelaskan secara detil pandangan komunitas tersebut tentang tata ibadah Bait Suci yang rumit. Gulungan ini diberi nama "Gulungan Bait Suci."
Isi gulungan-gulungan Laut Mati memberi indikasi bahwa para penulisnya adalah sekelompok imam dan orang awam yang mengejar kehidupan komunal dengan dedikasi penuh kepada Allah. Pemimpin mereka disebut "Guru Kebenaran". Mereka memandang diri mereka sebagai satu-satunya Israel yang benar - hanya mereka yang setia kepada Hukum Allah.
Seperti apapun orang-orang Qumran, tulisan mereka memberikan kita gambaran latar belakang yang mengagumkan tentang salah satu aspek dunia religius yang didatangi Yesus. Sebagian ahli mencoba menarik kesejajaran antara tokoh-tokoh di dalam gulungan tersebut dengan Yohanes Pembaptis atau Yesus, namun penelitian objektif terhadap kesejajaran semacam itu menunjukkan bahwa perbedaannya jauh lebih besar daripada kemiripannya. Satu-satunya titik kesamaan adalah keduanya mengajarkan bahwa "Kerajaan Allah" sedang datang.
Salah satu sumbangan penting Gulungan-gulungan Laut Mati adalah banyaknya naskah Alkitab yang ditemukan. Sebelum penemuan Qumran, naskah Perjanjian Lama yang tertua disalin pada abad ke-9 dan 10 Masehi oleh sekelompok penyalin Yahudi yang disebut kaum Masoret. Sekarang kita memiliki naskah-naskah yang berumur 1000 tahun lebih tua dari sebelumnya. Kenyataan yang mengagumkan adalah bahwa naskah-naskah ini hampir identik! Inilah contoh nyata akan perhatian sungguh-sungguh yang diberikan oleh para penyalin Yahudi selama berabad-abad dalam usahanya menyalin Alkitab secara akurat. Kita dapat yakin bahwa Perjanjian Lama benar-benar menggambarkan kata-kata yang diberikan kepada Musa, Daud dan para nabi.
Orang-orang Qumran sungguh-sungguh percaya kepada doktrin "zaman akhir". Mereka lari ke padang gurun dan menyiapkan diri untuk menghadapi penghakiman yang segera akan tiba ketika musuh-musuh mereka dihancurkan, dan mereka, umat pilihan Allah, akan diberikan kemenangan terakhir sesuai dengan ramalan para nabi. Hubungan dengan kejadian akhir zaman inilah yang memunculkan salah satu pengajaran paling menarik dari sekte ini. Pengharapan mesianis menyebar dalam pemikiran kelompok persekutuan ini.
Dalam dokumen yang disebut "Manual Disiplin" atau "Aturan Komunitas", dijelaskan bahwa orang beriman harus terus hidup mengikuti aturan "sampai datangnya seorang nabi dan seorang yang diurapi [mesias] dari garis Harun dan Israel" (kolom 9, baris 11). Ketiga tokoh ini akan muncul untuk menuntun memasuki zaman yang sedang disiapkan oleh komunitas tersebut.
Dalam dokumen lainnya yang ditemukan di Gua Empat dan dinamakan "Testimonia", sejumlah ayat Perjanjian Lama dituliskan sebagai basis pengharapan mesianis mereka. Yang pertama adalah kutipan dari Ulangan 18:18-19 dimana Allah berkata kepada Musa:"seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini." Berikutnya adalah kutipan dari Bilangan 24:15-17, dimana Bileam meramalkan munculnya seorang pangeran penguasa: "bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab" dsb. Yang ketiga adalah berkat yang diucapkan oleh Musa kepada suku Lewi (suku imam) di Ulangan 33:8-11. Cara bagaimana ketiga kutipan ini disatukan menandakan bahwa penulisnya melihat kedepan kepada bangkitnya seorang nabi besar, pangeran besar dan imam besar.
Jadi, kita telah menemukan titik kontak yang menarik antara Qumran dan kekristenan - titik kontak yang juga merupakan titik pemisah. Komunitas Qumran dan orang-orang Kristen awal sepakat bahwa pada hari-hari penggenapan nubuat Perjanjian Lama akan muncul seorang nabi besar, imam besar dan raja besar. Namun ketiganya merupakan tokoh yang berbeda dalam pengharapan Qumran sedangkan Perjanjian Baru memandangnya menyatu dalam pribadi Yesus dari Nazaret.
Satu naskah lagi yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan latar belakang yang menarik atas pengharapan mesianis Perjanjian Baru. Naskah ini telah direkonstruksi dari 12 fragmen kecil, menghasilkan tidak lebih dari dua kolom tulisan; namun idenya dapat diketahui dari isinya yang singkat. Isinya adalah ramalan kelahiran seorang Anak Ajaib, yang barangkali diambil dari Yesaya 9:6-7: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita… dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib." Anak ini akan menunjukkan tanda-tanda khusus pada tubuh-Nya dan akan dikenal melalui kebijaksanaan dan kepandaiannya. Ia akan mampu mengetahui rahasia semua makhluk hidup dan Ia akan memulai suatu zaman baru yang sudah sejak lama dinantikan oleh orang-orang beriman.
Tidakkah mengejutkan bahwa segera setelah naskah ini disusun, seorang anak dilahirkan yang menggenapi pengharapan Israel dan memulai suatu zaman baru? Meskipun orang-orang Qumran keliru dalam detil-detil mesias mereka, namun mereka mengharapkan seseorang yang ciri-ciri umumnya diilustrasikan dengan luar biasa dalam hidup Yesus dari Nazaret, Anak Allah dan Mesias. Kita tidak tahu apakah sejumlah orang Kristen membawa pesan Yesus kepada komunitas di gurun ini. Kita hanya bisa berspekulasi bagaimana caranya mereka menanggapi Anak Ajaib yang dilahirkan di Bethlehem yang adalah Nabi, Imam dan Raja Israel.
Dr. Will Varner adalah Profesor Perjanjian Lama di The Master's College dan Direktur IBEX, kampus universitas tersebut di Israel.
Baca Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 April 2012
Kamis, 22 Maret 2012
Ahli Paleoantropologi: Manusia Tidak Berasal dari Kera
Perisai.net - PANDANGAN tentang salahnya teori evolusi manusia berasal dari kera, diungkap seorang peneliti antropologi kepurbakalaan. Seorang Professor dan Peneliti Paleoantropologi dari Associate Professor of Anthropology di University of Wisconsin, John Hawks, mengungkapkan bahwa manusia bukanlah keturunan monyet, kera atau keduanya.
"Saya tidak tahu mengapa begitu banyak orang yang menerima dan mengajarkan teori evolusi yang merusak sistematika filogenetik ini," ungkapnya dalam situs pribadinya, Johanhawks.net, Ahad (18/3).
Filogeni adalah hubungan antara spesies yang berbeda. sistematika filogenetik, jelas dia, berpendapat bahwa aturan pengelompokan (taksonomi) pada jenis manusia harus mencerminkan filogeninya.
Hasil dalam antropologi adalah bahwa manusia tidak masuk dalam antropologi yang dikategorikan ke dalam simpanse, gorila, dan orangutan atau diistilahkan 'pongids'. Manusia juga tidak bisa masuk dalam kelompok 'Hominidae' yang mencakup orangutan, simpanse, bonobo, dan gorila. Karena memiliki taksonomi yang berbeda. Akhirnya, semua ini sangat kontroversial.
Sistematika filogenetik, jelas Hawks, menyatakan bahwa kelompok taksonomi harus memiliki keturunan satu nenek moyang (monofiletik). Ini berarti manusia harus memiliki satu nenek moyang yang telah sempurna menjadikan mereka seperti bentuk saat ini. Secara tidak lagsung, Hawks mengungkapkan adanya sosok Adam dan Hawa di sana.
Sedangkan, menurut dia, simpanse, Gorila, bonobo, orangutan, dan owa adalah kera. Para peneliti menyebut mereka sebagai kera besar. Hawks mengungkapkan, mereka tidak bisa masuk dalam monofiletik manusia. "Ini artinya, manusia bukanlah berasal usul dari kera atau pun perubahan dari mereka," ungkapnya.
Selengkapnya di: http://perisai.net/iptek/ahli_paleoantropologi_manusia_tidak_berasal_dari_kera/#ixzz1pm553mJV
© PERISAI.net Baca Selengkapnya...
"Saya tidak tahu mengapa begitu banyak orang yang menerima dan mengajarkan teori evolusi yang merusak sistematika filogenetik ini," ungkapnya dalam situs pribadinya, Johanhawks.net, Ahad (18/3).
Filogeni adalah hubungan antara spesies yang berbeda. sistematika filogenetik, jelas dia, berpendapat bahwa aturan pengelompokan (taksonomi) pada jenis manusia harus mencerminkan filogeninya.
Hasil dalam antropologi adalah bahwa manusia tidak masuk dalam antropologi yang dikategorikan ke dalam simpanse, gorila, dan orangutan atau diistilahkan 'pongids'. Manusia juga tidak bisa masuk dalam kelompok 'Hominidae' yang mencakup orangutan, simpanse, bonobo, dan gorila. Karena memiliki taksonomi yang berbeda. Akhirnya, semua ini sangat kontroversial.
Sistematika filogenetik, jelas Hawks, menyatakan bahwa kelompok taksonomi harus memiliki keturunan satu nenek moyang (monofiletik). Ini berarti manusia harus memiliki satu nenek moyang yang telah sempurna menjadikan mereka seperti bentuk saat ini. Secara tidak lagsung, Hawks mengungkapkan adanya sosok Adam dan Hawa di sana.
Sedangkan, menurut dia, simpanse, Gorila, bonobo, orangutan, dan owa adalah kera. Para peneliti menyebut mereka sebagai kera besar. Hawks mengungkapkan, mereka tidak bisa masuk dalam monofiletik manusia. "Ini artinya, manusia bukanlah berasal usul dari kera atau pun perubahan dari mereka," ungkapnya.
Selengkapnya di: http://perisai.net/iptek/ahli_paleoantropologi_manusia_tidak_berasal_dari_kera/#ixzz1pm553mJV
© PERISAI.net Baca Selengkapnya...
Senin, 19 Maret 2012
Peneliti: Penemuan Bahtera Nuh Adalah Bohong!
![]() |
| Foto yang dijadikan bukti NAMI dan dianggap bohong oleh Price |
Namun, peneliti dari Liberty University mengatakan bahwa penemuan yang dilakukan oleh tim dari Cina itu adalah palsu. Hal itu dikatakan oleh Dr. Randall Price dalam sebuah wawancara dengan CBN.
Price mengatakan bahwa ia skeptis dengan tim dari Cina yang melakukan penelitian itu, ia juga meragukan pembimbing lokal mereka, Parasut. Bahkan, menurut Price, kemungkinan Parasut sengaja memalsukan bahtera itu agar bisa mendapatkan uang dari NAMI.
Parasut memang dibayar cukup tinggi. Ia dibayar 80.000 dollar AS per tahun selama penelitian itu dilakukan.
Parasut menunjukkan foto-foto dirinya di dalam sebuah kerangka kayu yang disebutnya bahtera Nuh. Namun, setelah diteliti, menurut Price, kerangka kayu itu berasal dari Tranzone, dekat Laut Mati.
"Itu adalah kerangka kapal kuno yang berasal dari ratusan tahun silam. Itu adalah kapal tua," kata Price.
Menurut Price, foto-foto tersebut tidak diambil di Gunung Ararat, tapi kerangka itu memang telah dipindahkan ke Gunung Ararat dan dirangkai kembali di atas gunung tersebut.
Price telah melakukan penelitian ke puncak Gunung Ararat untuk membuktikan hasil penelitian NAMI. Namun, hasil penelitian itu menunjukkan bahwa temuan NAMI adalah palsu. Bahkan, menurut Price, salah satu warga lokal yang ikut dalam penelitian Price mengakui kalau dia juga ikut terlibat dalam perancangan ulang kerangka kayu kapal tua itu di Gunung Ararat.
Price berharap NAMI segera mengkonfirmasi kembali temuan mereka itu dan mengakui kalau temuan mereka salah. Namun, NAMI sendiri telah melakukan sejumlah bantahan terhadap Price melalui wawancara-wawancara dan berbagai artikel di sejumlah situs internet.
Meski demikian, Price yang sudah bertahun-tahun melakukan penelitian di Gunung Ararat tidak gentar dengan bantahan-bantahan itu. Ia tidak mau gegabah dalam hal penemuan arkeologi. Ia menuntut pembuktian ilmiah dengan menunjukkan sampel-sampel temuan agar dilakukan analisa lebih lanjut.
"Untuk bisa disebut layak dan ilmiah, kita tidak akan menghubungkan titik-titik sebelum benar-benar melakukan penggalian, menemukan obyek, mengambil sampel, mendokumentasikannya dalam bentuk film, dan membawa sampel-sampel untuk dianalisa," kata Price. "Itu bukan arkeologi palsu. Itulah arkeologi yang sebenarnya."
Pencarian terhadap bahtera Nuh memang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejumlah penjelajah, arkeolog dan petualang telah melakukan upaya itu selama lebih dari satu abad. Namun, belum ada penemuan yang bisa dikategorikan ilmiah mengenai bahtera Nuh tersebut. []
© CBN News
Selengkapnya di: perisai.net
© PERISAI.net Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)



