Tidak dapat ditampik bahwa masa lalu seseorang pasti membawa efek bagi kehidupan orang tersebut baik di masa kini maupun mendatang. Namun, ini bukan berarti bahwa kejadian buruk di waktu lampau akan membawa dampak yang buruk kepada orang yang mengalaminya.
Jika Anda melihat kepada kehidupan sejumlah keluarga yang ada di sekitar, Anda akan menemukan bahwa tidak sedikit suami atau istri yang berlatar belakang dari rumah tangga yang ayah dan ibunya bercerai ketika mereka masih kecil. Dalam usia yang sangat muda, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka harus terpisah dari kedua orang yang mereka hormati dan sayangi.
Akan tetapi, fakta pahit ini tak membuat para suami atau istri tersebut menjadi orang-orang yang rapuh, sebaliknya mereka menjadi orang-orang yang kuat dan menghargai pernikahan yang mereka jalani bersama pasangannya hari-hari ini.
Tentu menjadi pertanyaan, bagaimanakah mereka dapat melakukannya? Berikut beberapa kunci yang berhasil penulis dapatkan dari sejumlah pernikahan sukses suami istri yang ber-background broken home :
1. Mereka melepaskan pengampunan kepada orang tua yang masing-masing telah berperan melukai hati mereka.
2. Mereka memutuskan untuk tidak mengikuti peristiwa yang dialami oleh orang tuanya.
3. Mereka membentuk diri mereka menjadi pribadi yang tidak hanya baik, tetapi pribadi (pria dan wanita) yang seperti tertulis di dalam Alkitab.
Mempertahankan sebuah rumah tangga bukanlah perkara mudah, apalagi jika Anda dan pasangan berasal dari keluarga yang berantakan. Diperlukan usaha ekstra dan penyertaan Tuhan agar apa yang menjadi motivasi bagi Anda dan pasangan dahulu sebelum menikah yakni memiliki keluarga yang utuh selamanya dapat terwujud.
Sumber: Jawaban.com
Baca Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label Suami-Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suami-Istri. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Juli 2012
Kendala-Kendala Ketika Istri Jauh Lebih Tua Dari Suami
Hari-hari ini, pernikahan beda usia khususnya dimana usia istri jauh lebih tua dibandingkan suami bukanlah hal yang aneh lagi. Sepertinya orang-orang sudah tidak terlalu menghiraukan tentang hal tersebut. Bagi mereka, umur hanyalah sebatas angka saja, tidak lebih. Apakah ini benar ?
Jika ditilik lebih dalam, pemikiran hanya sebatas angka ternyata tidak 100 % betul. Mengapa? Karena disana ternyata terdapat sejumlah kendala yang cukup besar. Apa sajakah kendala- kendala yang dimaksud.
1. Perbedaan Cara Pandang
Cara pandang wanita yang 12 tahun lebih tua pada masa tertentu mungkin tidak terlalu membawa masalah. Pandangan terhadap karier, contohnya. Ketika si istri ber usia 40 tahun dan suaminya ber usia 28 tahun mungkin saja keduanya masih memiliki cara pandang yang kurang lebih sama karena keduanya masih aktif bekerja. Akan tetapi hal ini akan berubah begitu si istri memasuki usia setengah abad (50 tahun) sedangkan suaminya baru 38 tahun. Sangat mungkin si istri sudah tidak terlalu ambisius untuk mengejar karier sementara suaminya justru sedang penuh semangat mewujudkan impian masa mudanya.
2. Perbedaan Gaya Hidup
Sebagai seorang yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan di dunia, seorang wanita yang sudah ber usia diatas 40 tahun biasanya akan berfokus kepada keluarga. Sebaliknya, pria yang ber usia 20-an atau bahkan 30-an awal walau pun telah memiliki istri dan anak-anak justru masih mengejar kehidupan bersosialisasi dengan rekan-rekan se usianya.
3. Pola Pengeluaran
Walau seorang istri yang usianya lebih tua masih akan tetap melakukan kegiatan belanja, tetapi biasanya ia akan lebih berbelanja yang berkaitan dengan rumah, anak-anak, atau bahkan kebutuhan suaminya. Sebaliknya, suami yang masih muda biasanya masih ingin memenuhi apa yang menjadi keperluan pribadinya.
4. Hasrat seksual
Selagi usia masih di kisaran 25-40 tahunan, sangat mungkin hubungan intim tak jadi masalah bagi pasangan istri yang usianya terpaut cukup jauh. Namun tak bisa dipungkiri ini akan jadi masalah ketika istri memasuki masa pramenopause-menopause, yakni di usia sekitar 50 tahunan. Bisa dimaklumi karena hasrat seksual suami masih menggebu-gebu sementara istri sudah mulai ogah-ogahan memberi respons seksual karena secara biologis hasrat seksualnya menurun drastis. Ketidakseimbangan ini tentu akan memengaruhi relasi suami istri.
Apa yang diungkapkan diatas adalah sedikit dari sejumlah kendala yang akan dihadapi oleh pasangan suami istri yang dimana usia istri jauh lebih tua dari suami. Namun begitu, hal ini bukan tanpa jalan keluar.
Memegang prinsip-prinsip rumah tangga yang ada di dalam Alkitab dan berkomitmen dengan janji pernikahan yang pernah diucapkan dihadapan Tuhan dan jemaat adalah cara terbaik untuk melewati setiap masalah tersebut. Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Jika ditilik lebih dalam, pemikiran hanya sebatas angka ternyata tidak 100 % betul. Mengapa? Karena disana ternyata terdapat sejumlah kendala yang cukup besar. Apa sajakah kendala- kendala yang dimaksud.
1. Perbedaan Cara Pandang
Cara pandang wanita yang 12 tahun lebih tua pada masa tertentu mungkin tidak terlalu membawa masalah. Pandangan terhadap karier, contohnya. Ketika si istri ber usia 40 tahun dan suaminya ber usia 28 tahun mungkin saja keduanya masih memiliki cara pandang yang kurang lebih sama karena keduanya masih aktif bekerja. Akan tetapi hal ini akan berubah begitu si istri memasuki usia setengah abad (50 tahun) sedangkan suaminya baru 38 tahun. Sangat mungkin si istri sudah tidak terlalu ambisius untuk mengejar karier sementara suaminya justru sedang penuh semangat mewujudkan impian masa mudanya.
2. Perbedaan Gaya Hidup
Sebagai seorang yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan di dunia, seorang wanita yang sudah ber usia diatas 40 tahun biasanya akan berfokus kepada keluarga. Sebaliknya, pria yang ber usia 20-an atau bahkan 30-an awal walau pun telah memiliki istri dan anak-anak justru masih mengejar kehidupan bersosialisasi dengan rekan-rekan se usianya.
3. Pola Pengeluaran
Walau seorang istri yang usianya lebih tua masih akan tetap melakukan kegiatan belanja, tetapi biasanya ia akan lebih berbelanja yang berkaitan dengan rumah, anak-anak, atau bahkan kebutuhan suaminya. Sebaliknya, suami yang masih muda biasanya masih ingin memenuhi apa yang menjadi keperluan pribadinya.
4. Hasrat seksual
Selagi usia masih di kisaran 25-40 tahunan, sangat mungkin hubungan intim tak jadi masalah bagi pasangan istri yang usianya terpaut cukup jauh. Namun tak bisa dipungkiri ini akan jadi masalah ketika istri memasuki masa pramenopause-menopause, yakni di usia sekitar 50 tahunan. Bisa dimaklumi karena hasrat seksual suami masih menggebu-gebu sementara istri sudah mulai ogah-ogahan memberi respons seksual karena secara biologis hasrat seksualnya menurun drastis. Ketidakseimbangan ini tentu akan memengaruhi relasi suami istri.
Apa yang diungkapkan diatas adalah sedikit dari sejumlah kendala yang akan dihadapi oleh pasangan suami istri yang dimana usia istri jauh lebih tua dari suami. Namun begitu, hal ini bukan tanpa jalan keluar.
Memegang prinsip-prinsip rumah tangga yang ada di dalam Alkitab dan berkomitmen dengan janji pernikahan yang pernah diucapkan dihadapan Tuhan dan jemaat adalah cara terbaik untuk melewati setiap masalah tersebut. Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 06 Juni 2012
Demi Pernikahan Bahagia, Lepaskan Masa Lalu !
Banyak dari pasangan suami istri yang terjebak dengan masa lalunya. Padahal, kalau dipikir-pikir semanis apapun hal tersebut, itu tetaplah kejadian yang sudah lampau.Kita tidak bisa berjalan ke masa depan sambil berpijak di masa yang telah kita lewati. Jika ini terus dilakukan maka kehidupan pernikahan yang Anda jalani sekarang akan hambar dan bahkan penuh dengan konflik. Anda berdua justru akan menjadi korban dari apa yang Anda perbuat.
Adalah sebuah kebohongan jika ada yang berkata ia menjalani rumah tangga dengan bahagia walaupun tetap mengingat-ingat akan apa yang pernah dijalaninya. Sangat sedikit hal baik yang bisa diambil untuk kehidupan masa kini dan masa depan kala kita memutuskan memegang masa lalu.
Oleh sebab itu, mari lepaskan semua yang telah terjadi di kehidupan Anda masing-masing. Tatalah kehidupan masa kini dengan berorientasi hanya kepada masa yang datang. Sesungguhnya, ini akan membawa kebaikan bagi Anda pribadi dan juga tentu bagi pasangan Anda.
Dengan tidak menoleh kepada masa lalu, Anda sedang berkata kepada diri Anda ’saya bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan sekarang’. Dengan tidak menoleh kepada masa lalu juga, Anda sedang menjauhkan diri Anda sebagai pribadi yang suka membanding-bandingkan. Ingatlah bahwa salah satu sumber konflik di dalam keluarga adalah ketika salah satu pun pihak di dalam keluarga tersebut membanding-bandingkan pihak lain dengan orang lain yang pernah diketahui atau dikenalnya.
Nikmati apa yang Anda jalani sekarang ini dan minta Tuhan untuk memberkati kehidupan Anda. Lihatlah saat Anda melaksanakan hal ini, kehidupan bahtera rumah tangga keluarga Anda akan semakin penuh sukacita dan gembira.
Sumber: jawaban.com Baca Selengkapnya...
Selasa, 29 Mei 2012
Mengatasi Perselingkuhan Online
Dengan mengklik mouse setiap kita dapat menemukan apapun yang kita inginkan: Belanja online, game online, persahabatan online bahkan sex online. Cepat, mudah, dan jika Anda tidak berhati-hati, Anda dapat terperangkap di dalamnya. Hal itu benar adanya, membahayakan bagi mereka yang terperangkap, dan menciptakan masalah bagi banyak orang bahkan banyak pernikahan. Apa yang sepertinya menyenangkan namun dapat menyebabkan Anda jauh dari komitmen pernikahan Anda dan juga hubungan Anda dengan Tuhan.
Mungkin saja Anda berpikir bahwa pandangan seperti ini sedikit berlebihan. Namun fakta menunjukkan bahwa kecanduan online bertumbuh pada tingkat yang fenomenal, seperti halnya untuk game online dan situs porno. Saat ini situs kencan online yang berkembang menawarkan hal-hal yang baru, mudah dan cepat untuk bertemu dengan pasangan masa depan Anda – tak memandang apakah Anda belum atau sudah menikah. Suka atau tidak, ada bahaya yang harus Anda sadari dalam dunia online. Tanpa langkah-langkah keamanan – seseorang yang dapat menjaga kita agar tetap jujur – godaan akan menjadi terlalu besar untuk dihadapi. Banyak orang yang berhasil mengatasi godaan, namun banyak juga yang jatuh dalam pencobaan dan menyebabkan kerusakan yang menghancurkan pernikahan, serta kehidupan emosional dan spiritual.
Sebuah surat yang masuk mungkin dapat menjadi contoh kasus dari apa yang kita bicarakan ini:
Dear Dr Hawkins,
Saya baru menikah 3 bulan dan belum menjadi awal yang baik. Saya baru saja menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Masalah saya adalah dengan suami saya – dia adalah seorang yang tidak percaya Tuhan. Tiga minggu setelah kami menikah saya menemukan bahwa ia sangat menggemari dunia online dan telah membayar untuk memiliki akses pada situs-situs kencan. Dia bilang dia melakukan hal itu untuk melacak teman-temannya. Saya tidak percaya itu karena saya baru-baru ini menemukan bahwa dia juga telah bercakap-cakap dengan wanita yang ditemuinya melalui salah satu situs. Suami saya adalah seorang pria yang jauh lebih tua dan hati saya sangat sakit dengan sikapnya ini. Suami saya akan berusia 46 tahun di tahun ini sedangkan saya baru akan memasuki 30 tahun. Terlebih lagi ia telah menikah sebelumnya dan telah memiliki lima orang anak, semuanya berusia remaja, dan mereka semua tidak menyukai saya. Saya telah menyerahkan keadaan ini kepada Tuhan sepenuhnya dan juga kepada suami saya. Keluarga saya telah mengatakan kepada saya untuk meninggalkan suami saya tapi saya tidak ingin melanggar sumpah yang saya buat di hadapan Allah. Adakah saran untuk situasi ini?
Ya, ada banyak saran yang dapat saya berikan bagi Anda yang berada di dalam sutuasi seperti ini:
Pertama, buatlah batasan-batasan yang jelas dan sesuai bagi kegiatan online Anda dan pasangan. Sangatlah tidak pantas bagi setiap orang yang telah menikah untuk memiliki teman lawan jenis di internet. Pengaturan seperti ini berlaku untuk semua masalah. Karena adanya rahasia, belum lagi bangkitnya gairah dan kegembiraan dari persahabatan online dengan lawan jenis seringkali memicu timbulnya masalah.
Selanjutnya, sangat penting bagi Anda untuk membuat perlindungan dalam memantau kegiatan online. Pasangan suami istri harus memiliki kesepakatan tentang memeriksa history dari penggunaan komputer pasangan, bahkan menginstall program “watchdog” untuk memastikan akses ditolak pada situs-situs tertentu.
Kedua, karena pasangan jelas-jelas telah menipu Anda dengan kebohongannya, hal ini menunjukkan masalah yang lebh dalam. Tipu dayanya menunjukkan masalah lebih dalam yang perlu dieksplorasi, seperti kurangnya rasa hormat terhadap Anda, mengabaikan batasan-batasan yang sehat dan mungkin ketidakpuasan dalam pernikahan. Saya ingin tahu seberapa besar komitmennya atas janji pernikahan yang baru diucapkannya. Menciptakan persahabatan dengan wanita lain secara online menunjukkan masalah yang serius.
Ketiga, ada juga masalah keluarga tiri yang membutuhkan perhatian. Anda menunjukkan bahwa anak-anak dari suami tidak menyukai Anda. Kenapa? Apa yang telah Anda lakukan untuk menciptakan persahabatan dengan mereka? Apakah suami Anda merasa terjebak di tengah-tengah? Isu-isu ini, dikombinasikan dengan akltivitas online suami Anda, membutuhkan bantuan darurat pernikahan. Ini bukan waktunya untuk pasif menunggu, melainkan bersikap kritis dan langsung bertindak. Saya sangat setuju dan mendukung dengan pilihan Anda untuk meminta Tuhan membimbing dalam kebijaksanaan, dan berdoa sungguh-sungguh bagi pernikahan Anda, namun Anda juga harus mengambil tindakan. Sebuah intervensi diperlukan, saat Anda atau orang lain yang Anda berdua hormati, berhadapan langsung dengan suami untuk memberitahunya akan kelakuannya yang tidak pantas.
Melihat keadaan yang Anda hadapi saat ini, saya sangat menyarankan agar Anda segera mencari nasehat, dan tentu saja, secara tegas, ajak suami Anda untuk berpartisipasi dalam konseling bersama dengan Anda. Ada banyak hal yang harus dilakukan, namun tidak ada kata menyerah bagi pernikahan Anda. Inilah waktunya untuk mengambil tindakan, menetapkan batasan yang jelas, dan membiarkan suami Anda tahu bahwa Anda akan berjuang untuk menyelamatkan pernikahan.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Mungkin saja Anda berpikir bahwa pandangan seperti ini sedikit berlebihan. Namun fakta menunjukkan bahwa kecanduan online bertumbuh pada tingkat yang fenomenal, seperti halnya untuk game online dan situs porno. Saat ini situs kencan online yang berkembang menawarkan hal-hal yang baru, mudah dan cepat untuk bertemu dengan pasangan masa depan Anda – tak memandang apakah Anda belum atau sudah menikah. Suka atau tidak, ada bahaya yang harus Anda sadari dalam dunia online. Tanpa langkah-langkah keamanan – seseorang yang dapat menjaga kita agar tetap jujur – godaan akan menjadi terlalu besar untuk dihadapi. Banyak orang yang berhasil mengatasi godaan, namun banyak juga yang jatuh dalam pencobaan dan menyebabkan kerusakan yang menghancurkan pernikahan, serta kehidupan emosional dan spiritual.
Sebuah surat yang masuk mungkin dapat menjadi contoh kasus dari apa yang kita bicarakan ini:
Dear Dr Hawkins,
Saya baru menikah 3 bulan dan belum menjadi awal yang baik. Saya baru saja menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Masalah saya adalah dengan suami saya – dia adalah seorang yang tidak percaya Tuhan. Tiga minggu setelah kami menikah saya menemukan bahwa ia sangat menggemari dunia online dan telah membayar untuk memiliki akses pada situs-situs kencan. Dia bilang dia melakukan hal itu untuk melacak teman-temannya. Saya tidak percaya itu karena saya baru-baru ini menemukan bahwa dia juga telah bercakap-cakap dengan wanita yang ditemuinya melalui salah satu situs. Suami saya adalah seorang pria yang jauh lebih tua dan hati saya sangat sakit dengan sikapnya ini. Suami saya akan berusia 46 tahun di tahun ini sedangkan saya baru akan memasuki 30 tahun. Terlebih lagi ia telah menikah sebelumnya dan telah memiliki lima orang anak, semuanya berusia remaja, dan mereka semua tidak menyukai saya. Saya telah menyerahkan keadaan ini kepada Tuhan sepenuhnya dan juga kepada suami saya. Keluarga saya telah mengatakan kepada saya untuk meninggalkan suami saya tapi saya tidak ingin melanggar sumpah yang saya buat di hadapan Allah. Adakah saran untuk situasi ini?
Ya, ada banyak saran yang dapat saya berikan bagi Anda yang berada di dalam sutuasi seperti ini:
Pertama, buatlah batasan-batasan yang jelas dan sesuai bagi kegiatan online Anda dan pasangan. Sangatlah tidak pantas bagi setiap orang yang telah menikah untuk memiliki teman lawan jenis di internet. Pengaturan seperti ini berlaku untuk semua masalah. Karena adanya rahasia, belum lagi bangkitnya gairah dan kegembiraan dari persahabatan online dengan lawan jenis seringkali memicu timbulnya masalah.
Selanjutnya, sangat penting bagi Anda untuk membuat perlindungan dalam memantau kegiatan online. Pasangan suami istri harus memiliki kesepakatan tentang memeriksa history dari penggunaan komputer pasangan, bahkan menginstall program “watchdog” untuk memastikan akses ditolak pada situs-situs tertentu.
Kedua, karena pasangan jelas-jelas telah menipu Anda dengan kebohongannya, hal ini menunjukkan masalah yang lebh dalam. Tipu dayanya menunjukkan masalah lebih dalam yang perlu dieksplorasi, seperti kurangnya rasa hormat terhadap Anda, mengabaikan batasan-batasan yang sehat dan mungkin ketidakpuasan dalam pernikahan. Saya ingin tahu seberapa besar komitmennya atas janji pernikahan yang baru diucapkannya. Menciptakan persahabatan dengan wanita lain secara online menunjukkan masalah yang serius.
Ketiga, ada juga masalah keluarga tiri yang membutuhkan perhatian. Anda menunjukkan bahwa anak-anak dari suami tidak menyukai Anda. Kenapa? Apa yang telah Anda lakukan untuk menciptakan persahabatan dengan mereka? Apakah suami Anda merasa terjebak di tengah-tengah? Isu-isu ini, dikombinasikan dengan akltivitas online suami Anda, membutuhkan bantuan darurat pernikahan. Ini bukan waktunya untuk pasif menunggu, melainkan bersikap kritis dan langsung bertindak. Saya sangat setuju dan mendukung dengan pilihan Anda untuk meminta Tuhan membimbing dalam kebijaksanaan, dan berdoa sungguh-sungguh bagi pernikahan Anda, namun Anda juga harus mengambil tindakan. Sebuah intervensi diperlukan, saat Anda atau orang lain yang Anda berdua hormati, berhadapan langsung dengan suami untuk memberitahunya akan kelakuannya yang tidak pantas.
Melihat keadaan yang Anda hadapi saat ini, saya sangat menyarankan agar Anda segera mencari nasehat, dan tentu saja, secara tegas, ajak suami Anda untuk berpartisipasi dalam konseling bersama dengan Anda. Ada banyak hal yang harus dilakukan, namun tidak ada kata menyerah bagi pernikahan Anda. Inilah waktunya untuk mengambil tindakan, menetapkan batasan yang jelas, dan membiarkan suami Anda tahu bahwa Anda akan berjuang untuk menyelamatkan pernikahan.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Senin, 28 Mei 2012
Orangtua Ingin Bercerai, Harus Bagaimana?
Perceraian selalu membawa dampak buat orang yang terlibat di dalamnya. Pasangan suami istri itu sendiri maupun anak-anak mereka merasakannya. Namun, bagi para remaja, perceraian itu dapat membawa dampak yang lebih besar. Di dalam buku Anthony Wolf (1998) “Why Did You Have to Get a Divorce? And When Can I Get a Hamster?” pun memberikan penjelasan mengenai dampak tersebut.
Orangtua Harus Dapat Melihat Ini
Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat mereka kaget sekaligus terganggu. Remaja sudah merasa cukup sulit mengendalikan kehidupan mereka sendiri sehingga pasti tidak ingin diganggu dengan kehidupan orangtua yang mengungkapkan perceraian. Mereka tidak memiliki ruang atau waktu lagi terhadap gangguan perceraian orangtua dalam kehidupan mereka.
Meskipun mereka kelihatannya mandiri namun sesungguhnya mereka tidak mandiri. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan. Perceraian akan merongrong semuanya, mengganggu landasan rasa aman yang mereka butuhkan untuk menghadapi semua isu remaja. Kondisi seperti ini menghasilkan kemandirian yang dipaksakan dan perkembangan yang tidak diinginkan remaja.
Mereka dapat berkata, “Aku tidak peduli jika mereka bercerai. Aku benci mereka berdua. Semua yang mereka lakukan akhir-akhir ini membuat hidupku sengsara. Mereka tidak akan membiarkan aku melakukan apapun yang aku inginkan. Mereka terus mendesak aku untuk hal-hal yang benar-benar bodoh. Aku sungguh tidak peduli pada apa yang mereka lakukan.” Namun, sebenarnya mereka sangat peduli, perasaan mereka bisa menjadi sangat rumit.
Bagaimana Remaja Harus Menghadapinya?
Menurut Alkitab, setiap pasangan yang sudah dipersatukan Allah, tidak bisa diceraikan manusia. Namun, bagaimana jika berada di dalam keluarga yang sudah terlanjur bercerai? Sebagai seorang remaja, menghadapi perceraian orangtua merupakan sebuah masalah yang rumit. Tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
Taruh di dalam pikiranmu bahwa semua masalah yang ada sifatnya hanya sementara, kita pasti dimampukan Tuhan untuk mengatasinya. Karena itu, jangan sampai putus asa menghampiri. Jangan biarkan pikiran negatif mengembara kemana-mana.
Minta Tuhan untuk mempersatukan orangtua kembali dengan sungguh-sungguh dan tanpa menyerah.
Ingat, masa depanmu ditentukan dari bagaimana engkau bertindak saat ini dan membuat keputusan. Jika kita memutuskan untuk menyerah dalam hidup karena masalah tertentu, maka masa depan kita pun menyerah terhadap kita. Karena itu, ingat tentang masa depan yang ingin kau tuju. Jangan fokus kepada saat ini.
Kiranya Tuhan mempersatukan kembali keluarga yang retak dan setiap pasangan yang ada mau berubah dengan sungguh-sungguh sehingga anak-anak tidak mengalami dampak buruknya.
Sumber :
kompas-telaga by lois horiyanti/jawaban.com
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Orangtua Harus Dapat Melihat Ini
Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat mereka kaget sekaligus terganggu. Remaja sudah merasa cukup sulit mengendalikan kehidupan mereka sendiri sehingga pasti tidak ingin diganggu dengan kehidupan orangtua yang mengungkapkan perceraian. Mereka tidak memiliki ruang atau waktu lagi terhadap gangguan perceraian orangtua dalam kehidupan mereka.
Meskipun mereka kelihatannya mandiri namun sesungguhnya mereka tidak mandiri. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan. Perceraian akan merongrong semuanya, mengganggu landasan rasa aman yang mereka butuhkan untuk menghadapi semua isu remaja. Kondisi seperti ini menghasilkan kemandirian yang dipaksakan dan perkembangan yang tidak diinginkan remaja.
Mereka dapat berkata, “Aku tidak peduli jika mereka bercerai. Aku benci mereka berdua. Semua yang mereka lakukan akhir-akhir ini membuat hidupku sengsara. Mereka tidak akan membiarkan aku melakukan apapun yang aku inginkan. Mereka terus mendesak aku untuk hal-hal yang benar-benar bodoh. Aku sungguh tidak peduli pada apa yang mereka lakukan.” Namun, sebenarnya mereka sangat peduli, perasaan mereka bisa menjadi sangat rumit.
Bagaimana Remaja Harus Menghadapinya?
Menurut Alkitab, setiap pasangan yang sudah dipersatukan Allah, tidak bisa diceraikan manusia. Namun, bagaimana jika berada di dalam keluarga yang sudah terlanjur bercerai? Sebagai seorang remaja, menghadapi perceraian orangtua merupakan sebuah masalah yang rumit. Tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
Taruh di dalam pikiranmu bahwa semua masalah yang ada sifatnya hanya sementara, kita pasti dimampukan Tuhan untuk mengatasinya. Karena itu, jangan sampai putus asa menghampiri. Jangan biarkan pikiran negatif mengembara kemana-mana.
Minta Tuhan untuk mempersatukan orangtua kembali dengan sungguh-sungguh dan tanpa menyerah.
Ingat, masa depanmu ditentukan dari bagaimana engkau bertindak saat ini dan membuat keputusan. Jika kita memutuskan untuk menyerah dalam hidup karena masalah tertentu, maka masa depan kita pun menyerah terhadap kita. Karena itu, ingat tentang masa depan yang ingin kau tuju. Jangan fokus kepada saat ini.
Kiranya Tuhan mempersatukan kembali keluarga yang retak dan setiap pasangan yang ada mau berubah dengan sungguh-sungguh sehingga anak-anak tidak mengalami dampak buruknya.
Sumber :
kompas-telaga by lois horiyanti/jawaban.com
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Kamis, 24 Mei 2012
Sejak 3 SD, Seks Adalah Duniaku
"Kelas 3 SD, pembantu saya memaksa saya untuk melakukan hubungan seks. Barulah di SMP saya melakukan hal itu lagi, saya melakukan hubungan intim dengan pacar saya. Jadi akhirnya, semua perempuan yang saya pacari rata-rata saya setubuhi karena sudah ketagihan," ungkap Ferry memulai kesaksiannya.
Menginjak kelas 2 SMP, Ferry mulai berhubungan dengan tante-tante. Menjelang kelulusannya dari SMP, Ferry pun pernah digilir oleh teman-teman tante-tante itu. Ferry tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap seks. Bahkan beberapa pacarnya sempat mengandung hasil dari hubungan intim mereka. Pada saat SMP dua orang, di SMA juga dua orang. Ferry pun mengambil abortus sebagai jalan pintas. Dari keempat pacarnya, hanya satu yang dibawa ke dokter dan sisanya melakukan abortus di dukun.
Dari sekian banyak perempuan yang dipacari Ferry, Ferry pun akhirnya bertemu dengan Ida yang saat ini menjadi istrinya. Hubungan Ferry dan Ida diwujudkan sampai ke jenjang pernikahan karena sebelum menikah, Ferry dan Ida sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan. Setelah menikah, Ferry tetap melakukan kebiasaannya tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Seringkali Ferry membohongi istrinya dengan alasan kerja dan dinas ke luar kota, padahal sebenarnya ia hanya bemain dengan perempuan lain. Kemana pun ia pergi, Ferry selalu melakukan perselingkuhan disertai perzinahan.
Hal tersebut terus berlanjut sampai suatu hari Ferry merasa menyesal dan memberitahukan istrinya perihal perselingkuhannya. Pengakuan itu pun tidak dikatakannya dengan jujur sepenuhnya, karena Ferry mengaku ia baru melakukannya untuk pertama kali padahal sebenarnya ia sudah sering melakukannya. Hati Ida pun terluka. Ida merasa harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri diinjak-injak. Sejak itulah Ferry dan Ida pun sering cekcok. Perbedaan pendapat sekecil apapun dapat menjadi masalah besar bagi mereka.
Keributan terus melanda rumah tangga mereka. Bahkan setelah dikaruniai anak pertama, kehidupan rumah tangga mereka tidak juga harmonis. Ida selalu teringat akan kelakuan Ferry dan membayangkan suaminya yang sedang berhubungan dengan perempuan lain. Kemarahan dalam hati Ida pun semakin berkembang.
Suatu hari Ida mengikuti sebuah persekutuan. Salah seorang hamba Tuhan yang juga menjadi teman Ida mengingatkan agar Ida mengikis semua rasa sakit hati yang dirasakannya terhadap Ferry. Semenjak saat itu, Ida selalu berdoa bagi Ferry, suaminya, sekalipun Ferry tetap berselingkuh. Ida pun mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ferry, bahkan dengan iman Ida bersyukur karena Tuhan sudah mengirim suami yang baik kepadanya, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan banyak hal positif lainnya. Ida sering memperkatakan perkataan iman itu di dalam doanya.
Hari demi hari terus berlangsung seperti itu sampai suatu ketika, Ferry mengikuti sebuah camp khusus pria atas bujukan Ida. Dalam camp itu, ada salah seorang hamba Tuhan yang membahas tentang abortus. Ferry pun diingatkan mengenai kejadian di masa lalu hidupnya, bagaimana ia membunuh darah dagingnya sendiri. Pada saat itu, secara pribadi, Ferry berani mengadakan pengakuan dosa secara total dari hati sanubarinya yang terdalam. Hari itu juga, Ferry menelepon ke rumah dan mengakui dosanya di hadapan anak dan istrinya.
"Saya minta ampun sama mama, karena Tuhan sudah jamah saya. Yang saya rasakan, selama ini saya sudah menyiksa mama dan anak-anak," ujar Ferry kepada Ida, istrinya.
Tidak cukup sampai di situ, keesokan harinya subuh-subuh, Ferry sudah kembali menelepon anak-anaknya dari camp. Saat anak sulungnya mengangkat telepon, Ferry pun berucap, "Kakak, papa minta maaf sama kakak karena selama ini papa suka marah-marah sama kakak. Sama adek juga, papa mau minta maaf karena papa selama ini suka nelantarin adek." Anak Ferry hanya dapat menangis, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya menangis mendengarkan semua ucapan ayahnya.
"Saya benar-benar merasakan seperti baru pertama kali menikah kembali. Kasih yang mula-mula itu tumbuh," ujar Ida mengungkapkan perasaannya di awal pertobatan Ferry.
Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Ferry dan Ida. Dengan hati nuraninya, Ferry pun dapat melepaskan keterikatannya terhadap seks dan perselingkuhannya dengan wanita lain. Hubungan yang terjalin di antara Ferry dan Ida pun berjalan dengan baik sekali. Ferry jadi sering mengucapkan kata-kata ‘sayang' kepada anak-anaknya dan menjadi seorang kepala keluarga yang sangat perduli terhadap keluarganya.
"Kalau berbicara Ferry sudah tidak meledak-ledak lagi. Tutur katanya juga sudah baik. Perubahan nyata tampak dari kerinduannya akan pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus, lebih semangat," ujar Fabianus Chandramata, pembimbing rohani Ferry.
"Kami semua dengan anak-anak merasakan damai sejahtera dan suasana sorgawi yang daripada Tuhan," ujar Ida.
"Saya juga tidak mau hidup damai sejahtera yang Tuhan sudah berikan kepada saya, saya hilangkan begitu saja. Saya tidak mau. Saya sudah merasakan kehidupan damai sejahtera dengan keluarga yang saya bina saat ini," ujar Ferry menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Ferry Daniel
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Menginjak kelas 2 SMP, Ferry mulai berhubungan dengan tante-tante. Menjelang kelulusannya dari SMP, Ferry pun pernah digilir oleh teman-teman tante-tante itu. Ferry tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap seks. Bahkan beberapa pacarnya sempat mengandung hasil dari hubungan intim mereka. Pada saat SMP dua orang, di SMA juga dua orang. Ferry pun mengambil abortus sebagai jalan pintas. Dari keempat pacarnya, hanya satu yang dibawa ke dokter dan sisanya melakukan abortus di dukun.
Dari sekian banyak perempuan yang dipacari Ferry, Ferry pun akhirnya bertemu dengan Ida yang saat ini menjadi istrinya. Hubungan Ferry dan Ida diwujudkan sampai ke jenjang pernikahan karena sebelum menikah, Ferry dan Ida sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan. Setelah menikah, Ferry tetap melakukan kebiasaannya tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Seringkali Ferry membohongi istrinya dengan alasan kerja dan dinas ke luar kota, padahal sebenarnya ia hanya bemain dengan perempuan lain. Kemana pun ia pergi, Ferry selalu melakukan perselingkuhan disertai perzinahan.
Hal tersebut terus berlanjut sampai suatu hari Ferry merasa menyesal dan memberitahukan istrinya perihal perselingkuhannya. Pengakuan itu pun tidak dikatakannya dengan jujur sepenuhnya, karena Ferry mengaku ia baru melakukannya untuk pertama kali padahal sebenarnya ia sudah sering melakukannya. Hati Ida pun terluka. Ida merasa harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri diinjak-injak. Sejak itulah Ferry dan Ida pun sering cekcok. Perbedaan pendapat sekecil apapun dapat menjadi masalah besar bagi mereka.
Keributan terus melanda rumah tangga mereka. Bahkan setelah dikaruniai anak pertama, kehidupan rumah tangga mereka tidak juga harmonis. Ida selalu teringat akan kelakuan Ferry dan membayangkan suaminya yang sedang berhubungan dengan perempuan lain. Kemarahan dalam hati Ida pun semakin berkembang.
Suatu hari Ida mengikuti sebuah persekutuan. Salah seorang hamba Tuhan yang juga menjadi teman Ida mengingatkan agar Ida mengikis semua rasa sakit hati yang dirasakannya terhadap Ferry. Semenjak saat itu, Ida selalu berdoa bagi Ferry, suaminya, sekalipun Ferry tetap berselingkuh. Ida pun mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ferry, bahkan dengan iman Ida bersyukur karena Tuhan sudah mengirim suami yang baik kepadanya, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan banyak hal positif lainnya. Ida sering memperkatakan perkataan iman itu di dalam doanya.
Hari demi hari terus berlangsung seperti itu sampai suatu ketika, Ferry mengikuti sebuah camp khusus pria atas bujukan Ida. Dalam camp itu, ada salah seorang hamba Tuhan yang membahas tentang abortus. Ferry pun diingatkan mengenai kejadian di masa lalu hidupnya, bagaimana ia membunuh darah dagingnya sendiri. Pada saat itu, secara pribadi, Ferry berani mengadakan pengakuan dosa secara total dari hati sanubarinya yang terdalam. Hari itu juga, Ferry menelepon ke rumah dan mengakui dosanya di hadapan anak dan istrinya.
"Saya minta ampun sama mama, karena Tuhan sudah jamah saya. Yang saya rasakan, selama ini saya sudah menyiksa mama dan anak-anak," ujar Ferry kepada Ida, istrinya.
Tidak cukup sampai di situ, keesokan harinya subuh-subuh, Ferry sudah kembali menelepon anak-anaknya dari camp. Saat anak sulungnya mengangkat telepon, Ferry pun berucap, "Kakak, papa minta maaf sama kakak karena selama ini papa suka marah-marah sama kakak. Sama adek juga, papa mau minta maaf karena papa selama ini suka nelantarin adek." Anak Ferry hanya dapat menangis, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya menangis mendengarkan semua ucapan ayahnya.
"Saya benar-benar merasakan seperti baru pertama kali menikah kembali. Kasih yang mula-mula itu tumbuh," ujar Ida mengungkapkan perasaannya di awal pertobatan Ferry.
Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Ferry dan Ida. Dengan hati nuraninya, Ferry pun dapat melepaskan keterikatannya terhadap seks dan perselingkuhannya dengan wanita lain. Hubungan yang terjalin di antara Ferry dan Ida pun berjalan dengan baik sekali. Ferry jadi sering mengucapkan kata-kata ‘sayang' kepada anak-anaknya dan menjadi seorang kepala keluarga yang sangat perduli terhadap keluarganya.
"Kalau berbicara Ferry sudah tidak meledak-ledak lagi. Tutur katanya juga sudah baik. Perubahan nyata tampak dari kerinduannya akan pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus, lebih semangat," ujar Fabianus Chandramata, pembimbing rohani Ferry.
"Kami semua dengan anak-anak merasakan damai sejahtera dan suasana sorgawi yang daripada Tuhan," ujar Ida.
"Saya juga tidak mau hidup damai sejahtera yang Tuhan sudah berikan kepada saya, saya hilangkan begitu saja. Saya tidak mau. Saya sudah merasakan kehidupan damai sejahtera dengan keluarga yang saya bina saat ini," ujar Ferry menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Ferry Daniel
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 23 Mei 2012
Mengenali Tanda-tanda Perceraian
Setiap pasangan yang menikah pasti tidak menginginkan adanya perceraian di kemudian hari. Namun begitu, ternyata harus diakui bahwa apa yang diharapkan ini tidak selalu dapat berbanding lurus dengan kenyataannya.
Selalu ada 1001 alasan untuk memaparkan mengapa sebuah biduk rumah tangga dapat hancur di tengah jalan. Daripada Anda dan pasangan berfokus kepada alasan-alasan tersebut, lebih baik Anda mengenali tanda-tanda bahaya akan kondisi pernikahan yang rusak dan berpotensi besar berakhir dalam perceraian.
1. Jarang berkomunikasi. Sedikitnya waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangan akan membuat kedekatan antar Anda berdua menjadi renggang. Padahal, keintiman merupakan faktor utama dalam sebuah hubungan suami istri. Jadi, jika Anda merasa bahwa Anda sudah jarang berkomunikasi dengan pasangan, maka mulailah membuka pintu komunikasi terlebih dahulu dan berkomitmenlah untuk paling tidak dalam satu hari Anda memiliki waktu khusus untuk mengobrol dengan pasangan tentang apa saja yang Anda berdua alami sepanjang hari itu dan hal-hal penting yang berkaitan dengan keluarga.
2. Cuek. Setiap manusia baik pria maupun wanita pasti suka dengan perhatian. Sekecil apapun perhatian tersebut, mereka akan merekamnya sebagai sesuatu yang indah di dalam kehidupan mereka. Ketika perhatian sudah tidak Anda berikan kepada orang-orang sekitar Anda termasuk pasangan Anda, maka yang terjadi adalah orang-orang di sekitar Anda tersebut akan merasa diabaikan. Perasaan diabaikan ini akan membuat ia merasa tidak dihargai dan saat seseorang merasa tidak dihargai, maka potensi terjadinya konflik akan semakin besar.
Bagi Anda yang menikah, tetaplah memberikan perhatian kepada pasangan Anda. Jangan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh, tetapi anggaplah itu sebagai bentuk cinta Anda kepada pasangan.
3. Berkata kasar. Bersuara besar dan berlogat seperti mengajak orang berkelahi bukan berarti orang tersebut kasar. Bisa jadi ia begitu karena memang secara geografis ia lahir dan dibesarkan di daerah yang mengharuskan dirinya berbicara seperti itu.
Pengertian berkata kasar disini adalah berupa umpatan-umpatan atau kata-kata tak pantas yang diberikan kepada pasangan. Dan sebagaimana diketahui, lewat sebuah perkataan saja, seseorang dapat sakit hati atau memiliki dendam kesumat sehingga ada baiknya kita menjaga lidah bibir kita kepada orang-orang sekitar kita.
Berharap dengan Anda memahami tanda-tanda pernikahan yang akan berakhir dalam perceraian sebagaimana diuraikan di atas, maka Anda akan semakin dapat mempertahankan keluarga yang Anda bangun dengan pasangan hingga maut memisahkan.
Selamat mempraktekkan hal ini di dalam kehidupan keluarga Anda dan selamat berbahagia.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Selalu ada 1001 alasan untuk memaparkan mengapa sebuah biduk rumah tangga dapat hancur di tengah jalan. Daripada Anda dan pasangan berfokus kepada alasan-alasan tersebut, lebih baik Anda mengenali tanda-tanda bahaya akan kondisi pernikahan yang rusak dan berpotensi besar berakhir dalam perceraian.
1. Jarang berkomunikasi. Sedikitnya waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangan akan membuat kedekatan antar Anda berdua menjadi renggang. Padahal, keintiman merupakan faktor utama dalam sebuah hubungan suami istri. Jadi, jika Anda merasa bahwa Anda sudah jarang berkomunikasi dengan pasangan, maka mulailah membuka pintu komunikasi terlebih dahulu dan berkomitmenlah untuk paling tidak dalam satu hari Anda memiliki waktu khusus untuk mengobrol dengan pasangan tentang apa saja yang Anda berdua alami sepanjang hari itu dan hal-hal penting yang berkaitan dengan keluarga.
2. Cuek. Setiap manusia baik pria maupun wanita pasti suka dengan perhatian. Sekecil apapun perhatian tersebut, mereka akan merekamnya sebagai sesuatu yang indah di dalam kehidupan mereka. Ketika perhatian sudah tidak Anda berikan kepada orang-orang sekitar Anda termasuk pasangan Anda, maka yang terjadi adalah orang-orang di sekitar Anda tersebut akan merasa diabaikan. Perasaan diabaikan ini akan membuat ia merasa tidak dihargai dan saat seseorang merasa tidak dihargai, maka potensi terjadinya konflik akan semakin besar.
Bagi Anda yang menikah, tetaplah memberikan perhatian kepada pasangan Anda. Jangan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh, tetapi anggaplah itu sebagai bentuk cinta Anda kepada pasangan.
3. Berkata kasar. Bersuara besar dan berlogat seperti mengajak orang berkelahi bukan berarti orang tersebut kasar. Bisa jadi ia begitu karena memang secara geografis ia lahir dan dibesarkan di daerah yang mengharuskan dirinya berbicara seperti itu.
Pengertian berkata kasar disini adalah berupa umpatan-umpatan atau kata-kata tak pantas yang diberikan kepada pasangan. Dan sebagaimana diketahui, lewat sebuah perkataan saja, seseorang dapat sakit hati atau memiliki dendam kesumat sehingga ada baiknya kita menjaga lidah bibir kita kepada orang-orang sekitar kita.
Berharap dengan Anda memahami tanda-tanda pernikahan yang akan berakhir dalam perceraian sebagaimana diuraikan di atas, maka Anda akan semakin dapat mempertahankan keluarga yang Anda bangun dengan pasangan hingga maut memisahkan.
Selamat mempraktekkan hal ini di dalam kehidupan keluarga Anda dan selamat berbahagia.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Tetap Bertahan Saat Pasangan Selingkuh
Tidak ada pria maupun perempuan yang sudah menikah yang rela diselingkuhi oleh pasangannya. Se-rohani apapun dirinya, di dalam hatinya pasti mengalami luka. Namun di saat yang tidak mengenakkan seperti ini, ada dua pilihan yang pasti salah satunya harus kita pilih: pertama, mengakhiri biduk rumah tangga yang sudah ada (bercerai); dan kedua, melepaskan pintu maaf dan tetap mempertahankan komitmen yang telah dibuat sebelumnya di hadapan Tuhan dan gereja.
Bila kita mau mengacu kepada Alkitab maka pilihan kedua adalah pilihan paling tepat yang harus diambil. Matius 19 : 6 menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh dipisahkan manusia.
Ayat tersebut bukanlah ayat klise - yang membenarkan orang selingkuh untuk mendapatkan pengampunan dari pasangan yang disakiti. Sebaliknya, itu adalah ayat jawaban bagi setiap pasangan suami istri yang ingin mendapatkan kebahagiaan.
Dengan tetap bersatu maka kita sedang membuat visi Tuhan tetap berada di atas keluarga kita. Dan saat visi Tuhan itu kita jalani, berkat-berkat dan janji-janji Tuhan akan kita nikmati secara berlimpah-limpah.
Satu hal penting lain yang perlu diingat oleh setiap Anda yang dikhianati oleh pasangan ialah janganlah terlalu merasa menjadi korban. Mengapa begitu? Tak lain alasannya ialah karena Anda adalah orang yang mengetahui dan menyadari kebenaran Allah tentang pernikahan yang berkenan dihadapan-Nya. Adalah sesuatu mustahil mengharapkan orang yang tertutup mata hatinya dengan kebenaran Allah melakukan kebenaran Allah.
Oleh sebab itu, disaat Anda mengetahui bahwa Anda telah diselingkuhi oleh pasangan, respon selanjutnya setelah Anda menangis adalah pikirkan bagaimana caranya Anda memenangkan hati pasangan Anda kembali.
Contoh langkah sederhana yang bisa Anda lakukan untuk memenangkan hati pasangan Anda, yakni dengan memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya seperti menyiapkan makanan maupun minuman sebelum ia pergi beraktivitas. Mungkin pada awalnya, ia acuh tak acuh dengan tindakan yang Anda lakukan. Namun, saat Anda terus setia menaburkan hal yang baik kepadanya, hatinya suatu saat pasti terpaut juga kepada Anda.
Yakinlah, tidak ada hubungan buruk yang tidak bisa dipulihkan dan diperbaharui. Saat Anda memutuskan mempertahankan hubungan buruk Anda, dan menaruhkan pengharapan dan pertolongan kepada Tuhan, jalan keluar untuk persoalan yang Anda hadapi pasti Anda temukan. Bukan itu saja, kebahagiaan yang awalnya Anda cari di dalam kehidupan keluarga Anda, pada akhirnya pun Anda dapati.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Bila kita mau mengacu kepada Alkitab maka pilihan kedua adalah pilihan paling tepat yang harus diambil. Matius 19 : 6 menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh dipisahkan manusia.
Ayat tersebut bukanlah ayat klise - yang membenarkan orang selingkuh untuk mendapatkan pengampunan dari pasangan yang disakiti. Sebaliknya, itu adalah ayat jawaban bagi setiap pasangan suami istri yang ingin mendapatkan kebahagiaan.
Dengan tetap bersatu maka kita sedang membuat visi Tuhan tetap berada di atas keluarga kita. Dan saat visi Tuhan itu kita jalani, berkat-berkat dan janji-janji Tuhan akan kita nikmati secara berlimpah-limpah.
Satu hal penting lain yang perlu diingat oleh setiap Anda yang dikhianati oleh pasangan ialah janganlah terlalu merasa menjadi korban. Mengapa begitu? Tak lain alasannya ialah karena Anda adalah orang yang mengetahui dan menyadari kebenaran Allah tentang pernikahan yang berkenan dihadapan-Nya. Adalah sesuatu mustahil mengharapkan orang yang tertutup mata hatinya dengan kebenaran Allah melakukan kebenaran Allah.
Oleh sebab itu, disaat Anda mengetahui bahwa Anda telah diselingkuhi oleh pasangan, respon selanjutnya setelah Anda menangis adalah pikirkan bagaimana caranya Anda memenangkan hati pasangan Anda kembali.
Contoh langkah sederhana yang bisa Anda lakukan untuk memenangkan hati pasangan Anda, yakni dengan memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya seperti menyiapkan makanan maupun minuman sebelum ia pergi beraktivitas. Mungkin pada awalnya, ia acuh tak acuh dengan tindakan yang Anda lakukan. Namun, saat Anda terus setia menaburkan hal yang baik kepadanya, hatinya suatu saat pasti terpaut juga kepada Anda.
Yakinlah, tidak ada hubungan buruk yang tidak bisa dipulihkan dan diperbaharui. Saat Anda memutuskan mempertahankan hubungan buruk Anda, dan menaruhkan pengharapan dan pertolongan kepada Tuhan, jalan keluar untuk persoalan yang Anda hadapi pasti Anda temukan. Bukan itu saja, kebahagiaan yang awalnya Anda cari di dalam kehidupan keluarga Anda, pada akhirnya pun Anda dapati.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Kami tak membenci: Koalisi gereja kulit hitam menentang pernikahan sejenis
The National Black Church Initiative (NBCI), sebuah koalisi dari 34.000 gereja kulit hitam di Amerika dan Amerika Latin dari 15 denominasi, mengecam keputusan National Association for the Advancement of Colored People (NAACP), organisasi hak sipil warga non-kulit putih di Amerika, yang mendukung pernikahan sesama jenis.
Dalam pernyataannya, NAACP mendukung pernikahan sejenis sebagai hak sipil dan menentang setiap upaya untuk mendiskriminasi atau membenci anggota masyarakat yang menyukai sesama jenis. Aksi NAACP ini dipicu oleh pernyataan presiden Obama waktu lalu yang mendukung pernikahan sejenis.
Pdt. Anthony Evans, bersama NBCI, menentang dukungan presiden dan NAACP terhadap pernikahan sesama jenis. Pdt. Evans mengingatkan kelompoknya sama sekali tidak membenci kaum gay, namun mereka tetap tidak akan mendukung pernikahan sejenis. "Kami mencintai saudara dan saudari kita yang gay, tapi gereja kulit hitam tidak akan mendukung pernikahan gay. Hal ini (pernikahan sejenis) sangat berlawanan dengan ajaran Yesus Kristus," katanya.
Dia memperingatkan bahwa Obama dan NAACP akan kehilangan dukungan di antara gereja-gereja kulit hitam karena pernyataan mereka itu.
Ketua NAACP terpilih, Benjamin, mendukung kesetaraan perkawinan sejenis serta menjamin untuk memberikan perlindungan. "Pernikahan Sipil adalah hak sipil dan masalah hukum perdata. Dukungan NAACP untuk kualitas pernikahan berakar dalam Amandemen keempatbelas dari Konstitusi Amerika Serikat dan perlindungan yang sama untuk semua orang," katanya.
Berita terkait. WND melaporkan (5/18) bahwa Youtube telah memblokir sebuah video yang mendokumentasikan dampak praktek pernikahan sejenis yang dilegalkan di Canada dengan alasan "hate speech" (ungkapan kebencian). Dalam video yang ditujukkan untuk publik Amerika itu, Bradlee Dean dari organisasi pelayanan You Can Run But You Cannot Hide yang berargumentasi bahwa pada kenyataannya "pernikahan sejenis bukanlah tentang pernikahan."
"Sebagai contoh," ungkapnya, "apa kaitannya antara menurunkan batas usia untuk pelaku anal seks dengan pernikahan sejenis? Apa hubungannya dengan keluarga dan anak-anak yang disekolahkan dirumah? Apa urusannya dengan negara masuk dan memaksa gereja-gereja untuk melakukan pemberkatan nikah sejenis?" Dean menyebut bahwa "[pernikahan sejenis] adalah pembalikan hukum oleh pemerintah yang totalitarian."
NewsBusters melaporkan bahwa perundangan yang mengatur "hate speech" di Canada telah digunakan oleh gay ekstrimis untuk "melarang orang Kristen yang menyekolahkan anaknya di rumah mengajarkan bahwa hubungan sejenis adalah dosa."
Video Dean yang diblok dua jam sesudah diupload dibuka kembali kemarin (5/21) setelah tindakan Youtube tersebut menarik perhatian media dan dianggap melanggar kebebasan berpendapat. (jawaban/WND/newsbusters)
Sumber: Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Dalam pernyataannya, NAACP mendukung pernikahan sejenis sebagai hak sipil dan menentang setiap upaya untuk mendiskriminasi atau membenci anggota masyarakat yang menyukai sesama jenis. Aksi NAACP ini dipicu oleh pernyataan presiden Obama waktu lalu yang mendukung pernikahan sejenis.
Pdt. Anthony Evans, bersama NBCI, menentang dukungan presiden dan NAACP terhadap pernikahan sesama jenis. Pdt. Evans mengingatkan kelompoknya sama sekali tidak membenci kaum gay, namun mereka tetap tidak akan mendukung pernikahan sejenis. "Kami mencintai saudara dan saudari kita yang gay, tapi gereja kulit hitam tidak akan mendukung pernikahan gay. Hal ini (pernikahan sejenis) sangat berlawanan dengan ajaran Yesus Kristus," katanya.
Dia memperingatkan bahwa Obama dan NAACP akan kehilangan dukungan di antara gereja-gereja kulit hitam karena pernyataan mereka itu.
Ketua NAACP terpilih, Benjamin, mendukung kesetaraan perkawinan sejenis serta menjamin untuk memberikan perlindungan. "Pernikahan Sipil adalah hak sipil dan masalah hukum perdata. Dukungan NAACP untuk kualitas pernikahan berakar dalam Amandemen keempatbelas dari Konstitusi Amerika Serikat dan perlindungan yang sama untuk semua orang," katanya.
Berita terkait. WND melaporkan (5/18) bahwa Youtube telah memblokir sebuah video yang mendokumentasikan dampak praktek pernikahan sejenis yang dilegalkan di Canada dengan alasan "hate speech" (ungkapan kebencian). Dalam video yang ditujukkan untuk publik Amerika itu, Bradlee Dean dari organisasi pelayanan You Can Run But You Cannot Hide yang berargumentasi bahwa pada kenyataannya "pernikahan sejenis bukanlah tentang pernikahan."
"Sebagai contoh," ungkapnya, "apa kaitannya antara menurunkan batas usia untuk pelaku anal seks dengan pernikahan sejenis? Apa hubungannya dengan keluarga dan anak-anak yang disekolahkan dirumah? Apa urusannya dengan negara masuk dan memaksa gereja-gereja untuk melakukan pemberkatan nikah sejenis?" Dean menyebut bahwa "[pernikahan sejenis] adalah pembalikan hukum oleh pemerintah yang totalitarian."
NewsBusters melaporkan bahwa perundangan yang mengatur "hate speech" di Canada telah digunakan oleh gay ekstrimis untuk "melarang orang Kristen yang menyekolahkan anaknya di rumah mengajarkan bahwa hubungan sejenis adalah dosa."
Video Dean yang diblok dua jam sesudah diupload dibuka kembali kemarin (5/21) setelah tindakan Youtube tersebut menarik perhatian media dan dianggap melanggar kebebasan berpendapat. (jawaban/WND/newsbusters)
Sumber: Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Minggu, 18 Maret 2012
Hati-hati, Game Online Bahayakan Pernikahan
Permainan online memang bisa menjadi hiburan setelah lelah bekerja. Namun, hati-hati, penelitian terbaru membuktikan: mereka yang terlalu terpaku pada virtual reality, kerap bermasalah dalam hubungan perkawinan. Riset yang dipublikasikan di Journal of Leisure Researcher ini dimuat di situs TIMEHealthland, 12 Februari 2012.
Terlalu lama bermain video game bisa membuat pasangan Anda sebal—ini sudah jelas. Namun penelitian yang dilakukan Brigham Young University ini menemukan masalahnya bukan pada berapa lama waktu yang dihabiskan di depan komputer, tapi pada rutinitas tidur pasangan yang terganggu. Mereka yang tak tidur pada waktu bersamaan cenderung bermasalah dengan perkawinannya.
Para peneliti mewawancarai 349 gamer yang sudah menikah. Setidaknya dari 132 pasangan (salah satunya gamer— sebagian besar suami) dan 217 pasangan (keduanya gamer). Secara umum, peneliti menemukan bahwa 75 persen suami atau istri si gamer berharap pasangannya berusaha lebih keras untuk membuat pernikahan ini berhasil. Naik ke tempat tidur pada waktu yang sama, meski sederhana, ternyata berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. (Tempo)
Sumber: terangdunia.com Baca Selengkapnya...
Terlalu lama bermain video game bisa membuat pasangan Anda sebal—ini sudah jelas. Namun penelitian yang dilakukan Brigham Young University ini menemukan masalahnya bukan pada berapa lama waktu yang dihabiskan di depan komputer, tapi pada rutinitas tidur pasangan yang terganggu. Mereka yang tak tidur pada waktu bersamaan cenderung bermasalah dengan perkawinannya.
Para peneliti mewawancarai 349 gamer yang sudah menikah. Setidaknya dari 132 pasangan (salah satunya gamer— sebagian besar suami) dan 217 pasangan (keduanya gamer). Secara umum, peneliti menemukan bahwa 75 persen suami atau istri si gamer berharap pasangannya berusaha lebih keras untuk membuat pernikahan ini berhasil. Naik ke tempat tidur pada waktu yang sama, meski sederhana, ternyata berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. (Tempo)
Sumber: terangdunia.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 11 Januari 2012
Promosikan Seks Sebagai Berkat dan Karunia Tuhan, Pendeta dan Istrinya Tinggal di Gereja
MEMPROMOSIKAN makna seks sebagai berkat dan karunia dari Tuhan, Pendeta Ed Young dan istrinya akan menghabiskan 24 jam bersama istrinya di sebuah ranjang di dalam gedung gereja. Ini juga dimaksudkan untuk menegaskan pentingnya seks secara teratur bagi pasangan suami-istri Kristen, terutama jemaatnya.
Young bersama istrinya mulai pukul 06.00 Jumat (13/01/2012) hingga Sabtu (14/01/2012) pukul 06.00 akan tinggal di sebuah ruangan besar dalam gereja, selama acara berlangsung mereka akan mengadakan dialog dan diskusi interaktif melalui Skype yang akan ditayangkan langsung melalui streaming di website. Selain juga menjawab pertanyaan interaktif dari jemaat melalui Facebook dan Twitter.
Dikatakan, hubungan ranjang dalam pernikahan tidak saja terkait dengan kepuasan pribadi, melainkan tentang tanggung jawab, serta melepaskan pengaruh-pengaruh jahat dari keinginan dan nafsu berlebihan yang sering ditunjukkan oleh dunia. Sebab pada masa sekarang ini, terlalu banyak tipu daya iblis terkait dosa seks yang sebenarnya dapat dihindari oleh umat Kristen, namun karena ketidaktahuan dan pengaruh buruk dari lingkungan, mereka merasa seks adalah hal tabu yang harus disembunyikan dari gereja.
Oleh karenanya, katanya kita harus libatkan Tuhan, sebab menurut, sudah terlalu lama budaya dan masyarakat telah 'membuang' Tuhan dan Gereja dari ranjang. "Kini waktunya untuk mengembalikan Tuhan kedalam ranjang, dan kembalikan ranjang kedalam gereja, ini makna ranjang yang sebenarnya." ujar Ed kepada Christian Post, Sabtu (07/01/2011).
"Tuhan, memberikan seks sebagai berkat, hal ini sudah ada sejak ia menciptakan kita kedunia ini. Sayangnya, sudah terlalu lama kita ikut terpengaruh dengan penipuan dunia, akan makna seks. Sekarang waktunya untuk kembali mengerti kebenaran sesungguhnya tentang berkat menakjubkan - menurut kebenaran Tuhan."
Ed Young bersama istrinya adalah pendeta yang memimpin Gereja Fellowship, sebuah mega church berlokasi di Grapevine, sebuah kota dekat Dallas, Texas, AS.
Lisa Young, istrinya kepada CNN mengatakan, "Terlalu lama gereja berdiam diri untuk masalah yang Tuhan sendiri selalu bicarakan dalam Alkitab, Ia adalah sang pembuat keajaiban seks, jadi kenapa kita harus diam, dalam konteks gereja , berbicara tentang sesuatu yang ia (Ed Young) tidak malu untuk dikatakan."
Prihatin maraknya percabulan dan perzinahan
Prihatin dengan penyalahgunaan berkat terbesar Tuhan, seperti percabulan dan perzinahan yang kini menjadi senjata utama kuasa jahat mendosakan manusia, Pdt Young pun menulis buku Sexperiment, yang merupakan gabungan dari kata Sex dan experiment berisi tentang tujuh tantangan yang berkaitan dengan masalah-masalah ranjang bagi pasangan suami-istri. Didalam buku itu akan dibahas cara hidup yang baik sebagai sepasang suami istri yang berkomitmen hidup bersama, dengan menggunakan pendekatan-pendekatan alkitabiah.
Selain itu, Young juga menulis buku lain berjudul The Ten Commandments of Marriage (10 Perintah atas Pernikahan) dan Rating Your Dating While Waiting for Mating (Menilai Perkencanan Anda selama Menanti Pernikahan). Dalam bukunya, Ia meminta umatnya untuk secara sistematis menyegarkan kembali kehidupan seks mereka setelah beberapa tahun berlalu.
Dia juga mengembangkan program menjadi semacam panduan untuk membantu secara mandiri bagi pembacanya. Sehingga sebagai Kristen, tidak lagi melakukan dosa-dosa percabulan yang melawan keinginan Tuhan.
Dalam situsnya, seorang pengunjung memberi komentar,"Bagus lah pendeta Ed Young membicarakan tentang ini di dalam gereja. Karena sudah terlalu lama kita malu berbicara soal seks dan iblis yang memiliki lahan ini," tulis Cori seorang pengunjung situs, sembari menyerukan, kini saatnya umat Kristiani mengambil kembali tema pembahasan yang seharusnya menjadi topik pembahasan mereka.
Selengkapnya di: http://perisai.net Baca Selengkapnya...
Kamis, 24 November 2011
Akan kugendong engkau sampai ajal tiba (Till death do us part)
Kisah ini dipersembahkan untuk para sahabat yang berencana menikah atau yang telah menikah...
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?
Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!
sumber: http://www.music4bless.net/2011/11/aku-akan-menggendongmu-setiap-pagi.html
Baca Selengkapnya...
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?
Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!
sumber: http://www.music4bless.net/2011/11/aku-akan-menggendongmu-setiap-pagi.html
Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)










