googleb2757ebb443295f5 Kebenaran Kristiani: Surat Pastoral
Tampilkan postingan dengan label Surat Pastoral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Pastoral. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2013

MERAIH TONGKAT ESTAFET

Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus…(Kisah Para Rasul 4:33)
Kebangkitan Yesus akan tetap menjadi sebuah peristiwa sejarah belaka apabila umat Kristen tidak menghayati dan menerapkan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling penting untuk dilakukan oleh umat Kristen saat ini adalah bagaimana agar kita dapat meneruskan semangat dan kuasa kebangkitan Kristus kepada generasi dimana kita sekarang hidup. 

Para Rasul gereja mula-mula sangat diberkati Tuhan dengan kuasa yang besar untuk memberi kesaksian mengenai kebangkitan Yesus Kristus kepada masyarakat dimana mereka hidup. Ini bukan suatu jenis kefasihan untuk memenangi perdebatan atau mendiskreditkan pihak lain, namun merupakan kemampuan / kuasa / otoritas untuk melakukan mujizat dan keajaiban yang bertujuan untuk mengkonfirmasi dan menegaskan berita Kebangkitan Yesus Kristus kepada khalayak luas. 

Apa yang Tuhan kerjakan melalui para rasul mula-mula itu tidak pernah berhenti sampai akhir zaman, yaitu sekarang ini. Bukan hanya para rasul, nabi, pengajar atau pendeta yang diserahi tugas ini, namun Alkitab menegaskan semua umat Kristen memiliki kesempatan dan tugas yang sama untuk menyiarkan kebangkitan Kristus dengan sarana mujizat dan tanda ajaib (Markus 16:15-18). Apabila kita belum juga dipakai untuk hal ini bukan berarti Tuhan telah meralat firman-Nya, itu hanya berarti kita belum (mau) memasuki ranah rohani yang penuh dengan mujizat/keajaiban (dan yang sekaligus penuh dengan aniaya dan tantangan itu), demi memberitakan kabar kebangkitan Tuhan. 

Kebangkitan Yesus Kristus merupakan tonggak iman kekristenan. Tanpanya, iman percaya kita niscaya akan sia-sia saja. Demikian ajaran-ajaran para Rasul pun tidak akan lebih dari sebuah pelajaran filsafat yang kosong. Namun faktanya berbeda: Yesus telah bangkit! Kebangkitan Kristus seharusnya membuat kekristenan itu hidup dan berdampak luas, meledak-ledak seperti dinamit dan sekaligus bertekun seperti dinamo yang terus-menerus bekerja tanpa dipengaruhi situasi kondisi. Kebangkitan Yesus seharusnya mendorong kita untuk meraih tongkat estafet dari para Rasul mula-mula itu, untuk menjadi agen pemberita Kebangkitan Yesus Kristus kepada dunia yang terhilang. Maukah kita meraih tongkat itu ?
Baca Selengkapnya...

Selasa, 26 Juni 2012

Menjadi seorang Penatalayanan

Surat Pastoral Minggu 1 Juli 2012

Pandangan Anda tentang Sorga dan kekekalan akan seiring dengan prioritas-prioritas hidup yang akan Anda lakukan di dunia. Jika kita menghayati dengan benar dan sehat tentang Sorga dan kekekalan maka kehidupan di dunia ini merupakan suatu penatalayanan. Sikap hidup yang mengabdi dan melayani, dengan prioritas pertama kepada Tuhan.

Penatalayanan di dunia ini kepada Tuhan merupakan suatu investasi. Investasi adalah melepaskan sesuatu hari ini untuk hari esok, karena Anda mempercayai hari esok akan datang., dan Anda perlu bersiap untuk hal itu, walaupun Anda tidak dapat melihat hari esok.

Konsep Alkitab tentang Penatalayanan berhubungan dengan cara Anda dan saya menangani apa yang kita miliki sekarang, berkenaan dengan apa yang akan datang.

Seorang investor dan seorang penatalayanan yang baik harus dapat melihat melampaui situasi dan kondisi sekarang ini. Ia tidak dapat dipengaruhi dan dikecohkan oleh mereka yang menghamburkan segala miliknya pada kesenangan – kesenangan sesaat sekarang ini.

Ia harus mempunyai disiplin dan kesabaran. Disiplin dalam menggunakan segala sesuatu yang telah dipercayakan untuk kepentingan tuannya dalam hal ini adalah Tuhan. Ia sadar suatu saat ia harus mempertanggung jawabkan semua pemberian Tuhan. Apakah ia menggunakan dengan setia, penuh tanggung jawab atau menyalahgunakan dan bermalas-malas. Ia juga harus sabar karena hasilnya seringkali tidak serta merta datang, bahkan sebagian besar hasilnya hanya dapat dinikmati kelak pada kekekalan dan bukan di bumi.

Seorang Penatalayanan harus berani menghadapi resiko, resiko itu adalah ada kemungkinan Anda mengalami kerugian-kerugian secara duniawi. Namun yang pasti adalah Anda tidak akan mengalami kerugian pada kekekalan, bahkan kerugian-kerugian di bumi seringkali memperbesar keuntungan-keuntungan Sorgawi.

Mari kita sadari bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang harus kita kelola secara bertanggung jawab untuk kepentingan Tuhan.
Baca Selengkapnya...

Kuasa Pujian

Surat Pastoral Minggu 24 Juni 2012

“Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” KPR 16:25

Ketika Paulus memberitakan Injil dengan mengusir roh tenung dari seorang hamba perempuan (KPR 16:18), maka tuan-tuannya marah dan menangkap serta menyeret Paulus dan Silas menghadap penguasa. Para penguasa, oleh desakan orang banyak, akhirnya mendera Paulus dan Silas berulang kali. Pastilah Paulus dan Silas sangat kepayahan dan setengah mati menerima hukuman ini. Mereka pun dimasukkan ke penjara paling tengah dan kaki mereka dipasung dengan kuat. Ini merupakan penjara yang paling dalam dan suram, tanpa ada cahaya sedikitpun dari luar sehingga benar-benar terisolasi.

Beberapa jam pertama Paulus dan Silas berada di dalam penjara yang gelap gulita. Namun kira-kira tengah malam mereka menyanyikan pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain pun mendengarkan mereka. Pastilah mereka memuji Tuhan dengan suara yang lantang. Maka terjadilah gempa bumi yang mengakibatkan sendi-sendi penjara goyah, pintu terbuka dan kepala penjara yang ditugasi menjaga akan bunuh diri karena ketakutan, namun dicegah oleh Paulus, malahan ia dan seisi rumahnya bertobat dan diselamatkan.

Mujizat selalu terjadi dimana ada umat Tuhan yang mau memuji-muji Tuhan di tengah segala tekanan dan permasalahan yang berat. Mujizat tidak pernah terjadi di dalam keadaan semua lancar dan baik-baik saja. Bersyukurlah jika Tuhan mengijinkan masalah yang berat menghampiri. Karena itu berarti kita berkesempatan melihat demonstrasi kuasa Allah yang hebat sekali lagi terjadi di dalam hidup kita. Namun ini hanya akan terjadi jika kita bersedia memuji-Nya dengan tulus, segenap hati dan kekuatan di tengah kesulitan yang berat.

Pujian yang dilandaskan iman tidak pernah berlalu dengan percuma. Allah selalu hadir dan bersemayam di tengah pujian umat-Nya. Jikalau kita tahu bahwa Allah bertahta di Surga, maka kini kita juga tahu bahwa Ia juga bertahta di atas pujian umatNya! Ia siap membela dan menyatakan kuasaNya bagi orang-orang yang mau memujiNya senantiasa.

Oleh: Hengky Candra
Baca Selengkapnya...

Jumat, 15 Juni 2012

Keberhasilan

Surat Pastoral Minggu 17 Juni 2012

Setiap orang selalu menginginkan kehidupan yang berhasil, dan merupakan suatu keinginan yang wajar dan tidak salah, hanya yang menjadi persoalan ialah dengan apa kita mengukur keberhasilan seseorang. Ada yang mengukur keberhasilan dari seberapa banyak uang yang dimiliki, seberapa tinggi kedudukan yang dicapai, seberapa tenar namanya di mata orang lain, sehingga keberhasilan pada umumnya diukur dengan besarnya angka-angka dan semua hal itu bersifat lahiriah dan jasmaniah.

Banyak buku-buku yang ditulis mengajarkan tentang bagaimana cara untuk hidup berhasil, misalnya, bagaimana cara dapat memperoleh kedudukan yang tinggi dengan cepat, bagaimana cara mengendalikan orang lain, bagaimana dapat tampak cerdas dibanding orang lain, bagaimana saya dapat berkesan yang baik di mata orang lain, dan tak satupun buku berbicara tentang keberhasilan yang lebih utuh yaitu keberhasilan rohaniah yang berdampak pada jasmaniah.

Alkitab memang tidak melarang orang mencapai keberhasilan walau bersifat lahirian dan jasmaniah, namun memperingatkan bahwa semua itu sifatnya terbatas dan tidak abadi seperti perumpamaan Tuhan Yesus kepada murid-Nya, tentang seorang kaya yang berlimpah hartanya, tetapi tidak memperhatikan kehidupan rohaninya, tetapi Firman Allah kepadanya, "Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu dan apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah" Lukas 12:20-21.

Raja Salomo, seorang raja yang sangat kaya, pandai, berhikmat dan namanya dikenal sampai ke mancanegara, setelah merenungkan segala pencapaiannya ia menulis: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Keberhasilan bukan cuma ditentukan oleh kecerdasan intelegensia saja, tetapi banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi dan spiritual seseorang untuk berpikir positif, percaya diri, mau bekerja keras, tidak gampang menyerah, tidak mudah mengeluh, tapi mampu juga menjaga hatinya. Orang disebut berhasil kalau ia mampu mengembangkan sumber daya hidupnya hingga bermanfaat, tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Tuhan, bagi keluarganya, dan bagi orang lain yang ada di sekitarnya.
Baca Selengkapnya...

Senin, 11 Juni 2012

Doa menghasilkan perubahan

Surat Pastoral Minggu 3 Juni 2012

Suatu malam ketika Kao Er, seorang Cina sedang mengikuti kebaktian doa, putranya yang berumur 8 tahun dan bayi perempuannya diculik. Para penculik menuntut tebusan sebesar 1.000 yuan. Tuan Er menulis di sebuah papan besar dan menempelkannya di depan tempat kerjanya. Papan itu berbunyi, "Aku bukanlah orang kaya. Aku tidak bisa membayar tebusan 1000 yuan. Aku tidak bisa membayar 500 yuan. Aku bahkan tidak bisa membayar 50 yuan. Tapi aku percaya kepada Tuhan. Ia sanggup membawa kembali anak-anakku tanpa tebusan.“

Papan tanda itu menimbulkan banyak olok-olok dari mereka yang melihatnya. Tak ada orang waras yang mengharapkan anak yang diculik dikembalikan hidup-hidup tanpa tebusan ! Minggu-minggu berlalu. Akhirnya, ketika para serdadu menyerbu bandit-bandit di pedalaman, dan para bandit itu terpaksa melarikan diri. Dalam pengejaran besar-besaran terhadap bandit-bandit itu, para tentara menemukan seorang anak, ternyata ia adalah anak Tuan Er.

Dalam penyerbuan yang kedua, para tentara berhasil menawan istri dari kepala bandit. Dan ia sedang merawat dua bayi, ternyata salah satu dari bayi tersebut adalah putri Tuan Er. Akhirnya kedua anak Tuan Er yang diculik dikembalikan dengan selamat. Tuhan melakukan hal yang mustahil – Ia mengembalikan anak – anak yang diculik tanpa tebusan.

Ketekunan Doa dan iman yang teguh menghasilkan pertolongan Tuhan yang ajaib. Saya menganjurkan setiap kita melibatkan diri untuk mendoakan jalan-jalan dan tetangga – tetangga kita, dan beriman untuk terjadinya tuaian dan pemulihan. Taburkanlah benih doa dan Firman di sekitar lingkungan kita masing-masing.


Oleh : Pdt. Adhi Sutikno, SH
Baca Selengkapnya...

Kamis, 24 Mei 2012

Memaknai Pentakosta

Warta Jemaat Minggu 27 Mei 2012

Pencurahan Roh Kudus memberi makna baru di dalam kehidupan para murid Yesus (KPR 2:1-13). Perubahan radikal terjadi di dalam seluruh aspek hidup mereka. Petrus yang menyangkal Yesus diubah menjadi Petrus yang pemberani. Bukan pemberani dalam hal negatif namun dalam hal menyaksikan Injil Kristus. Kata “saksi” adalah martoos yang diterjemahkan martyr, yaitu menjadi saksi atas sebuah peristiwa dan bila perlu membayarnya dengan nyawa untuk mempertahankan kesaksiannya.

Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali (Matius 26:69-75). Ia takut mengakui imannya kepada hamba perempuan Imam besar, sehingga ia menyakiti hati Tuhan. Mungkin ini terdengar wajar bila mengingat tekanan dan intimidasi yang terjadi terhadap para pengikut Yesus. Namun bila kita mengerti bahwa Petrus telah mengalami mujizat-mujizat spektakuler bersama Yesus, maka pengkhianatannya menjadi tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dosa penyangkalan Petrus tidak lebih baik dibandingkan dosa pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus. Perbedaannya: Petrus meresponi perkataan Yesus dan bertobat, sedangkan Yudas mengeraskan hati dan bunuh diri.

Kurang dari dua bulan setelah kegagalan Petrus, Roh Kudus dicurahkan. Petrus, yang penuh Roh Kudus, mengalami perubahan radikal dalam hidupnya, bahkan ia berani mengecam dan menasehati 3000 orang supaya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini (KPR 2:40). Ia juga berani menentang para pemimpin Yahudi saat dilarang memberitakan Injil dengan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Setelah itu kita tahu, penjara menantikannya.

Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk menolong kita berdoa dan menyembah Allah atau memiliki hidup yang penuh kemenangan saja. Namun lebih daripada itu, supaya kita memiliki kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil dimanapun kita berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (KPR 1:8).
Baca Selengkapnya...

Jumat, 18 Mei 2012

Lanjutkan Pekerjaanmu (Lukas 19:11-27)

Surat Pastoral Minggu 20 Mei 2012.

Saat ini orang yang setia melayani Tuhan tinggal sedikit. Banyak yang terjebak dengan motivasi mencari keuntungan, tidak sedikit yang mengaku pelayan Tuhan berubah menjadi pekerja yang mencari keuntungan. Banyak yang mengaku hamba Tuhan, justru memperlakukan Tuhan sebagai hambanya. Fenomena ini semakin menggejala, karena semakin banyak pelayan Tuhan yang dilayani daripada melayani jiwa-jiwa baru, apalagi harus rela berkorban, malahan menjadikan orang lain korban dari kepentingannya.

Seorang pelayan melayani orang lain tanpa menuntut imbalan atau mengharapkan materi. Seorang hamba menyerahkan dirinya penuh kepada seseorang, melepas haknya demi tuannya, tidak menipu atau mencari keuntungan dari tuannya. Sedangkan seorang pekerja adalah seorang penjual jasa yang bekerja bila ada upah, ada bonus, suka menerima daripada memberi.

Adalah seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja dan setelah itu akan kembali. Ia memanggil sepuluh hambanya dan memberikan mereka masing-masing sekeping uang dan berkata: "Pakailah ini untuk berdagang sampai aku kembali". Demikian tatkala ia kembali kelak, para hambanya harus melaporkan apa yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut.

Tiga hari yang lalu, pada saat kita memperingati kenaikan-Nya, Yesus juga berangkat ke
sebuah negeri yang jauh (19:12). Ia akan kembali sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu, dengan cara yang sama, datang sebagai Raja penuh kuasa untuk menghakimi semua manusia baik yang mati maupun yang hidup. Tetapi sampai saatnya itu tiba, tugas kita sebagai umat, pelayan dan hambaNya adalah hidup berjaga-jaga, menyucikan diri, dengan hati nurani yang murni menggunakan talenta dan kesempatan yang diberikan Tuhan sebaik mungkin untuk melayani-Nya. Kuasa Roh Kudus yang tinggal dan diam di dalam kita akan menyertai dan memimpin pola hidup kita. Kita diminta selalu bersiap sedia apabila harus menghadapi aniaya karena iman kepada Yesus Kristus.

Ingat janji kembalinya Sang Juru Selamat, Dia datang segera dan membawa upahNya untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Sebab itu marilah kita mempererat persatuan dan menjauhkan hati dari iri dan kebencian terhadap sesama saudara seiman. Marilah kita membangun jemaat, meningkatkan persekutuan, rajin beribadah dan tetaplah berada ditempat tugasmu masing-masing dan melanjutkan pekerjaanmu.


Oleh: Ir. Lilik Logari
Baca Selengkapnya...

Tujuan Yesus Naik ke Sorga

Warta Jemaat memperingati kenaikan Tuhan Yesus:

1. Menyiapkan tempat bagi kita di Surga ( Yoh 14: 1-3 )

Jika kita menghayati hal ini maka perjalanan iman kita merupakan sesuatu yang menggairahkan. Bayangkan disana ada banyak tempat, dan Dia sedang mempersiapkan tempat itu untuk kita tempati dalam persekutuan dengan Tuhan, dimana ada kebahagiaan yang kekal. Tidak ada kebosanan, kesedihan, sakit penyakit dan kemiskinan, semua kita akan berkarya dan hidup dalam kasih, sukacita dan kebahagian yang berlimpah-limpah dengan Tuhan dan sesama orang percaya.


2. Ia menjadi imam besar bagi kita.( Ibr 4:14-5:10 )

Yesus berada di surga bukan hanya sekedar mengamati pergumulan-pergumulan yang dialami oleh setiap orang percaya, namun Ia bersyafaat / berdoa agar kita dapat mengalami kemenangan atas setiap pergumulan. Ia telah dicobai dengan berbagai macam pencobaan yang paling berat, namun Ia tidak berdosa. Ia mengalahkan semua pencobaan. Oleh karena itu Yesus sanggup menolong kita untuk mengalahkan semua pencobaan tanpa harus kita menyerah pada dosa. Yang diperlukan adalah ketekunan kita untuk menghampiri Dia dalam doa agar kita mendapatkan rahmat dan pertolongan pada waktunya.


3. Ia mengirim Roh Kudus ( Yoh 14:16-20 )

Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu, namun Ia mengirim Penolong yang lain yaitu Roh Kebenaran atau Roh Kudus. Roh Kudus adalah bagian dari Allah Tritunggal. Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri yang sekarang mewakili Yesus menyertai setiap orang percaya. Ia berkarya secara aktif di dunia dan di dalam diri orang percaya. Jika setiap orang percaya memberikan dirinya untuk dipenuhi dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus maka mereka akan hidup dalam ketaatan pada Firman Tuhan, yang keluar dari hati yang mengasihi Yesus. Mereka akan mempunyai kuasa dari Tuhan untuk menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus. Hidup yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah hidup yang memuliakan Kristus. Inilah suatu cara hidup yang bermakna.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 10 Mei 2012

Melayani Kambing dan Domba

Ilustrasi
1. PENDAHULUAN

Mengharapkan semua anggota jemaat baik dan mudah untuk dilayani adalah hal yang lumrah tetapi tidak realistis. Dalam kenyataannya, seorang pelayan gereja harus menerima bahwa anggota jemaat yang dilayani memiliki watak yang berbeda-beda. Ada anggota jemaat yang memiliki watak mudah dibina dan ada pula anggota jemaat yang memiliki watak keras dan sulit untuk dibina. Ada anggota jemaat yang memiliki kecenderungan untuk berbuat baik bagi gereja dan ada pula anggota jemaat yang memiliki kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang kurang baik bagi gereja.

Augustinus pernah mengatakan, "Di biara kutemukan orang yang paling baik sedunia dan di biara pula kutemukan orang paling jahat sedunia." Ini merupakan penjelasan Augustinus sesuai dengan kebenaran firman Tuhan bahwa diantara gandum terdapat ilalang dan diantara ikan ada pula ular. Augustinus sedang menyatakan bahwa di dalam gereja ada orang baik dan di dalam gereja pula ada orang jahat.

Pengalaman saya sendiri melayani selama belasan tahun di gereja membenarkan pernyatan diatas. Sebaik apapun kita melayani, hampir pasti, ada saja anggota jemaat yang kurang bisa menerima dan seburuk apapun seorang pelayan melayani, ada saja pula anggota jemaat yang bersimpati. Memang terasa tidak enak untuk mengatakannya, tetapi itulah kenyataannya.

Oleh karena itu, adalah lebih bijaksana bila seseorang yang terpanggil untuk menjadi pelayan gereja menerima kenyataan itu dan berusaha menyikapinya sesuai dengan ajaran dan teladan Yesus Kristus.


2. GANDUM DAN ILALANG

Di kota Hippo, Aljazair sekarang, tempat Augustinus menjadi uskup, terjadi perdebatan yang tajam antara kelompok Donatisme dan kelompok gereja yang dipimpin oleh Augustinus. Pokok masalahnya ialah tentang status anggota gereja. Kelompok donatisme menyatakan bahwa anggota gereja adalah orang yang sudah menerima Kristus di dalam hatinya dan hidupnya sudah sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Orang yang belum benar hidupnya tidak boleh menjadi anggota gereja. Kelompok ini berusaha hidup suci seperti yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Alkitab. Menurut mereka, orang yang tidak bisa hidup suci adalah orang yang belum memiliki Roh Kudus di dalam hati mereka.

Menyikapi pernyataan Kelompok Donatisme, Augustinus membuat sebuah teori berdasarkan perumpamaan Tuhan Yesus tentang penabur, dari Matius 13, yaitu tentang gereja am dan gereja lokal atau gereja yang tidak kelihatan dan gereja yang kelihatan. Gereja am atau gereja yang tidak kelihatan adalah kumpulan orang yang sudah bertobat dan sungguh-sungguh sudah hidup di dalam Kristus. Anggota gereja am atau gereja yang tidak kelihatan ini adalah juga anggota gereja lokal. Anggota gereja lokal atau anggota gereja yang kelihatan belum tentu menjadi anggota gereja am atau gereja yang tidak kelihatan.

Akan tetapi, tidak seorangpun diberi tahu, mana anggota gereja lokal yang sudah menjadi anggota gereja am dan manapula anggota gereja lokal yang belum menjadi anggota gereja am. Tuhan Yesus sendiri dalam perumpamaan itu membiarkan kedua-duanya bertumbuh di dalam gereja. Alasan Tuhan ialah kalau mencabut anggota gereja lokal yang belum menjadi anggota gereja am, bisa saja ikut tercabut juga anggota lokal yang sudah menjadi anggota gereja am.

Waktu untuk mengetahui mana anggota gereja lokal yang belum menjadi anggota gereja am dan manapula anggota gereja lokal yang sudah menjadi anggota gereja am ialah saat Tuhan Yesus datang yang kedua kalinya. Karena Tuhan Yesus sendiri melarang siapapun untuk mencabut ilalang diantara gandum, walaupun ilalang sungguh-sungguh menyesakkan bagi gandum.

Jadi, kata Augustinus bahwa tidak seorangpun dapat mengklaim bahwa anggota jemaatnya sudah seluruhnya menjadi anggota gereja am. Kekudusan gereja bukan terletak pada anggota-nya, melainkan pada Kepala, yaitu Yesus Kristus yang masih mengakui gereja itu sebagai tubuh-Nya.

Pelajaran bagi seorang gembala jemaat dari pengajaran Augustinus ialah bahwa memang di tengah-tengah jemaat mungkin saja ada ilalang, tetapi seorang gembala tidak perlu membuat sensus di dalam gereja untuk menandai anggota jemaat tertentu sebagai ilalang. Hal yang lebih penting dikerjakan oleh seorang gembala ialah melayani semua anggota jemaat dengan segenap hati.


3. KAMBING DAN DOMBA

Dalam Matius pasal 25, Tuhan Yesus mengajarkan tiga perumpamaan kepada murid-murid-Nya. Perumpamaan pertama ialah tentang Lima Gadis Bodoh dan Lima Gadis Bijaksana. Lima gadis yang bodoh tidak siap menantikan kedatangan Tuhan Yesus, sehingga mereka tidak masuk ke dalam pesta perkawinan, sedangkan lima gadis yang bijaksana mempersiapkan diri, sehingga mereka siap waktu mempelai tiba. Bagian ini pun merupakan nasehat kepada pelayan gereja untuk mengingatkan setiap anggota jemaat agar tetap siap menanti kedatangan Tuhan.

Perumpamaan kedua mengenai talenta. Seorang tuan yang akan pergi ke tempat yang jauh memberikan 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta kepada hamba-hambanya sesuai dengan kesanggupan mereka. Setelah sekian waktu, sang tuan kembali dan meminta laporan dari hamba-hambanya. Hamba yang menerima 5 talenta telah mengoptimalkan talenta yang diterimanya menjadi 10, yang menerima 2 talenta telah mengoptimalkannya menjadi 4, sedangkan yang menerima 1 tidak berbuat apa-apa, sehingga talentanya tetap 1. Sang tuan menghargai dan memberi upah kepada hambanya yang mengoptimalkan talentanya dan menghukum hambanya yang tidak berbuat apa-apa atas talenta yang diterimanya. Bagian ini pun menjadi tugas para pelayan gereja untuk mendorong anggota jemaat agar berbuat yang terbaik untuk gereja Tuhan.

Perumpamaan ketiga mengenai kambing dan domba. Pada waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, semua bangsa akan dikumpulkan dihadapan-Nya. Lalu, Tuhan Yesus akan memisahkan mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama yaitu kelompok domba-domba ditempatkannya di sebelah kanan-Nya, sedangkan kelompok kedua, yaitu kelompok kambing ditempatkan-Nya di sebelah kiri-Nya.

Kelompok domba dipuji dan dihargai karena selama hidup mereka, mereka telah berbuat baik kepada saudara Tuhan Yesus yang paling hina. Saudara Tuhan Yesus yang paling hina ialah mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit dan terpenjara.

Kelompok kambing dimarahi dan digiring ke dalam neraka, karena selama hidup mereka, mereka tidak peduli terhadap saudara Tuhan Yesus yang paling hina. Mereka tidak menolong orang yang haus dan lapar, mereka tidak memberi tumpangan kepada orang asing, mereka tidak membantu orang yang telanjang, mereka tidak menjenguk orang yang sakit dan mengunjungi orang di penjara.

Jadi, melalui perumpamaan kambing domba, Tuhan Yesus mengajarkan tentang adanya kelompok manusia. Kelompok pertama ialah kelompok yang memiliki kepedulian sosial, terutama kepedulian terhadap orang-orang yang menderita. Kelompok kedua ialah kelompok orang yang tidak memiliki kepekaan sosial dan hidup hanya memikirkan diri sendiri.

Melalui perumpamaan ini juga Tuhan Yesus mengingatkan semua gembala yang melayani di dalam gereja untuk membina semua anggota jemaat agar menjadi seperti domba yang memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang menderita. Memang ini merupakan tugas yang tidak ringan, tetapi bagi orang yang percaya tentu saja tidak ada yang mustahil.


4. TEORI KURVA LONCENG

Teori kurva lonceng menyatakan bahwa terdapat 10% anggota jemaat termasuk kategori kambing, 10% anggota jemaat termasuk kategori domba, dan 80% anggota jemaat termasuk kategori mengambang. Yang dimaksud dengan mengambang ialah bahwa anggota jemaat tersebut bisa menambah angka kambing atau bisa pula menambah angka domba di dalam jemaat.

Anggota jemaat yang termasuk kategori kambing ialah anggota jemaat yang susah diatur, susah dibina, dan suka bikin pusing gembalanya. Istilah kambing yang dipakai tidak sepenuhnya persis dengan makna istilah kambing yang dipakai oleh Tuhan Yesus. Istilah ini lebih tepat dimaknai seperti yang Augustinus tawarkan, yaitu bahwa hanya Tuhan Yesus yang tahu anggota jemaat yang sungguh-sungguh sudah termasuk anggota gereja yang am. Akan tetapi, melihat dari tanda-tandanya, anggota jemaat kategori kambing ini sudah memperlihatkan tanda-tanda seperti ilalang.

Anggota jemaat yang masuk kategori domba ialah anggota jemaat yang mudah diatur, mudah dibina dan suka bikin bahagia gembalanya. Sikap dan perilaku anggota jemaat ini mengikuti ajaran dan teladan dari Tuhan Yesus sendiri. Kerinduan mereka adalah seperti kerinduan Tuhan Yesus pula, yaitu membawa sebanyak mungkin orang untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus.

Oleh karena itu, nasihat yang disampaikan kepada gembala muda ialah supaya mereka tidak menghabiskan banyak energi untuk memikirkan anggota jemaat yang berjumlah 20%, melainkan harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menggembalakan anggota jemaat yang 80%. Artinya, anggota jemaat yang berkategori kambing memang sudah wataknya seperti itu. Dibagaimanakanpun, anggota jemaat kategori kambing akan tetap seperti kambing dan tidak akan pernah bisa berubah menjadi domba. Demikian pula sebaliknya dengan anggota jemaat berkategori domba. Anggota ini memang sudah wataknya seperti itu. Diabaikan pun, anggota jemaat itu akan tetap baik seperti domba.

Seorang gembala yang baik harus menerima anggota jemaat yang berkategori kambing sebagai alat uji dari Tuhan. Kelompok ini Tuhan ijinkan ada di dalam gereja untuk menguji kesabaran, kerendahan hati dan kasih dari seorang gembala. Oleh karena itu tidak realistis bila seorang gembala berdoa kepada Tuhan untuk membersihkan jemaat yang dilayaninya dari kelompok kambing. Mungkin dengan kehadiran kelompok kambing itu, seorang gembala dapat berkata seperti rasul Paulus yang akhirnya menerima sakit penyakit di dalam tubuhnya yang diizinkan oleh Tuhan, "Di dalam kelemahanlah aku menjadi kuat." (II Kor 12:10).

Seorang gembala juga harus menerima anggota jemaat berkategori domba sebagai bonus dari Tuhan. Bonus ini mungkin Tuhan berikan untuk memotivasi seorang gembala agar tetap setia menjalankan tugasnya sebagai seorang gembala. Dengan kehadiran anggota jemaat berkategori domba ini, maka seorang gembala dapat bersukacita dan bernafas lega karena tidak hanya berhadapan dengan anggota jemaat berkategori kambing yang suka bikin pusing.

Akan tetapi, tugas sesungguhnya seorang gembala ialah menjaga anggota jemaat yang berjumlah 80% yang berkategori mengambang. Seorang gembala harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membina kelompok ini agar menjadi kelompok yang berkategori domba. Kelompok ini boleh didoakan agar tidak menjadi kelompok kambing, tetapi menjadi kelompok domba. Tentu saja perhatian, pembinaan, dna doa harus banyak dipanjatkan kepada Tuhan Yesus sebagai kepala gereja agar kelompok mengambang in idapat diarahkan menjadi kelompok berkategori domba.


5. KAMBING DAN DOMBA MEMANG ADA

Setelah belasan tahun menggembalakan jemaat Tuhan di gereja, saya harus mengakui bahwa memang ada sekelompok anggota jemaat yang mudah dibina dan ada pula sekelompok anggota jemaat yang susah dibina. Ada sekelompok anggota jemaat yang suka mendengarkan kata-kata dan ada pula sekelompok anggota jemaat yang lebih suka memberikan kata-kata, entah kritikan, entah tuntutan.

Ada anggota jemaat yang sudah diberi banyak pembinaan, tetapi tetap saja belum terbina. Sebaliknya, ada anggota jemaat yang baru sedikit dibina sudah langsung bersedia mengambil bagian di dalam pelayanan gereja.

Ada anggota jemaat yang sudah banyak dibantu gereja, tetapi tetap saja merasa kurang dan menuntut. Sebaliknya, ada pula anggota jemaat yang belum sempat diberi oleh gereja, tetapi sudah belajar memberi kepada gereja.

Saya memiliki pengalaman pribadi dengan satu keluarga anggota jemaat. Kepala keluarga anggota jemaat ini sangat fasih berbicara, terutama mengkritik gereja dan mengkritik saya sebagai gembala. Walaupun dalam kacamata saya, saya sudah berbuat banyak untuk memperhatikan dan bahkan menolong, tetapi tetap saja saya tidak melihat sikap bersahabat dari kepala keluarga ini. Walaupun sudah belasan tahun menjadi anggota gereja yang aktif ke gereja dan mengikuti persekutuan, tetapi sikapnya tetap saja tidak berubah. Teman-temannya satu wilayah sudah menyebutnya dengan istilah 'tukang buat gara-gara'. Kalau ia sudah minta waktu bicara dalam pertemuan-pertemuan, maka kebanyakan mata akan memandangnya dengan sikap waspada. Setiap orang akan mempersiapkan hati untuk menerima kata-kata yang kemungkinan akan menyerang. Anggota jemaat ini merasa selalu yang paling benar dan bersih di mata Tuhan.

Akan tetapi, yang lebih menarik ialah bahwa si Bapak ini memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Istri dan ketiga anaknya sangat berbeda wataknya dengan si Bapak. Ketiga anaknya sangat aktif di dalam gereja dan sangat mudah diatur. Anak-anaknya melayani dengan penuh tanggung jawab dan mengerjakan tugas pelayanan mereka dengan tuntas.

Oleh karena itu, setiap kali berhadapan dengan anggota jemaat ini, saya selalu pula mengingat anak-anaknya yang selalu menyejukkan hati. Bila memikirkan keluarga ini, saya jadi menolak ungkapan 'buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya' atau 'like father like son'. Jadi mungkin saja dari seorang anggota jemaat yang masuk dalam kategori kambing akan lahir beberapa anak yang masuk kategori domba.


6. PENUTUP

Benarlah nasihat yang disampaikan Tuhan Yesus kepada Petrus bahwa seorang gembala haruslah mengulurkan tangannya kepada jemaat dan membiarkan dirinya sendiri menjadi kesenangan jemaat (Yohanes 21:18). Hal yang senada juga disampaikan oleh Tuhan Yesus di taman Getsemani, "Bukan kehendak-Ku Bapa, tetapi kehendak-Mulah yang jadi". Penyerahan total kepada panggilan pelayanan inilah yang akan memampukan seorang gembala untuk melayani jemaat Tuhan yang beragam sifatnya.

Dengan sikap penyerahan seperti yang Tuhan Yesus ajarkan, maka seorang gembala tidak akan sinis terhadap anggota jemaat yang berkategori kambing dan meng-anak-emas-kan anggota jemaat yang berkategori domba. Bahkan, kalau mengikuti ajaran Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Ia datang untuk orang berdosa dan bermasalah, maka mestinya seorang gembala tetap memberikan perhatian dan kasih yang lebih kepada anggota jemaat yang berkategori kambing.

Mengasihi anggota jemaat yang berkategori kambing bukan berarti menyetujui sikap dan kelakuannya, melainkan sebagai bentuk dorongan agar yang bersangkutan dapat tetap merasakan kebaikan Tuhan Yesus melalui hidup gembalanya.


Dikutip dari sumbernya:

Bab V buku "Pelayanan Gereja yang Kontekstual"
karangan Drs. Edi Suranta Ginting, M.Div, M.Th.
Dosen STT INTI Bandung


CATATAN ADMIN:

Artikel ini tidak ditujukan hanya bagi mereka para gembala dalam arti suatu jabatan rohani saja, namun lebih ditujukan kepada FUNGSI PENGGEMBALAAN yang memang sewajarnya harus dimiliki oleh semua anggota jemaat. Karena pada dasarnya setiap anggota jemaat berkewajiban untuk saling menegor, saling menasehati dan saling menghiburkan didalam kasih Kristus, demi tujuan pembangunan bait Allah / gereja Tuhan yang semakin disempurnakan.
Baca Selengkapnya...

Melihat lebih

Surat Pastoral Minggu 13 Mei 2012
Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai…yang seorang menabur dan yang lain menuai. Yohanes 4:35,37

Dengan menyuruh para murid-Nya untuk menatap ke ladang yang menguning, Yesus bicara tentang prioritas rohani. Ia telah berkata, “Aku memiliki makanan yang tidak kamu kenal,” dan ”Makanan-Ku ialah melakukan pekerjaan Ia yang mengutus-Ku, dan menggenapkan pekerjaan-Nya” (32-34). Kini sebagai akibat, Ia berkata kepada mereka: Kalian harus berkonsentrasi bukan pada piknik kita, tetapi pada orang-orang yang berdatangan ke sini dari Sikhar yang diajak oleh perempuan yang dengannya tadi Aku berbicara.

Kesempatan apa pun yang ada, penginjilan harus merupakan prioritas pertama kita. Ia juga harus menjadi hak istimewa yang menyukakan kita: ”Ia yang menabur menerima upahnya, dan mengumpulkan hasil untuk hidup kekal, sehingga baik penabur maupun penuai boleh bersukacita bersama (36). Sungguh sangat mulia boleh bekerja dibawah pimpinan Allah untuk menjadi agen manusia yang menyelamatkan sesama untuk kekekalan.

Penginjilan juga suatu kerekanan. Yesus berkata kepada para murid-Nya ,”Aku mengutusmu untuk menuai apa yang tidak kamu tabur: (37). Apa maksudnya ? Ia telah bersaksi kepada perempuan Samaria, dan perempuan itu bersaksi kepada para sahabatnya dan tetangganya dan kini mereka berdatangan ke sumur. Hal itu merupakan hak istimewa yang para murud terima yaitu ”menuai” mereka : mengajarkan mereka lebih banyak tentang Yesus dan menempatkan mereka dalam kerajaan dan keluarga Allah.

Kita perlu sangat rendah hati untuk berkata tanpa iri atau kecewa, ”aku menabur, kini kamu menuai.” Tetapi itulah polanya. Dalam hal memenangakan dan menumbuhkan jiwa-jiwa, terkadang kita akan menjadi penuai dan terkadang kita menjadi penabur yang menyiapkan jalan bagi orang lain menuai. Namun masing-masing tugas penting adanya; jadi kita harus bersedia memenuhi tugas mana pun.

Marilah kita melihat lebih dari sekedar kejadian biasa, selalu ada rencana Tuhan dalam setiap situasi dan kondisi hidup kita. Milikilah kepekaan terhadap tuntunan Roh Kudus berdasarkan Firman Tuhan, untuk merespon semua peristiwa kehidupan.


Oleh Pdt. Adhi Sutikno, SH
Baca Selengkapnya...

Senin, 07 Mei 2012

Kasih karunia-Nya diperlihatkan

Surat Pastoral, Minggu 6 Mei 2012.

Bagaimana Tuhan mau berurusan dengan seseorang seperti saya? Mungkin Anda pernah mengalami luka hati, pergumulan dan kesulitan di masa lalu. Atau mungkin dunia menilai Anda sebagai orang yang tidak penting. Oleh karena kesalahan dan kegagalan Anda, Anda tidak melihat banyak harapan di masa depan. Kabar baiknya adalah bahwa Tuhan dapat mengubahkan hidup Anda dan situasi Anda, apapun itu.

Kehidupan rohani kita mati sebelum kita menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi kita. Bahkan setelah kita menjadi orang percaya, kita masih memiliki sifat dosa dan membutuhkan Tuhan untuk mengubahkan kita.

Renungkanlah kehidupan rasul Paulus. Paulus yang bernama Saulus sebelum ia bertobat, menjadi teladan yang paling besar tentang perbedaan yang dihasilkan kasih karunia dalam kehidupan seseorang. Tujuannya dahulu untuk menghancurkan jemaat. Setelah ia bertobat, ia menyadari bahwa ia telah menimbulkan luka bagi banyak orang yang menunjuk dirinya sebagai orang yang paling berdosa (1 Tim 1:15).

Ia menyadari bahwa tanpa kasih karunia, ia adalah orang fasik yang tidak memiliki pengharapan. "Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semua itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu diluar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus." (1 Tim 1:13-14).

Saudara apakah Anda merasa tidak pantas karena masa lalu Anda? kebenarannya adalah bahwa Tuhan telah memberikan awal yang baru pada saat Anda minta untuk diselamatkan. Anda tidak perlu berkubang di dalam rasa malu sebagai akibat dari apa yang Anda pernah lakukan; kasih karunia Allah menjadikan Anda layak untuk melayani Dia. Apakah Anda bersedia untuk memberikan kendali hidup Anda kepada-Nya dan ikut kemanapun Ia akan menuntun Anda?


Oleh: Yuri Gunardi
Baca Selengkapnya...

Menjadi satu dengan kebangkitan-Nya

Surat Pastoral Minggu 29 April 2012.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. ( Rm 6:5 )

Bukti bahwa saya telah mengalami penyaliban bersama Yesus adalah bahwa saya mempunyai keserupaan dengan Dia. Roh Yesus masuk dan membentuk kembali hidup pribadi saya di hadapan Allah. Kebangkitan Yesus telah memberi Dia wewenang untuk memberi kehidupan Allah kepada saya, dan pengalaman hidup saya sekarang harus dibangun di atas dasar kehidupanNya. Saya dapat memiki hidup kebangkitan Yesus sekarang ini, dan hal itu akan terlihat dengan sendirinya melalui kesucian.

Gagasan yang terbentang di seluruh tulisan Paulus adalah sesudah kita dipersatukan dengan Yesus dalam kematianNya, hidup kebangkitan Yesus menembus ke dalam setiap bagian dari sifat manusia kita. Dibutuhkan kemahakuasaan Allah untuk menjalan kehidupan Yesus dalam tubuh manusia.

Roh Kudus tdak dapat diterima sebagai seorang tamu yang tinggal dalam sebuah kamar saja. Dia harus mengisi dan menguasai seluruh rumah; dan sekali saya memutuskan bahwa “manusia lama” saya ( yaitu dosa-dosa saya ) harus disatukan dengan kematian Yesus, maka Roh Kudus mengisi dan menguasai saya. Dia mengambil alih pimpinan di dalam segala sesuatu. Bagian saya adalah berjalan dalam terang dan mematuhi semua yang dinyatakanNya kepada saya.

Sekali saya mengambil keputusan penting tentang dosa itu, bahwa dosa harus dimatikan dan disalibkan di dalam tubuh saya, maka saya harus memandang dan mempunyai pola pikir bahwa saya sesungguhnya telah “ mati bagi dosa” dan hidup bagi Allah, dengan demikian saya menemukan kehidupan Yesus di dalam diri saya setiap hari sepanjang hidupku. ( Roma 6:11)

Dengan demikian kekudusan Kristus diberikan kepada saya, dan Roh Kudus menaruh Kekudusan dan Karakter Kristus di dalam diri saya, dan saya masuk dalam sebuah kehidupan rohani yang dinamis.

Oleh Pdt. Adhi Sutikno, SH
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 21 April 2012

Kesalehan Professional dan Kesalehan "Amateur"

Apa pandangan kita terhadap kata Amateur? Mungkin Anda dengan cepat menjawab : seorang Amateur adalah orang yang tidak cukup skill terhadap keahlian tertentu, atau orang yang kemampuannya terbatas, seorang pemula, kurang pengalaman, awam. Dan kata Professional dewasa ini dikenal sebagai antonym dari kata Amateur, padahal sesungguhnya kata Amateur bermakna sangat indah, yaitu sebuah kata yang berasal dari kata latin "amātor" yang bermakna “lover, devoted friend, devotee, enthusiastic pursuer of an objective”. Kata Amateur sungguh teramat jauh bergeser dari makna aslinya.

Robert Tyre Jones Jr. (1902 –1971), lebih dikenal dengan nama "Bobby Jones", ia adalah salah satu 'legenda' dalam olah-raga golf. Meski ia mempunyai bakat alam yang luar biasa, tetapi Bobby Jones tidak pernah bersedia untuk menjadi pegolf professional, ia hanya bersedia bertanding pada pertandingan-pertandingan amateur. Di lain pihak ia juga dikenal sebagai seorang insinyur, sastrawan dan pengacara. Ketika ditanya mengapa ia selalu menolak untuk menjadi seorang pegolf proffesional? Ia menjawab dengan tenang dan tersenyum bahwa ia mencintai golf dengan sungguh-sungguh, sebagaimana kata amateur itu akar-katanya ialah amore yang berarti 'cinta'. Dengan kata lain ia menyatakan tidak tergiur oleh kekayaan dari bertanding golf karena ia seorang yang cinta ("amateur") pada olah-raga golf. Kisahnya ini diangkat dalam sebuah Film dengan judul "Bobby Jones Stroke of Genius" yang dibintangi Jim Caviezel (pemeran JC dalam film The Passion of the Christ).

Seperti Bobby Jones, kita bisa melihat pada Alkitab, bahwa disana ada seorang tokoh yang dapat kita rujuk sebagai seorang penginjil "amateur", meski ia seorang ahli Kitab Suci, filsuf, dan penginjil yang hebat tak kenal lelah, ia pun memilih sebagai seorang "amateur" daripada menjadi seorang professional karena kecintaan yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Ia adalah Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 9:12-18 ia menulis sikap pribadinya dan tujuan pribadinya dalam melayani Yesus Kristus yang ia cintai:


* 1 Korintus 9:12-18
9:12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.
9:13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
9:14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.
9:15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.


Paulus melepaskan hak-haknya untuk menerima pemberian-pemberian dari jemaat-jemaatnya (ayat 15, 18), dan ia lebih suka menanggung segala sesuatu (ayat 12 bandingkan 1 Korintus 13:7), bahkan berjuang untuk menopang dirinya sendiri, ia tetap menjadi seorang pembuat kemah (Kisah 18:3), supaya ia jangan menjadi rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus (1 Korintus 4:11-13, Kisah 20:34-35). Dengan demikian ia menggunakan kebebasannya sebagai pengikut Kristus, bahwa tak satupun boleh menghalang-halangi (ayat 23), bahwa Injil Kristus harus ditawarkan dengan cuma-cuma (ayat 18 bandingkan 2 Korintus 11:7,9) sehingga tak seorangpun dapat menuduh bahwa Paulus mengajar untuk mendapatkan keuntungan pribadi (2 Korintus 6:3).

Dalam ayat 15, Paulus menekankan bahwa ia tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak seorang rasul/ pekabar Injil yang lazimnya menerima sesuatu dari jemaat untuk menyokong kehidupannya (1 Korintus 9:13), ia bahkan tidak menuntut upah atau dukungan materi dalam bentuk apapun (ayat 12). Paulus lebih memilih kemerdekaannya sehingga ia tidak pernah menjadi beban finansial bagi jemaatnya yang manapun (lihat 2 Korintus 11:7-11; 12:13; 1 Tesalonika 2:9, 2 Tesalonika 3:8).

Memberitakan Injil tanpa upah adalah pilihan Paulus untuk menjaga diri agar ia tetap murni dalam pelayanan yang mencintai ("amateur"), bukan karena profesi. Hal ini tentu saja bukan merupakan prinsip yang harus dikenakan kepada semua orang yang memberitakan Injil. Karena tindakan Paulus ini lebih merupakan sikap sukarela dari orang yang sekalipun berhak memperoleh sokongan, namun ia lebih memilih melayani Allahnya dengan cuma-cuma tidak menerima upah :


"Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil" (1 Korintus 9:18)


Penolakan kepada "upah" adalah kegirangan bagi Paulus dalam mengabarkan Injil Kristus. Tuhan Yesus pernah mengatakan kepada murid-murid-Nya yang sedang bersiap-siap keluar melaksanakan misi mereka "...Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Matius 10:8). Maka dalam hal ini sikap pribadi Rasul Paulus adalah sebagai cerminan bahwa ia menolak mengkompromikan Injil Kasih Karunia yang cuma-cuma itu dengan kegiatan pengabaran Injil yang menerima "upah". Sikap ini juga merupakan suatu penolakan/ ketidak-sukaannya terhadap suatu anggapan bahwa kesalehannya hanyalah kesalehan professional dimana seseorang menggantungkan nafkahnya dari situ. Maka ia melepaskan hak-haknya, dan ia memilih untuk menjadi seorang "amateur" dalam pekabaran Injil. Hal itu akan membuatnya lebih baik di mata banyak orang, dibandingkan para pengajar di zamannya, yaitu para filsuf moral yang mengajar dengan mendapat upah.

Idealisme yang dimiliki Rasul Paulus, meski keras, dan tidak bisa diterapkan kepada semua pelayan Tuhan, namun sikapnya ini bisa kita lihat sebagai suatu teladan yang baik. Barangkali kita sering kagum terhadap artis-artis rohani yang pandai menyanyi, bermusik, menciptakan lagu, menjual CD mereka, giat berkeliling dari satu gereja ke gereja lain, dari satu KKR ke KKR lain, dan kita memandang mereka "saleh", namun apakah kesalehan itu pasti besifat "amateur" (mencintai Tuhan) atau sekedar tuntutan "dapur" (professional), demikian juga para pengkhotbah masa kini, yang menuntut ini itu jika diundang datang berkhotbah, ticket pesawat first/ business class, akomodasi yang lux, penentuan honor minimum, apakah mereka saleh secara "amateur" atau hanya "saleh" dalam ranah profesi? Ini sulit ditentukan, karena orang yang bersangkutan sendirilah yang bisa menilai.

Sebagaimana Paulus yang juga memandang bahwa seorang penginjil mempunyai hak mendapat sesuatu untuk menopang kehidupannya (1 Korintus 9:13), maka seandainya ada diantara kita seorang penginjil yang secara profesi bergantung nafkah dari situ, ia harus menjadi seorang yang "professional amateur", yaitu seorang yang professional yang tetap mencintai pelayanannya kepada pekerjaan-pekerjaan Tuhan, sebagai hamba-hamba yang setia melayani "Tuan" kita di Surga.

Namun, pekerjaan-pekerjaan "gerejawi" itu seringkali hanya merupakan urusan duniawi, yang digunakan sebagai cara untuk mendapatkan kedudukan, tujuan, ambisi kekuasaan, ambisi untuk tampil/ popularitas dan nafkah pribadi seseorang. Dalam keadaan kemikian mereka mengikat-diri pada pelayanan secara professional saja tanpa cinta. Jikalau demikian apakah itu boleh disebut sebagai suatu pelayanan yang meng-hamba?. Dari kegiatan Paulus dalam penginjilannya "yang menolak upah", maka Paulus dengan sangat merdeka tanpa beban, sehingga ia dapat mengajarkan suatu kebenaran untuk menyampaikan otokritik terhadap pelayan-pelayan Tuhan dimasanya yang disamping melayani Tuhan tetapi juga berambisi terhadap mamon, ia menegor orang-orang yang "menjajakan" Firman Allah (2 Koritus 2:17). Kesalehan mereka bukan "amateur" (yang mencintai), tapi sekedar kesalehan professional!

Allah berkenan kepada seorang yang "amateur" yang sungguh mencintai-Nya dalam segala keadaan. Seperti pelayanan Paulus sebagai dampak suatu pertobatan yang total, setia dan menjadi "amateur" sampai mati (2 Timotius 4:7).

Amin.


Blessings in Christ,
Bagus Pramono
October 26, 2007

Sumber: Sarapanpagi.org
Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 April 2012

Kedatangan Anak Manusia

Surat Pastoral Minggu 22 April 2012

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia." Matius 24:37-39.

Salah satu topik yang cukup menggairahkan adalah mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali. Didalam peristiwa spektakuler ini orang percaya mendapatkan penebusannya secara penuh, dengan mengenakan tubuh kebangkitan dan kemudian tinggal bersama Kristus di dalam kerajaan-Nya selama-lamanya (Inilah pengharapan kita !). Saat ini tidak sedikit nabi palsu atau mesias-mesias palsu yang mengaku sebagai Yesus yang dinantikan itu. Namun Alkitab menegaskan agar kita waspada dan tidak terpengaruh karenanya, melainkan tetap setia melakukan tugas dan panggilan orang percaya (Matius 24:24).

Matius 24:37-39 menjelaskan masa kedatangan Yesus di muka bumi secara kasat mata di depan seluruh penduduk bumi: "sebagaimana zaman Nuh". Apa yang terjadi pada zaman Nuh? Penghukuman Tuhan melalui air bah. Peristiwa apa yang mendahului air bah? Pola dan gaya hidup manusia yang selalu berorientasikan hawa nafsu manusia, yaitu makan-minum dan kawin-mengawinkan. Ini berbicara mengenai karakter manusia duniawi yang gemar mengumbar hawa nafsu kedagingan yang meliputi keserakahan, materialisme, seksual, kekuasaan, kepahitan, percideraan, perpecahan dan penyembahan berhala. Segala yang rohani, yang suci dan yang benar sudah tidak menarik lagi ! Saat itu Yesus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya. Meskipun mengumbar hawa nafsu bukanlah nature orang percaya melainkan nature orang tidak percaya/dunia, namun Yesus bermaksud memberi rambu-rambu peringatan kepada murid-muridNya di segala zaman untuk benar-benar menjaga kualitas kehidupan rohani agar tidak tercemar dengan kegemaran duniawi tersebut !

Sebagai murid Kristus, kita bertanggung jawab untuk menampilkan citra dan martabat Kristus kepada lingkungan kita. Kita adalah garam dunia (Matius 5:13), namun jikalau garam menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan? Tidak akan ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang. Jika kita masih menggemari segala kesenangan duniawi tersebut, tidaklah mungkin kita dapat menjadi saksi dengan baik. Kita berkewajiban untuk membenci segala perbuatan dosa dan kesenangan duniawi, dan membuat garis pemisah yang tegas terhadapnya. Kiranya Tuhan membentuk kita menjadi mempelai-Nya yang tak bercacat cela dan layak bagi Dia! (hc)
Baca Selengkapnya...

Selasa, 10 April 2012

Membuat yang bersalah menjadi benar

Karya Yesus disalib memungkinkan terjadinya suatu transaksi yang mengherankan. Dia mati sebagai ganti kita. Dia membayar hukuman mati yang patut kita terima karena dosa-dosa kita. Hal ini tidak hanya memberi kita kesempatan kedua dengan Tuhan. Dia melakukan sesuatu yang lebih radikal. Paulus menjelaskan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.'(2 Korintus 5:21). Dengan demikian, Tuhan membuat kita tidak bersalah dengan menghapuskan setiap jejak pelanggaran dan ketidak-layakan kita. Kita kemudian menjadi kudus di mata-Nya.

Hal ini mungkin nampak terlalu radikal sampai Anda memikirkan apa arti sebenarnya. Tuhan tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita. Yesaya 61:10 mengatakan kepada kita bahwa Tuhan mengenakan jubah kekudusan kepada kita, yang Yesaya bandingkan dengan seorang pengantin perempuan dengan perhiasannya. Tuhan menyatakan bahwa kita tidak bersalah untuk segala sesuatu yang pernah kita lakukan, yang lalu, sekarang dan yang akan datang. Di mata-Nya, hidup kita semurni kehidupan Putra-Nya, Yesus. Pelanggaran dosa kita tidak hanya dihapuskan. Kita menjadi tak berdosa di hadapan Tuhan. Seolah-olah kita tidak pernah berdosa, tak peduli betapa buruknya masa lalu kita.

Sungguh luar biasa karya Yesus diatas kayu salib! Orang-orang yang telah menerima anugerah pembenaran ini, akan selalu punya kerinduan untuk hidup dalam kebenaran. Ia tidak akan menikmati dosa, sekalipun masih bisa berdosa. Ketika ia jatuh dalam dosa maka ia akan mengakuinya dan bertobat di hadapan Allah dan memilih menyesuaikan cara hidupnya dengan Firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus.

Terimalah dan hayatilah karya Yesus di atas salib itu, untuk membenarkan saudara dan mulailah berjalan di dalam kebenaran-Nya. Dia sudah mematahkan rantai-rantai dosa dan memberikan kemerdekaan untuk hidup dalam kebenaran untuk melayani-Nya.

Oleh Adhi Sutikno
Baca Selengkapnya...

Selasa, 03 April 2012

Mengenali janji-janji Tuhan

Engsel utama pemutar iman adalah: kita tidak perlu membayangkan bahwa janji-janji Tuhan itu benar secara obyektif, tetapi tidak berlaku dalam pengalaman kita secara subyektif. Kita harus membuat janji-janji itu berlaku untuk kita dengan meyakininya dalam hati kita - John Calvin.

Janji-janji Allah adalah dasar iman kita, dan kita memilikinya sebagai dasar iman kita, dan juga pengharapan kita. Di atas dasar iman inilah kita membangun semua harapan yang dari Tuhan, dan mendapatkan ketenteraman jiwa dalam setiap masalah dan pencobaan - Matthew Henry.

Allah sudah memberikan banyak sekali janji - untuk mengasihi kita tanpa syarat, memperhatikan kita, menyediakan segala yang kita perlukan menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Apakah Anda pikir Allah pernah melupakan salah satu janji-Nya? Tidak! Apa yang dijanjikannya akan digenapi karena seluruh kuasa Surga ada di belakang-Nya - Charles F Stanley.

Setiap janji yang pernah diberikan Tuhan mendapatkan pemenuhannya di dalam Yesus - Joni Eareckson Tada.

Abraham tidak pernah goyah dalam mempercayai janji Tuhan...Dia yakin sepenuhnya bahwa Allah dapat melakukan apapun yang dijanjikan-Nya. Dan karena imannya, Abraham diperhitungkan sebagai orang benar - Rasul Paulus, Roma 4:20-22.

Allah yang hidup itu ada; Dia berbicara di dalam Alkitab. Dia serius dengan perkataanNya dan akan melakukan semua yang dijanjikan-Nya - Hudson Taylor.

Kiranya janji-janji Tuhan menjadi nyata dalam segala persoalanmu - Corrie Ten Boom.
Baca Selengkapnya...

Kamis, 22 Maret 2012

Kasih SetiaNya besar (Mazmur 5:8)

Oleh Ir. Lilik Logari

Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua sisi kehidupan yang kurang sepadan nampaknya. Sebagian orang ingin hidup untuk percaya saja dan tidak menghendaki penderitaan sebagai akibat yang timbul dari kepercayaan, sebagian orang lain ingin menderita saja dan mengklaim suatu kebenaran bahwasanya penderitaanlah bukti apakah seseorang percaya atau tidak.

Beberapa ahli ilmu sosial percaya bahwa kemiskinan menjauhkan manusia dari Tuhan maksudnya ialah, didalam kemiskinan yang berlarut-larut, manusia bisa apatis dan tidak mau percaya kepada Allah yang Maha Kasih, sulit bagi mereka untuk bisa percaya berita bahwa Allah mengasihi mereka, bila mereka selalu menghadapi piring yang kosong dan dapur yang tak berasap, walau tak sedikit pula manusia yang kehilangan Tuhan, atau lebih tepat menghilang dari persekutuan, ketika segala kelimpahan memenuhi hidupnya dan kesuksesan menyapa dengan ramah, tidak punya lagi waktu untuk berdoa apalagi membaca Firman Tuhan.

Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua bidang kehidupan yang dianugerahkan Allah didalam pribadi Yesus Kristus, hidup untuk percaya adalah berkat utama dari proklamasi Injil, sementara percaya untuk menderita adalah miniatur atau berkat yang mengikuti berkat utama, dimana didalamnya Tuhan Yesus Kristus berdiri sebagai figur utama. Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua iklim kehidupan Kristen yang sama intensitasnya, karena hidup untuk percaya adalah kerinduan universal Allah terhadap dunia yang berarti bagi setiap orang yang meresponi Injil, tetapi percaya untuk menderita adalah peristiwa kedua setelah hidup untuk percaya menjadi bagian seseorang.

Jadi tidak benar bahwa setiap orang percaya pasti akan menderita, tetapi pada saat penderitaan itu datang sebagai akibat dari berita Injil, maka secara bersamaan hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita harus diterima sebagai dua momentum kehidupan yang sama dari segi kuantitas dan kualitas. Yang menjadi pertanyaan, mampukah jemaat dalam keadaan sulit dan gelap seperti itu mengatakan, "Mengucap syukurlah dan bersukacitalah kepada Tuhan" atau "Satu hal saja yang kuminta, agar ku dapat diam di rumah Tuhan".

Wah luar biasa, tidak seperti cinta manusia, kasih Tuhan itu kekal senantiasa. Kasih setia Tuhan selalu memenuhi hari-hari di sepanjang hidup kita, kita bisa bangun pagi, bernafas, bergerak, bekerja, makan dan menikmati rezeki yang menjadi bagian bagi kita, bukankah semua itu kasih setia Tuhan? Hidupkan kembali api kerinduanmu apabila telah padam, masuklah dan sujud menyembahlah dalam baitNya, karena kasih setiaNya besar.
Baca Selengkapnya...

Pertentangan tabiat lama dan hidup baru

Oleh Pdt. DR. Mardiharto.

Menurut firman Allah pada saat kita menerima Yesus Kristus, kita dilahirkan kembali dari Roh Allah. Kita menjadi ciptaan baru. Tabiat manusia lama yang dahulu dikuasai dosa, telah diganti dengan tabiat baru yang bersifat suci dan benar. Yesus telah masuk ke dalam hati kita dan sekarang menyertai kita. Hendaknya hidup kita menjadi sama seperti Dia.

"Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1 Yohanes 2:6).

Seringkali hidup baru kita tidak nyata, pengalaman kita sekalian agak mengecewakan. Kita sadar akan kegagalan untuk berjalan sehari-hari menurut hidup yang baru itu. Kita mengetahui bahwa dosa sering menguasai perbuatan kita. Tabiat lama masih menonjol, dan kebiasaan hidup kita jauh dari kesempurnaan yang dikehendaki Tuhan.

Apa yang menyebabkan kegagalan itu? Kita ingin berbuat yang baik dan sungguh berusaha hidup sesuai hidup baru di dalam Yesus. Bacalah Roma 7:18-20. Barangkali ini telah menjadi pengalaman saudara. Apa yang kehendaki, yaitu yang baik, tidak saudara lakukan. Seringkali apa yang saudara tidak kehendaki, yaitu yang jahat, saudara lakukan. Apa sebabnya? Ini terjadi karena tabiat lama, yaitu dosa, masih diam di dalam kita.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 11 Maret 2012

Dimuliakan di mata Allah

Surat Pastoral  Minggu 11 Maret 2012.


Salah satu kebutuhan ego manusia yang terbesar adalah kebutuhan untuk dihormati, dipuji dan disanjung, karena itu menimbulkan rasa bangga, dan rasa bangga itulah yang memberi kepuasan bagi ego. Kebutuhan seperti ini sudah menjadi bagian yang melekat dalam natur manusia yang cemar dosa, sehingga hal ini sudah menjadi kondisi umum, dan dianggap biasa. Tapi falsafah yang satu ini sama sekali tidak berlaku dalam relasi orang percaya dengan Tuhan, bahkan ketika disisipkan secara tersamar ke dalam konteks pelayanan. 

Hari itu, dalam konteks yang paling tidak cocok, Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan untuk diberikan tempat yang terhormat bersama dari catatan Injil Matius dinyatakan, bahwa Ibu kedua saudara itu sendiri juga ikut mengajukan permintaan tersebut kepada Tuhan. Kebutuhan akan kebanggaan diri telah menutup telinga untuk mendengar apa yang Tuhan sedang sampaikan kepada mereka, dan ketika Tuhan menjawab memberi penjelasan atas permintaan mereka itu, reaksi murid-murid lainnya pun lebih bernuansa rasa iri daripada menunjukkan bahwa mereka lebih baik dari kedua bersaudara itu.

Dalam latar belakang seperti itulah Tuhan mengajarkan suatu prinsip penting, prinsip dasar bagi setiap orang yang mau mengikut dan melayani Dia. Bahwa penatalayanan dalam Kerajaan Allah tidak dikerjakan dengan paradigma dunia, tapi secara bertolak belakang dengan bercontoh pada teladan hidup dan pelayanan Tuhan Yesus sendiri. Dunia memerintah dengan kuasa yang didapat lewat jabatan, relasi politik, kekayaan atau apa saja yang mengandung kekuatan, siapa yang semakin banyak mempunyai faktor-faktor itu, akan menjadi semakin "besar". Tetapi dalam konteks Kerajaan Allah, berlaku prinsip yang sebaliknya; seorang pelayan yang besar adalah orang yang memiliki hati, mental dan semangat seorang hamba. Tanpa memiliki semua itu, kita pasti akan terjebak dalam pemuasan ego, dan bukan sungguh-sungguh melayani Dia. Mari kita melayani Dia dengan hati yang penuh sukacita dan semangat yang menyala-nyala, semua bagi kemuliaanNya, penuh dengan kerendahan hati dan hati yang rela dibentuk.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 29 November 2011

Jangan Berhenti Melayani Karena Musibah

Setelah Uza mati karena memegang Tabut Tuhan yang tergelincir, Daud merasa sangat ketakutan. Suatu perasaan wajar karena ia berpikir jangan-jangan ia sendiri juga akan mati seperti Uza. Maka ia memutuskan untuk berhenti melayani Tuhan. Ia cuti untuk sementara waktu. Tapi itu bahasa halusnya. Bahasa kasarnya dia ngambek dengan TUHAN. Ia tidak mau peduli lagi dengan apapun mengenai pemindahan Tabut TUHAN. 

Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.

Betapa banyak orang Kristen seringkali merajuk dan ngambek dengan tidak lagi mau melayani karena persoalan atau musibah datang. Mereka mundur dan apatis. Tidak lagi mau memikirkan pelayanan Tuhan apalagi mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka minta cuti dan kalau bisa cuti panjang. Katanya istirahat dulu, tapi dalam hati tidak akan lagi melayani. Untung saja Tuhan baik dan tidak membiarkan jantung mereka cuti juga berdenyut. Sungguh Tuhan maha pengasih dan sangat penyayang sehingga DIA membiarkan umatNya yang mengalami persoalan itu bisa duduk dan berbaring sambil merenungkan masalah yang dialami dan mengambil hikmah dari sana.

Tuhan membiarkan Daud selama tiga bulan lamanya dalam keadaan terombang ambing dan perasaan yang campur aduk. Sampai kemudian Daud melihat bahwa kemarahannya, kesedihannya dan semua perasaannya itu tidak berpengaruh terhadap berkat yang Tuhan berikan bagi mereka yang melayani DIA. Meski Daud cuti tapi Tuhan tidak pernah cuti untuk membalaskan semua perbuatan baik umatNYA. Dia memberkati keluarga Obed Edom yang menerima dan memelihara tabut Tuhan itu di dalam rumahnya.

Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Semua perasaan Daud yang tadinya campur aduk dengan kesedihan hati bahkan marah kepada Tuhan berubah. Ia berpikir bahwa ia tidak harus terus-terusan dalam kondisi itu. Ia mesti bangkit dan melakukan lagi apa yang tadinya ia lakukan. Jika ia mau berkat Tuhan datang kepadanya maka ia harus bangkit, melupakan apa yang dibelakang dan berlari-lari pada hadiah yang Tuhan sudah sediakan. Daud bisa menangani musibah dengan benar bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda)

Sumber: terangdunia.com
Baca Selengkapnya...