Apa yang langsung terlintas dalam benak anda saat mendengar kata penginjilan? Ada orang yang tidak mengerti apa itu penginjilan, ada pula orang yang langsung tegang atau ketakutan mendengar kata itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab ternyata banyak orang Kristen yang takut bila harus mengabarkan Injil. Mereka takut mendapatkan penolakan atau bahkan penganiayaan dari masyarakat. Ada pula yang merasa diri tidak toleran terhadap agama lain, ada yang takut dicap fanatik dan lain sebagainya.
Dari pengalaman menggembalakan beberapa tahun yang lalu, kami terbeban untuk memperlengkapi jemaat untuk bukan saja bertumbuh kerohaniannya namun juga menjadikan mereka saksi Kristus yang efektif. Hingga kami bukan saja mengadakan pemuridan namun juga pelatihan misi & penginjilan. Kami berhasil mengutus jemaat untuk menjadi misionaris lokal, memberitakan kabar baik pada suku terabaikan. Namun kami juga tidak dapat memungkiri bahwa ada pula jemaat yang mengikuti pelajaran di kelas misi & penginjilan ini, hanya sekedar untuk mendapatkan “pengetahuan”. Dan hal ini tampak saat praktek lapangan “banyak yang berhalangan hadir”. Seolah memberitakan Injil merupakan sebuah tugas yang mengerikan.
Banyak juga orang Kristen beralasan panggilan Tuhan atas hidup mereka bukanlah penginjil, dan menaruhkan beban penginjilan sepenuhnya pada mereka yang terpanggil atau memiliki jawatan sebagai penginjil. Banyak orang percaya bahwa tugas penginjilan “hanya” bagi orang-orang tertentu dengan pengurapan khusus seperti Billy Graham, Luis Palau, Morris Cerullo, Reinhard Bonnke, Oral Roberts, Benny Hinn dan nama besar lainnya. Sebab mereka berpikir bahwa menginjili orang berarti mereka harus mengadakan acara kebaktian penginjilan atau KKR di stadion sepakbola dan lalu berkhotbah mengenai berita keselamatan bagi para hadirin. No wonder! Benarkah pandangan tersebut? Bagaimana di gereja atau tempat pelayanan anda?
Saya percaya bahwa ada jawatan penginjil, Alkitab menyatakan,”IA (Tuhan Yesus) lah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”(Efesus 4:11-13)
Memang ada jawatan penginjil namun penginjilan bukanlah semata tugas dia seorang diri atau hanya sekelompok orang saja. Para penginjil ditugaskan bukan saja mewartakan Kabar Baik bagi yang terhilang tetapi mereka juga bertugas memperlengkapi umat Tuhan bagaimana cara mengabarkan berita Injil. Tuhan menugaskan kita semua untuk menjadi saksi-saksiNya. Dan inilah pesan Tuhan sebelum Ia naik ke sorga,”Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kisah 1:8). Haloooo, ini tugas kita semua sebagai anak Tuhan.
”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Ini adalah sebuah amanat terakhir sebelum YESUS naik ke surga. Sebuah amanat agung yang harus gereja TUHAN lakukan. Namun apa daya, sebagian besar gereja di akhir zaman ini sudah melupakannya dan fokus hanya untuk kepentingan segelintir golongan. Akibat kemandulan gereja dalam mengemban amanat agung ini, lahirlah pelayanan atau organisasi penginjilan (parachurch) di luar institusi gereja.
Gereja harus berfokus pada menghasilkan murid (disciples) dan bukan sekedar pengikut (followers). Juan Carlos Ortiz dalam bukunya Murid Sejati menyatakan bukti kegagalan gereja menghasilkan murid Kristus adalah terlahirnya Sekolah Alkitab. Sebuah kritikan pedas namun dapat menjadi cambuk bagi tiap gembala sidang untuk mulai memperlengkapi jemaat Tuhan menggenapi Amanat Agung Tuhan Yesus. Sampai kini Sekolah Alkitab masih berdiri untuk menopang, puji Tuhan atas hal tersebut. Sekaranglah saatnya bagi gereja TUHAN untuk bangkit dan memperlengkapi umat Tuhan serta mengutus mereka menjadi garam dan terang dunia.
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara seorang murid dan pengikut, seorang Pengikut Kristus yang hanya menginginkan berkat dan identik dengan sesuatu yang bersifat materi. Seorang pengikut akan memuji Tuhan kala segala sesuatu berjalan lancar sesuai kehendaknya. Namun ketika segala sesuatu menjadi sulit, ia dapat dengan mudah melupakan Kristus bahkan beralih iman. Tuhan tidak pernah terkesan dengan mereka yang bermulut manis, sebab IA tahu isi hati setiap manusia.
Sedangkan seorang murid Kristus tahu ketika ia melakukan kehendak Tuhan, maka berkat Tuhan maka berkat Tuhan sudah ada di atas kepalanya dan siap untuk dicurahkan. Seorang murid rela berkorban bagi Tuhan dan sesamanya.
Saya kagum pada kesungguhan dan ketulusan Bunda Teresa (almarhum), yang rela hidup apa adanya untuk dapat melayani kaum yang kurang beruntung di Calcuta, India. Dia tidak menunggu sampai ada pihak donatur datang dan baru bergerak melayani. Saat pimpinan rohaninya tidak mendukungnya, dia tetap percaya bahwa Tuhan yang akan menolong dan membuka jalan. Kala ia tidak memiliki kelas untuk mengajar, kala ia tidak memiliki kapur dan papan tulis; ia mengajar di alam terbuka, menggunakan sebatang kayu untuk menulis dan tanah sebagai media papan tulisnya. Ia mungkin bukan seorang yang cakap mengajar atau berkhotbah tentang kasih namun kasihnya terbukti dengan merawat mereka yang sakit kusta dan aneka penyakit lainnya. Kasihnya meluap dari hubunganya yang dekat dengan Tuhan Yesus. Sungguh kehidupan Bunda Teresa memberikan inspirasi yang luar biasa mengenai kasih Kristus di muka bumi.
Ada banyak strategi penginjilan yang diajarkan. Salah satu pelajaran penginjilan dasar, sebagai contoh ada metode 4 Hukum Rohani yang diperkenalkan oleh Para Navigator. Saya mengenal metode ini kala duduk di bangku Sekolah Alkitab. Dimana metode ini menjadi landasan pola penginjilan kami saat itu. Dimana kami harus praktek lapangan dengan menggunakan cara tersebut.
Di sini saya akan sedikit saja menjabarkan cara penginjilan 4 Hukum Rohani, agar anda memiliki gambaran:
ALLAH INGIN KITA TAHU BAHWA:
Semua orang adalah orang berdosa dan tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Sebagaimana ada tertulis “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)”
Yesus Kristus sudah menyediakan jalan keselamatan. Sebagaimana ada tertulis,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Kita harus bertobat dari dosa-dosa kita, mengakui dan meninggalkannya. Sebagaimana ada tertulis,”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kitadan menyucikan kita dari segala kejahatan.(1 Yohanes 1:9)
Hal menerima atau menolak jalan keselamatan ini akan menentukan nasib kita di akhirat. Sebagaimana ada tertulis “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat pada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada atasnya.” (Yohanes 3:36)
Ada pula metode pengembangan yang hampir sama dari Explosion Evangelism (EE). Kala saya menggembalakan sebuah sidang jemaat di kota Surabaya, saya pun pernah mengutus beberapa staf gereja dan jemaat yang aktif untuk diperlengkapi di EE-Malang.
Ke dua pelayanan ini secara luar biasa dipakai oleh Tuhan dan memberikan fondasi untuk penginjilan yang efektif dalam mengabarkan Injil baik secara individu maupun kelompok. Masih ada juga cara Roman’s Road (pola Jalan Roma), yang sempat saya pelajari saat mengikuti pendidikan theologia.
Saya pernah melakukan penginjilan dengan membagi-bagikan traktat di jalan-jalan, ada pula metode “hit and run”, yang diprakarsai oleh pelayanan JTC melalui traktat bergambarnya yang menarik (Di Indonesia traktat ini dicetak oleh pelayanan Nafiri Allah Terakhir). Dan ada pula traktat tertulis yang dicetak oleh penerbit Gandum Mas. Namun ini semua bukan satu-satunya metode dalam penginjilan. Ada begitu banyak ragam dalam mengabarkan Kabar Baik bagi mereka yang terhilang. Sebagai informasi traktat merupakan penjabaran berita Injil melalui tulisan atau gambar cetak.
Cara-cara di atas ini baik, namun bagi beberapa orang cara tersebut membutuhkan nyali besar atau bahkan kadang menakutkan. Kebanyakan cara penginjilan yang diajarkan di kelas-kelas pemuridan atau school of ministry, mirip dengan salah satu pola di atas. Saya pun mengajar hal ini di kelas penginjilan. Metode itu menjadi salah bila menjadi satu-satunya cara untuk mengabarkan Injil. Tuhan kita kreatif dan dinamis, IA tidak kaku, kuno ataupun statis. Di saat saya merasa frustasi dan gagal memperlengkapi jemaat untuk menggenapi Amanat Agung, saat itulah Tuhan mewahyukan hal-hal baru dan semuanya itu saya tuangkan dalam buku ini.
Buku ini ditulis untuk menyadarkan pada setiap anak Tuhan bahwa penginjilan merupakan tugas kita semua. Tuhan memanggil kita untuk mengikuti teladan hidupNya dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Tuhan. Penekanan dalam buku ini adalah penginjilan bukan sebagai sesuatu yang menegangkan apalagi menakutkan. Kita akan belajar mengenai pola penginjilan yang natural dan bersahabat sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah oleh semua orang.
Apakah anda pernah membaca bagaimana jemaat mula-mula merupakan jemaat yang disukai dan setiap hari jumlah mereka ditambahkan Tuhan(Kisah 2:47)? Mengapa jemaat mula-mula dapat mempengaruhi dunia dalam waktu yang singkat? Padahal kebanyakan dari mereka hidup di tengah aniaya hingga mengungsi keberbagai kota (Kisah 8:1b)?
Bagaimana cara mereka mewartakan berita Injil? Apakah strategi khusus mereka? Metode apa yang mereka gunakan? Darimana mereka memiliki keberanian untuk mengabarkan Injil di tengah situasi yang sesulit itu? INGAT: PENGINJILAN bukanlah sesuatu yang menakutkan sebab merupakan bagian kehidupan kita. Ketika anda hidup dalam ketaatan, berita Injil itu sudah ada dan nampak dalam hidup sehari-hari anda.
Saya percaya bahwa sebenarnya penginjilan bukanlah sesuatu yang menakutkan, tidak perlu biaya besar, tidak perlu keahlian dan pelatihan bertahun-tahun, yang diperlukan adalah hati yang penuh dengan belas kasihan terhadap mereka yang terhilang. Sebagaimana pandangan mata BAPA terhadap mereka yang belum mengenal putraNYA yang tunggal, YESUS KRISTUS atau bahkan mereka yang telah meninggalkan DIA dengan alasan mereka sendiri.
Baca Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Oktober 2013
Senin, 30 September 2013
Apakah Kerajaan Allah?
Milt Rodriguez, salah seorang rekan dari pelayanan The Rebuilders – Amerika Serikat menggambarkan Kerajaan Allah sebagai berikut:
"Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." Kol. 1:13, 14
The Power of the Filter (Kuasa dari filter/penyaring)
Kita semua memiliki pola pikir. Ini merupakan sistem atau cara berpikir kita dalam topik-topik tertentu. Tiap topik memiliki suatu set tersendiri dalam hal pemikiran dan “prinsip-prinsip” yang berhubungan dengan pola pikir tersebut. Sebagai contoh, bila Anda seorang perenang Olimpiade maka Anda akan memiliki sebuah “pikiran” yang tertuju pada suatu olahraga tertentu secara spesifik. Seorang atlit renang dlam benaknya akan senantiasa dipenuhi oleh kata-kata air, bagaimana meluncur dengan cepat melalui air, pakaian renang, tutup kepala, kacamata renang, teknik renang, dan sebagainya. Pemusatan pikiran ini akan menjadi sebuah filter dalam pikiran atlit renang tersebut. Hingga ketika ia melihat air maka pikirannya secara otomatis akan tertuju pada berenang, berlomba, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kejuaraan renang. Saat ia sampai di kolam renang secara otomatis pula ia “melihat” sebuah kejuaraan yang harus dilakoni di depan matanya.
Kita juga melakukan hal yang sama saat membaca firman Tuhan mengenai Kerajaan Tuhan. Orang Kristen memandang topik ini dari berbagai sudut pandangan. Seperti perenang tadi, dalam benak kita sudah ada alur tersendiri mengenai apa itu Kerajaan Tuhan sebagai suatu filter.
Beberapa orang akan berpendapat bahwa Kerajaan Tuhan berbicara mengenai kekuasaan politik dan bagaimana Tuhan Yesus dapat berkuasa melalui anak-anak Tuhan yang menguasai ranah politik suatu negeri. Saudara yang lain melihat Kerajaan Tuhan sebagai pemulihan karunia-karunia rohani seperti kesembuhan, mujizat, kelepasan dari roh jahat, membangkitkan orang mati dll. Ada pula yang memiliki sudut pandang melihat Kerajaan melalui filter penginjilan, kebangunan rohani dan pertumbuhan gereja. Bagi mereka perihal Kerajaan Tuhan berbicara mengenai keselamatan umat manusia melalui pengenalan akan berita Injil. Pandangan lain umpamanya ada pula yang melihat perspektif Kerajaan Tuhan dengan penggenapan dari nubuatan akhir zaman mengenai kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Dan masih banyak lagi pandangan lainnya mengenai Kerajaan Tuhan yang berkembang dalam gereja kita.
Satu Pemikiran Yang Sangat Kita Perlukan
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, Kol. 3:1 - 4
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Kol. 3:9 - 11
Saudara dan saudariku, kita sangat memerlukan pembaharuan budi pekerti kita sebagai ciptaan yang baru. Pembaharuan pikiran ciptaan baru “di dalam Kristus”. Pola pikir Ciptaan Baru!
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 2 Kor. 5:17
Dalam pola pikir baru ini kita dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru. Ini merupakan perspektif dari Allah sendiri. IA memandang dari perspektif “di dalam Kristus!” Bapa hanya melihat dari sudut ini saja. Kita dapat menyatakan ini sebagai pola pikir Allah. DIA melihat segala sesuatu dari “filter” Anak Yang IA kasihi.
"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan," Kol. 2:9
Kita tahu bahwa Allah melakukan segala sesuatu di dalam dan melalui Kristus. Sayangnya, kita kita tidak berpikir dengan pola pikirNya tersebut. Sebab itu kita sangat perlu untuk memperbaharui pikiran kita dengan pola pikir Kristus sebagaimana yang dituliskan Rasul Paulus.
Memandang Kerajaan Tuhan Melalui Pikiran Baru
Kita perlu untuk memeriksa kembali pola pikir kita, apakah pemikiran kita mengenai definisi dan pengertian mengenai Kerajaan Tuhan itu benar atau tidak? Milt Rodriguez menyatakan bahwa selama bertahun-tahun ia hanya melihat Alkitab sebagai buku yang penuh prinsip dan topik rohani. Di dalam topik-topik ini memuat “prinsip-prinsip” yang perlu dipelajari oleh setiap orang percaya. Saya bukan saja diajarkan seperti itu, saya pun mengajarkan orang lain hal yang sama. Saya mengucap syukur terhadap Tuhan pada akhirnya saya menyadari Alkitab bukan mengenai topik dan prinsip tetapi buku mengenai Seorang Pribadi. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, Putra Allah! Kita dapat melihat, Pribadi inilah pusat pemikiran dan tulisan dari Allah. Alkitab bukanlah buku yang sekedar membahas keselamatan, doa, kesembuhan, kebenaran, kekudusan, kasih, pelayanan, gereja, Kerajaan Tuhan dll. Semua ayat firman Tuhan hanya berbicara mengenai satu Pribadi dan menyatakan Pribadi ini saja. (Yohanes 5:39, 40; Lukas 24:27; Wahyu. 1:1; Wahyu 19:13).
Sekarang mari kita lihat “topik” mengenai Kerajaan Tuhan.
Misteri
" Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan." Mrk 4:11
"Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus." Kol. 2:1 - 2
Benih
"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya." Mat 13:24
"Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus." Gal. 3:16
Pertama
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Mat 6:33
"Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. " Kol. 1:18
Harta
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. " Mat. 13:44
"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. " 2 Kor. 4:7
Pernikahan
"Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” Mat 22:2
"Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. " Ef. 5:28b - 30
Kebun Anggur
"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya." Mat 20:1
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Yohanes 15:5
Ini seharusnya kini menjadi definisi kita mengenai Kerajaan Tuhan. Kerajaan bukanlah sebuah topik pembahasan lainnya yang perlu kita taati. Kerajaan Tuhan adalah seorang Pribadi dan kita dipanggil untuk mengenal dan hidup sepenuhnya dengan Pribadi yang luar biasa ini.
"Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Lukas 17:20, 21
Tuhan berbicara mengenai diriNya sendiri. IA ada dalam pola pikir mereka. Kerajaan ada diantara mereka sebab IA ada diantara mereka! IA ADALAH Kerajaan. Kerajaan Allah adalah tempat Allah merupakan yang terutama, Allah berkuasa dan Allah adalah segalanya. Tempat itu berada di dalam Pribadi Kristus.
Sangat menarik bahwa Paulus tidak banyak menggunakan istilah “Kerajaan” namun Tuhan Yesus secara konstan membicarakannya. Milt Rodriguez percaya bahwa alasan Tuhan Yesus menggunakan istilah “Kerajaan” sebab IA pada umumnya berbicara terhadap bangsa Yahudi, yang pada saat itu berpikir (memiliki filter dalam pikirannya) bahwa ketika Yesus berbicara mengenai kerajaan maka yang akan dipulihkan adalah kekuasaan Israel secara politik. Tuhan Yesus ingin menekankan pada mereka bahwa yang DIA maksudkan dengan Kerajaan Tuhan adalah DIRINYA. Bila kita tilik Paulus berbicara pada bangsa non Yahudi, ia lebih sering menggunakan frase “di dalam Kristus”. Ia menggunakan frase tersebut lebih dari duaratus kali dalam surat-suratnya. Baik Tuhan Yesus maupun Paulus berbicara mengenai sebuah “lokasi”, Lokasi tersebut merupakan Pribadi Yang Mulia.
Warisan
Dalam Perjanjian Lama kerajaan dan tanah Kanaan merupakan sinonim. Tentu kita semua tahu bahwa kerajaan Israel dan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian hanyalah bayangan dari janji yang sebenarnya. Janji sebenarnya adalah Yesus Kristus. Paulus menggunakan gambaran tanah Kanaan sebagai penggambaran betapa kaya dan dalamnya kekayaan di dalam Kristus. (Kis 20:32; Kol. 1:12).
"dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. " Kol. 1:12 - 14
Kita dapat melihat disini bagaimana Paulus menyatukan gambaran dari tanah Kanaan (Yos 14:1) dan Kerajaan AnakNya Yang Kekasih. Kerajaan ini, warisan ini, tanah perjanjian ini tidak lain tidak bukan adalah Tuhan Yesus Kristus yang menjadi bagian setiap orang kudus!
Sumber : simplechurch Baca Selengkapnya...
"Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." Kol. 1:13, 14
The Power of the Filter (Kuasa dari filter/penyaring)
Kita semua memiliki pola pikir. Ini merupakan sistem atau cara berpikir kita dalam topik-topik tertentu. Tiap topik memiliki suatu set tersendiri dalam hal pemikiran dan “prinsip-prinsip” yang berhubungan dengan pola pikir tersebut. Sebagai contoh, bila Anda seorang perenang Olimpiade maka Anda akan memiliki sebuah “pikiran” yang tertuju pada suatu olahraga tertentu secara spesifik. Seorang atlit renang dlam benaknya akan senantiasa dipenuhi oleh kata-kata air, bagaimana meluncur dengan cepat melalui air, pakaian renang, tutup kepala, kacamata renang, teknik renang, dan sebagainya. Pemusatan pikiran ini akan menjadi sebuah filter dalam pikiran atlit renang tersebut. Hingga ketika ia melihat air maka pikirannya secara otomatis akan tertuju pada berenang, berlomba, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kejuaraan renang. Saat ia sampai di kolam renang secara otomatis pula ia “melihat” sebuah kejuaraan yang harus dilakoni di depan matanya.
Kita juga melakukan hal yang sama saat membaca firman Tuhan mengenai Kerajaan Tuhan. Orang Kristen memandang topik ini dari berbagai sudut pandangan. Seperti perenang tadi, dalam benak kita sudah ada alur tersendiri mengenai apa itu Kerajaan Tuhan sebagai suatu filter.
Beberapa orang akan berpendapat bahwa Kerajaan Tuhan berbicara mengenai kekuasaan politik dan bagaimana Tuhan Yesus dapat berkuasa melalui anak-anak Tuhan yang menguasai ranah politik suatu negeri. Saudara yang lain melihat Kerajaan Tuhan sebagai pemulihan karunia-karunia rohani seperti kesembuhan, mujizat, kelepasan dari roh jahat, membangkitkan orang mati dll. Ada pula yang memiliki sudut pandang melihat Kerajaan melalui filter penginjilan, kebangunan rohani dan pertumbuhan gereja. Bagi mereka perihal Kerajaan Tuhan berbicara mengenai keselamatan umat manusia melalui pengenalan akan berita Injil. Pandangan lain umpamanya ada pula yang melihat perspektif Kerajaan Tuhan dengan penggenapan dari nubuatan akhir zaman mengenai kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Dan masih banyak lagi pandangan lainnya mengenai Kerajaan Tuhan yang berkembang dalam gereja kita.
Satu Pemikiran Yang Sangat Kita Perlukan
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, Kol. 3:1 - 4
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Kol. 3:9 - 11
Saudara dan saudariku, kita sangat memerlukan pembaharuan budi pekerti kita sebagai ciptaan yang baru. Pembaharuan pikiran ciptaan baru “di dalam Kristus”. Pola pikir Ciptaan Baru!
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 2 Kor. 5:17
Dalam pola pikir baru ini kita dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru. Ini merupakan perspektif dari Allah sendiri. IA memandang dari perspektif “di dalam Kristus!” Bapa hanya melihat dari sudut ini saja. Kita dapat menyatakan ini sebagai pola pikir Allah. DIA melihat segala sesuatu dari “filter” Anak Yang IA kasihi.
"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan," Kol. 2:9
Kita tahu bahwa Allah melakukan segala sesuatu di dalam dan melalui Kristus. Sayangnya, kita kita tidak berpikir dengan pola pikirNya tersebut. Sebab itu kita sangat perlu untuk memperbaharui pikiran kita dengan pola pikir Kristus sebagaimana yang dituliskan Rasul Paulus.
Memandang Kerajaan Tuhan Melalui Pikiran Baru
Kita perlu untuk memeriksa kembali pola pikir kita, apakah pemikiran kita mengenai definisi dan pengertian mengenai Kerajaan Tuhan itu benar atau tidak? Milt Rodriguez menyatakan bahwa selama bertahun-tahun ia hanya melihat Alkitab sebagai buku yang penuh prinsip dan topik rohani. Di dalam topik-topik ini memuat “prinsip-prinsip” yang perlu dipelajari oleh setiap orang percaya. Saya bukan saja diajarkan seperti itu, saya pun mengajarkan orang lain hal yang sama. Saya mengucap syukur terhadap Tuhan pada akhirnya saya menyadari Alkitab bukan mengenai topik dan prinsip tetapi buku mengenai Seorang Pribadi. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, Putra Allah! Kita dapat melihat, Pribadi inilah pusat pemikiran dan tulisan dari Allah. Alkitab bukanlah buku yang sekedar membahas keselamatan, doa, kesembuhan, kebenaran, kekudusan, kasih, pelayanan, gereja, Kerajaan Tuhan dll. Semua ayat firman Tuhan hanya berbicara mengenai satu Pribadi dan menyatakan Pribadi ini saja. (Yohanes 5:39, 40; Lukas 24:27; Wahyu. 1:1; Wahyu 19:13).
Sekarang mari kita lihat “topik” mengenai Kerajaan Tuhan.
Misteri
" Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan." Mrk 4:11
"Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus." Kol. 2:1 - 2
Benih
"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya." Mat 13:24
"Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus." Gal. 3:16
Pertama
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Mat 6:33
"Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. " Kol. 1:18
Harta
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. " Mat. 13:44
"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. " 2 Kor. 4:7
Pernikahan
"Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” Mat 22:2
"Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. " Ef. 5:28b - 30
Kebun Anggur
"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya." Mat 20:1
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Yohanes 15:5
Ini seharusnya kini menjadi definisi kita mengenai Kerajaan Tuhan. Kerajaan bukanlah sebuah topik pembahasan lainnya yang perlu kita taati. Kerajaan Tuhan adalah seorang Pribadi dan kita dipanggil untuk mengenal dan hidup sepenuhnya dengan Pribadi yang luar biasa ini.
"Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Lukas 17:20, 21
Tuhan berbicara mengenai diriNya sendiri. IA ada dalam pola pikir mereka. Kerajaan ada diantara mereka sebab IA ada diantara mereka! IA ADALAH Kerajaan. Kerajaan Allah adalah tempat Allah merupakan yang terutama, Allah berkuasa dan Allah adalah segalanya. Tempat itu berada di dalam Pribadi Kristus.
Sangat menarik bahwa Paulus tidak banyak menggunakan istilah “Kerajaan” namun Tuhan Yesus secara konstan membicarakannya. Milt Rodriguez percaya bahwa alasan Tuhan Yesus menggunakan istilah “Kerajaan” sebab IA pada umumnya berbicara terhadap bangsa Yahudi, yang pada saat itu berpikir (memiliki filter dalam pikirannya) bahwa ketika Yesus berbicara mengenai kerajaan maka yang akan dipulihkan adalah kekuasaan Israel secara politik. Tuhan Yesus ingin menekankan pada mereka bahwa yang DIA maksudkan dengan Kerajaan Tuhan adalah DIRINYA. Bila kita tilik Paulus berbicara pada bangsa non Yahudi, ia lebih sering menggunakan frase “di dalam Kristus”. Ia menggunakan frase tersebut lebih dari duaratus kali dalam surat-suratnya. Baik Tuhan Yesus maupun Paulus berbicara mengenai sebuah “lokasi”, Lokasi tersebut merupakan Pribadi Yang Mulia.
Warisan
Dalam Perjanjian Lama kerajaan dan tanah Kanaan merupakan sinonim. Tentu kita semua tahu bahwa kerajaan Israel dan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian hanyalah bayangan dari janji yang sebenarnya. Janji sebenarnya adalah Yesus Kristus. Paulus menggunakan gambaran tanah Kanaan sebagai penggambaran betapa kaya dan dalamnya kekayaan di dalam Kristus. (Kis 20:32; Kol. 1:12).
"dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. " Kol. 1:12 - 14
Kita dapat melihat disini bagaimana Paulus menyatukan gambaran dari tanah Kanaan (Yos 14:1) dan Kerajaan AnakNya Yang Kekasih. Kerajaan ini, warisan ini, tanah perjanjian ini tidak lain tidak bukan adalah Tuhan Yesus Kristus yang menjadi bagian setiap orang kudus!
Sumber : simplechurch Baca Selengkapnya...
Sabtu, 28 September 2013
“PERLUKAH GEREJA MODERN BERUBAH?”
Perubahan dalam dunia adalah sesuatu yang biasa. Kita perlu mengikuti perubahan yang terjadi di dalamnya. Dulu orang mengendarai kuda atau kereta kuda tetapi kini orang mengendarai sepeda motor atau mobil. Dulu orang menggunakan burung merpati untuk memberikan kabar berita lalu digantikan dengan cara surat menyurat atau pengiriman pesan melalui telegram tetapi kini orang dapat menggunakan pesawat telpon atau handphone untuk langsung berbincang-bincang, mengirimkan pesan singkat melalui SMS atau surat melalui e-mail atau berbincang melalui dunia maya yang dikenal dengan istilah chatting. Pada saat saya kuliah di perguruan tinggi di akhir tahun 80-an saya menggunakan mesin ketik manual untuk membuat tugas tetapi kini para mahasiswa menggunakan laptop dan printer. Dulu dapat memasang telpon pribadi di rumah sangat sulit dan mahal tetapi sekarang hampir semua orang memiliki telpon seluler. Siapa yang tidak mau berubah maka ia akan ketinggalan zaman, ia menjadi orang “jadul” (zaman dulu) dan gaptek (gagap teknologi). Begitu pula jika gereja tidak mau berubah bersama dengan Tuhan. Suka atau tidak gereja akan tertinggal, gereja akan dan harus mengalami perubahan. Tetapi sudah dapat diprediksikan bahwa pasti ada saja kelompok yang enggan berubah. Bagaimana menurut para pakar theologia tentang perubahan ini?
Beberapa pakar theologia dan riset memberikan beberapa saran perubahan:
DR. C. Peter Wagner, adalah pakar dalam bidang pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, salah satu seorang pelopor gerakan Gereja Apostolik Baru, Dekan dari Wagner Leadership Institute (WLI) dan Presiden Global Harvest Ministry menyatakan ada 9 pergeseran paradigma yang tengah berkembang:
Dari Pemerintahan denominasi kepada pemerintahan apostolik atau rasuli.
Dari Reformasi Internal kepada pembaharuan apostolik.
Dari Visi gereja kepada visi kerajaan.
Dari Persekutuan gereja berdasarkan warisan (denominasi) kepada persekutuan gereja berdasarkan teritorial (kota).
Dari ekspansi gereja kepada transformasi masyarakat.
Dari bertoleransi pada setan kepada invasi terhadap kerajaan setan.
Dari Pendidikan theologia kepada memperlengkapi pelayan.
Dari muatan doktrin yang berat kepada muatan doktrin yang ringan.
Dari pengudusan Reformed kepada kekudusan Wesley.
George Barna, pakar riset dari Amerika Serikat dan pimpinan Barna Research, telah meneliti hubungan antara gereja dan budaya Amerika Serikat. Ia telah melihat perubahan yang muncul:
Otoritas: Dari sentralisasi kepada desentralisasi.
Kepemimpinan: dari dipimpin pendeta kepada dipimpin orang “biasa”.
Distribusi kuasa: dari vertikal pada horisontal.
Reaksi pada perubahan: dari menolak kepada menerima.
Identitas: dari tradisi dan aturan kepada misi dan visi.
Lingkup pelayanan: dari segala macam kepada spesialisasi.
Praktek: dari diikat oleh tradisi kepada diikat oleh relevansi.
Peranan umat: dari observasi dan support pada partisipasi dan inovasi.
Produk utama: dari pengetahuan kepada transformasi (perubahan)
Faktor sukses: dari ukuran, efisiensi, image kepada kemudahan akses, pemberian dampak dan integritas.
Tantangan utama: dari momentum, hubungan, kepemimpinan dan kepuasan kepada hubungan, kesatuan, kepemimpinan dan keseimbangan.
Efek teknologi: dari merebut perhatian kepada memfasilitasi pertumbuhan.
Sarana bertumbuh: lebih dari sekedar program-program yang dijalankan lebih baik kepada hubungan dan pengalaman yang lebih mendalam.
Prospek pertumbuhan: dari terbatas pada tanpa batas.
Lebih lanjut George Barna pun menyatakan mengenai 10 profil gereja abad 21:
Gereja abad 21 menolak agama mati.
Gereja abad 21 kembali menemukan sukacita mendengar suara Tuhan.
Gereja abad 21 bergerak dalam penginjilan lintas budaya.
Gereja abad 21 peduli hubungan dari pada program dan organisasi.
Gereja abad 21 memberi keleluasaan pada kreatifitas.
Gereja abad 21 menaruh perhatian terhadap rekonsiliasi.
Gereja abad 21 memiliki pemahaman yang matang tentang peperangan rohani.
Gereja abad 21 menerima konsep “Gereja seKota”
Gereja abad 21 memberikan perhatian kepada pelayanan sosial.
Gereja abad 21 menyembah Allah dengan bebas.
Lain lagi pernyataan Eddie Gibbs, Profesor pertumbuhan gereja di School of World Mission di Fuller Theological Seminary:
Dari hidup di masa lalu kepada berurusan dengan masa kini.
Dari berorientasi terhadap “pasar” kepada berorientasi pada misi.
Dari birokrasi hirarki kepada jaringan apostolik.
Dari menyekolahkan profesional kepada mentoring pemimpin.
Dari mengikuti selebritis rohani kepada menjumpai orang kudus.
Dari menarik pengunjung kepada mencari yang terhilang.
Dari belonging (menerima/keanggotaan) ke believing (percaya/pemuridan).
Dari orthodoxy yang mati kepada iman yang hidup.
Dari jemaat generik kepada komunitas yang berinkarnasi.
Sedangkan Wolfgang Simson dari DAWN Ministries memberikan 15 tesis tentang reinkarnasi gereja (dalam bukunya yang fenomenal Houses That Changes The World):
Gereja adalah gaya hidup, bukan seri pertemuan agamawi.
Waktu untuk merubah sistem.
Reformasi ke tiga (reformasi struktur)
Dari bangunan bait Allah ke gereja yang bertemu di rumah.
Gereja harus menjadi kecil untuk bertumbuh menjadi besar.
Tidak ada gereja yang hanya dipimpin oleh seorang gembala saja.
Potongan yang benar – dipersatukan dengan cara yang salah.
Allah tidak meletakkan gereja di tangan kependetaan yang birokratif.
Dari kekristenan yang terorganisir menjadi kekristenan yang organisme.
Dari menyembah penyembahan menjadi penyembah Allah.
Berhenti membawa orang ke gereja dan mulai membawa gereja ke orang-orang.
Menemukan kembali “perjamuan Tuhan” sebagai perjamuan yang nyata dengan makanan yang nyata.
Dari berbagai denominasi kepada perayaan sekota.
Mengembangkan roh tahan uji terhadap aniaya.
Gereja yang pulang ke rumah.
Robert Fitts, pimpinan Outreach Fellowship International dan penulis buku Church in the House (Gereja di Rumah) memberikan pandangan 40 tren perubahan terhadap transformasi gereja, sebuah buah pemikiran pada kealamiahan dan fungsi gereja:
1. Dari kehidupan berpusat pada pertemuan kepada kehidupan berpusat pada Kristus. (teladan Yesus adalah melayani secara spontan, setiap hari, situasi dimana saja tanpa perencanaan, setiap saat.)
2. Dari Kekristenan kepada Kristus. (Bukan sebuah filosofi, sistem, pergerakan atau agama, tetapi seorang pribadi . . . KRISTUS DALAM DIRIMU!)
3. Dari gedung gereja kepada gereja di rumah. (Menjadi sederhana untuk mudah bermultiplikasi)
4. Dari pertumbuhan yang meningkat hanya dari dalam kepada pertumbuhan dari dalam dan luar yang meningkat. (Baik akibat pertambahan maupun multiplikasi)
5. Dari pelayanan seorang gembala (pendeta) kepada pelayanan lima jawatan (Kita memerlukan ke lima pelayanan jawatan tersebut.)
6. Dari keimamatan khusus kepada keimamatan setiap orang percaya (Membawa Tuhan kepada orang-orang melalui kesaksian kita dan doa syafaat)
7. Dari organisasi kepada organisme (Hati-hati! Lawan dari hirarki adalah anarki)
8. Dari penyembahan tiap minggu kepada penyembahan setiap saat. (Penyembahan itu lebih dari hanya sekedar menyanyi)
9. Dari membawa orang ke gereja kepada membawa gereja kepada orang-orang. (Doa yang membakar. "Bapa, bawa aku ke dalam jalan salibMu hari ini, bawalah aku hari ini bertemu dengan orang yang lapar akan Engkau atau sedang membutuhkan . . . ")
10. Dari simbolis kepada substansi perihal Perjamuan Makan (Suci) (Lakukan sesering mungkin)
11. Dari denominasi kepada jejaring yang dipimpin Roh Kudus (Mengidentifikasi diri dengan gereja sekota)
12. Dari kehormatan sosial kepada menjadi GARAM & TERANG (Menggonjang-ganjingkan dunia)
13. Dari pertunjukan oleh kaum imam profesional kepada I Korintus 14:26. ("Setiap orang yang memiliki pengajaran. .
.") 14. Dari berdasarkan program kepada gereja berdasarkan rumah (Liturgi, Penginjilan, Informal)
15. Dari sistem pendidikan seminari kepada sistem pemuridan (Sekolah Alkitab sederhana)
16. Dari perpuluhan kepada memberikan semuanya sesuai Perjanjian Baru (Kedermawanan dengan janji penghargaan)
17. Dari penundukan diri secara selektif (hanya pada denominasinya) kepada penundukan diri total (tunduk kepada otoritas yang ditunjuk Allah)
18. Dari jabatan kepada fungsi ("Jangan memanggil seorang pun guru, ayah, rabi, dll. . .")
19. Dari gereja independent kepada gereja inter-dependent (terhubung dengan gereja se-kota untuk saling menolong, menguatkan dan menasehati)
20. Dari keanggotaan tersurat kepada anggota Tubuh Kristus (kita merupakan anggota dari seorang dengan yang lainnya)
21. Dari sistem roda kepada pokok anggur (mengutus tim penanam gereja sederhana di rumah-rumah)
22. Dari kesatuan organisasi kepada kesatuan rohani (hanya tinggal satu langkah menuju kesatuan. . .SALING MENERIMA)
23. Dari Safeway atau Circle K kepada Safeway dan Circle K (menerima semua yang Tuhan terima). CATATAN: Safeway dan Circle K merupakan gerai mini market, maksudnya keragaman “nama” gereja modern.
24. Dari “kita dan mereka” kepada “kita” (Menolak untuk mengizinkan roh pemecah belah dalam persekutuan kita)
25. Dari hanya menanam gereja bergedung kepada menanam gereja dimana saja secara spontan. (menyadari ekklesia dapat bertemu dimana saja)
26. Dari belenggu kepada kemerdekaan bagi kaum wanita (Kis 2:17-18 , Gal. 3:26-28)
27. Dari sistem presbiteri (majelis) tanpa orang-orang kepada majelis bersama orang-orang (Kis 15:22)
28. Dari kesewenang-wenangan kepada petunujk alkitabiah dari penatua-penatua yang telah ditetapkan (I Tim. 3, Titus 1)
29. Dari “gembala saya” kepada “gembala-gembala saya” (guru-guru, penginjil-penginjil, rasul-rasul, nabi-nabi)
30. Dari membangkitkan pemimpin-pemimpin kepada mengangkat para hamba. (Kerajaan Allah bertanah rata)
31. Dari visi lokal kepada visi dunia (tiga cabang kepercayaan dalam gereja)
32. Dari membangun kerajaan saya kepada membangun KerajaanNya (Mari saya menolongmu untuk menggenapi visimu.)
33. Dari gereja bertembok kepada gereja se-kota. (Mereka memenuhi Yerusalem dengan pengajaran mereka)
34. Dari rasa takut mengalami pencurian domba kepada takut memiliki domba (Kis 20:28-31)
35. Dari berpusatkan pada gembala kepada membuat semua orang menjadi gembala. (Kis 20:28-31)
36. Dari menggunakan kata “gereja” kepada menggunakan frase “tubuh Kristus." (Kis 19:32-41)
37. Dari pembatasan kepada persekutuan yang tidak dirintangi. ( Saya anggota dari tiap gereja di dalam kota.)
38. Dari diliputi kelalaian kepada ketenangan. (tanaman tomat, api, starter motor)
39. Dari tipe kuliah kepada tipe belajar Alkitab secara interaktif. (Tubuh melayani dirinya sendiri dengan kasih.)
40. Dari piramid kepada kue pancake dalam pengertian kita akan penundukan diri terhadap otoritas. (Saya tunduk kepada Raja segala Raja dan setiap otoritas rohani yang Tuhan utus dalam hidup saya.)
Saya rasa pernyataan dari para pakar di atas cukup banyak untuk menjadi bahan permenungan kita semua. Saya berharap dari hasil permenungan tersebut kita semua dapat berubah ke arah yang lebih baik sebab makin mengerti kehendak Tuhan yang sempurna. Baca Selengkapnya...
Selasa, 24 September 2013
KETIKA TUHAN - AGAMA TAK BERDINDING
Menyikapi Surat SPB 2 Menteri tentang: Rumah Ibadat
Oleh: Stevanus Soebagja
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat.
Surat Peraturan Bersama (SPB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat—yang merupakan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1969—telah ditandatangani.
Selanjutnya, surat yang sudah dikenal sebagai sumber polemik ihwal pendirian rumah ibadat—termasuk yang memicu pelarangan ibadat—itu akan melalui tahap implementasi di lapangan.
Seperti sudah diduga sebelumnya, reaksi yang terjadi adalah beberapa rumah yang dijadikan tempat ibadah di tutup oleh warga. Penutupan lebih karena tidak di penuhinya persyaratan sesuai SPB.
Secara tidak langsung tersirat bahwa terpenuhinya syarat sesuai SPB lebih tinggi nilainya daripada ibadat itu sendiri. Substansi ibadat kepada Tuhan mengalami degradasi, tidak lebih penting dari persyaratan pendirian rumah ibadat.
Transformasi Ibadah
Terlepas dari perdebatan soal perlu tidaknya izin pendirian rumah ibadat (dalam praktiknya mencakup pula izin beribadat), sisi positif kasus ini membuka mata perihal keber-agama-an baru. Baru di sini bukan berarti pertama kali ada, tetapi baru dalam arti pemeluk agama disadarkan akan ketidak-terbatasan Tuhan yang menjadi tujuan ibadat, yang mestinya juga terbawa dalam ketidak-terbatasan cara beribadat kepada-Nya.
Mereka yang menentang SPB sebagai revisi SKB mengatakan bahwa ibadat tidak perlu memakai izin. Setiap pemeluk agama berhak untuk membangun rumah ibadat dan melaksanakan ibadat sesuai keyakinannya, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Di satu sisi pernyataan ini benar dan berupaya meletakkan ideal beragama di tengah masyarakat plural. Namun di sisi lain juga menjadi absurt karena dengan menolak syarat izin pendirian rumah ibadat yang sudah ditetapkan pemerintah, justru telah mengingkari sifat ketidak-terbatasan Tuhan—yang berizin atau tidak, memenuhi syarat atau tidak—tidak terpengaruh olehnya. Ketidak-terbatasan Tuhan mestinya akan membuka peluang cara beribadat baru kepada-Nya.
Bahwa sekalipun ibadat harus mempunyai izin dengan tanda tangan ber-KTP dari jemaah sebanyak 90 orang dan dari masyarakat sekitar 60 tanda tangan sesuai syarat SPB, menjadi absurt jika disandingkan dengan sifat ke-Maha-an Tuhan tadi.
Izin memang bisa menghambat pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat dengan cara dan kebiasaan yang sudah berjalan. Tapi peraturan yang dirasakan membatasi itu mestinya justru membuka cara beribadat baru yang tak habis-habisnya, sesuai sifat-Nya yang Maha Tak Terbatas.
Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat terhambat soal izin di atas. Yang terhambat hanya pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat sebagai kebiasaan selama ini, namun tetap tak terbatas dalam cara beribadat baru, yang bebas dari “terkondisikan” untuk meminta izin seperti disyaratkan.
Tuhan, rumah ibadat dan cara beribadat kepada-Nya bebas dari aturan politik dan legitimasi sosial. Itu semua bukan soal perlu atau tidak perlu izin, tetapi memang substansinya tidak mengenal izin karena sifatnya yang transenden, rohaniah, bahkan imaniah yang undang-undang pun tidak bisa menjangkaunya.
Dengan membuka wawasan dan kesadaran baru tentang sifat ke-maha-an Tuhan, setiap upaya manusia untuk membatasi pendirian rumah ibadat (yang notabene diyakini juga rumah untuk bertemu dengan Tuhan, bahkan “Rumah Tuhan”) hanya menjadi penghambat kecil, bahkan akan tergerus oleh sifat Maha Tak Terbatas. SPB tidak lagi dipandang sebagai hambatan karena Tuhan akan membuka cara beribadat yang baru dan kreatif. Sebuah transformasi ibadat.
“Tuhan tanpa Rumah”
Pasca penandatanganan SPB yang bisa dilakukan ialah membuka seluas mungkin cara beragama baru yang tidak terbentur pada soal izin mendirikan rumah ibadat. Dengan kata lain, upaya matematikanisasi kegiatan spiritual—dengan syarat 90 jemaat ber-KTP dan 60 orang lingkungan sekitar sebagai “baptis politik” pemerintah dan “baptis sosial” warga sekitar—agar ibadat aman dan sah, perlu disikapi dengan membuka pintu teologi baru atas pendirian “rumah Tuhan” dan rutinitas beribadat kepada-Nya.
Sebetulnya tidak ada yang hilang, sekalipun rumah ibadat tidak boleh didirikan atau bahkan yang sudah berjalan ditutup. Meski rumah ibadat diidentikkan sebagai “rumah Tuhan”, penutupan rumah ibadat tidak berarti “Tuhan kehilangan rumah”.
Justru sebaliknya, pendirian rumah ibadat termasuk pelanggaran dan penutupan hanya karena tidak memenuhi syarat sehingga tidak berizin, mengingatkan kembali tentang substansi “Tuhan tanpa rumah”.
Meminjam terminologi Kristen, dimana Anak Manusia (baca: Tuhan) tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Jangankan rumah ibadat, rumah-Nya, bantal saja tak punya. Teologi “Tuhan tanpa rumah” ini justru membebaskan agama dan umat untuk mencari cara ibadat yang tak terbatasi oleh bangunan dan ritual-ritualnya.
Rumah ibadat adalah seluruh alam semesta, yakni dimana saja dan ritual-ritual peribadatan langsung terefleksikan pada keseharian hidup umat beragama dari hati, pikiran ke perilaku sebagai jantung dan etalase ibadat itu sendiri. Selama ini telah terjadi institusionalisasi ibadat, bahwa ibadat hanya dalam rumah ibadat saja, di luar itu dianggap belum atau tidak melakukan ibadat.
Agama tanpa Tembok
Dalam konteks agama, matematikanisasi izin pendirian dan kegiatan peribadatan di dalamnya, justru membuka peluang lahirnya agama tanpa tembok (religion without wall) sebagai konsekuensi teologi “Tuhan tanpa rumah”. Hal mana sejalan dengan prinsip-prinsip universal agama bahwa agama bukan sekedar ditandai dengan bangunan fisik atau ritual ibadat. Tetapi agama adalah organisme hidup, kumpulan mereka yang percaya kepada yang transenden. Primary concern agama dalam hal ini ialah manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, dan bukan semata tempat ibadat dan simbol-simbol keagamaan.
Dakwah agama dengan demikian juga tidak terbatas pada komunitas jemaah lokal (at stated times), tetapi dengan terbebas dari sindrom pendirian rumah ibadat, agama justru dibukakan ladang dakwah baru di mana saja. Sikap agama terhadap SPB yang mensyaratkan pendirian rumah ibadat dengan demikian seharusnya disikapi kebalikannya, yakni dengan menerima tanpa syarat (unconditional acceptance).
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat. Ia lebih mendorong praktek agama yang lebih inklusif dibanding sebelumnya yang tetap mempertahankan etalase rumah ibadat, simbol dan ritual yang eksklusif.
Inilah pokok terpenting dari polemik SPB. Tidak perlu dikhawatirkan bahwa SPB akan melarang hak beribadah seseorang. Meski fenomena rumah ibadat ditutup dengan alasan tidak memenuhi persyaratan SPB, hal ini justru menjadi batu penguji tingkat keber-agama-an seseorang.
Kita tahu bahwa memeluknya seseorang kepada suatu agama lebih karena panggilan yang bersifat transenden yang diyakininya, bahwa dengan percaya kepada agamanya inilah ia menjadi orang yang beruntung dan diselamatkan. Ini berarti memeluk agama membutuhkan a Call (sebuah panggilan). Dengan tidak adanya tempat beribadat, keber-agama-an seseorang justu dikondisikan untuk mendahulukan a Call-nya (panggilan kepada agamanya) daripada sekedar tersedianya a Wall (tembok rumah ibadat).
Sisi postif SPB ialah kemungkinannya melahirkan pola keber-agama-an baru yang kuat karena penekanan pada a Call dan bukan sekedar a Wall. Panggilan agama yang tertoreh di relung hati yang paling dalam yang memancar pada kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar pergi ke rumah ibadat dengan mengusung simbol agama dan ritualismenya yang rentan.
KOMPAS, Sabtu, 3 Juni 2006 (halaman 14) Baca Selengkapnya...
Oleh: Stevanus Soebagja
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat.
Surat Peraturan Bersama (SPB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat—yang merupakan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1969—telah ditandatangani.
Selanjutnya, surat yang sudah dikenal sebagai sumber polemik ihwal pendirian rumah ibadat—termasuk yang memicu pelarangan ibadat—itu akan melalui tahap implementasi di lapangan.
Seperti sudah diduga sebelumnya, reaksi yang terjadi adalah beberapa rumah yang dijadikan tempat ibadah di tutup oleh warga. Penutupan lebih karena tidak di penuhinya persyaratan sesuai SPB.
Secara tidak langsung tersirat bahwa terpenuhinya syarat sesuai SPB lebih tinggi nilainya daripada ibadat itu sendiri. Substansi ibadat kepada Tuhan mengalami degradasi, tidak lebih penting dari persyaratan pendirian rumah ibadat.
Transformasi Ibadah
Terlepas dari perdebatan soal perlu tidaknya izin pendirian rumah ibadat (dalam praktiknya mencakup pula izin beribadat), sisi positif kasus ini membuka mata perihal keber-agama-an baru. Baru di sini bukan berarti pertama kali ada, tetapi baru dalam arti pemeluk agama disadarkan akan ketidak-terbatasan Tuhan yang menjadi tujuan ibadat, yang mestinya juga terbawa dalam ketidak-terbatasan cara beribadat kepada-Nya.
Mereka yang menentang SPB sebagai revisi SKB mengatakan bahwa ibadat tidak perlu memakai izin. Setiap pemeluk agama berhak untuk membangun rumah ibadat dan melaksanakan ibadat sesuai keyakinannya, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Di satu sisi pernyataan ini benar dan berupaya meletakkan ideal beragama di tengah masyarakat plural. Namun di sisi lain juga menjadi absurt karena dengan menolak syarat izin pendirian rumah ibadat yang sudah ditetapkan pemerintah, justru telah mengingkari sifat ketidak-terbatasan Tuhan—yang berizin atau tidak, memenuhi syarat atau tidak—tidak terpengaruh olehnya. Ketidak-terbatasan Tuhan mestinya akan membuka peluang cara beribadat baru kepada-Nya.
Bahwa sekalipun ibadat harus mempunyai izin dengan tanda tangan ber-KTP dari jemaah sebanyak 90 orang dan dari masyarakat sekitar 60 tanda tangan sesuai syarat SPB, menjadi absurt jika disandingkan dengan sifat ke-Maha-an Tuhan tadi.
Izin memang bisa menghambat pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat dengan cara dan kebiasaan yang sudah berjalan. Tapi peraturan yang dirasakan membatasi itu mestinya justru membuka cara beribadat baru yang tak habis-habisnya, sesuai sifat-Nya yang Maha Tak Terbatas.
Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat terhambat soal izin di atas. Yang terhambat hanya pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat sebagai kebiasaan selama ini, namun tetap tak terbatas dalam cara beribadat baru, yang bebas dari “terkondisikan” untuk meminta izin seperti disyaratkan.
Tuhan, rumah ibadat dan cara beribadat kepada-Nya bebas dari aturan politik dan legitimasi sosial. Itu semua bukan soal perlu atau tidak perlu izin, tetapi memang substansinya tidak mengenal izin karena sifatnya yang transenden, rohaniah, bahkan imaniah yang undang-undang pun tidak bisa menjangkaunya.
Dengan membuka wawasan dan kesadaran baru tentang sifat ke-maha-an Tuhan, setiap upaya manusia untuk membatasi pendirian rumah ibadat (yang notabene diyakini juga rumah untuk bertemu dengan Tuhan, bahkan “Rumah Tuhan”) hanya menjadi penghambat kecil, bahkan akan tergerus oleh sifat Maha Tak Terbatas. SPB tidak lagi dipandang sebagai hambatan karena Tuhan akan membuka cara beribadat yang baru dan kreatif. Sebuah transformasi ibadat.
“Tuhan tanpa Rumah”
Pasca penandatanganan SPB yang bisa dilakukan ialah membuka seluas mungkin cara beragama baru yang tidak terbentur pada soal izin mendirikan rumah ibadat. Dengan kata lain, upaya matematikanisasi kegiatan spiritual—dengan syarat 90 jemaat ber-KTP dan 60 orang lingkungan sekitar sebagai “baptis politik” pemerintah dan “baptis sosial” warga sekitar—agar ibadat aman dan sah, perlu disikapi dengan membuka pintu teologi baru atas pendirian “rumah Tuhan” dan rutinitas beribadat kepada-Nya.
Sebetulnya tidak ada yang hilang, sekalipun rumah ibadat tidak boleh didirikan atau bahkan yang sudah berjalan ditutup. Meski rumah ibadat diidentikkan sebagai “rumah Tuhan”, penutupan rumah ibadat tidak berarti “Tuhan kehilangan rumah”.
Justru sebaliknya, pendirian rumah ibadat termasuk pelanggaran dan penutupan hanya karena tidak memenuhi syarat sehingga tidak berizin, mengingatkan kembali tentang substansi “Tuhan tanpa rumah”.
Meminjam terminologi Kristen, dimana Anak Manusia (baca: Tuhan) tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Jangankan rumah ibadat, rumah-Nya, bantal saja tak punya. Teologi “Tuhan tanpa rumah” ini justru membebaskan agama dan umat untuk mencari cara ibadat yang tak terbatasi oleh bangunan dan ritual-ritualnya.
Rumah ibadat adalah seluruh alam semesta, yakni dimana saja dan ritual-ritual peribadatan langsung terefleksikan pada keseharian hidup umat beragama dari hati, pikiran ke perilaku sebagai jantung dan etalase ibadat itu sendiri. Selama ini telah terjadi institusionalisasi ibadat, bahwa ibadat hanya dalam rumah ibadat saja, di luar itu dianggap belum atau tidak melakukan ibadat.
Agama tanpa Tembok
Dalam konteks agama, matematikanisasi izin pendirian dan kegiatan peribadatan di dalamnya, justru membuka peluang lahirnya agama tanpa tembok (religion without wall) sebagai konsekuensi teologi “Tuhan tanpa rumah”. Hal mana sejalan dengan prinsip-prinsip universal agama bahwa agama bukan sekedar ditandai dengan bangunan fisik atau ritual ibadat. Tetapi agama adalah organisme hidup, kumpulan mereka yang percaya kepada yang transenden. Primary concern agama dalam hal ini ialah manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, dan bukan semata tempat ibadat dan simbol-simbol keagamaan.
Dakwah agama dengan demikian juga tidak terbatas pada komunitas jemaah lokal (at stated times), tetapi dengan terbebas dari sindrom pendirian rumah ibadat, agama justru dibukakan ladang dakwah baru di mana saja. Sikap agama terhadap SPB yang mensyaratkan pendirian rumah ibadat dengan demikian seharusnya disikapi kebalikannya, yakni dengan menerima tanpa syarat (unconditional acceptance).
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat. Ia lebih mendorong praktek agama yang lebih inklusif dibanding sebelumnya yang tetap mempertahankan etalase rumah ibadat, simbol dan ritual yang eksklusif.
Inilah pokok terpenting dari polemik SPB. Tidak perlu dikhawatirkan bahwa SPB akan melarang hak beribadah seseorang. Meski fenomena rumah ibadat ditutup dengan alasan tidak memenuhi persyaratan SPB, hal ini justru menjadi batu penguji tingkat keber-agama-an seseorang.
Kita tahu bahwa memeluknya seseorang kepada suatu agama lebih karena panggilan yang bersifat transenden yang diyakininya, bahwa dengan percaya kepada agamanya inilah ia menjadi orang yang beruntung dan diselamatkan. Ini berarti memeluk agama membutuhkan a Call (sebuah panggilan). Dengan tidak adanya tempat beribadat, keber-agama-an seseorang justu dikondisikan untuk mendahulukan a Call-nya (panggilan kepada agamanya) daripada sekedar tersedianya a Wall (tembok rumah ibadat).
Sisi postif SPB ialah kemungkinannya melahirkan pola keber-agama-an baru yang kuat karena penekanan pada a Call dan bukan sekedar a Wall. Panggilan agama yang tertoreh di relung hati yang paling dalam yang memancar pada kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar pergi ke rumah ibadat dengan mengusung simbol agama dan ritualismenya yang rentan.
KOMPAS, Sabtu, 3 Juni 2006 (halaman 14) Baca Selengkapnya...
Ketaatan Sister Chang
Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2 Kor 2:9.
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Minggu, 22 September 2013
Gereja itu seperti air jernih
Gereja itu seperti air jernih, yang sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup manusia2 percaya.
Anda dapat menambahkan apapun ke dalam air jernih sesuka Anda sebagai penambah rasa atau warna minuman Anda, air itu tetap akan mendatangkan manfaat. Tambahkan gula dan teh, maka ia akan jadi teh manis yang nikmat bagi yang menyukai teh manis. Tambahkan kopi dan gula, maka ia akan terasa nikmat bagi penyuka kopi. Tambahkan susu, coklat, atau bahan2 lain, maka ia akan menjadi seperti apapun yang Anda inginkan.
Namun ada satu hal yang perlu diingat. Ketika air jernih telah ditambahkan berbagai bahan2 lain, maka ia akan menjadi terbatas kegunaannya. Anda tidak bisa minum teh manis, kopi, susu, coklat, dan bahan2 tambahan lain sebanyak2nya tanpa resiko terserang berbegai penyakit yang akan melemahkan, bahkan membunuh Anda. Demikianlah gereja bila terlalu banyak ditambahkan unsur2 lain akan memang terasa seperti lebih nikmat bagi anggotanya. Namun penambahan unsur2 lain itu pada titik tertentu bisa berbalik menjadi malapetaka. Kebanyakan unsur2 tambahan bisa membuat kecanduan terhadap bahan tambahannya (bukan air jernihnya), dan itulah yang membuat banyak gereja akhirnya tergeletak karena tergerogoti oleh diabetes rohani, kolesterol rohani, dan lain2.
Sebaliknya dengan air jernih yang bersih dan segar, yang bebas dari unsur2 tambahan buatan manusia. Tak ada batasan dalam mengkonsumsinya. Anda dapat minum sebanyak yang Anda inginkan untuk memuaskan dahaga Anda, dan kesehatan Anda tidak akan terganggu. Itulah gereja sederhana, gereja perjanjian baru.
Semakin sedikit Anda menambahkan unsur2 lain ke dalam Gereja Tuhan, semakin bebas Anda menikmati gerejaNya. Gereja yang murni sama seperti air jernih, bisa dinikmati kapan saja, dimana saja, tanpa batasan.
Ini adalah jawaban singkat atas pertanyaan, mengapa gereja begitu terasa menyegarkan ketika masih sederhana, masih kecil, dan menjadi begitu sumpek, rumit, dan memusingkan ketika ia telah menjadi begitu besar, apalagi kalau dia sudah menjadi mega church. Unsur2 tambahan yang terlalu banyak dikonsumsi itulah penyebabnya.
Simple Church is wonderful. Baca Selengkapnya...
Anda dapat menambahkan apapun ke dalam air jernih sesuka Anda sebagai penambah rasa atau warna minuman Anda, air itu tetap akan mendatangkan manfaat. Tambahkan gula dan teh, maka ia akan jadi teh manis yang nikmat bagi yang menyukai teh manis. Tambahkan kopi dan gula, maka ia akan terasa nikmat bagi penyuka kopi. Tambahkan susu, coklat, atau bahan2 lain, maka ia akan menjadi seperti apapun yang Anda inginkan.
Namun ada satu hal yang perlu diingat. Ketika air jernih telah ditambahkan berbagai bahan2 lain, maka ia akan menjadi terbatas kegunaannya. Anda tidak bisa minum teh manis, kopi, susu, coklat, dan bahan2 tambahan lain sebanyak2nya tanpa resiko terserang berbegai penyakit yang akan melemahkan, bahkan membunuh Anda. Demikianlah gereja bila terlalu banyak ditambahkan unsur2 lain akan memang terasa seperti lebih nikmat bagi anggotanya. Namun penambahan unsur2 lain itu pada titik tertentu bisa berbalik menjadi malapetaka. Kebanyakan unsur2 tambahan bisa membuat kecanduan terhadap bahan tambahannya (bukan air jernihnya), dan itulah yang membuat banyak gereja akhirnya tergeletak karena tergerogoti oleh diabetes rohani, kolesterol rohani, dan lain2.
Sebaliknya dengan air jernih yang bersih dan segar, yang bebas dari unsur2 tambahan buatan manusia. Tak ada batasan dalam mengkonsumsinya. Anda dapat minum sebanyak yang Anda inginkan untuk memuaskan dahaga Anda, dan kesehatan Anda tidak akan terganggu. Itulah gereja sederhana, gereja perjanjian baru.
Semakin sedikit Anda menambahkan unsur2 lain ke dalam Gereja Tuhan, semakin bebas Anda menikmati gerejaNya. Gereja yang murni sama seperti air jernih, bisa dinikmati kapan saja, dimana saja, tanpa batasan.
Ini adalah jawaban singkat atas pertanyaan, mengapa gereja begitu terasa menyegarkan ketika masih sederhana, masih kecil, dan menjadi begitu sumpek, rumit, dan memusingkan ketika ia telah menjadi begitu besar, apalagi kalau dia sudah menjadi mega church. Unsur2 tambahan yang terlalu banyak dikonsumsi itulah penyebabnya.
Simple Church is wonderful. Baca Selengkapnya...
Sabtu, 21 September 2013
PERSOALAN LEBIH DARI RUMAH IBADAH, Arti manusia di dalam itu kepada sesama
Kitab Suci, Surat Roma
15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.
15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Ada hal dianggap persoalan bersama yang “sangat penting” umat Kristiani di negeri ini: “KESULITAN MEMBANGUN RUMAH IBADAH”. Namun sesungguhnya apa betul itu hakekat persoalan di tengah kita?
Mari kembali dulu kepada asal kata ibadah. Ibadah adalah kata yang sama saat Tuhan memberi perintah kepada Adam dalam Kitab Kejadian 2:15,yaitu untuk “mengusahakan dan memelihara” Taman yang Tuhan jadikan.
Sementara tanpa berpikir diartikan sempit menjadi sangat agamawi: pergi untuk sejauh duduk mendengar ceramah di rumah ibadah lalu "termotivasi" dan "adduh berkesan senengnya ketemu saudara seiman". Itu lah kebanyakan kita lakukan seumur hidup, dalam waktu satu atau dua kali seminggu selama beberapa jam. Jadi praktek ibadah kita ini sangat bergeser pengertiannya.
Mengapa? Mungkin karena yang mengajar Cuma berlatar belakang ajaran tradisi agama saja, bukan makna dan teladan hidup orang beriman. Belajarlah dari isi dan TUHAN yang berfirman dari Injil itu sendiri, bukan kulitnya saja yaitu "dari kata orang".
Kitab Suci INJIL, Surat Matius
28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi
Sesungguhnya perlu usaha untuk memelihara apa yang baik yang Tuhan telah karuniakan, yang kita miliki dan memberkati komunitas sekeliling kita. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan berbicara tentang talenta, sesuat yang bernilai yang dititipkan untuk diusahakan. Kelak, pelipatgandaan nilai itu yang Tuhan tagih dan pertanyakan secara pribadi kepada semua orang.
Nah di tengah-tengah umat Tuhan saat ini jarang ada yang berpikir Surat Roma 15:1-2 di atas. Kita berpikir individual dan mengukur dan mentargetkan secara individual parsial pula.
Singkat cerita, “diam-diam” semua berpikir kesuksesan menurut perspektifnya. Jadi, gembala jemaat hanya berpikir keberhasilannya sebagai rohaniawan yang berhasil memanfaatkan banyaknya jemaat/pengikutnya mendukung kegiatan agamawinya.
Namun para jemaat yang ada juga “diam-diam” menyimpan hasrat keinginan meraih semua target pribadinya dengan jalan diberkati Tuhan melalui ketaatan hadir di “ibadah” yang dipercayainya, tanpa pertimbangan apa hakekat ibadahnya itu kelak bila ditanya Tuhan kepada diri masing-masing.
Teman-teman, ibadah anda adalah persoalan kontribusi kekuatan anda di tengah komunitasmu. Tidak banyak kita yang memperhatikan komposisi anggota komunitasnya masing-masing lalu menerjemahkannya kepada kebutuhan untuk saling melengkapi.
Berapa banyak diantara kita yang terampil dan Terdidik lalu peduli kebenaran mengasihani yang belum terampil dan belum terdidik, agar terjadi perbaikan dan saling meningkatkan kompetensi semua? Namun tidak terpikir sedikitpun untuk share/berbagi akan “kekuatan”nya tersebut kepada orang lain di sekelilingnya.
Kita jangan berbicara uang atau materi saja. KEKUATAN ANDA ADALAH SKILL ANDA. Dan sesungguhnya kita tidak akan jadi miskin bila share skill dan kompetensi, sebaliknya dunia kita akan jauh lebih indah karena semua tambah hari lebih baik keadaannya.
Paling sederhana, yang bisa mengemudikan mobil, maukah mengajar mengemudi kepada yang ingin bisa mengemudi tapi tidak ada yang mengajari?
Ada banyak Kompetensi di tengah komunitas jemaat, namun tidak terpikir untuk saling berbagi untuk menolong yang lebih lemah. Yang sudah fasih di berbagai bidang seni, paramedis, berbahasa, ekonomi, computer, soft skil atau hard skill. Masing-masing setidaknya bisa sebagai relawan mengajari para muda-mudi atau siapa yang membutuhkan, melalui kompetensinya masing-masing.
Apakah sudah pernah di listing kumpulan kompetensi dan yang masih lemah dalam berbagi kompetensi? Siapa yang mau peduli?
Dalam bidang serba IT saat ini semua orang perlu tambahan keterampilan, dan keterampilan tersebut sudah dimiliki setidaknya oleh beberapa orang, namun itu tidak (belum) di share kepada anggota komunitasnya, Contoh: kemampuan bermain alat musik, atau penguasaan paket software aplikasi disiplin ilmu telah beredar, ada yang mahir dan saat ini bisa mulai di share.
Teman yang memiliki “kekuatan” tersebut perlu dengan senang hati rela untuk mengajari teman lain yang perlu; agar yang lain juga bisa memiliki keterampilan tambahan. Bahkan satu sama lain bisa untuk saling berbagi kelebihan “kekuatan”nya tanpa berkurang sedikitpun hal itu dari dirinya.
Kitab Suci, Surat I Korintus
14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
Saya percaya, pengajaran disini selain berarti khotbah agamawi yang begitu klise (pengkhotbah atau yang dikhotbahi sama-sama lupa tuh khotbah tiga bulan apalagi tiga tahun lalu hi hi hi hi hi) bisa juga berarti ada berbagai kesibukan orang-orang sharing kompetensinya lebih dari sekedar pengajaran bertutur (tukang jual obat/kampanye JANJI tanpa pernah ada bukti==> ingat! hari gini masyarakat sudah malu deh kalau: manusia hidup capeknya cuma cuap-cuap tanpa makna lalu pulang diamplopin lagi).
Dan saat untuk berkumpul bisa juga by appointment. Karena disini hanya dikatakan bilamana kamu berkumpul.
Anda penganut sakralnya hari sabat atau hari minggu? Apa kata Isa al Masih mengenai hari sabat dan bait Allah?
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.
Mari kita lanjutkan.
Hidup ini akan menjadi lebih indah saat kita berbagi. Dan berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki sudah saatnya untuk dibagikan untuk saling membangun sesama. Itu harus dimulai dari sekarang dan dari diri kita, melalui komunitas yang ada.
Namun ironis, semua masih berkumpul untuk duduk mendengar ceramah keagamaan monolog satu orang di depan banyak orang (untuk rada lupa lagi), terus menerus. Tanpa perubahan pikiran untuk saling memperhatikan kekurangan orang lain dan membantu mereka melalui keterampilan yang telah kita miliki, maka memang himpunan orang dan rumah ibadah itu sangat kecil arti dan kontribusinya bagi sesama apalagi bagi bangsa yang besar ini.
Dalam kondisi seperti ini, kehadiran dan bertambahnya rumah ibadah kristen tidak berbanding lurus dengan benefit bagi mayarakat luas yang membutuhkan.....Apakah anda yakin kekristenan ini merupakan rencana Tuhan sejak semula atau ....? ....aneh tapi nyata bukan?
Dalam perspektif parsial, harusnya kita terus bertanya apa kontribusi saya, kita, atau kami kepada “mereka” yang belum beruntung atau seperti saya.
Ini otokritik saya. Apakah arsitek kristen sudah berpikir menolong orang membangun rumah sehat lebih efisien dan ekonomis kepada orang di sekitarnya? Belum? Atau setidaknya mengajar beberapa aplikasi komputer sederhana kepada teman komunitas di sekitar anda.
Lalu bagaimana anda bisa berpikir orang akan peduli atau respek akan keberadaan status anda mentereng sebagai arsitek kristen? Selama belum dirasakan kontribusi nyata skill/kekuatan anda tersebut kepada sesama, diri anda bahkan uang anda rasanya kurang berarti (orang mual mau muntah melihat kekristenan yang ditunjukkan selama ini).
Saya agak sarkastis, tapi supaya lebih jelas cara orang lain yang idiot berpikirnya: kalau begini memang taik adanya, buat apa si arsitek kristen ini ada di bumi, bakar saja!
Atau anda terlalu profesional dan tidak mau karena takut ilmu anda jadi murahan? Setidaknya berpikirlah secara corporate social response seperti yang dipraktekkan dunia saat ini.
Kelak kita malu jika kebaikan kita tidak ada dibanding orang yang bahkan tanpa pengenalan yang jelas akan TUHAN (menurut kita) tapi sudah begitu luarbiasa berusaha memberi arti hidupnya bagi dunia.
Berikut adalah share sedikit dari ceramah ibu Lili Everin dalam sebuah pertemuan komunitas kami.
Buat manusia di kalangan paruh baya, perlu paham "empat S" fase hidup: 1. Struggling 2.Success. Tidak selesai disitu. Manusia 45 tahun keatas harus mengenal 2 fase berikutnya: 3.significant dan 4.surrender.
Wow keren valuenya bukan?
1. Struggling, Masa Berjuang. Kita semua kenal fase ini,sejak muda berusaha dan terus berusaha lebih berhasil lagi untuk sampai fase
2.Sukses . Banyak orang peraih-peraih sukses di usia paruh bayanya dan menikmati itu. Awas, ini bahaya.
Sampai difase Sukses saja adalah awal kehancuran manusia paruh baya. Pria sukses diparuh baya sering tergelincir dan binasa di banyak dosa saat mulai bisa dan leluasa mencicipi ini dan itu "yang baru" dari kenikmatan maknyus dunia. Sekedar nostalgia, semasa SMA dulu, teman-teman masuk diskotik dan berlarian keluar. Karena bertemu ayah teman (seorang kristen) punya jabatan BUMN lagi asyik di dalam.
Anak dan ayah sangat mungkin bertemu di comberan. Tanpa terus melangkah ke fase significant, Berarti ( bagi sesama) sukses hanyalah jerat dunia belaka.
Hanya sampai pada puas dan bangga mengenai pencapaian diri adalah sinting kalau bukan gila.Tanpa signifikansi, kekristenan equivalent dengan nol
3. Fase signifikan justru penting. Ada contoh menarik dari significant. Dua pria terkaya di dunia ini sudah masuk ke dunia significant mereka yaitu Bill Gates dan Warren Buffet. Mereka melangkah menjadi philantroupe, hidup untuk membaktikan diri dan sukses yang diraihnya kepada umat manusia seluruh dunia.
Mungkin karena begitu rahasianya, sulit menceritakan siapa orang kristen anak bangsa yang berniat mulia bagi sesama dan tenang menunjukkan siapa dirinya. Mungkin Oom William pendiri Astra. Mereka tidak sibuk menghitung suksesnya saja, namun terus menyempurnakan definisi suksesnya. Bahkan value itu hidup, bahkan sampai si foundernya sudah tidak ada. Kenapa? karena prinsip 4S ini. Bahkan banyak orang kaya di negara barat yang sudah menyadari ini, memutuskan untuk tidak semena-mena menghibahkan kekayaannya sebelum keturunannya mengenal fase struggling itu sendiri. Mereka sadar,tanpa struggling, melepas kesuksesan hanya berarti membunuh masa depan keturunannya.
Gampangnya buat kita adalah mengasihani diri sendiri dan menyalahkan dunia. Dunia kejam, tidak adil, dsb. Tapi itu suara pecundang. Salib itu bukti teladan Junjungan kita Isa Al Masih, sama sekali bukan pecundang.
Namun signifikani juga belum selesai, karena kesombongan dan keangkuhan juga siap menjerat dan menghadang orang-orang di fase ketiga ini. Dalam sukses dan berhasilnya John Lenon pernah berkata: sekarang lihat, The Beatles lebih terkenal dari Yesus.
Tanpa publikasi luas, namun akhirnya meluas Kita tahu sampai akhir hidupnya dia berjuang mencari identitas dan tenggelam dengan drugs, bahkan hidupnya berakhir dibunuh justru oleh fans fanatiknya sendiri. Tragis.
Puas dan bangga diri dekat kepada Keangkuhan. Itu adalah pelukan maut yang mematikan. Ingat kisah raja Babel Nebukadnezar, emperor (raja besar), harus menanggung hina dan gila saat menyombongkan diri dan tidak tunduk pada Tuhan, atau King Herod mencoba berkata sebagai suara Tuhan. Amblassshh sampai ke jurang maut.. Takutlah akan Tuhan.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
8:13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
10:27 Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.
Fase keempat buat insan paruh baya adalah 4. Surrender, berserah (menyerahkan hidup) kepada TUHAN. Pelayanan Isa Al Masih dalam menyenangkan dan taat bagi Bapa di awal dan akhir adalah menyerahkan kehendakNya.
Awal pelayananNya dicatat sebagai berikut.
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
3:14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya
Di akhir masa pelayananNya pun tidak berubah
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Tidak ada teladan lain: Isa Al Masih, Yesus Kristus. Penyerahan kepada Kristus yang tersalib bagi kemuliaan Bapa, memastikan siapapun kita bebas dan sanggup terus melangkah bahkan untuk mengulang dan meraih banyak sukses atau pun signifikansi tanpa tersandung kesombongan yang sia-sia.
Hope you all be blessed my dear friends Baca Selengkapnya...
15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.
15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Ada hal dianggap persoalan bersama yang “sangat penting” umat Kristiani di negeri ini: “KESULITAN MEMBANGUN RUMAH IBADAH”. Namun sesungguhnya apa betul itu hakekat persoalan di tengah kita?
Mari kembali dulu kepada asal kata ibadah. Ibadah adalah kata yang sama saat Tuhan memberi perintah kepada Adam dalam Kitab Kejadian 2:15,yaitu untuk “mengusahakan dan memelihara” Taman yang Tuhan jadikan.
Sementara tanpa berpikir diartikan sempit menjadi sangat agamawi: pergi untuk sejauh duduk mendengar ceramah di rumah ibadah lalu "termotivasi" dan "adduh berkesan senengnya ketemu saudara seiman". Itu lah kebanyakan kita lakukan seumur hidup, dalam waktu satu atau dua kali seminggu selama beberapa jam. Jadi praktek ibadah kita ini sangat bergeser pengertiannya.
Mengapa? Mungkin karena yang mengajar Cuma berlatar belakang ajaran tradisi agama saja, bukan makna dan teladan hidup orang beriman. Belajarlah dari isi dan TUHAN yang berfirman dari Injil itu sendiri, bukan kulitnya saja yaitu "dari kata orang".
Kitab Suci INJIL, Surat Matius
28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi
Sesungguhnya perlu usaha untuk memelihara apa yang baik yang Tuhan telah karuniakan, yang kita miliki dan memberkati komunitas sekeliling kita. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan berbicara tentang talenta, sesuat yang bernilai yang dititipkan untuk diusahakan. Kelak, pelipatgandaan nilai itu yang Tuhan tagih dan pertanyakan secara pribadi kepada semua orang.
Nah di tengah-tengah umat Tuhan saat ini jarang ada yang berpikir Surat Roma 15:1-2 di atas. Kita berpikir individual dan mengukur dan mentargetkan secara individual parsial pula.
Singkat cerita, “diam-diam” semua berpikir kesuksesan menurut perspektifnya. Jadi, gembala jemaat hanya berpikir keberhasilannya sebagai rohaniawan yang berhasil memanfaatkan banyaknya jemaat/pengikutnya mendukung kegiatan agamawinya.
Namun para jemaat yang ada juga “diam-diam” menyimpan hasrat keinginan meraih semua target pribadinya dengan jalan diberkati Tuhan melalui ketaatan hadir di “ibadah” yang dipercayainya, tanpa pertimbangan apa hakekat ibadahnya itu kelak bila ditanya Tuhan kepada diri masing-masing.
Teman-teman, ibadah anda adalah persoalan kontribusi kekuatan anda di tengah komunitasmu. Tidak banyak kita yang memperhatikan komposisi anggota komunitasnya masing-masing lalu menerjemahkannya kepada kebutuhan untuk saling melengkapi.
Berapa banyak diantara kita yang terampil dan Terdidik lalu peduli kebenaran mengasihani yang belum terampil dan belum terdidik, agar terjadi perbaikan dan saling meningkatkan kompetensi semua? Namun tidak terpikir sedikitpun untuk share/berbagi akan “kekuatan”nya tersebut kepada orang lain di sekelilingnya.
Kita jangan berbicara uang atau materi saja. KEKUATAN ANDA ADALAH SKILL ANDA. Dan sesungguhnya kita tidak akan jadi miskin bila share skill dan kompetensi, sebaliknya dunia kita akan jauh lebih indah karena semua tambah hari lebih baik keadaannya.
Paling sederhana, yang bisa mengemudikan mobil, maukah mengajar mengemudi kepada yang ingin bisa mengemudi tapi tidak ada yang mengajari?
Ada banyak Kompetensi di tengah komunitas jemaat, namun tidak terpikir untuk saling berbagi untuk menolong yang lebih lemah. Yang sudah fasih di berbagai bidang seni, paramedis, berbahasa, ekonomi, computer, soft skil atau hard skill. Masing-masing setidaknya bisa sebagai relawan mengajari para muda-mudi atau siapa yang membutuhkan, melalui kompetensinya masing-masing.
Apakah sudah pernah di listing kumpulan kompetensi dan yang masih lemah dalam berbagi kompetensi? Siapa yang mau peduli?
Dalam bidang serba IT saat ini semua orang perlu tambahan keterampilan, dan keterampilan tersebut sudah dimiliki setidaknya oleh beberapa orang, namun itu tidak (belum) di share kepada anggota komunitasnya, Contoh: kemampuan bermain alat musik, atau penguasaan paket software aplikasi disiplin ilmu telah beredar, ada yang mahir dan saat ini bisa mulai di share.
Teman yang memiliki “kekuatan” tersebut perlu dengan senang hati rela untuk mengajari teman lain yang perlu; agar yang lain juga bisa memiliki keterampilan tambahan. Bahkan satu sama lain bisa untuk saling berbagi kelebihan “kekuatan”nya tanpa berkurang sedikitpun hal itu dari dirinya.
Kitab Suci, Surat I Korintus
14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
Saya percaya, pengajaran disini selain berarti khotbah agamawi yang begitu klise (pengkhotbah atau yang dikhotbahi sama-sama lupa tuh khotbah tiga bulan apalagi tiga tahun lalu hi hi hi hi hi) bisa juga berarti ada berbagai kesibukan orang-orang sharing kompetensinya lebih dari sekedar pengajaran bertutur (tukang jual obat/kampanye JANJI tanpa pernah ada bukti==> ingat! hari gini masyarakat sudah malu deh kalau: manusia hidup capeknya cuma cuap-cuap tanpa makna lalu pulang diamplopin lagi).
Dan saat untuk berkumpul bisa juga by appointment. Karena disini hanya dikatakan bilamana kamu berkumpul.
Anda penganut sakralnya hari sabat atau hari minggu? Apa kata Isa al Masih mengenai hari sabat dan bait Allah?
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.
Mari kita lanjutkan.
Hidup ini akan menjadi lebih indah saat kita berbagi. Dan berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki sudah saatnya untuk dibagikan untuk saling membangun sesama. Itu harus dimulai dari sekarang dan dari diri kita, melalui komunitas yang ada.
Namun ironis, semua masih berkumpul untuk duduk mendengar ceramah keagamaan monolog satu orang di depan banyak orang (untuk rada lupa lagi), terus menerus. Tanpa perubahan pikiran untuk saling memperhatikan kekurangan orang lain dan membantu mereka melalui keterampilan yang telah kita miliki, maka memang himpunan orang dan rumah ibadah itu sangat kecil arti dan kontribusinya bagi sesama apalagi bagi bangsa yang besar ini.
Dalam kondisi seperti ini, kehadiran dan bertambahnya rumah ibadah kristen tidak berbanding lurus dengan benefit bagi mayarakat luas yang membutuhkan.....Apakah anda yakin kekristenan ini merupakan rencana Tuhan sejak semula atau ....? ....aneh tapi nyata bukan?
Dalam perspektif parsial, harusnya kita terus bertanya apa kontribusi saya, kita, atau kami kepada “mereka” yang belum beruntung atau seperti saya.
Ini otokritik saya. Apakah arsitek kristen sudah berpikir menolong orang membangun rumah sehat lebih efisien dan ekonomis kepada orang di sekitarnya? Belum? Atau setidaknya mengajar beberapa aplikasi komputer sederhana kepada teman komunitas di sekitar anda.
Lalu bagaimana anda bisa berpikir orang akan peduli atau respek akan keberadaan status anda mentereng sebagai arsitek kristen? Selama belum dirasakan kontribusi nyata skill/kekuatan anda tersebut kepada sesama, diri anda bahkan uang anda rasanya kurang berarti (orang mual mau muntah melihat kekristenan yang ditunjukkan selama ini).
Saya agak sarkastis, tapi supaya lebih jelas cara orang lain yang idiot berpikirnya: kalau begini memang taik adanya, buat apa si arsitek kristen ini ada di bumi, bakar saja!
Atau anda terlalu profesional dan tidak mau karena takut ilmu anda jadi murahan? Setidaknya berpikirlah secara corporate social response seperti yang dipraktekkan dunia saat ini.
Kelak kita malu jika kebaikan kita tidak ada dibanding orang yang bahkan tanpa pengenalan yang jelas akan TUHAN (menurut kita) tapi sudah begitu luarbiasa berusaha memberi arti hidupnya bagi dunia.
Berikut adalah share sedikit dari ceramah ibu Lili Everin dalam sebuah pertemuan komunitas kami.
Buat manusia di kalangan paruh baya, perlu paham "empat S" fase hidup: 1. Struggling 2.Success. Tidak selesai disitu. Manusia 45 tahun keatas harus mengenal 2 fase berikutnya: 3.significant dan 4.surrender.
Wow keren valuenya bukan?
1. Struggling, Masa Berjuang. Kita semua kenal fase ini,sejak muda berusaha dan terus berusaha lebih berhasil lagi untuk sampai fase
2.Sukses . Banyak orang peraih-peraih sukses di usia paruh bayanya dan menikmati itu. Awas, ini bahaya.
Sampai difase Sukses saja adalah awal kehancuran manusia paruh baya. Pria sukses diparuh baya sering tergelincir dan binasa di banyak dosa saat mulai bisa dan leluasa mencicipi ini dan itu "yang baru" dari kenikmatan maknyus dunia. Sekedar nostalgia, semasa SMA dulu, teman-teman masuk diskotik dan berlarian keluar. Karena bertemu ayah teman (seorang kristen) punya jabatan BUMN lagi asyik di dalam.
Anak dan ayah sangat mungkin bertemu di comberan. Tanpa terus melangkah ke fase significant, Berarti ( bagi sesama) sukses hanyalah jerat dunia belaka.
Hanya sampai pada puas dan bangga mengenai pencapaian diri adalah sinting kalau bukan gila.Tanpa signifikansi, kekristenan equivalent dengan nol
3. Fase signifikan justru penting. Ada contoh menarik dari significant. Dua pria terkaya di dunia ini sudah masuk ke dunia significant mereka yaitu Bill Gates dan Warren Buffet. Mereka melangkah menjadi philantroupe, hidup untuk membaktikan diri dan sukses yang diraihnya kepada umat manusia seluruh dunia.
Mungkin karena begitu rahasianya, sulit menceritakan siapa orang kristen anak bangsa yang berniat mulia bagi sesama dan tenang menunjukkan siapa dirinya. Mungkin Oom William pendiri Astra. Mereka tidak sibuk menghitung suksesnya saja, namun terus menyempurnakan definisi suksesnya. Bahkan value itu hidup, bahkan sampai si foundernya sudah tidak ada. Kenapa? karena prinsip 4S ini. Bahkan banyak orang kaya di negara barat yang sudah menyadari ini, memutuskan untuk tidak semena-mena menghibahkan kekayaannya sebelum keturunannya mengenal fase struggling itu sendiri. Mereka sadar,tanpa struggling, melepas kesuksesan hanya berarti membunuh masa depan keturunannya.
Gampangnya buat kita adalah mengasihani diri sendiri dan menyalahkan dunia. Dunia kejam, tidak adil, dsb. Tapi itu suara pecundang. Salib itu bukti teladan Junjungan kita Isa Al Masih, sama sekali bukan pecundang.
Namun signifikani juga belum selesai, karena kesombongan dan keangkuhan juga siap menjerat dan menghadang orang-orang di fase ketiga ini. Dalam sukses dan berhasilnya John Lenon pernah berkata: sekarang lihat, The Beatles lebih terkenal dari Yesus.
Tanpa publikasi luas, namun akhirnya meluas Kita tahu sampai akhir hidupnya dia berjuang mencari identitas dan tenggelam dengan drugs, bahkan hidupnya berakhir dibunuh justru oleh fans fanatiknya sendiri. Tragis.
Puas dan bangga diri dekat kepada Keangkuhan. Itu adalah pelukan maut yang mematikan. Ingat kisah raja Babel Nebukadnezar, emperor (raja besar), harus menanggung hina dan gila saat menyombongkan diri dan tidak tunduk pada Tuhan, atau King Herod mencoba berkata sebagai suara Tuhan. Amblassshh sampai ke jurang maut.. Takutlah akan Tuhan.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
8:13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
10:27 Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.
Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.
Fase keempat buat insan paruh baya adalah 4. Surrender, berserah (menyerahkan hidup) kepada TUHAN. Pelayanan Isa Al Masih dalam menyenangkan dan taat bagi Bapa di awal dan akhir adalah menyerahkan kehendakNya.
Awal pelayananNya dicatat sebagai berikut.
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
3:14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya
Di akhir masa pelayananNya pun tidak berubah
Kitab Suci, Injil, Surat Matius
26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Tidak ada teladan lain: Isa Al Masih, Yesus Kristus. Penyerahan kepada Kristus yang tersalib bagi kemuliaan Bapa, memastikan siapapun kita bebas dan sanggup terus melangkah bahkan untuk mengulang dan meraih banyak sukses atau pun signifikansi tanpa tersandung kesombongan yang sia-sia.
Hope you all be blessed my dear friends Baca Selengkapnya...
Kamis, 25 April 2013
High Dengan Musik Penyembahan
Sebuah penelitian pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Universitas Washington, menyimpulkan bahwa gereja-gereja raksasa (megachurch) menyediakan perasaan high dan eforia biologis yang sama yang dihasilkan oleh acara-acara olahraga dan konser-konser (Ecumenical News International, 21 Agus. 2012). Penelitian tersebut, yang berjudul “God Is Like a Drug: Explaining Interaction Ritual Chains in American Megachurches,” dilakukan oleh Katie Corcoran dan James Wellman. Mereka menemukan bahwa perasaan ‘high’ saat ‘penyembahan’ terjadi karena “musik upbeat yang modern, kamera-kamera yang menyapu audiens dan menayangkan para penyembah yang tersenyum, berdansa, bernyanyi, atau menangis di layar besar, dan seorang pemimpin yang sangat berkharisma memiliki khotbah-khotbah yang menyentuh individu-individu pada tingkat emosional.” Mereka percaya bahwa hal-hal ini “memicu zat-zat kimia di otak untuk memberikan individu yang bersangkutan suatu ‘high’ emosional dan perasaan transenden sekaligus perasaan perlu untuk kembali lagi untuk mendapatkan dosis berikutnya.” Saya sudah sejak lama mengatakan bahwa para ‘penyembah’ kontemporer sebenarnya hanyalah ‘high’ dengan musik yang disuguhkan. Hal ini terlihat jelas dalam sebuah kunjungi riset ke City Harvest Church, gereja terbesar di Singapura, pada tanggal 8 Februari 2003. Musiknya adalah rock & roll yang sepenuh-penuhnya, dengan dua pemain drum, gitar-gitar elektrik, sebuah keyboard, dan bagian bass yang kuat. Beberapa pemimpin ‘penyembahan’ (worship leader), baik lelaki maupun wanita, bergoyang dan berjoget di depan panggung. Hampir semua orang bergabung secara antusias pada waktu penyembahan, bernyanyi, bertepuk tangan, melompat-lompat, bergoyang mengikuti musik yang kuat.
Majalah gereja tersebut, edisi Juli-Desember 2002, memuat bagian tanya/jawab, dan salah satu pertanyaan yang diajukan sangatlah instruktif. Seorang anggota baru di gereja itu berkata bahwa dia (perempuan) “merasa tertarik ke dalam hadirat Allah, TERUTAMA PADA SAAT-SAAT PRAISE AND WORSHIP (pujian dan penyembahan).” Tetapi ketika dia mencoba untuk bertemu Allah dengan cara yang sama pada waktu renungan pribadinya, untuk ‘MERASAKAN HADIRAT YANG SAMA,’ dia selalu gagal. Dia tidak dapat memahami apa yang terjadi, tetapi sebenarnya sederhana saja. Musik yang sensual itulah yang menghasilkan perasaaan suatu “hadirat,” tetapi penyembahan yang sejati sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal ini. Hal-hal seperti ini mudah dipalsukan oleh daging dan Iblis.
Penyembahan sejati adalah mengucap syukur kepada Allah dan melayani Dia dengan taat MELALUI IMAN TIDAK PEDULI APA PERASAAN SAYA SAAT INI ATAU KONDISI SITUASI. Apakah menurutmu Abraham merasakan perasaan hangat yang menggelitik saat dia berjalan ke Gunung Moria dengan Ishak, atau apakah Ayub mendapatkan perasaan hangat menggetarkan saat dia duduk di atas abu, menggaruk-garuk bisulnya dengan pecahan tembikar sambil memikirkan anak-anaknya yang meninggal, hartanya yang habis, dan serangan-serangan istrinya? Tidak, tetapi kedua tokoh itu melakukan tindakan penyembahan yang paling murni yang dicatat dalam Alkitab, dan mereka sama sekali tidak tergantung kepada musik.
Sumber:
Way of Life / STT GITS
http://www.cakka.web.id/blog/high-dengan-musik-penyembahan/ Baca Selengkapnya...
Senin, 08 Oktober 2012
Pendeta Jim Bakker dan Teologi Kemakmuran : I Was Wrong
Saat mendengar pembebasan bersyarat saya (1993), saya menyelesaikan studi saya tentang semua kata-kata Yesus dalam Perjanjian Baru. Saya terkejut, setelah berbulan-bulan belajar, saya menyimpulkan bahwa tidak ada satu hal baik pun yang Yesus katakan tentang uang. Sebagian besar pernyataan Yesus tentang kekayaan, kemakmuran, dan mendapatkan hal material berada dalam konteks negatif. Bahkan "Anak yang hilang," salah satu cerita favorit saya. Saya segera menyadari bahwa cerita dimulai dengan si bungsu berkata kepada ayahnya, "Berikan kepada saya! Beri kepada saya bagian warisan saya" (Lukas 15:12). Dia bahkan tidak mengatakan, "Tolong beri aku." Dia hanya menuntut. Tak lama, pemuda itu mendarat di kandang babi itu. Saya mulai melihat bahwa cara tercepat untuk masuk ke kandang babi dimulai dengan "Beri saya”.
Saya kagum akan wahyu "baru" itu, tapi di luar itu, saya sangat prihatin. Dampak sebenarnya dari kata-kata Yesus tentang uang yang mengenai pada hati dan pikiran saya, membuat saya menjadi mual. Saya salah. Saya salah! Salah dalam gaya hidup saya, tentu, tapi lebih mendasar, salah dalam pemahaman saya mengenai berita sejati Alkitab. Bukan saja saya salah, tapi apa yang saya ajar adalah kebalikan dari apa yang Yesus ajarkan. Itulah yang membuat hancur hati saya, ketika saya sadar bahwa saya benar-benar telah bertentangan dengan Kristus, saya merasa ngeri.
Selama bertahun-tahun saya telah menganut dan mendukung suatu injil yang oleh kaum skeptis telah dicap sebagai "Injil Kemakmuran." Saya tidak keberatan dengan label itu, sebaliknya, saya malah bangga karenanya. "Anda benar!" Saya akan mengatakan kepada para pengkritik : "Saya mengkhotbahkan dan menghidupinya! Saya percaya pada Tuhan yang ingin memberkati umat-Nya. Lihat semua orang kudus yang kaya dalam Perjanjian Lama.! Dan Perjanjian Baru dengan jelas mengatakan bahwa di atas segalanya, Tuhan ingin kita makmur bahkan jiwa kita makmur. Jika jiwa Anda makmur, Anda harus makmur secara materi juga!. "
Saya bahkan sampai ke titik di mana saya mengajar orang di PTL. "Jangan berdoa," Tuhan, jadilah kehendak-Mu, ' ketika Anda berdoa untuk kesehatan atau kekayaan. Anda sudah tahu itu adalah kehendak Allah bagi Anda untuk memiliki hal-hal itu. Meminta Tuhan untuk mengkonfirmasi kehendak-Nya ketika Dia sudah memberitahu Anda apa kehendak-Nya bagi Anda adalah sebuah 'penghinaan' terhadap Tuhan. Seolah-olah Anda tidak benar-benar mempercayai-Nya. Daripada berdoa 'Jadilah kehendak-Mu', kalau Anda ingin mobil baru, Anda tinggal mengklaimnya. Pastikan Anda berdoa secara spesifik dan katakan kepada Tuhan warna apa yang Anda inginkan juga.”
Sebuah arogansi! Sebuah kebodohan! Sebuah dosa! Alkitab mengatakan seharusnya kita tidak boleh memberanikan diri mengatakan seperti itu kepada Allah, tetapi kita harus mengatakan, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yakobus 4:15).
Saya mungkin tidak sebegitu mencolok tentang hal itu, tapi saya sering mengkhotbahkan 'pesan kemakmuran' di Heritage USA (tempat retreat) dan dalam program televisi kami PTL (Praise The Lord). Tapi ketika saya mulai mempelajari Kitab Suci lebih mendalam di penjara, sesuatu yang membuat saya malu dan malu untuk mengakui bahwa saya jarang mengambil waktu untuk mempelajari Kitab Suci karena kesibukan dalam melayani dan membangun PTL, saya sangat tertekan dengan apa yang saya temukan. Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya membantu menyebarkan suatu penipuan, bukan Injil yang benar, suatu injil yang lain - "! "Tuhan ingin Anda menjadi kaya" suatu injil yang menyatakan orang Kristen harus memiliki yang terbaik karena kita adalah anak-anak Allah, "Anak-Anak Raja". Dan bukankah seharusnya anak-anak Raja memiliki yang terbaik yang ditawarkan dunia ini?
Semakin saya mempelajari Alkitab, bagaimanapun, saya harus mengakui bahwa pesan kemakmuran tidak sejalan dengan Kitab Suci. Hati saya hancur saat berpikir bahwa saya telah menyesatkan begitu banyak orang. Saya sangat terkejut bahwa saya bisa begitu salah, dan saya sangat bersyukur bahwa Allah tidak memukul saya mati sebagaimana selayaknya seorang nabi palsu!
Bagaimana saya bisa mengajar dan bahkan menulis buku tentang subjek tentang "Bagaimana menjadi kaya" ketika Yesus berbicara begitu jelas tentang bahaya dari kekayaan duniawi? Salah satu pernyataan Yesus yang terus menggema di kepala dan hati saya adalah dalam perumpamaan tentang penabur, di mana Yesus mengatakan bahwa "Lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginannya akan hal yang lain masuklah dan menghimpit firman itu sehingga tidak tidak berbuah "(Markus 4:19). Tipu daya kekayaan.! Semakin saya memikirkannya, semakin saya harus mengakui bahwa saya telah jatuh ke dalam perangkap itu. Saya telah membiarkan pencarian harta benda dan tipu daya kekayaan dan nafsu untuk hal-hal materi menahan Firman Allah dalam kehidupan saya sendiri dan dalam kehidupan anggota keluarga saya dan rekan kerja saya.
Di penjara, saya memutuskan untuk menggali Kitab Suci lebih lanjut untuk melihat apa lagi yang Yesus katakan tentang uang. Saya melihat bahwa Dia berkata,"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Mat. 6:19-21 )
Lain bagian Alkitab lainnya, Matius 6:24, " Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:31-33 : Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Dalam bagian yang sama, saya menemukan bahwa prioritas Allah itu jauh berbeda dari apa yang saya cari dahulu.
Ajaran lain Yesus yang juga menegur langsung hati saya: " Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. " (Lukas 6:24). "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, 'Jika ada orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku'" (Matius 16:24 ). Ayat ini secara dramatis menggambarkan secara kontras antara apa yang Yesus ajarkan dan apa yang telah saya ajarkan. Saya telah mengajarkan bahwa orang Kristen dapat memiliki yang terbaik dari kedua dunia, yang terbaik yang dunia ini tawarkan dan yang surga tawarkan. Yesus berkata, "Sangkallah dirimu sendiri."
Di dalam sel, saya mempelajari Alkitab jam larut malam. Seringkali saat matahari terbit di ufuk timur, saya masih meneliti Kitab Suci. Semakin saya mempelajarinya, semakin saya harus menghadapi kenyataan mengerikan: Saya telah mengkhotbahkan doktrin palsu selama bertahun-tahun dan bahkan saya tidak mengetahuinya!
Tragisnya, saya sudah terlambat, untuk mengakui pada PTL bahwa saya telah melakukan hal yang berlawanan dengan yang Yesus ajarkan yaitu saya mengajarkan orang untuk jatuh cinta dengan uang. Yesus tidak pernah menyamakan berkat-berkat-Nya dengan hal-hal materi, tapi saya telah melakukan hal itu. Saya telah meletakkan begitu banyak penekanan pada hal-hal materi, saya secara halus mendorong orang untuk menempatkan hati mereka pada hal-hal materi, daripada kepada Yesus.
Saya mulai berbagi beberapa hal yang saya pelajari dengan beberapa narapidana Kristen. Saya terkejut oleh tanggapan mereka. Alih-alih menjadi gembira bahwa saya akhirnya datang ke sebuah pengetahuan tentang kebenaran, mereka terkejut bahwa saya mengingkari apa yang mereka anggap sebagai prinsip-prinsip rohani yang jelas yang diajarkan oleh hamba-hamba Allah yang tulus
"Ya, tetapi bukankah Yesus juga mengatakan bahwa Ia datang supaya kita memiliki hidup yang berkelimpahan?" tanya David, seorang yang mendukung teologi kemakmuran. Kami beralih ke Yohanes 10:10 dan membaca, "Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan bahwa mereka mungkin memiliki lebih berlimpah" . Itu adalah pernyataan yang luar biasa oleh Yesus sendiri, jadi aku bisa dengan mudah melihat bagaimana David mengaitkannya dengan kemakmuran material. Ketika kami mencari kata-kata dalam kamus bahasa Inggris-Yunani, bagaimanapun, kami menemukan bahwa kata Yunani untuk "hidup" digunakan dalam ayat ini adalah zoe, sebuah kata yang menunjukkan "hidup dalam roh dan jiwa" bukan bios dunia yang digunakan untuk mengacu ke fisik, kehidupan material. Dari dua kata, zoe biasanya dianggap kata, lebih mulia lebih tinggi. Pada dasarnya, Yesus berkata, "Saya ingin Anda untuk memiliki hidup yang berkelimpahan dalam roh, yang saya tertinggi dan terbaik untuk Anda."
"Hei, ayat yang ini tidak ada hubungannya dengan kemakmuran materi," kata David, seperti cahaya yang menghidupkan hati dan pikirannya. "Jika hidup berkelimpahan berarti memiliki rumah, mobil, kekayaan, pesta dan hiburan, maka saya kira dunia sedang mengalami hidup yang berkelimpahan Namun, kita memiliki lebih banyak kebencian, penyakit, dan rasa sakit dari sebelumnya.." "Tidak hanya itu," seru Jorge, seorang pria Spanyol dengan senyum lebar yang telah masuk ke sel saya dan sedang bersandar berlawanan dengan ranjang sambil mengawasi David dan saya mencari melalui buku-buku referensi Alkitab, "Tetapi jika Anda mengukur betapa Tuhan mengasihi Anda dengan berapa banyak uang yang Anda miliki, atau apa jenis mobil yang Anda kendarai, atau seberapa besar rumah Anda tinggal, apa yang terjadi ketika semua hal-hal itu lenyap? " Jorge telah memukul paku tepat di kepala.
Malam harinya sepulang kerja, David dan Jorge sudah kembali. David telah berbicara dengan pacar Kristennya di telepon sore itu dan ia berkata kepadanya, "Tentu saja Tuhan ingin kita makmur, David. Kau tahu. Alkitab bahkan mengatakan demikian dalam 3 Yohanes 1:2." Aku tahu ayat itu dengan baik. Jelas ayat favorit saya "ayat kemakmuran" selama bertahun-tahun, itu adalah ayat utama Perjanjian Baru di mana saya telah membangun pesan kemakmuran saya dan gaya hidup. Ayat ini berbunyi: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau makmur dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu makmur. ". Beloved, I wish above all things that thou mayest prosper and be in health, even as thy soul prospereth (King James Version).
Saya telah mengkhotbahkan ayat ini untuk sebagian besar pelayanan saya. Dikatakan persis apa yang saya percaya - bahwa Tuhan ingin umat-Nya makmur, dan oleh itu, saya mengartikan itu berarti makmur secara finansial dan material, dengan kata lain, untuk menjadi kaya. Sekali lagi, saya tidak pernah benar-benar memeriksa arti sebenarnya dari teks tersebut, dan aku tidak pernah serius mempertimbangkan mengapa ayat ini, pada permukaan bagaimanapun, tampaknya bertentangan dengan begitu banyak dari apa yang Perjanjian Baru katakan di tempat lain. Aku hanya menarik ayat ini keluar dari konteks dan mengartikannya - secara harfiah!
" Aku tiba-tiba teringat salah satu dosen Alkitab saya yang memperingatkan saya untuk tidak pernah untuk mencari kata-kata Alkitab dalam sebuah kamus bahasa Inggris, karena kata-kata mungkin memiliki arti yang sama sekali berbeda daripada di Alkitab bahasa aslinya. Aku menarik kamus Alkitab dan leksikon Yunani dari rak. Kami melihat arti dari kata' makmur'. Kami menemukan kata yang diterjemahkan "kesejahteraan" dalam King James Version dari Alkitab berasal dari eudoo, kata Yunani, yang terdiri dari dua kata akar Yunani, eu, yang berarti "baik," dan hodos, yang berarti "jalan, atau rute, kemajuan, atau perjalanan. " Kami tidak menemukan referensi tunggal dalam bahasa Yunani untuk uang, kekayaan atau keuntungan materi dari kata makmur seperti yang diterjemahkan dalam King James Version.
Rasul Yohanes hanya berkata, "Saya berharap Anda memiliki sebuah perjalanan yang baik, aman, dan sehat sepanjang hidup Anda, bahkan ketika jiwa Anda memiliki perjalanan yang baik dan aman ke surga." Yohanes tidak mengatakan "Di atas segalanya, saya ingin Anda menjadi kaya Di atas segalanya, Anda harus makmur dan menghasilkan uang.." Pernyataan itu bahkan tidak tersirat dalam arti sebenarnya dari ayat itu. Rasul Yohanes mengatakan sesuatu yang sangat mirip ketika ia berkata, "Saudaraku yang terkasih, aku berharap atas segala sesuatu supaya engkau beruntung dan berada dalam kesehatan, bahkan seperti jiwamu." Itu, ucapan keinginan doa dari rasul, bukan prinsip menyarankan orang Kristen harus kaya.
David yang masih tetap berpegang pada teologi kemakmuran menunjuk sebuah bagian dalam Perjanjian Lama Ulangan 08:18. Saya telah menggunakan ayat itu sendiri dalam pesan yang tak terhitung jumlahnya. Ayat ini berbunyi, "Tetapi engkau ingat TUHAN, Allahmu: untuk itu adalah dia yang memberi kekuatan engkau untuk mendapatkan kekayaan, bahwa ia dapat membentuk perjanjian-Nya yang ia bersumpah kepada nenek moyangmu, seperti yang terjadi sekarang ini".
Pada pandangan pertama, ayat itu tampaknya mendukung gagasan bahwa Allah adalah orang yang memberikan kita kekuatan untuk menjadi kaya. Ketika David dan saya membaca ayat dalam konteks dengan berlalunya seluruh Ulangan 8:1-18, bagaimanapun, itu mengambil arti yang berbeda. Kami menyadari bahwa apa yang sebenarnya Allah berkata kepada umat-Nya dalam bagian ini adalah, "Ketika aku membawa kamu keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian dan Anda menikmati berkat-berkat yang telah saya berikan kepada Anda, jangan berpikir bahwa Anda telah berhasil karena Anda kekuatan sendiri. Jangan katakan bahwa itu adalah kekuatan Anda sendiri,. bahwa Anda melakukan semua ini sendiri. " Tuhan kemudian memperingatkan umat-Nya untuk mengingat bahwa Dia adalah layak menerima kemuliaan. Apa yang Tuhan ingin katakan adalah "Ketika Anda masuk ke Tanah Perjanjian, jangan lupa siapa yang membawa Anda ke sana dan memberikan kepada Anda segala sesuatu yang Anda miliki."
David dan saya menggali kata-kata dalam bagian ini, terutama melihat pada kata diterjemahkan kekayaan. Dengan melihat ‘kekayaan’ dalam leksikon Ibrani, kami menemukan bahwa kata itu berasal dari ‘chayil’ kata Ibrani yang digunakan 232 kali dalam Perjanjian Lama. Dalam hampir setiap kasus, kata tersebut dimaksudkan untuk menyiratkan, " kekuatan, kekuasaan, kemampuan, kebajikan, keberanian," dan, oh, ya: "kekayaan." Hal yang paling sering digunakan adalah untuk menggambarkan pria dan wanita yang gagah berani dan tentara.
Seperti David dan saya membaca bagian dengan pemahaman baru, kami menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mengatakan, "Aku adalah orang yang memberikan kekayaan." Apa yang benar-benar Dia katakan adalah: "Ingat, Tuhanlah yang telah memberi Anda kekuatan untuk menerima semua yang Anda miliki, Dialah yang telah memberi Anda kekuatan. Dia adalah orang yang telah memberi Anda rumah, tanah, atau lainnya.. harta. "
Saya mengakui, di masa lalu saya telah menggunakan ayat ini untuk membuatnya terdengar seolah-olah itu kehendak Tuhan untuk membuat semua orang kaya dan jika salah satu dari umat-Nya yang miskin itu mungkin karena kurangnya iman atau tidak menerapkan "formula" Alkitab dengan benar . Itu penafsiran yang tidak benar dari bagian itu. Ya, sebenarnya Allah yang memberikan kita kekuatan untuk menerima semua yang kita miliki, tetapi untuk menganggap bahwa Dia ingin semua umat-Nya untuk menjadi kaya berdasarkan Alkitab ini merupakan suatu usaha pelegitimasian yang tidak benar terhadap kebenaran itu.
Setelah David dan saya mempelajari Alkitab tentang kekayaan materi, ia menjadi yakin bahwa Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah menginginkan kita untuk menjadi kaya harta benda. "Tapi Jim, bukankah Tuhan ingin memberkati umat-Nya?" Tanya David. "Tentu saja," jawabku, "Tapi kita tidak harus memutar ke dalam Alkitab ke dalam mengatakan sesuatu yang tidak tepat. Ada banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang memberitahu kita bahwa Allah akan menyediakan bagi kita, dan sebagai kita menghormati Dia dengan menggunakan sumber daya yang Dia memberi kita untuk kemuliaan-Nya, Dia akan terus mencurahkan berkat-berkat yang lebih besar atas kita. " (Bakker kemudian mengutip Mal. 3:10-11, 2 Kor 9:6)
Allah telah berjanji untuk memberkati orang-orang yang menaruh Dia pertama dalam hidup mereka. Prinsip ini tidak pernah berubah. Saya masih percaya bahwa Tuhan memberkati umat-Nya dan akan memenuhi kebutuhan mereka. Tuhan tidak ingin kita menyamakan uang hanya dengan kesalehan. Bahkan, Rasul Paulus berkata bahwa " Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, .. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. ". (1 Tim 6:3, 5-6).
Untuk pertama kalinya, aku mulai benar-benar mengerti apa yang Paulus maksudkan ketika ia menulis:
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (1 Tim. 6:8-11)
Selama bertahun-tahun saya mengomentari bagian Alkitab itu. Saya mengabaikannya, membuat alasan untuk itu, atau mencoba untuk memberi penjelasan yang berbeda. Saya menolak untuk menerima penafsiran yang benar. Sekarang saya melihat bahwa pesan itu benar ada sepanjang waktu, sehingga jelas bahwa bahkan seorang anak kecil bisa melihat dan memahaminya. Saya salah.
Saya telah mempengaruhi begitu banyak orang untuk menerima "pesan kemakmuran," Saya sekarang merasa bahwa saya punya tanggung jawab untuk memberitahu teman-teman saya apa yang saya telah pelajari dari studi saya di Alkitab. Beberapa orang terkejut saat mengetahui saya - orang yang mereka anggap sebagai penyebar utama pesan kemakmuran di abad kedua puluh - telah mengingkari pengajaran saya sebelumnya. Lainnya menulis kepada saya dengan sangat senang bahwa saya "akhirnya telah melihat terang."
Saya tahu apa yang Tuhan telah dengan sangat jelas tunjukkan kepada saya dari Firman-Nya. Saya telah mempelajari setiap kata Yesus selama dua tahun, dan saya yakin bahwa pesan kemakmuran adalah suatu penyimpangan dan paling buruk, suatu "injil lain" yang berlawanan dengan Injil Yesus Kristus. Meskipun saya masih percaya Tuhan memberkati umat-Nya, pesan kemakmuran yang telah saya khotbahkan selama bertahun-tahun itu salah.
Catatan :
Pendeta Jim Bakker adalah seorang tele-evangelist yang terkenal dengan acara televisinya PTL (Praise the Lord) yang disiarkan lewat satelit ke seluruh dunia di tahun 1970-80-an. Pada awal 1980-an dia membangun “Heritage USA”, pusat retreat seluas 23.000 di Fort Mill, South Carolina. Pendapatan yang diperkirakan masuk perminggu lewat siaran TV-nya sekita 1 juta dollar. Uangnya itu dipakai untuk pengembangan Heritage USA. Tahun 1984-1987 ternyata ada penyalahgunaan dana keanggotaan Heritage USA yang dilakukan oleh Jim Bakker. Dibayangi skandal seks akhirnya Jim Bakker mengundurkan diri dari acara PTL dan dia dijebloskan ke dalam penjara.
Puji Tuhan, Pendeta Jim Bakker bertobat kembali di penjara dan dia mulai mempelajari Alkitab sungguh-sungguh dan mengkritisi pengajarannya sebelumnya. Dia menulis kesaksian tentang pertobatannya terutama refleksinya atas pengajaran “The Prosperity Gospel” atau Injil Kemakmuran dalam buku yang berjudul “I Was Wrong” dan” Prosperity and the Coming Apocalypse”. Sumber : inspirazio.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Saya kagum akan wahyu "baru" itu, tapi di luar itu, saya sangat prihatin. Dampak sebenarnya dari kata-kata Yesus tentang uang yang mengenai pada hati dan pikiran saya, membuat saya menjadi mual. Saya salah. Saya salah! Salah dalam gaya hidup saya, tentu, tapi lebih mendasar, salah dalam pemahaman saya mengenai berita sejati Alkitab. Bukan saja saya salah, tapi apa yang saya ajar adalah kebalikan dari apa yang Yesus ajarkan. Itulah yang membuat hancur hati saya, ketika saya sadar bahwa saya benar-benar telah bertentangan dengan Kristus, saya merasa ngeri.
Selama bertahun-tahun saya telah menganut dan mendukung suatu injil yang oleh kaum skeptis telah dicap sebagai "Injil Kemakmuran." Saya tidak keberatan dengan label itu, sebaliknya, saya malah bangga karenanya. "Anda benar!" Saya akan mengatakan kepada para pengkritik : "Saya mengkhotbahkan dan menghidupinya! Saya percaya pada Tuhan yang ingin memberkati umat-Nya. Lihat semua orang kudus yang kaya dalam Perjanjian Lama.! Dan Perjanjian Baru dengan jelas mengatakan bahwa di atas segalanya, Tuhan ingin kita makmur bahkan jiwa kita makmur. Jika jiwa Anda makmur, Anda harus makmur secara materi juga!. "
Saya bahkan sampai ke titik di mana saya mengajar orang di PTL. "Jangan berdoa," Tuhan, jadilah kehendak-Mu, ' ketika Anda berdoa untuk kesehatan atau kekayaan. Anda sudah tahu itu adalah kehendak Allah bagi Anda untuk memiliki hal-hal itu. Meminta Tuhan untuk mengkonfirmasi kehendak-Nya ketika Dia sudah memberitahu Anda apa kehendak-Nya bagi Anda adalah sebuah 'penghinaan' terhadap Tuhan. Seolah-olah Anda tidak benar-benar mempercayai-Nya. Daripada berdoa 'Jadilah kehendak-Mu', kalau Anda ingin mobil baru, Anda tinggal mengklaimnya. Pastikan Anda berdoa secara spesifik dan katakan kepada Tuhan warna apa yang Anda inginkan juga.”
Sebuah arogansi! Sebuah kebodohan! Sebuah dosa! Alkitab mengatakan seharusnya kita tidak boleh memberanikan diri mengatakan seperti itu kepada Allah, tetapi kita harus mengatakan, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yakobus 4:15).
Saya mungkin tidak sebegitu mencolok tentang hal itu, tapi saya sering mengkhotbahkan 'pesan kemakmuran' di Heritage USA (tempat retreat) dan dalam program televisi kami PTL (Praise The Lord). Tapi ketika saya mulai mempelajari Kitab Suci lebih mendalam di penjara, sesuatu yang membuat saya malu dan malu untuk mengakui bahwa saya jarang mengambil waktu untuk mempelajari Kitab Suci karena kesibukan dalam melayani dan membangun PTL, saya sangat tertekan dengan apa yang saya temukan. Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya membantu menyebarkan suatu penipuan, bukan Injil yang benar, suatu injil yang lain - "! "Tuhan ingin Anda menjadi kaya" suatu injil yang menyatakan orang Kristen harus memiliki yang terbaik karena kita adalah anak-anak Allah, "Anak-Anak Raja". Dan bukankah seharusnya anak-anak Raja memiliki yang terbaik yang ditawarkan dunia ini?
Semakin saya mempelajari Alkitab, bagaimanapun, saya harus mengakui bahwa pesan kemakmuran tidak sejalan dengan Kitab Suci. Hati saya hancur saat berpikir bahwa saya telah menyesatkan begitu banyak orang. Saya sangat terkejut bahwa saya bisa begitu salah, dan saya sangat bersyukur bahwa Allah tidak memukul saya mati sebagaimana selayaknya seorang nabi palsu!
Bagaimana saya bisa mengajar dan bahkan menulis buku tentang subjek tentang "Bagaimana menjadi kaya" ketika Yesus berbicara begitu jelas tentang bahaya dari kekayaan duniawi? Salah satu pernyataan Yesus yang terus menggema di kepala dan hati saya adalah dalam perumpamaan tentang penabur, di mana Yesus mengatakan bahwa "Lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginannya akan hal yang lain masuklah dan menghimpit firman itu sehingga tidak tidak berbuah "(Markus 4:19). Tipu daya kekayaan.! Semakin saya memikirkannya, semakin saya harus mengakui bahwa saya telah jatuh ke dalam perangkap itu. Saya telah membiarkan pencarian harta benda dan tipu daya kekayaan dan nafsu untuk hal-hal materi menahan Firman Allah dalam kehidupan saya sendiri dan dalam kehidupan anggota keluarga saya dan rekan kerja saya.
Di penjara, saya memutuskan untuk menggali Kitab Suci lebih lanjut untuk melihat apa lagi yang Yesus katakan tentang uang. Saya melihat bahwa Dia berkata,"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Mat. 6:19-21 )
Lain bagian Alkitab lainnya, Matius 6:24, " Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:31-33 : Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Dalam bagian yang sama, saya menemukan bahwa prioritas Allah itu jauh berbeda dari apa yang saya cari dahulu.
Ajaran lain Yesus yang juga menegur langsung hati saya: " Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. " (Lukas 6:24). "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, 'Jika ada orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku'" (Matius 16:24 ). Ayat ini secara dramatis menggambarkan secara kontras antara apa yang Yesus ajarkan dan apa yang telah saya ajarkan. Saya telah mengajarkan bahwa orang Kristen dapat memiliki yang terbaik dari kedua dunia, yang terbaik yang dunia ini tawarkan dan yang surga tawarkan. Yesus berkata, "Sangkallah dirimu sendiri."
Di dalam sel, saya mempelajari Alkitab jam larut malam. Seringkali saat matahari terbit di ufuk timur, saya masih meneliti Kitab Suci. Semakin saya mempelajarinya, semakin saya harus menghadapi kenyataan mengerikan: Saya telah mengkhotbahkan doktrin palsu selama bertahun-tahun dan bahkan saya tidak mengetahuinya!
Tragisnya, saya sudah terlambat, untuk mengakui pada PTL bahwa saya telah melakukan hal yang berlawanan dengan yang Yesus ajarkan yaitu saya mengajarkan orang untuk jatuh cinta dengan uang. Yesus tidak pernah menyamakan berkat-berkat-Nya dengan hal-hal materi, tapi saya telah melakukan hal itu. Saya telah meletakkan begitu banyak penekanan pada hal-hal materi, saya secara halus mendorong orang untuk menempatkan hati mereka pada hal-hal materi, daripada kepada Yesus.
Saya mulai berbagi beberapa hal yang saya pelajari dengan beberapa narapidana Kristen. Saya terkejut oleh tanggapan mereka. Alih-alih menjadi gembira bahwa saya akhirnya datang ke sebuah pengetahuan tentang kebenaran, mereka terkejut bahwa saya mengingkari apa yang mereka anggap sebagai prinsip-prinsip rohani yang jelas yang diajarkan oleh hamba-hamba Allah yang tulus
"Ya, tetapi bukankah Yesus juga mengatakan bahwa Ia datang supaya kita memiliki hidup yang berkelimpahan?" tanya David, seorang yang mendukung teologi kemakmuran. Kami beralih ke Yohanes 10:10 dan membaca, "Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan bahwa mereka mungkin memiliki lebih berlimpah" . Itu adalah pernyataan yang luar biasa oleh Yesus sendiri, jadi aku bisa dengan mudah melihat bagaimana David mengaitkannya dengan kemakmuran material. Ketika kami mencari kata-kata dalam kamus bahasa Inggris-Yunani, bagaimanapun, kami menemukan bahwa kata Yunani untuk "hidup" digunakan dalam ayat ini adalah zoe, sebuah kata yang menunjukkan "hidup dalam roh dan jiwa" bukan bios dunia yang digunakan untuk mengacu ke fisik, kehidupan material. Dari dua kata, zoe biasanya dianggap kata, lebih mulia lebih tinggi. Pada dasarnya, Yesus berkata, "Saya ingin Anda untuk memiliki hidup yang berkelimpahan dalam roh, yang saya tertinggi dan terbaik untuk Anda."
"Hei, ayat yang ini tidak ada hubungannya dengan kemakmuran materi," kata David, seperti cahaya yang menghidupkan hati dan pikirannya. "Jika hidup berkelimpahan berarti memiliki rumah, mobil, kekayaan, pesta dan hiburan, maka saya kira dunia sedang mengalami hidup yang berkelimpahan Namun, kita memiliki lebih banyak kebencian, penyakit, dan rasa sakit dari sebelumnya.." "Tidak hanya itu," seru Jorge, seorang pria Spanyol dengan senyum lebar yang telah masuk ke sel saya dan sedang bersandar berlawanan dengan ranjang sambil mengawasi David dan saya mencari melalui buku-buku referensi Alkitab, "Tetapi jika Anda mengukur betapa Tuhan mengasihi Anda dengan berapa banyak uang yang Anda miliki, atau apa jenis mobil yang Anda kendarai, atau seberapa besar rumah Anda tinggal, apa yang terjadi ketika semua hal-hal itu lenyap? " Jorge telah memukul paku tepat di kepala.
Malam harinya sepulang kerja, David dan Jorge sudah kembali. David telah berbicara dengan pacar Kristennya di telepon sore itu dan ia berkata kepadanya, "Tentu saja Tuhan ingin kita makmur, David. Kau tahu. Alkitab bahkan mengatakan demikian dalam 3 Yohanes 1:2." Aku tahu ayat itu dengan baik. Jelas ayat favorit saya "ayat kemakmuran" selama bertahun-tahun, itu adalah ayat utama Perjanjian Baru di mana saya telah membangun pesan kemakmuran saya dan gaya hidup. Ayat ini berbunyi: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau makmur dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu makmur. ". Beloved, I wish above all things that thou mayest prosper and be in health, even as thy soul prospereth (King James Version).
Saya telah mengkhotbahkan ayat ini untuk sebagian besar pelayanan saya. Dikatakan persis apa yang saya percaya - bahwa Tuhan ingin umat-Nya makmur, dan oleh itu, saya mengartikan itu berarti makmur secara finansial dan material, dengan kata lain, untuk menjadi kaya. Sekali lagi, saya tidak pernah benar-benar memeriksa arti sebenarnya dari teks tersebut, dan aku tidak pernah serius mempertimbangkan mengapa ayat ini, pada permukaan bagaimanapun, tampaknya bertentangan dengan begitu banyak dari apa yang Perjanjian Baru katakan di tempat lain. Aku hanya menarik ayat ini keluar dari konteks dan mengartikannya - secara harfiah!
" Aku tiba-tiba teringat salah satu dosen Alkitab saya yang memperingatkan saya untuk tidak pernah untuk mencari kata-kata Alkitab dalam sebuah kamus bahasa Inggris, karena kata-kata mungkin memiliki arti yang sama sekali berbeda daripada di Alkitab bahasa aslinya. Aku menarik kamus Alkitab dan leksikon Yunani dari rak. Kami melihat arti dari kata' makmur'. Kami menemukan kata yang diterjemahkan "kesejahteraan" dalam King James Version dari Alkitab berasal dari eudoo, kata Yunani, yang terdiri dari dua kata akar Yunani, eu, yang berarti "baik," dan hodos, yang berarti "jalan, atau rute, kemajuan, atau perjalanan. " Kami tidak menemukan referensi tunggal dalam bahasa Yunani untuk uang, kekayaan atau keuntungan materi dari kata makmur seperti yang diterjemahkan dalam King James Version.
Rasul Yohanes hanya berkata, "Saya berharap Anda memiliki sebuah perjalanan yang baik, aman, dan sehat sepanjang hidup Anda, bahkan ketika jiwa Anda memiliki perjalanan yang baik dan aman ke surga." Yohanes tidak mengatakan "Di atas segalanya, saya ingin Anda menjadi kaya Di atas segalanya, Anda harus makmur dan menghasilkan uang.." Pernyataan itu bahkan tidak tersirat dalam arti sebenarnya dari ayat itu. Rasul Yohanes mengatakan sesuatu yang sangat mirip ketika ia berkata, "Saudaraku yang terkasih, aku berharap atas segala sesuatu supaya engkau beruntung dan berada dalam kesehatan, bahkan seperti jiwamu." Itu, ucapan keinginan doa dari rasul, bukan prinsip menyarankan orang Kristen harus kaya.
David yang masih tetap berpegang pada teologi kemakmuran menunjuk sebuah bagian dalam Perjanjian Lama Ulangan 08:18. Saya telah menggunakan ayat itu sendiri dalam pesan yang tak terhitung jumlahnya. Ayat ini berbunyi, "Tetapi engkau ingat TUHAN, Allahmu: untuk itu adalah dia yang memberi kekuatan engkau untuk mendapatkan kekayaan, bahwa ia dapat membentuk perjanjian-Nya yang ia bersumpah kepada nenek moyangmu, seperti yang terjadi sekarang ini".
Pada pandangan pertama, ayat itu tampaknya mendukung gagasan bahwa Allah adalah orang yang memberikan kita kekuatan untuk menjadi kaya. Ketika David dan saya membaca ayat dalam konteks dengan berlalunya seluruh Ulangan 8:1-18, bagaimanapun, itu mengambil arti yang berbeda. Kami menyadari bahwa apa yang sebenarnya Allah berkata kepada umat-Nya dalam bagian ini adalah, "Ketika aku membawa kamu keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian dan Anda menikmati berkat-berkat yang telah saya berikan kepada Anda, jangan berpikir bahwa Anda telah berhasil karena Anda kekuatan sendiri. Jangan katakan bahwa itu adalah kekuatan Anda sendiri,. bahwa Anda melakukan semua ini sendiri. " Tuhan kemudian memperingatkan umat-Nya untuk mengingat bahwa Dia adalah layak menerima kemuliaan. Apa yang Tuhan ingin katakan adalah "Ketika Anda masuk ke Tanah Perjanjian, jangan lupa siapa yang membawa Anda ke sana dan memberikan kepada Anda segala sesuatu yang Anda miliki."
David dan saya menggali kata-kata dalam bagian ini, terutama melihat pada kata diterjemahkan kekayaan. Dengan melihat ‘kekayaan’ dalam leksikon Ibrani, kami menemukan bahwa kata itu berasal dari ‘chayil’ kata Ibrani yang digunakan 232 kali dalam Perjanjian Lama. Dalam hampir setiap kasus, kata tersebut dimaksudkan untuk menyiratkan, " kekuatan, kekuasaan, kemampuan, kebajikan, keberanian," dan, oh, ya: "kekayaan." Hal yang paling sering digunakan adalah untuk menggambarkan pria dan wanita yang gagah berani dan tentara.
Seperti David dan saya membaca bagian dengan pemahaman baru, kami menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mengatakan, "Aku adalah orang yang memberikan kekayaan." Apa yang benar-benar Dia katakan adalah: "Ingat, Tuhanlah yang telah memberi Anda kekuatan untuk menerima semua yang Anda miliki, Dialah yang telah memberi Anda kekuatan. Dia adalah orang yang telah memberi Anda rumah, tanah, atau lainnya.. harta. "
Saya mengakui, di masa lalu saya telah menggunakan ayat ini untuk membuatnya terdengar seolah-olah itu kehendak Tuhan untuk membuat semua orang kaya dan jika salah satu dari umat-Nya yang miskin itu mungkin karena kurangnya iman atau tidak menerapkan "formula" Alkitab dengan benar . Itu penafsiran yang tidak benar dari bagian itu. Ya, sebenarnya Allah yang memberikan kita kekuatan untuk menerima semua yang kita miliki, tetapi untuk menganggap bahwa Dia ingin semua umat-Nya untuk menjadi kaya berdasarkan Alkitab ini merupakan suatu usaha pelegitimasian yang tidak benar terhadap kebenaran itu.
Setelah David dan saya mempelajari Alkitab tentang kekayaan materi, ia menjadi yakin bahwa Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah menginginkan kita untuk menjadi kaya harta benda. "Tapi Jim, bukankah Tuhan ingin memberkati umat-Nya?" Tanya David. "Tentu saja," jawabku, "Tapi kita tidak harus memutar ke dalam Alkitab ke dalam mengatakan sesuatu yang tidak tepat. Ada banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang memberitahu kita bahwa Allah akan menyediakan bagi kita, dan sebagai kita menghormati Dia dengan menggunakan sumber daya yang Dia memberi kita untuk kemuliaan-Nya, Dia akan terus mencurahkan berkat-berkat yang lebih besar atas kita. " (Bakker kemudian mengutip Mal. 3:10-11, 2 Kor 9:6)
Allah telah berjanji untuk memberkati orang-orang yang menaruh Dia pertama dalam hidup mereka. Prinsip ini tidak pernah berubah. Saya masih percaya bahwa Tuhan memberkati umat-Nya dan akan memenuhi kebutuhan mereka. Tuhan tidak ingin kita menyamakan uang hanya dengan kesalehan. Bahkan, Rasul Paulus berkata bahwa " Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, .. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. ". (1 Tim 6:3, 5-6).
Untuk pertama kalinya, aku mulai benar-benar mengerti apa yang Paulus maksudkan ketika ia menulis:
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (1 Tim. 6:8-11)
Selama bertahun-tahun saya mengomentari bagian Alkitab itu. Saya mengabaikannya, membuat alasan untuk itu, atau mencoba untuk memberi penjelasan yang berbeda. Saya menolak untuk menerima penafsiran yang benar. Sekarang saya melihat bahwa pesan itu benar ada sepanjang waktu, sehingga jelas bahwa bahkan seorang anak kecil bisa melihat dan memahaminya. Saya salah.
Saya telah mempengaruhi begitu banyak orang untuk menerima "pesan kemakmuran," Saya sekarang merasa bahwa saya punya tanggung jawab untuk memberitahu teman-teman saya apa yang saya telah pelajari dari studi saya di Alkitab. Beberapa orang terkejut saat mengetahui saya - orang yang mereka anggap sebagai penyebar utama pesan kemakmuran di abad kedua puluh - telah mengingkari pengajaran saya sebelumnya. Lainnya menulis kepada saya dengan sangat senang bahwa saya "akhirnya telah melihat terang."
Saya tahu apa yang Tuhan telah dengan sangat jelas tunjukkan kepada saya dari Firman-Nya. Saya telah mempelajari setiap kata Yesus selama dua tahun, dan saya yakin bahwa pesan kemakmuran adalah suatu penyimpangan dan paling buruk, suatu "injil lain" yang berlawanan dengan Injil Yesus Kristus. Meskipun saya masih percaya Tuhan memberkati umat-Nya, pesan kemakmuran yang telah saya khotbahkan selama bertahun-tahun itu salah.
Catatan :
Pendeta Jim Bakker adalah seorang tele-evangelist yang terkenal dengan acara televisinya PTL (Praise the Lord) yang disiarkan lewat satelit ke seluruh dunia di tahun 1970-80-an. Pada awal 1980-an dia membangun “Heritage USA”, pusat retreat seluas 23.000 di Fort Mill, South Carolina. Pendapatan yang diperkirakan masuk perminggu lewat siaran TV-nya sekita 1 juta dollar. Uangnya itu dipakai untuk pengembangan Heritage USA. Tahun 1984-1987 ternyata ada penyalahgunaan dana keanggotaan Heritage USA yang dilakukan oleh Jim Bakker. Dibayangi skandal seks akhirnya Jim Bakker mengundurkan diri dari acara PTL dan dia dijebloskan ke dalam penjara.
Puji Tuhan, Pendeta Jim Bakker bertobat kembali di penjara dan dia mulai mempelajari Alkitab sungguh-sungguh dan mengkritisi pengajarannya sebelumnya. Dia menulis kesaksian tentang pertobatannya terutama refleksinya atas pengajaran “The Prosperity Gospel” atau Injil Kemakmuran dalam buku yang berjudul “I Was Wrong” dan” Prosperity and the Coming Apocalypse”. Sumber : inspirazio.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 01 Agustus 2012
Kontroversi Chick-fil-A: Antara iman dan ekonomi
Di kalangan orang Kristen, pilihan ekonomi tak jarang dibuat tanpa pertimbangan keimanan. Namun dengan kontroversi Chick-fil-A, sebuah jaringan-restoran mirip KFC, banyak orang semakin sadar bahwa tindakan ekonomi dan iman adalah dua hal yang berkaitan.
USA -- Dua minggu yang lalu, pelaksana harian direktur utama Chick-fil-A, Dan Cathy, menyatakan bahwa restoran yang menyajikan burger ayam ini akan tetap menjunjung nilai-nilai kristiani termasuk pemahamannya tentang keluarga. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara meniru Eropa Barat yang telah dikuasai oleh sekularisme atau kembali ke fondasi Kekristenan, tidak dapat tidak pernyataan semacam itu mengundang reaksi pro maupun kontra.
Organisasi-organisasi pro-homoseksualisme yang didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Ford (mobil), Hewlett-Packard (komputer), Kodak (kamera), Coca-cola (minuman), Nike (sepatu), Starbucks (rumah kopi), Oreo (biskuit), dan sederet merk terkenal lainnya (lihat di sini), termasuk Levi's (jeans) dan Google.com (Internet), langsung menyerukan boikot terhadap Chick-fil-A.
“Eat chikin' no more,” (berhenti makan ayam) ungkap mereka. Chikin' adalah pelesetan dari kata Bahasa Inggris chicken (ayam) yang digunakan dalam iklan milik Chick-fil-A.
Dua walikota, yaitu Chicago dan Boston, telah mengatakan akan menolak restoran yang tidak beroperasi pada hari Minggu itu untuk dibuka di kota mereka.
“Nilai-nilai Chick-fil-A tidak sesuai dengan nilai-nilai kota Chicago,” demikian ungkap Rahm Emanuel, walikota Chicago, seperti dilansir Sun Times.
Ketua Penasihat Umum gereja The Assemblies of God, George Wood, menanyakan serangkaian pertanyaan sebagai respon terhadap ungkapan walikota Chicago yang merupakan tim kampanye Obama ini:
“Apakah Anda mengatakan bahwa umat Katolik tidak di-welcome di Chicago karena mereka tidak mengikuti 'nilai-nilai Chicago'? Bahwa umat Kristen Injili tidak di-welcome? Demikian dengan umat Muslim? Dengan umat Yahudi Ortodoks?
“Bahwa mereka yang keyakinan agamanya menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak punya 'nilai-nilai Chicago' sehingga dengan demikian tidak termasuk komunitas Anda? Apakah Anda bermaksud mendiskriminasi masyarakat beragama? Apakah Anda bermaksud memarginalisasi mereka? Apakah Anda, menurut pandangan Anda sendiri, sedang bersikap intoleran terhadap masyarakat beragama?” demikian dikutip charismanews.
Dalam laporan Sun Times, Rahn Emanuel, mempertahankan pernyataannya tersebut dan menolak meminta maaf. Hanya Thomas Menino, walikota Boston, yang kemudian menarik kata-katanya: “Mundur dari rencana kalian untuk memiliki lokasi di Boston,” ungkapnya seperti dikutip yahoonews.
Pernyataan Mike Huckabee
Menanggapi serangan pedas dari homoseksualis militan ini, Mike Huckabee, mantan gubernur Arkansas dan juga seorang penulis best-selling untuk NY-Times, mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan:
“Keluarga Cathy, yang dipimpin oleh pendiri Chick-fil-A, Truett Cathy, adalah keluarga Kristen luar biasa yang berkomitmen untuk mengoperasikan perusahaannya menurut prinsip-prinsip alkitabiah dan yang ceritanya adalah benar-benar sebuah kisah sukses di Amerika. Dimulai pada usia 46, Truett Cathy membangun Chick-fil-A menjadi perusahaan beromset $4 milyar pertahun dengan lebih dari 1.600 cabang. Pada usia 91, dia masih aktif di perusahaannya, tapi anaknya Dan adalah pelaksana harian direktur utama perusahaan. Ini adalah kisah Amerika yang hebat yang dikotori oleh ungkapan kebencian dan fanatisme intoleran dari pihak kiri.
"Perusahaan Chick-fil-A menolak untuk beroperasi pada hari Minggu supaya karyawan mereka dapat pergi ke gereja jika mereka menginginkannya. Meskipun mal, bandara dan dunia usaha menekan perusahaan untuk buka pada hari Minggu, keputusan ini dipertahankan. Mereka memperlakukan pelanggan dan karyawan dengan rasa hormat dan penghargaan.
"Pendukung homoseksual militan telah meluncurkan serangan terhadap Dan Cathy dan Chick-fil-A, mendorong pemboikotan karena keluarga Cathy telah memberikan kontribusi terhadap organisasi yang mendukung pernikahan menurut tradisi. Upaya untuk menyakiti atau menghancurkan Chick-fil-A tidak kurang dari sebuah pengancaman ekonomi.
"Mengatas-namakan 'toleransi', ada upaya dilakukan untuk menekan orang-orang supaya berhenti makan di Chick-fil-A. Lebih buruk lagi adalah upaya menjelek-jelekan perusahaan dan karyawannya. Pandangan Kristen yang dimiliki Dan Cathy telah disikapi dengan sikap intoleransi dan ungkapan kebencian yang kejam.”
Lebih jauh Huckabee, sambil menekankan bahwa pihak perusahaan maupun keluarga pemilik tidak berkaitan apa-apa dengan pernyataannya ini, mengajak masyarakat untuk makan di Chick-fil-A sebagai bentuk dukungan bagi “sebuah bisnis yang beroperasi atas dasar prinsip-prinsip Kristen dengan pemimpin yang berani mengambil sikap untuk mempertahankan nilai-nilai kesalehan.” Ia mengajak untuk makan di Chick-fil-A pada hari Rabu 1 Agustus.
“Terlalu sering, mereka yang berhaluan kiri membuat pernyataan bersama untuk mendukung 'pernikahan' sesama jenis, pembunuhan bayi (aborsi) atau ketidak-senonohan, tetapi jika orang-orang Kristen menegaskan nilai-nilai sesuai tradisi [Kekristenan], kita dikatakan 'homofobia', fundamentalis, pembenci, dan intoleran,” ungkapnya dalam pernyataan itu.
Penyebaran doktrin homoseksualisme
Sementara itu, upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat di Asia, Afrika, dan di belahan dunia lainnya terus dilakukan lewat media-media atau 'LSM-LSM' yang berhaluan sama atau yang telah dibeli oleh gerakan sistematik homoseksualisme yang tak hanya ditunjang dana yang besar tapi juga kekuatan politik. Tak kurang dari administrasi pemerintah Inggris dan Amerika saat ini yang telah menyatakan bahwa bantuan luar negeri mereka turut ditentukan oleh penerimaan atas hubungan sesama jenis.
Militansi gerakan homoseksualisme tak hanya menguatirkan masyarakat beragama, tetapi juga para homoseks sendiri. Senator Ted Lieu baru-baru ini mengusulkan sebuah RUU di senat negara bagian California, USA, yang didalamnya dicantumkan: “Tidak boleh dalam situasi apapun penyedia perawatan kesehatan mental melibatkan diri dalam upaya merubah orientasi seksual dari pasien umur 18 tahun ke bawah, sekalipun dengan persetujuan pasien, orangtua pasien, penjaganya, walinya, atau orang lain untuk menempuh upaya itu.” (Lihat selengkapnya di sini.)
Marisa Lobo, seorang psikolog, menentang kebijakan seperti ini di Brazil. Lobo melihat bahwa larangan untuk melakukan terapi reparatif bagi yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis “melanggar kebebasan pribadi seorang pasien” dan sebagai seorang ahli jiwa ia harus “mendengar penderitaan psikologi” ketika seorang homoseks ingin merubah orientasi seksualnya. Saat ini terapi ini dilarang oleh Federal Council of Pscyhology (CFP) Brazil. Pernyataannya telah menuai kritik dari organisasi ini, dan Lobo sendiri beresiko kehilangan ijin prakteknya. (Lihat selengkapnya di sini.)
Topik tentang homoseks telah mengganggu pikiran banyak orang Kristen pada akhir-akhir ini. Pada kenyataannya hal ini adalah kenyataan hidup yang harus disikapi dengan bijaksana dan terlebih lagi, dengan belas kasih. Gereja perlu menjadi “tempat utama di mana orang beriman mencari dukungan, penghiburan dan pemuridan seiring mereka membuat keputusan untuk hidup menurut prinsip-prinsip Kristen.”
Ungkapan organanisasi Exodus dapat menjadi titik refleksi bagi gereja yang berusaha untuk mengikuti Kepalanya, yaitu Yesus Kristus. “Kami percaya mengenai padangan yang berpusat pada Injil, maksudnya bahwa semua orang, tanpa peduli akan pergumulan pribadi masing-masing, dapat mengalami pembebasan dari kuasa dosa lewat hubungan dengan Yesus Kristus setiap hari, komitmen terhadap firman Tuhan, dan dengan menjadi bagian dari sebuah komunitas orang percaya yang bersemangat, terbuka, dan relasional yang terdapat di gereja setempat.”
Umat Kristen saat ini diperhadapkan dengan situasi dunia yang semakin tak bersahabat, sekaligus menempatkan kita pada pilihan-pilihan yang menuntut sikap etis kristiani. Pergunakanlah hikmat dari Allah dalam setiap tindakan iman kita, baik dalam ekonomi, politik, bahkan seluruh kehidupan kita dengan berlandaskan iman, pengharapan, dan kasih, serta dengan mengingat pesan firman: "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu... (Yohanes 15:18). Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33).
Sumber: menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
USA -- Dua minggu yang lalu, pelaksana harian direktur utama Chick-fil-A, Dan Cathy, menyatakan bahwa restoran yang menyajikan burger ayam ini akan tetap menjunjung nilai-nilai kristiani termasuk pemahamannya tentang keluarga. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara meniru Eropa Barat yang telah dikuasai oleh sekularisme atau kembali ke fondasi Kekristenan, tidak dapat tidak pernyataan semacam itu mengundang reaksi pro maupun kontra.
Organisasi-organisasi pro-homoseksualisme yang didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Ford (mobil), Hewlett-Packard (komputer), Kodak (kamera), Coca-cola (minuman), Nike (sepatu), Starbucks (rumah kopi), Oreo (biskuit), dan sederet merk terkenal lainnya (lihat di sini), termasuk Levi's (jeans) dan Google.com (Internet), langsung menyerukan boikot terhadap Chick-fil-A.
“Eat chikin' no more,” (berhenti makan ayam) ungkap mereka. Chikin' adalah pelesetan dari kata Bahasa Inggris chicken (ayam) yang digunakan dalam iklan milik Chick-fil-A.
Dua walikota, yaitu Chicago dan Boston, telah mengatakan akan menolak restoran yang tidak beroperasi pada hari Minggu itu untuk dibuka di kota mereka.
“Nilai-nilai Chick-fil-A tidak sesuai dengan nilai-nilai kota Chicago,” demikian ungkap Rahm Emanuel, walikota Chicago, seperti dilansir Sun Times.
Ketua Penasihat Umum gereja The Assemblies of God, George Wood, menanyakan serangkaian pertanyaan sebagai respon terhadap ungkapan walikota Chicago yang merupakan tim kampanye Obama ini:
“Apakah Anda mengatakan bahwa umat Katolik tidak di-welcome di Chicago karena mereka tidak mengikuti 'nilai-nilai Chicago'? Bahwa umat Kristen Injili tidak di-welcome? Demikian dengan umat Muslim? Dengan umat Yahudi Ortodoks?
“Bahwa mereka yang keyakinan agamanya menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak punya 'nilai-nilai Chicago' sehingga dengan demikian tidak termasuk komunitas Anda? Apakah Anda bermaksud mendiskriminasi masyarakat beragama? Apakah Anda bermaksud memarginalisasi mereka? Apakah Anda, menurut pandangan Anda sendiri, sedang bersikap intoleran terhadap masyarakat beragama?” demikian dikutip charismanews.
Dalam laporan Sun Times, Rahn Emanuel, mempertahankan pernyataannya tersebut dan menolak meminta maaf. Hanya Thomas Menino, walikota Boston, yang kemudian menarik kata-katanya: “Mundur dari rencana kalian untuk memiliki lokasi di Boston,” ungkapnya seperti dikutip yahoonews.
Pernyataan Mike Huckabee
Menanggapi serangan pedas dari homoseksualis militan ini, Mike Huckabee, mantan gubernur Arkansas dan juga seorang penulis best-selling untuk NY-Times, mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan:
“Keluarga Cathy, yang dipimpin oleh pendiri Chick-fil-A, Truett Cathy, adalah keluarga Kristen luar biasa yang berkomitmen untuk mengoperasikan perusahaannya menurut prinsip-prinsip alkitabiah dan yang ceritanya adalah benar-benar sebuah kisah sukses di Amerika. Dimulai pada usia 46, Truett Cathy membangun Chick-fil-A menjadi perusahaan beromset $4 milyar pertahun dengan lebih dari 1.600 cabang. Pada usia 91, dia masih aktif di perusahaannya, tapi anaknya Dan adalah pelaksana harian direktur utama perusahaan. Ini adalah kisah Amerika yang hebat yang dikotori oleh ungkapan kebencian dan fanatisme intoleran dari pihak kiri.
"Perusahaan Chick-fil-A menolak untuk beroperasi pada hari Minggu supaya karyawan mereka dapat pergi ke gereja jika mereka menginginkannya. Meskipun mal, bandara dan dunia usaha menekan perusahaan untuk buka pada hari Minggu, keputusan ini dipertahankan. Mereka memperlakukan pelanggan dan karyawan dengan rasa hormat dan penghargaan.
"Pendukung homoseksual militan telah meluncurkan serangan terhadap Dan Cathy dan Chick-fil-A, mendorong pemboikotan karena keluarga Cathy telah memberikan kontribusi terhadap organisasi yang mendukung pernikahan menurut tradisi. Upaya untuk menyakiti atau menghancurkan Chick-fil-A tidak kurang dari sebuah pengancaman ekonomi.
"Mengatas-namakan 'toleransi', ada upaya dilakukan untuk menekan orang-orang supaya berhenti makan di Chick-fil-A. Lebih buruk lagi adalah upaya menjelek-jelekan perusahaan dan karyawannya. Pandangan Kristen yang dimiliki Dan Cathy telah disikapi dengan sikap intoleransi dan ungkapan kebencian yang kejam.”
Lebih jauh Huckabee, sambil menekankan bahwa pihak perusahaan maupun keluarga pemilik tidak berkaitan apa-apa dengan pernyataannya ini, mengajak masyarakat untuk makan di Chick-fil-A sebagai bentuk dukungan bagi “sebuah bisnis yang beroperasi atas dasar prinsip-prinsip Kristen dengan pemimpin yang berani mengambil sikap untuk mempertahankan nilai-nilai kesalehan.” Ia mengajak untuk makan di Chick-fil-A pada hari Rabu 1 Agustus.
“Terlalu sering, mereka yang berhaluan kiri membuat pernyataan bersama untuk mendukung 'pernikahan' sesama jenis, pembunuhan bayi (aborsi) atau ketidak-senonohan, tetapi jika orang-orang Kristen menegaskan nilai-nilai sesuai tradisi [Kekristenan], kita dikatakan 'homofobia', fundamentalis, pembenci, dan intoleran,” ungkapnya dalam pernyataan itu.
Penyebaran doktrin homoseksualisme
Sementara itu, upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat di Asia, Afrika, dan di belahan dunia lainnya terus dilakukan lewat media-media atau 'LSM-LSM' yang berhaluan sama atau yang telah dibeli oleh gerakan sistematik homoseksualisme yang tak hanya ditunjang dana yang besar tapi juga kekuatan politik. Tak kurang dari administrasi pemerintah Inggris dan Amerika saat ini yang telah menyatakan bahwa bantuan luar negeri mereka turut ditentukan oleh penerimaan atas hubungan sesama jenis.
Militansi gerakan homoseksualisme tak hanya menguatirkan masyarakat beragama, tetapi juga para homoseks sendiri. Senator Ted Lieu baru-baru ini mengusulkan sebuah RUU di senat negara bagian California, USA, yang didalamnya dicantumkan: “Tidak boleh dalam situasi apapun penyedia perawatan kesehatan mental melibatkan diri dalam upaya merubah orientasi seksual dari pasien umur 18 tahun ke bawah, sekalipun dengan persetujuan pasien, orangtua pasien, penjaganya, walinya, atau orang lain untuk menempuh upaya itu.” (Lihat selengkapnya di sini.)
Marisa Lobo, seorang psikolog, menentang kebijakan seperti ini di Brazil. Lobo melihat bahwa larangan untuk melakukan terapi reparatif bagi yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis “melanggar kebebasan pribadi seorang pasien” dan sebagai seorang ahli jiwa ia harus “mendengar penderitaan psikologi” ketika seorang homoseks ingin merubah orientasi seksualnya. Saat ini terapi ini dilarang oleh Federal Council of Pscyhology (CFP) Brazil. Pernyataannya telah menuai kritik dari organisasi ini, dan Lobo sendiri beresiko kehilangan ijin prakteknya. (Lihat selengkapnya di sini.)
Topik tentang homoseks telah mengganggu pikiran banyak orang Kristen pada akhir-akhir ini. Pada kenyataannya hal ini adalah kenyataan hidup yang harus disikapi dengan bijaksana dan terlebih lagi, dengan belas kasih. Gereja perlu menjadi “tempat utama di mana orang beriman mencari dukungan, penghiburan dan pemuridan seiring mereka membuat keputusan untuk hidup menurut prinsip-prinsip Kristen.”
Ungkapan organanisasi Exodus dapat menjadi titik refleksi bagi gereja yang berusaha untuk mengikuti Kepalanya, yaitu Yesus Kristus. “Kami percaya mengenai padangan yang berpusat pada Injil, maksudnya bahwa semua orang, tanpa peduli akan pergumulan pribadi masing-masing, dapat mengalami pembebasan dari kuasa dosa lewat hubungan dengan Yesus Kristus setiap hari, komitmen terhadap firman Tuhan, dan dengan menjadi bagian dari sebuah komunitas orang percaya yang bersemangat, terbuka, dan relasional yang terdapat di gereja setempat.”
Umat Kristen saat ini diperhadapkan dengan situasi dunia yang semakin tak bersahabat, sekaligus menempatkan kita pada pilihan-pilihan yang menuntut sikap etis kristiani. Pergunakanlah hikmat dari Allah dalam setiap tindakan iman kita, baik dalam ekonomi, politik, bahkan seluruh kehidupan kita dengan berlandaskan iman, pengharapan, dan kasih, serta dengan mengingat pesan firman: "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu... (Yohanes 15:18). Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33).
Sumber: menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)




