Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Oktober 2014
PENGUDUSAN HIDUP
Roh Kudus yg ditaruh-Nya dalam diri kita sudah pasti setiap hari akan mendesak, menegor dan memberi kemampuan kita untuk hidup kudus sesuai standar kekudusan Sang Anak. Namun kalo kita sering tidak menggubris Roh Kudus maka lama-lama Beliau akan berduka dan akhirnya padam atau undur. Kalo diterusin bisa-bisa kita binasa dehh...
Alkitab menakdirkan kita bukan hanya supaya disebut dengan predikat kudus (pengudusan secara kedudukan) melainkan benar-benar menjadi kudus dalam realita seluruh aspek hidup kita (pengudusan melalui proses). Melakukan langkah pertama tanpa sungguh-sungguh melakukan langkah kedua sama saja dengan menghina dan menolak Roh Kudus.
1. Pengudusan dalam seluruh aspek-realita hidup merupakan tujuan mengapa Roh tersebut ditaruh Bapa di dalam hidup kita :
Rom_6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.
2. Kalau kita tidak bertekun di dalam pengejaran akan kekudusan maka tidak mungkin kita sampai kepada hidup kekal :
Rom_6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
3. Pengudusan dalam area percabulan, yaitu supaya jangankan melakukan beneran, hanya berpikir untuk melakukan pun sudah mendukakan Roh Kudus !
1Th 4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4. Kekudusan bukan sesuatu yg statis namun harus progresif sampai....sampai mencapai kesempurnaan sebagaimana teladan kehidupan kekudusan Kristus :
2Co_7:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
5. Kekudusan adalah suatu target yang hanya dapat dicapai jika kita MAU DIHAJAR oleh Roh-Nya :
Heb_12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
6. Kekudusan adalah sesuatu yang harus dikejar sampai kita mati atau sampai gambar dan rupa Sang Anak terlihat jelas :
Heb_12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.
7. Orang yang mau bertekun dihajar Roh Kudus dan Firman Allah supaya makin kudus dan berkenan akan menjadi orang-orang paling berbahagia di dunia dan akhirat karena akan diperkenankan melihat, menemukan, memahami dan bersahabat dengan Allah dalam dimensi rohani yang tak terbatas :
Mat 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
8. Bahkan Sang Anak sendiri harus membuktikan kesalehan dan kekudusan hidupNya agar semakin berkenan kepada Bapa-Nya dan agar doa dan ratap tangis-Nya di dengar oleh Bapa :
Heb_5:7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Kalau kita tidak mau meneladani dan mengikuti jejak kehidupan Sang Anak sudah pasti secara langsung atau tidak langsung kita sudah mengikuti Iblis.
Baca Selengkapnya...
Kamis, 16 Oktober 2014
YANG KACUNG SIAPA COBA: KITA ATAU TUHAN ?
Ada seorang majikan yang kaya mencari pembantu rumah tangga di pelosok desa. Akhirnya ia mendapatkannya dengan membayar sejumlah uang kompensasi kepada keluarga besarnya yang lumayan besar dengan maksud agar setelah bekerja pembantu tersebut sanggup melakukan semua yang majikan kehendaki. Tiba saatnya pembantu tersebut mulai bekerja namun belum mulai bekerja ternyata ia malah menuntut haknya sedemikian rupa terhadap majikannya :
"Nyah...tolong bon dulu separo gaji buat beli perlengkapan kosmetik",
"Nyah...tolong kasur di tempat tidur saya diganti yang lebih besar...",
"Nyah...tolong makanan saya diganti ya karena tidak cocok dengan selera saya...",
"Nyah...tolong kamar tidur saya dipindah ya karena yang ini terlalu sempit..."
"Nyah...tolong ini....tolong itu...."
Kita mungkin menertawakan kelakuan PRT tersebut, namun sudah lupakah kita bahwa sering tanpa sadar itulah cerminan sikap kita terhadap Tuhan Yesus yang telah menebus dan membeli hidup kita lunas dari hukum dosa dan hukum maut. Ia menebus dengan maksud supaya kita bisa dimiliki oleh-Nya sepenuhnya agar bisa diubah sesuai kehendak-Nya.
Jangankan melakukan kehendak Yang Menebus hidup kita, jika mengerti kehendak-Nya saja tidak. Jangankan mengerti, jika membaca dan menggali Alkitab saja tidak serius dilakukan. Sikap kekurangajaran terhadap Tuhan sesungguhnya tidak bisa ditolerir. Apabila sekarang kita anggap zaman anugerah merupakan zaman dimana anugerah Tuhan melimpah-limpah sehingga kita asumsikan bahwa Tuhan terlihat seperti diam saja atau seolah-olah mentolerir semua tindakan manusia maka hal itu sebenarnya tidaklah demikian.
Zaman anugerah malahan mengerikan sebenarnya karena Tuhan akan sering terlihat seperti diam seribu bahasa. Orang berkelakuan moral bejat bisa tetap eksis dalam pelayanan, semuanya berjalan dengan baik tanpa seorang pun tahu, dan ybs tetap kelihatannya diberkati dan dipakai Tuhan secara luar biasa pula, bahkan dalam nubuat, mujizat dan mengusir roh-roh jahat. Hal ini sangat mengerikan. Sebab itu Tuhan Yesus baru berterus terang ketika Ia datang sebagai hakim yang adil (Mat 7:21-23). Meski demikian bukan berarti sekarang 100% Tuhan bungkam karena kalau kita mau kita bisa mengintip Rapor bayangan kita apakah merah atau tidak?
Dengan menggali dan mengerti firman Kebenaran kita diijinkan mengintip rapor kita. Tuhan mengijinkan meminjamkan kacamata-Nya untuk meneropong hidup kita. Masalahnya hal ini tidak bisa dilakukan sambil lalu atau sebagai suplemen hidup saja. Kekristenan bukan suplemen atau sampingan, melainkan harus menyita seluruh aspek hidup kita. Usaha untuk mengerti kebenaran harus menyita seluruh hidup kita, jika tidak, kita takkan pernah bisa mengintip rapor bayangan Tuhan atas hidup kita. Jangan salahkan Tuhan jika nanti kita berakhir di kegelapan yang paling gelap dimana hanya dapat digambarkan dengan ratapan dan kertak gigi.
2Pet 2:9 maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman,
Jadi yang penting adalah melakukan tanggung jawab kita untuk mengerti dan melakukan kehendak Sang Tuan Pemilik hidup kita. Bukan minta tolong ini dan tolong itu yang menjadi fokus hidup karena kalau minta tolong tanpa landasan pikiran yang benar malah berpotensi meledek dan melecehkan Sang Tuan karena tanpa sadar kita menyamakannya sebagai "tukang ini dan tukang itu", tukang menolong atau tukang menjaga...atau kita sejajarkan Tuhan atau perlakukan Tuhan dengan mekanisme seperti orang berurusan dengan dukun.
Tidak usah diminta pun Tuhan akan menolong dan menjaga hidup kita, bahkan lebih dari yang kita minta dan pikirkan, asalkan hidup kita berkenan kepada Majikan kita. Jadi hal ini tidak perlu dipersoalkan. Yang benar-benar perlu dipersoalkan adalah : Apakah kita mengerti dan melakukan kehendak Majikan Agung kita? Itu saja.
Baca Selengkapnya...
Selasa, 14 Oktober 2014
PAKAIAN PESTA
Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
DALAM Perjanjian Baru Tuhan mengemukakan kisah mengenai seorang raja yang mengadakan pesta perjamuan (Mat. 22:1-14). Hal ini merupakan ilustrasi yang memuat pelajaran rohani yang sangat berharga. Raja tersebut mengundang tamu-tamu khususnya, tetapi tamu-tamu khususnya tidak menghargainya, bahkan membunuh dan menyiksa utusan-utusannya. Kemudian Raja tersebut memerintahkan hamba-hambanya mengundang siapa saja yang ditemui di jalan-jalan untuk datang ke pestanya.
Ketika Raja yang mengadakan pesta melihat ada tamu yang tidak memakai pakaian pesta, Raja itu mengusirnya dengan tegas. Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta bukanlah termasuk orang-orang jahat yang membunuh dan menyiksa utusan-utusan Raja, tamu tersebut juga sudah menghargai undangan Raja dengan datang ke pesta itu. Tetapi ternyata untuk memenuhi undangan tersebut bersyarat.
Barangkali tamu yang tidak memakai pakaian pesta berpikir bahwa Raja itu sangat baik dan pemurah, lagi pula ia sudah memenuhi undangan, pasti dirinya diterima. Tetapi ternyata tidak. Ia salah duga, karena tidak mengerti “aturan mainnya”. Aturan mainnya bukan dibuat oleh si tamu tetapi yang mengundang. Berarti tamu tersebut tidak mengenal Raja yang sangat memperhatikan tata krama atau kesantunan. Karena kebodohan ini tamu tersebut ditolak.
Di akhir perumpamaan ini Tuhan Yesus tegas sekali menyatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Pemilihan ini bukan berdasarkan kedaulatan Sang Raja, tetapi berdasarkan aturan yang sudah ada, bahwa tamu yang hadir dalam pesta haruslah mengenakan pakaian pesta yang pantas. Untuk ini masing-masing tamu undangan harus mempersiapkan diri. Ternyata untuk bisa masuk ke dalam pesta diperlukan respon yang sungguh-sungguh dan kontinyu dari para tamu undangan, sampai mereka mendapatkan dan mengenakan baju pesta mereka sendiri.
Raja tersebut tidak menyediakan pakaian pesta untuk tamu undangannya. Kalau Raja itu menyediakan pakaian pesta untuk tamu undangannya betapa jahatnya dia, ia tidak menyediakan pakaian pesta untuk tamu-tamu tertentu lalu ia mengusir orang yang tidak diberi pakaian pesta. Tentu Tuhan tidak demikian. Masing-masing orang percaya yang mendapat panggilan untuk menghadiri “pesta Anak Domba Allah”, yaitu pertemuan dengan Tuhan di Kerajaan-Nya.
Setiap orang percaya harus mengusahakan kesucian hidup sebagai pakaian pesta di Kerajaan Sorga. Hal ini adalah sesuatu yang sangat mutlak yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala sesuatu. Usaha ini harus dilakukan terus menerus tak kenal siang dan malam sampai seseorang menutup mata.
Apabila kita tidak mengenakan pakaian pesta, yaitu kesucian hidup atau komitmen serius untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus maka kita sudah pasti akan dibuang ke kegelapan paling dalam, dimana yang ada hanyalah ratap penyesalan dan kertak gigi.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Hal ini paralel atau sejajar dengan kebenaran yang diungkapkan Tuhan Yesus di dalam Matius 7:21-23 :
Mat 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Mat 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Kalau kita tidak merasa takut dan gentar dengan kebenaran yang dikumandangkan Tuhan Yesus ini, maka ada kemungkinan kita selama ini telah mendengar Injil yang tidak orisinil, yang hanya menyebabkan bertambahnya kebebalan dan ketulian rohani kita. Injil yang orisinil (utuh/asli) bukan saja memberi kita fasilitas-anugerah (Penebusan, Roh Kudus, Injil dan penggarapan Bapa), namun Injil yang orisinil pasti akan berdampak menarik, menyandra, menantang dan menawan kita untuk berkomitmen mengerjakan fasilitas-anugerah tersebut sampai tuntas, yaitu sampai gambar dan rupa Allah Anak menjadi nyata di dalam kita.
1Co 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri DITOLAK. (Paulus takut ditolak atau dianggap tidak berguna sehingga akhirnya dibuang / dicampakkan oleh Tuhan)
Php_2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa TAAT; karena itu TETAPLAH KERJAKAN keselamatanmu dengan TAKUT dan GENTAR, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.
1Pe 1:15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu SAMA SEPERTI Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
1Pe 1:16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
1Pe 1:17 Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu HIDUP DALAM KETAKUTAN selama kamu menumpang di dunia ini.
Tuhan memberkati !
Baca Selengkapnya...
Sabtu, 17 Desember 2011
Pengharapan di Tengah Ketakutan
Bagaimanakah jika Anda lahir dan hidup di zaman bangsa Anda sedang mengalami peperangan dan penindasan bangsa asing? Di tengah ketakutan dan kekuatiran, mampukah Anda memiliki pengharapan yang kuat? Beberapa ratus tahun lalu, pada masa itu Israel sedang dijajah oleh Romawi. Kekuasaan sipil dipegang oleh raja Herodes, yang bertanggung jawab atas pembantaian bayi-bayi di Betlehem.
Praktik keagamaan dijalankan secara legalistik dan keras. Belum lagi perekonomian yang dibebani pajak dan disedot kekayaannya secara tidak adil, mengakibatkan sebagian besar penduduk menanggung ketakutan dan penderitaan. Harapan akan kedatangan Sang Mesias yang membebaskan dan mengembalikan kejayaan rakyat Israel seperti pada zaman Daud, sangat besar pada waktu itu.
MALAIKAT GABRIEL DAN MARIA
Di sebuah kota kecil Nazaret, utusan Tuhan malaikat Gabriel datang kepada Maria: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus." (Lukas 1:30-31). Maria terkejut dan berkata: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34). Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atas-Mu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35). Mendengar berita tentang kelahiran Yesus, Maria percaya, meskipun rasanya tidak masuk akal. Maria percaya, walaupun menghadapi risiko dan ketakutan yang sangat besar. Di tengah pergumulan yang dialami, Maria tetap memiliki pengharapan. Pengharapan bahwa putra yang dikandungnya kelak akan menjadi Mesias bagi bangsanya, seperti nubuat Yesaya 9:5, ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Penulis kitab Matius percaya bahwa Imanuel yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya telah digenapi yaitu: kelahiran Yesus. Yesus lahir membawa pengharapan sejati.
PENGHARAPAN MENGHALAU KETAKUTAN
Peristiwa kelahiran Kristus di kota Betlehem atau peristiwa Natal ini merupakan perayaan yang penuh pengharapan. Di tengah pelbagai kesulitan yang tengah kita hadapi saat ini, Anda dan saya membutuhkan pengharapan. Sebagai orang percaya, pengharapan adalah ekspektasi yang teguh terhadap berkat Tuhan di masa yang akan datang (the confident expectation of the future blessing). Pengharapan adalah sesuatu yang luar biasa. Meski Anda tidak memiliki harta apapun, namun bila Anda memiliki pengharapan, Anda adalah orang yang sangat kaya. Dan jangan kuatir, harta, keberhasilan dan kebahagiaan sudah menanti di depan Anda. Namun jika Anda kehilangan pengharapan, maka harta sebanyak apapun tidak ada gunanya. Amsal 18:14 berkata, "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?". Bagaimana caranya untuk bisa bersemangat? Miliki pengharapan sejati dan kuat di dalam Kristus. Sesulit apapun hidup ini, Anda pasti bisa mengatasinya. Selain karena semangat yang akan menguatkan Anda, Yesus pun memberikan kekuatan, pengharapan dan kemampuan untuk menanggung segala sesuatu.
PILAR-PILAR KEKUATAN PENGHARAPAN
1. Karunia atau perkenan Tuhan (God’s favor). Dalam bulan yang ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (Lukas 1:26-29). Beroleh perkenan Tuhan berarti memperoleh penyertaan Tuhan. Berdoalah meminta penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup Anda.
2. Kasih karunia Tuhan (God’s grace). Kata malaikat itu: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Lukas 1:30). Anda dan saya akan beroleh belas kasih karunia Tuhan, jika kita memiliki hubungan yang erat melalui firman-Nya.
3. Rencana Tuhan (God’s plan). “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:31-33). Memegang janji firman-Nya merupakan kunci utama untuk memasuki rencana Tuhan.
4. Kuasa Tuhan (God’s power). “Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.“ (Lukas 1:34-35). Kuasa Tuhan diberikan bagi Anda dan saya saat kita menjalani rencana dan kehendak-Nya. Pastikan bahwa Anda kini hidup dalam ketetapan dan rencana Allah.
Sumber: http://gkpb.net Baca Selengkapnya...
Praktik keagamaan dijalankan secara legalistik dan keras. Belum lagi perekonomian yang dibebani pajak dan disedot kekayaannya secara tidak adil, mengakibatkan sebagian besar penduduk menanggung ketakutan dan penderitaan. Harapan akan kedatangan Sang Mesias yang membebaskan dan mengembalikan kejayaan rakyat Israel seperti pada zaman Daud, sangat besar pada waktu itu.
MALAIKAT GABRIEL DAN MARIA
Di sebuah kota kecil Nazaret, utusan Tuhan malaikat Gabriel datang kepada Maria: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus." (Lukas 1:30-31). Maria terkejut dan berkata: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34). Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atas-Mu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35). Mendengar berita tentang kelahiran Yesus, Maria percaya, meskipun rasanya tidak masuk akal. Maria percaya, walaupun menghadapi risiko dan ketakutan yang sangat besar. Di tengah pergumulan yang dialami, Maria tetap memiliki pengharapan. Pengharapan bahwa putra yang dikandungnya kelak akan menjadi Mesias bagi bangsanya, seperti nubuat Yesaya 9:5, ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Penulis kitab Matius percaya bahwa Imanuel yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya telah digenapi yaitu: kelahiran Yesus. Yesus lahir membawa pengharapan sejati.
PENGHARAPAN MENGHALAU KETAKUTAN
Peristiwa kelahiran Kristus di kota Betlehem atau peristiwa Natal ini merupakan perayaan yang penuh pengharapan. Di tengah pelbagai kesulitan yang tengah kita hadapi saat ini, Anda dan saya membutuhkan pengharapan. Sebagai orang percaya, pengharapan adalah ekspektasi yang teguh terhadap berkat Tuhan di masa yang akan datang (the confident expectation of the future blessing). Pengharapan adalah sesuatu yang luar biasa. Meski Anda tidak memiliki harta apapun, namun bila Anda memiliki pengharapan, Anda adalah orang yang sangat kaya. Dan jangan kuatir, harta, keberhasilan dan kebahagiaan sudah menanti di depan Anda. Namun jika Anda kehilangan pengharapan, maka harta sebanyak apapun tidak ada gunanya. Amsal 18:14 berkata, "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?". Bagaimana caranya untuk bisa bersemangat? Miliki pengharapan sejati dan kuat di dalam Kristus. Sesulit apapun hidup ini, Anda pasti bisa mengatasinya. Selain karena semangat yang akan menguatkan Anda, Yesus pun memberikan kekuatan, pengharapan dan kemampuan untuk menanggung segala sesuatu.
PILAR-PILAR KEKUATAN PENGHARAPAN
1. Karunia atau perkenan Tuhan (God’s favor). Dalam bulan yang ke-6, Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (Lukas 1:26-29). Beroleh perkenan Tuhan berarti memperoleh penyertaan Tuhan. Berdoalah meminta penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup Anda.
2. Kasih karunia Tuhan (God’s grace). Kata malaikat itu: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Lukas 1:30). Anda dan saya akan beroleh belas kasih karunia Tuhan, jika kita memiliki hubungan yang erat melalui firman-Nya.
3. Rencana Tuhan (God’s plan). “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:31-33). Memegang janji firman-Nya merupakan kunci utama untuk memasuki rencana Tuhan.
4. Kuasa Tuhan (God’s power). “Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.“ (Lukas 1:34-35). Kuasa Tuhan diberikan bagi Anda dan saya saat kita menjalani rencana dan kehendak-Nya. Pastikan bahwa Anda kini hidup dalam ketetapan dan rencana Allah.
Sumber: http://gkpb.net Baca Selengkapnya...
Senin, 05 Desember 2011
Pedoman Ketika Mendengar Suara Tuhan Tentang Jodoh
Banyak hubungan asmara di antara umat Kristen yang bersangkutan dengan nubuatan Tuhan mengenai pasangan hidup ataupun hal-hal seperti mendengar si A akan jadi pasangannya, mendengar Tuhan berkata di suatu tempat tertentu yang disebutkan, di sanalah ada jodoh kita. Atau mungkin kita mengalami suatu kejadian yang seolah-olah itu perkataan Tuhan. Namun, tidak semua nubuatan itu benar adanya. Untuk itu, berikut ini ada beberapa pedoman yang bisa dipakai untuk mengetahui benarkah itu suara Tuhan atau bukan.
Ujilah ‘suara Tuhan’ tersebut
Bagaimanapun bentuknya nubuatan itu, nubuatan atau suara Tuhan itu perlu kita uji, sebab Alkitab mengingatkan kita untuk ‘janganlah percaya pada setiap roh, tetapi ujilah’ (1 Yoh 4:1). Lalu bagaimana cara mengujinya? Menurut Ps. Bobby yang menjadi gembala di GBI Rahmat Emmanuel, jika jodoh itu berasal dari Tuhan, maka akan ada konfirmasi yang sama dari Tuhan pada kedua belah pihak. Cara-Nya berbicara tentu saja melalui berbagai macam jalan. Bisa dengan pewahyuan, suara Tuhan langsung, penglihatan, mimpi, nubuatan hamba Tuhan maupun dari firman Tuhan.
Ketertarikan yang alami harus ada
“Allah membangun dalam diri pria dan wanita keinginan dan potensi untuk mencintai, berpacaran, dan menikah. Rancangan Allah yang alami adalah pria dan wanita akan saling tertarik.” katanya. Ada damai sejahtera yang juga dirasakan. “Sebab tidak mungkin suatu perkawinan akan berlangsung langgeng bila tidak ada cinta. Allah adalah sumber kasih. Allah pasti akan memberikan rasa yang sama yang dirasakan kedua belah pihak, apabila nubuat yang diterima memang benar berasal dari Allah.” tambahnya lagi.
Panggilan rohani kedua belah pihak
“Namun, sebagai orang percaya, kita tahu bahwa perjodohan bukan hanya berbicara tentang ketertarikan fisik dan kecocokan pribadi, namun juga menyangkut aspek iman, yaitu saling memahami akan panggilan rohani dan pelayanan sampai akhir hidup nanti.” kata pendeta itu di dalam blognya. Karena itu, jika kedua belah pihak sudah mendapatkan konfirmasi yang sama, ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan yaitu pelayanan dan panggilan rohani kedua belah pihak.
Ada konfirmasi dari pihak ketiga yang kredibel
Indikator lainnya adalah adanya konfirmasi atau peneguhan dari hamba-hamba Tuhan, orang-orang yang peka dengan Tuhan, ataupun mungkin rhema yang diterima oleh masing-masing pihak yang sudah teruji.
Jika tidak mendengar suara Tuhan
Menurut seorang penulis Kristen, Roh Kudus jarang memakai nubuat untuk mengaktifkan jodoh dan mengarahkan seperti dengan siapa seseorang akan menikah. Namun, setiap orang Kristen yang mempertimbangkan pernikahan memerlukan suatu rhema pribadi dari Tuhan untuk mendatangkan keyakinan dan damai sejahtera mengenai pasangannya.
Faktor nubuat ataupun suara Tuhan tidak boleh dijadikan satu-satunya tolak ukur dalam mencari jodoh. Namun, ketika Anda merasa bahwa Tuhan memberikan nubuat mengenai jodoh kepada Anda, maka harus segera diuji. Tapi ingat, jangan memaksa Allah melakukannya melalui suatu cara tertentu seperti yang Anda inginkan. Tidak bisa juga memaksakan-Nya untuk memberikan nubuatan tentang jodoh. Dia bertindak sesuai kehendak dan rencana-Nya yang sempurna atas setiap pribadi.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Ujilah ‘suara Tuhan’ tersebut
Bagaimanapun bentuknya nubuatan itu, nubuatan atau suara Tuhan itu perlu kita uji, sebab Alkitab mengingatkan kita untuk ‘janganlah percaya pada setiap roh, tetapi ujilah’ (1 Yoh 4:1). Lalu bagaimana cara mengujinya? Menurut Ps. Bobby yang menjadi gembala di GBI Rahmat Emmanuel, jika jodoh itu berasal dari Tuhan, maka akan ada konfirmasi yang sama dari Tuhan pada kedua belah pihak. Cara-Nya berbicara tentu saja melalui berbagai macam jalan. Bisa dengan pewahyuan, suara Tuhan langsung, penglihatan, mimpi, nubuatan hamba Tuhan maupun dari firman Tuhan.
Ketertarikan yang alami harus ada
“Allah membangun dalam diri pria dan wanita keinginan dan potensi untuk mencintai, berpacaran, dan menikah. Rancangan Allah yang alami adalah pria dan wanita akan saling tertarik.” katanya. Ada damai sejahtera yang juga dirasakan. “Sebab tidak mungkin suatu perkawinan akan berlangsung langgeng bila tidak ada cinta. Allah adalah sumber kasih. Allah pasti akan memberikan rasa yang sama yang dirasakan kedua belah pihak, apabila nubuat yang diterima memang benar berasal dari Allah.” tambahnya lagi.
Panggilan rohani kedua belah pihak
“Namun, sebagai orang percaya, kita tahu bahwa perjodohan bukan hanya berbicara tentang ketertarikan fisik dan kecocokan pribadi, namun juga menyangkut aspek iman, yaitu saling memahami akan panggilan rohani dan pelayanan sampai akhir hidup nanti.” kata pendeta itu di dalam blognya. Karena itu, jika kedua belah pihak sudah mendapatkan konfirmasi yang sama, ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan yaitu pelayanan dan panggilan rohani kedua belah pihak.
Ada konfirmasi dari pihak ketiga yang kredibel
Indikator lainnya adalah adanya konfirmasi atau peneguhan dari hamba-hamba Tuhan, orang-orang yang peka dengan Tuhan, ataupun mungkin rhema yang diterima oleh masing-masing pihak yang sudah teruji.
Jika tidak mendengar suara Tuhan
Menurut seorang penulis Kristen, Roh Kudus jarang memakai nubuat untuk mengaktifkan jodoh dan mengarahkan seperti dengan siapa seseorang akan menikah. Namun, setiap orang Kristen yang mempertimbangkan pernikahan memerlukan suatu rhema pribadi dari Tuhan untuk mendatangkan keyakinan dan damai sejahtera mengenai pasangannya.
Faktor nubuat ataupun suara Tuhan tidak boleh dijadikan satu-satunya tolak ukur dalam mencari jodoh. Namun, ketika Anda merasa bahwa Tuhan memberikan nubuat mengenai jodoh kepada Anda, maka harus segera diuji. Tapi ingat, jangan memaksa Allah melakukannya melalui suatu cara tertentu seperti yang Anda inginkan. Tidak bisa juga memaksakan-Nya untuk memberikan nubuatan tentang jodoh. Dia bertindak sesuai kehendak dan rencana-Nya yang sempurna atas setiap pribadi.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Bos Wanita Galak? Ini Dia Alasannya...
Para wanita selama puluhan tahun telah berjuang dengan berbagai cara agar dapat mencapai posisi puncak yang dulu hanya diperuntukkan bagi pria. Tetapi keberhasilan mereka di dunia kerja telah memunculkan fenomena baru – boss wanita yang membawa “mimpi buruk”.
Para ahli mengungkapkan terjadinya peningkatan jumlah wanita yang berada dalam posisi penting dan menjadi pribadi yang mengintimidasi bagi rekan kerja maupun karyawannya.
Meskipun perilaku seperti ini lebih sering dikaitkan dengan boss pria, survei yang dilakukan oleh British Association of Anger Management mengungkapkan satu dari lima boss wanita mengakui bahwa mereka berteriak atau berkata kasar di tempat kerja.
10% wanita eksekutif mengakui bahwa mereka menyalahkan dan mempermalukan rekan kerja bila terjadi kesalahan.
Namun, hampir 90% dari mereka yang disurvei mengatakan telah mengalami peningkatan stres dengan lebih dari 60% di antaranya menunjuk manajemen perusahaan yang buruk sebagai alasan untuk kegelisahan mereka.
Mike Fisher, direktur dari asosiasi survei ini, mengatakan wanita yang berada di posisi puncak menghadapi masalah psikologis yang memiliki sejarah suram bagi para pria yang berada di posisi puncak.
Mike mengatakan, “Alasan utama dari peningkatan amarah adalah ketidakmampuan untuk menangani stres. Wanita cenderung lebih memperhatikan detail dibandingkan pria sehingga mereka terganggu dengan hal-hal yang kecil. Mereka bisa tiba-tiba menjadi marah dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyakitkan. Hal ini dapat ditafsirkan oleh rekan kerja mereka sebagai intimidasi.”
Jadi, bila boss Anda yang adalah seorang wanita sering marah-marah, Anda jangan ikut terpancing emosi. Karena sebenarnya dia sedang menderita karena tidak dapat mengatasi rasa stres yang menekan dan mendera hidupnya baik dalam lingkungan pekerjaan maupun kehidupan pribadinya.
Justru sebagai rekan kerja maupun bawahannya, Anda dapat menjadi teman bicara yang dapat membantunya mengatasi stres. Sehingga pada akhirnya secara tidak langsung Anda akan menjadi berkat di tempat kerja Anda.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Para ahli mengungkapkan terjadinya peningkatan jumlah wanita yang berada dalam posisi penting dan menjadi pribadi yang mengintimidasi bagi rekan kerja maupun karyawannya.
Meskipun perilaku seperti ini lebih sering dikaitkan dengan boss pria, survei yang dilakukan oleh British Association of Anger Management mengungkapkan satu dari lima boss wanita mengakui bahwa mereka berteriak atau berkata kasar di tempat kerja.
10% wanita eksekutif mengakui bahwa mereka menyalahkan dan mempermalukan rekan kerja bila terjadi kesalahan.
Namun, hampir 90% dari mereka yang disurvei mengatakan telah mengalami peningkatan stres dengan lebih dari 60% di antaranya menunjuk manajemen perusahaan yang buruk sebagai alasan untuk kegelisahan mereka.
Mike Fisher, direktur dari asosiasi survei ini, mengatakan wanita yang berada di posisi puncak menghadapi masalah psikologis yang memiliki sejarah suram bagi para pria yang berada di posisi puncak.
Mike mengatakan, “Alasan utama dari peningkatan amarah adalah ketidakmampuan untuk menangani stres. Wanita cenderung lebih memperhatikan detail dibandingkan pria sehingga mereka terganggu dengan hal-hal yang kecil. Mereka bisa tiba-tiba menjadi marah dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyakitkan. Hal ini dapat ditafsirkan oleh rekan kerja mereka sebagai intimidasi.”
Jadi, bila boss Anda yang adalah seorang wanita sering marah-marah, Anda jangan ikut terpancing emosi. Karena sebenarnya dia sedang menderita karena tidak dapat mengatasi rasa stres yang menekan dan mendera hidupnya baik dalam lingkungan pekerjaan maupun kehidupan pribadinya.
Justru sebagai rekan kerja maupun bawahannya, Anda dapat menjadi teman bicara yang dapat membantunya mengatasi stres. Sehingga pada akhirnya secara tidak langsung Anda akan menjadi berkat di tempat kerja Anda.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Rabu, 30 November 2011
Persembahan Persepuluhan Untuk Siapa?
Persembahan Persepuluhan Kepada Tuhan
Perdebatan tentang ajaran persepuluhan dikalangan teolog masih terus berlangsung. Ada kelompok yang berpendapat bahwa ajaran persepuluhan bukan merupakan ajaran yang harus dilakukan gereja karena ajaran itu diberikan kepada bangsa Israel. Ada pula kelompok yang mengajarkan bahwa perintah persepuluhan adalah mutlak bagi setiap orang percaya pada Yesus. Dua pandangan ini mendominasi dikalangan kelompok gereja injili. Di sisi lain ada pemimpin-pemimpin gereja yang sudah menyalahartikan dan menyalahgunakan persembahan persepuluhan untuk kepentingan pribadi. Namun ada juga pemimpin gereja merasa enggan membicarakan dan mengajarkan persembahan persepuluhan karena rasa takut dilabel sebagai pemimpin atau pendeta yang cinta uang. Ada suatu kesulitan bagi gereja tertentu untuk mengajar jemaatnya untuk memberi persembahan seperti ini. Sebagai akibatnya tidak jarang sebuah gereja meminta pengkhotbah undangan untuk mengkhotbahkan doktrin persepuluhan. Apa sikap-sikap seperti di atas layak dimiliki seorang gembala sidang? Apa yang diajarkan Alkitab tentang persembahan persepuluhan ini? Apakah doktrin persembahan persepuluhan merupakan perintah bagi gereja atau hanya bagi umat Israel di masa Perjanjian Lama? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam artikel ini.
DOKTRIN PERSEPULUHAN SEBELUM MASA ISRAEL
Benarkah anggapan banyak orang bahwa ajaran persepuluhan merupakan ajaran masa Hukum Taurat? Penyelidikan Alkitab akan mematahkan pandangan ini karena justru sebelum Adanya Alkitab atau Hukum Taurat, ajaran ini sudah diberikan Allah kepada Abraham. Pertama sekali kata “persepuluhan” muncul dalam Alkitab ada di Kejadian 14:20. Konteksnya berkenaan dengan peperangan antara raja Kdorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengannya melawan kerajaan-kerajaan di Sodom dan Gomora, dimana Lot dan keluarganya berdomisili. Lot dan keluarganya ditawan dan berita itu segera terdengar Abraham dari seorang pelarian yang memberitahukan kejadian.
“Ketika Abraham mendengar bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya” (Kej 14:14).
Abraham berhasil menyelamatkan Lot dan keluarganya serta harta bendanya (Kej 14:15). Pada masa itu Raja Salem (Yerusalem) yaitu Melkisedek, seorang imam Allah Yang Mahatinggi memberkati Abraham atas apa yang telah ia perbuat. Raja Salem itu berkata,
“Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.” (Kejadian 14:20).
Yang menjadi pertanyaan penting di sini adalah, dari manakah Abram mengetahui ajaran ini bahwa ketika ia diberkati Allah, ia harus memberikan persepuluhan kepada Tuhan? Seperti yang dijelaskan diatas pernyataan hal persembahan persepuluhan baru pertama kalinya dicatat dalam Alkitab dan pada masa Abraham, ia pun tidak memiliki Alkitab sebagai pendoman yang bisa ia pelajari.
Suatu asumsi yang bisa dianalisa dari kejadian ini adalah bahwa suatu ajaran itu didapatkan secara lisan turun-temurun dari orangtua dan nenek moyangnya, karena di masa itu belum ada catatan firman Allah. Bisa dipastikan bahwa Abraham mendapatkan ajaran itu dari Ayahnya, Terah, dan Terah mendapatkannya dari nenek moyangnya, Nuh, orang benar itu, dan seterusnya. Dan jika diurut terus maka akan sampai kepada Adam. Dengan kata lain meskipun tidak memiliki bukti tertulis, ajaran ini sudah ada sejak masa Adam. Perhatikanlah apa yang dilakukan salah satu anak Adam, yaitu Habel. Ia memberikan persembahan korban bakaran kepada Tuhan dan persembahannya diterima Tuhan (Kej 4:4). Tetapi jika diselidiki dengan seksama, kita tidak menemukan catatan dalam Alkitab sebelumnya yang membahas tentang cara dan jenis persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Hal ini hanya bisa diasumsikan bahwa ajaran itu diberikan Allah kepada Adam dan ia mengajarkannya kepada anak-anaknya.
Dalam Kejadian 18:12-15 terdapat kata “perpuluhan” untuk kedua kalinya dalam Alktiab yaitu tentang Yakub berjanji memberikan persepuluhan. Seperti yang kita ketahui Abraham adalah kakek Yakub, ayahnya Ishak. Hingga pada masa Yakub belum ada firman Tertulis, Alkitab, tetapi pengajaran masih seperti biasanya, diberikan secara turun temurun. Sang ayah bertanggungjawab mengajarkan kebenaran firman Allah kepada anak-anaknya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa Yakub bisa berjanji untuk memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengerti sedikit latarbelakang kejadian ini. Latarbelakangnya demikian, ketika Yakub melarikan diri dari Barsheba ke daerah Mesopotami, ke rumah pamannya, Laban, dalam perjalanannya menuju Haran, di suatu malam, di Betel, Yakub bermimpi,
Di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. . . . (Kej 28:12-15).
Lalu Yakub bernazar (berjanji) kepada Tuhan:
Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej 28:20-22).
Yakub sangat mengerti jika Tuhan memberkatinya, ia harus memberikan persembahan persepuluhan dari apa yang ia terima dari Tuhan. Tidak bisa dipungkiri ajaran ini menjadi ajaran yang sudah menjadi ajaran yang diturunkan secara turun temurun dan dari mulut ke mulut. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ajaran persembahan persepuluhan itu bukanlah ajaran yang didasarkan pada ajaran Hukum Taurat dimana Kitab Taurat diberikan dan dituliskan Musa 400 tahun setelah masa Yakub, yaitu ketika Israel keluar dari Mesir yang dipimpin oleh Musa.
Allah memberikan Hukum Taurat untuk Israel di padang gurun sebagai panduan bagi mereka ketika tiba nantinya di Tanah Perjanjian. Maka berdasarkan analisa ini, kita tidak salah jika kita mempercayai bahwa ajaran persembahan persepuluhan sudah ada sejak masa Adam. Jika demikian, itu berarti Allah menginginkan persembahan tersebut diberikan oleh setiap orang yang pernah hidup di dunia ini, terutama mereka yang telah percaya kepada Tuhan dan menjadi umat Tuhan. Bagaimana dengan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, apakah mereka wajib memberikan persembahan tersebut? Alkitab tidak mencatat lebih rinci tentang kelompok yang tidak percaya. Itu semua menjadi wewenang Tuhan tetapi mereka yang mengasihi Tuhan harus memperhatikan dan menuruti perintah Tuhan.
DOKTRIN PERSEPULUHAN DALAM HUKUM TAURAT
Setelah Allah memberkati Abraham dan keturunannya menjadi suatu bangsa yang besar (Kej 12:1-3), Allah memberikan firmanNya dalam bentu TULISAN untuk diajarkan yaitu hukum Taurat. Allah memakai Musa untuk menuliskan Hukum Taurat yaitu Kelima Buku Musa ketika bangsa Israel masih berada dalam perjalanan munuju tanah Kanaan, Tanah Perjanjian yang diberikan Allah kepada Israel. Dalam buku inilah, diperjelas bahwa setiap umat Israel, harus memberikan persepuluhan ke rumah Tuhan dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah. Orang Israel diperintahkan untuk memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan (Im 27:30-33; Bil 18:21, 24, 26, 28; Ul 12:6, 11, 12; 26:12).
Apa yang dicatat dalam ayat-ayat ini adalah suatu perintah yang akan dilakukan bangsa Israel ketika mereka tiba di tanah Kanaan. Semua keturunan Yakub akan mendapatkan tanah tempat mereka tinggal dan bercocok tanam serta memelihara ternak mereka. Hanya suku Lewi yang tidak memiliki wilayah khusus seperti suku-suku lain. Suku ini menjadi suku yang dikhususkan Allah untuk melayani Tuhan dibait Allah dan hidup disekitar bait Allah. Tetapi mereka tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam dan memelihara ternak. Hidup mereka sepenuhnya dipakai untuk mengurus rumah Tuhan dan melayani Tuhan. Itulah sebabnya persembahan persepuluhan yang diberikan suku-suku Israel ke rumah Tuhan merupakan hak suku Lewi. Mereka akan mendapatkan bagian dari persembahan tersebut namun demikian mereka juga harus memberikan persembahan persepuluhan mereka setelah mereka menerima bagian masing-masing. Tuhan berfirman,
“Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan” (Bil 18:21).
“Sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel” (Bil 28:24).
Butir persembahan persepuluhan ini, dimasukkan Allah sebagai bagian dari perintahNya untuk memperjelas ajaran yang telah diberikan Allah kepada Abram, Nuh, dan Adam. Dengan dituliskannya perintah persembahan persepuluhan ini, maka umat Israel tidak bisa berdalih untuk tidak melakukannya. Ajaran ini bukanlah perintah baru, tetapi perintah tertulis baru yang diberikan Allah ketika Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Allah telah memerintahkan dan umatNya harus melakukannya. Dengan demikian terlihat dengan jelas bahwa ajaran persembahan persepuluhan bukanlah ajaran yang hanya didasarkan oleh Hukum Taurat yang dikhususkan untuk umat Israel, karena jauh sebelum bangsa Israel ada, ajaran ini sudah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang percaya atau umat Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran kekal yang harus dilakukan hingga sekarang ini.
DOKTRIN PERSEPULUHAN DI MASA GEREJA
Apa yang diajarkan Kitab Perjanjian Baru tentang doktrin persepuluhan? Apakah gereja harus melakukan ajaran ini? Melihat penjelasan di atas sangat jelas bahwa ajaran ini tidak dikhususkan untuk kelompok tertentu tetapi suatu ajaran kekal yang harus dilakukan oleh mereka yang mengasihi Tuhan, mulai dari masa Adam hingga masa yang akan datang. Namun dalam hal ini sangat dibutuhkan penjelasan Yesus dan aplikasi pengajaran tersebut dalam kehidupan Kristen pada masa gereja mula-mula yaitu masa rasul-rasul.
Ajaran Yesus tentang Persepuluhan
Banyak orang berpikir bahwa Yesus tidak mengajarkan dan memerintahkan pengikutnya untuk memberikan persembahan persepuluhan karena tidak menemukan suatu ajaran atau tulisan yang ekplisit tentang itu. Namun jika diselidiki dengan seksama, sebenaranya Yesus sendiri selama pelayananNya sungguh-sungguh mengajarkan persembahan Persepuluhan. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Yesus datang untuk meluruskan banyak ajaran yang telah disalahgunakan dan dikesampingkan serta tidak dilakukan orang Israel masa itu. Itulah sebabnya Yesus sering menegur dan mendobrak ajaran, tradisi dan adat istiadat orang Israel yang bertentangan dengan ajaran firman Allah. Setiap ajaran yang tidak sejalan dengan apa yang Allah tuliskan dalam Alkitab akan diluruskan Yesus. Namun demikian kita harus ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengutak-atik ajaran persembahan persepuluhan karena ajaran itu harus dilakukan dan memang setiap orang Israel masa itu mengerti akan kewajiaban mereka untuk memberikan persembahan persepuluhan walaupun dilakukan secara formalitas dan dengan berbagai kesalahan dan kecurangan. Namun dalam pemikiran orang Israel, mereka wajib memberikan persembahan persepuluhan. Kesalahan yang dilakukan sekelompok orang membuat Yesus harus menyinggung ajaran ini, namun bukan untuk membatalkan atau meniadakan ajaran persembahan persepuluhan.
Coba baca Matius 22:15-22 dimana Yesus dicobai oleh orang-orang Farisi perihal membayar pajak kepada Kaisar. Orang-orang Farisi ingin menjebak Yesus dengan suatu pertanyaan, ketika mereka bertanya,
Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? (Matius 22:17).
Namun Yesus mengetahui isi hati mereka yang hanya ingin mencobai Yesus. Lalu Yesus menjawab,
Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (Mat 22:21).
Apa yang wajib diberikan kepada Allah yang berhubungan dengan konteks diatas? Jawabannya adalah persembahan persepuluhan karena persembahan ini merupakan yang wajib dilakukan umat Israel ditambah dengan persembahan khusus lainnya.
Pada kesempatan lain, Yesus menjelaskan ajaran ini, ketika Ia mengucapkan kata-kata kutuk kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus berkata,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23).
Dengan jelas ayat ini memberitahukan bahwa persembahan persepuluhan dan persembahan khusus lainnya memang harus diberikan (wajib) tetapi jangan mengabaikan hal keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Semua doktrin atau ajaran Alkitab harus diajarkan dan tidak bisa menonjolkan yang satu tetapi mengabaikan yang lain termasuk ajaran persembahan persepuluhan. Meskipun ajaran ini tidak secara gamblang diajarkan Yesus, gereja mula-mula mengetahui bahwa ajaran ini merupakan suatu ajaran mutlak yang wajib dilakukan gereja.
Persepuluhan di masa gereja mula-mula
Kisah Para Rasul 4:32-37 merupakan perikope penting yang tidak bisa diabaikan.
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Berdasarkan ayat-ayat diatas, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa persembahan persepuluhan merupakan ajaran yang telah dilaksanakan umat Tuhan pada masa gereja mula-mula. Hal ini sangat jelas terlihat dan dicatat dalam firman Allah, bahwa gereja mula-mula dengan kerelaan hati, mau mengembalikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan. Kisah 4:32-37 memberikan suatu teladan dan gambaran orang-orang percaya yang mengasihi Tuhan pada masa itu. Persembahan persepuluhan bukan merupakan suatu pilihan bagi orang Kristen tetapi keharusan yang disertai dengan kesadaran dan kerelaan untuk mengembalikannya kepada Tuhan. Pada kenyataannya, jemaat gereja mula-mula bukan hanya memberikan sepersepuluh dari berkat Tuhan yang diterima, tetapi memberikan lebih dari 10%; ada yang memberi 20%, 30%, 40%, 50% bahkan lebih daripada itu, seperti yang dicatat dalam Kisah 4:32-37. Mereka menjual harta milik mereka untuk diberikan kepada Tuhan yang kemudian dipergunakan untuk membantu jemaat yang miskin dan berkekurangan. Pengalaman seperti ini tentu sangat jarang dijumpai sekarang ini.
PERSEPULUHAN SEBAGAI BUKTI KASIH KEPADA TUHAN
Jika berbicara tentang dosa yang dilakukan umat Kristen di masa sekarang, mungkin dosa yang paling besar adalah dosa tidak mengembalikan persembahan Persepuluhan. Sering orang Kristen merasa berat untuk memberikan persembahan persepuluhan. Bahkan ada orang merasa, ia harus menjadi seorang yang kaya dulu, baru kemudian memberikan persembahan persepuluhan. Ia harus makmur dulu, baru kemudian mencari Tuhan. Permasalahan yang sangat mendasar dari orang-orang Kristen seperti ini adalah kasih mereka yang sudah semakin menipis (kecil) kepada Tuhan.
Namun di sisi lain, ada juga orang Kristen yang rajin memberikan persembahan persepuluhan dengan maksud untuk mendapatkan berkat yang lebih besar dari Tuhan. Tindakan seperti ini tentu sudah terkontaminasi oleh pengajaran yang tidak baik, khususnya pengajaran gereja tertentu dengan Teologia Sukses atau Teologia Kemakmuran. Mereka memberi bukan karena mengasihi Tuhan tetapi karena pendetanya mengajarkan bahwa jika mereka memberi lebih besar, mereka akan menerima lebih besar lagi dan jika memberi sedikit maka akan menerima sedikit pula. Unsur kasih tidak terdapat pada tindakan seperti ini. Justru ketika mereka tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikan, mereka akan menjadi orang Kristen yang murtad dan kecewa. Mereka akan meninggalkan gereja dan menganggap gereja itu pembohong besar. Orang-orang seperti ini sering ditipu oleh mereka yang menyalah-artikan dan menyalah-gunakan ajaran firman Allah. Mereka hanya mendengar apa yang dikhotbahkan tetapi tidak melihat apa yang diajarkan Alkitab.
Jika diselidiki lebih seksama, memberikan persepuluhan sebenarnya bukan memberi agar Tuhan senang kepada umatnya, tetapi karena persepuluhan itu merupakan hak Tuhan dan wajib diberikan. Itu adalah bagian Tuhan. Jika ingin mengatakan dengan istilah pemerintahan sebuah negara, itu hampir sama dengan pajak yang diberikan kepada pemerintah. Sebagai warga negara yang baik, ia harus membayar pajak karena itu kewajibannya dan bukan agar pemerintah senang terhadapnya. Tentu Tuhan tidak menginginkan umatnya memberikan persembahan persepuluhan seperti memberikan pajak kepada pemerintah. Tuhan ingin umatnya secara sadar mengembalikan persepuluhan karena mereka telah merasakan berkat dan kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Mereka sadar bahwa TUHAN adalah Allah mereka yang sangat mengasihi mereka.
Jadi ketika seseorang memberikan persembahan persepuluhan, sesungguhnya ia ingin mengungkapkan isi hatinya yang penuh dengan ucapan syukur. Dengan kata lain, memberikan persembahan persepuluhan itu merupakan bukti kasih orang percaya kepada Tuhan. Setiap pemberian kepada Tuhan harus selalu didasarkan atas kasih. Seandainya seseorang memberikan sejumlah uang kepada Tuhan, tentu ia mengasihi Tuhan lebih dari nilai uang yang telah diberikan kepada Tuhan. Jika ia lebih mengasihi sejumlah uang tersebut, tentu ia tidak akan memberikannya kepada Tuhan.
Ketika Allah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan memberikan tanah Kanaan sebagai warisan, mereka tidak menolak perintah persembahan persepuluhan. Mereka tahu bahwa kasih karunia Allah bagi mereka telah tak terhitung jumlahnya. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan, dan akan memasuki tanah perjanjian yang makmur. Jangankan sepuluh persen, bahkan sembilan puluh persen pun mereka tidak akan merasa keberatan karena apa yang akan mereka miliki semata-mata pemberian Allah. Kalau dibandingkan dengan keadaan bangsa Israel, orang Kristen sepatutnya memberikan persembahan bukan hanya sepuluh persen melainkan dua puluh persen atau bahkan lebih karena orang Kristen telah dibebaskan dari neraka dan mendapatkan hidup yang kekal dan sorga.
Apakah kasih seseorang lebih besar kepada persepuluhan daripada kepada Tuhan? Jika memang kasihnya lebih besar kepada Allah, sepatutnya ia tidak memiliki masalah untuk mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan. Justru ia harus merasa bersyukur karena bisa mengembalikan sebagian dari apa yang Tuhan berikan kepadanya. Jangan pernah merasa telah berjasa menolong Tuhan ketika memberikan persepuluhan. Jangan juga merasa telah berjasa menolong gereja ketika memberikan persepuluhan, tetapi justru sebaliknya, sadar bahwa itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagai umat Tuhan. Jika tidak mengembalikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan sepatutnya merasa malu menghadap hadirat Tuhan. Bahkan dihadapan Tuhan ia menjadi seorang pencuri (perampok) seperti yang dicatat Nabi Maleakhi dalam Maleakhi 3:8-10,
Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Kata “menipu” di sini memiliki pengertian “mencuri, merampas dan merampok.” Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bangsa Israel “telah kena kutuk.” Jangan beranggapan lagi bahwa ajaran ini hanya untuk umat Israel tetapi ajaran kekal yang harus dilakukan setiap umat Tuhan. Namun orang Kristen sering tidak perduli akan hal-hal rohani seperti itu, mereka lebih memilih menyenangkan hatinya. Ilustrasi dibawah ini mungkin bermanfaat untuk merefleksikan tingkat kerohanian pembaca dan sekaligus menilai seberapa besar kasihnya kepada Tuhan. Lihatlah apa anda memilih hal rohani atau duniawi:
“Apa yang paling mengganggu kamu”:
Seseorang tersesat di neraka. . . . atau satu goresan pada mobil baru kamu?
Tidak mengikuti kebaktian . . . . atau tidak masuk kerja satu hari?
Khotbah 10 menit lebih lama . . . . atau makan siang setengah jam lebih lama?
Gereja tidak bertumbuh . . . . atau taman (kebun) Anda tidak bertumbuh?
Tidak membaca Alkitab . . . . atau tidak membaca Koran?
Pelayanan gereja diabaikan . . . . atau pekerjaan rumah kamu diabaikan?
Tidak mengikuti persekutuan. . . . atau tidak nonton program TV favorit kamu?
Persepuluhan kamu menurun . . . . atau pendapatan/penghasilan kamu menurun? Anak kamu terlambat ke sekolah Minggu dan gereja . . . . atau terlambat ke sekolah umum?
Mana yang benar-benar mengganggu?
PENYALAHGUNAAN DOKTRIN PERSEPULUHAN
Bukan suatu rahasia lagi di kalangan umat Kristen jika persembahan persepuluhan sering dimanfaatkan pemimpin gereja tertentu. Berkenaan dengan kegunaan dari persembahan persepuluhan dalam gereja, ada tiga pandangan yang perlu ditelusuri di sini:
Pertama, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU MILIK PENDETA. Biasanya kelompok yang mempercayai pengajaran ini akan menafsirkan suku Lewi, penerima persembahan persepuluhan di Perjanjian Lama sama dengan Pendeta dalam gereja. Dengan demikian Pendeta mengklaim semua persembahan persepuluhan merupakan milik dan hak prerogatifnya. Dengan motif ini, maka tidak heran jika kelompok seperti ini cenderung ingin membuka gereja sendiri agar ia bisa mendapatkan hak ini. Semakin besar jumlah jemaatnya maka semakin besar uang yang akan didapatkan. Biasanya para asisten dan guru injilnya mendapatkan gaji atas kemurahan Pendetanya sebagai penerima persembahan persepuluhan tersebut. Itulah sebabnya terkadang terdengar pelaksanaan yang ekstrim dalam pemungutan persembahan ini. Bahkan ada yang mengawasi jemaatnya hingga pada penjualan kambing, si pendeta ikut ke pasar agar ia tahu jumlah harga jual kambing itu, dan ia langsung meminta sepersepuluh dari penjualannya. Ada juga yang menentukan minggu tertentu sebagai minggu pengumpulan persembahan persepuluhan dan ketika jemaat tertentu tidak hadir pada kebaktian itu, keesokan harinya pendetanya mengirimkan utusan ke rumah jemaat itu dengan membawa amplop persepuluhan agar dibayarkan. Bahkan karena ajaran itu sudah begitu alami hingga ketika jemaat beli sepuluh buah apel, satu biji apel menjadi milik pendeta dan diantarkan ke rumahnya. Kedengarannya memang aneh, tetapi itu telah dilakukan kelompok tertentu dan membuktikan bahwa ada penyimpangan mengenai persembahan persepuluhan ini.
Kedua, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU BUKAN SEPENUHNYA MILIK PENDETA. Hampir sama dengan kelompok pertama diatas, kelompok ini juga akan menyamakan pendeta dengan Suku Lewi yang menerima hak atas persembahan persepuluhan. Tetapi kelompok akan mengatakan bahwa pendeta hanya berhak mendapatkan sebelas enplop persepuluhan dari seluruh persembahan persepuluhan yang terkumpul. Sama seperti sebelas suku Israel membekali satu suku Lewi melalui persembahan persepuluhan. Pertanyaannya adalah, bagaimana pelaksanaan pengambilan enplop perpuluhan tersebut? Apakah pendetanya mengambil 11 enplop terbanyak setelah diketahui isinya atau mengambil secara acak sebelum membuka isinya, tentu itu menjadi ukuran internal gereja tersebut. Namun pola ini juga memiliki peluang untuk disalahgunakan.
Ketiga, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU SEPENUHNYA MILIK GEREJA. Biasanya gereja yang mempercayai ajaran ini akan mengumpulkan persembahan persepuluhan itu dan menyerahkannya kepada bendahara gereja untuk dicatat dan disimpan. Pendeta tidak memiliki hak atas persembahan persepuluhan tersebut. Pendeta, guru injil dan staf gereja lainnya mendapatkan gaji atau tunjangan sesuai dengan jumlah yang ditetapkan para penatua (majelis/diaken) gereja sesuai dengan jabatan, lamanya mengabdi, tugas yang diemban, jenjang pendidikan dan kebutuhan dasar pelayanannya. Dengan demikian persembahan persepuluhan, persembahan khusus (kolekte) dan persembahan ucapan syukur jemaat kepada Tuhan dikumpulkan untuk dipergunakan sebagai gaji para hamba Tuhan dan staf gereja serta menjadi modal untuk pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja. Dana itu juga dipakai untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan serta dana pembukaan pelayanan dan pengiriman misi, atau biaya program-program lainnya yang berhubungan dengan pelayanan gereja tersebut. Namun demikian, jemaat yang diberkati melalui pelayanan para hamba Tuhan dalam sebuah gereja masih tetap bisa memberikan persembahan khusus yang ditujukan langsung kepada hamba Tuhan tertentu. Persembahan sedemikian, biasanya akan diberikan langsung oleh bendahara gereja kepada hamba Tuhan yang namanya tertera dalam enplop tersebut jika persembahan itu dimasukkan ke dalam kantong persembahan gereja.
Berdasarkan analisa penulis, kelompok ketiga ini lebih alkitabiah karena dua kelompok terdahulu tidak memiliki dasar untuk menyamakan pendeta dengan suku Lewi. Bayangkan jika sebuah jemaat terdiri dari 5,000 jemaat yang setia memberikan persepuluhan, pendeta itu akan menjadi seorang millionare. Tuhan tidak pernah menjadikan gereja menjadi ladang kekayaan. Petrus yang sering dikatakan sebagai pemimpin rasul di masa gereja mula-mula, yang ketika ia berkhotbah, 3,000 orang bertobat tidak memberikan indikasi bahwa ia pewaris persembahan persepuluhan jemaat Yerusalem masa itu. Ia justru memilih pergi meninggalkan Yerusalem dan gereja besar itu dan memberitakan injil ke luar daerah. Kisah Para Rasul 4:32-37 yang merupakan cara hidup jemaat mula-mula, tidak mencerminkan persembahan jemaat merupakan hak milik para pemimpin gereja tersebut, tetapi semua persembahan dipergunakan untuk kegiatan kerohanian dan kemajuan pemberitaan Injil.
Berilah persembahan persepuluhan kepada Tuhan sebagai bukti kasih kamu kepada Kristus yang telah mengasihi dan menyelamatkan serta memberkati kamu. Berilah persembahan persepuluhan sebagai bukti ketaatan kamu kepada perintah Tuhan.
Sumber: http://dedewijaya.wordpress.com Baca Selengkapnya...
Perdebatan tentang ajaran persepuluhan dikalangan teolog masih terus berlangsung. Ada kelompok yang berpendapat bahwa ajaran persepuluhan bukan merupakan ajaran yang harus dilakukan gereja karena ajaran itu diberikan kepada bangsa Israel. Ada pula kelompok yang mengajarkan bahwa perintah persepuluhan adalah mutlak bagi setiap orang percaya pada Yesus. Dua pandangan ini mendominasi dikalangan kelompok gereja injili. Di sisi lain ada pemimpin-pemimpin gereja yang sudah menyalahartikan dan menyalahgunakan persembahan persepuluhan untuk kepentingan pribadi. Namun ada juga pemimpin gereja merasa enggan membicarakan dan mengajarkan persembahan persepuluhan karena rasa takut dilabel sebagai pemimpin atau pendeta yang cinta uang. Ada suatu kesulitan bagi gereja tertentu untuk mengajar jemaatnya untuk memberi persembahan seperti ini. Sebagai akibatnya tidak jarang sebuah gereja meminta pengkhotbah undangan untuk mengkhotbahkan doktrin persepuluhan. Apa sikap-sikap seperti di atas layak dimiliki seorang gembala sidang? Apa yang diajarkan Alkitab tentang persembahan persepuluhan ini? Apakah doktrin persembahan persepuluhan merupakan perintah bagi gereja atau hanya bagi umat Israel di masa Perjanjian Lama? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam artikel ini.
DOKTRIN PERSEPULUHAN SEBELUM MASA ISRAEL
Benarkah anggapan banyak orang bahwa ajaran persepuluhan merupakan ajaran masa Hukum Taurat? Penyelidikan Alkitab akan mematahkan pandangan ini karena justru sebelum Adanya Alkitab atau Hukum Taurat, ajaran ini sudah diberikan Allah kepada Abraham. Pertama sekali kata “persepuluhan” muncul dalam Alkitab ada di Kejadian 14:20. Konteksnya berkenaan dengan peperangan antara raja Kdorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengannya melawan kerajaan-kerajaan di Sodom dan Gomora, dimana Lot dan keluarganya berdomisili. Lot dan keluarganya ditawan dan berita itu segera terdengar Abraham dari seorang pelarian yang memberitahukan kejadian.
“Ketika Abraham mendengar bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya” (Kej 14:14).
Abraham berhasil menyelamatkan Lot dan keluarganya serta harta bendanya (Kej 14:15). Pada masa itu Raja Salem (Yerusalem) yaitu Melkisedek, seorang imam Allah Yang Mahatinggi memberkati Abraham atas apa yang telah ia perbuat. Raja Salem itu berkata,
“Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.” (Kejadian 14:20).
Yang menjadi pertanyaan penting di sini adalah, dari manakah Abram mengetahui ajaran ini bahwa ketika ia diberkati Allah, ia harus memberikan persepuluhan kepada Tuhan? Seperti yang dijelaskan diatas pernyataan hal persembahan persepuluhan baru pertama kalinya dicatat dalam Alkitab dan pada masa Abraham, ia pun tidak memiliki Alkitab sebagai pendoman yang bisa ia pelajari.
Suatu asumsi yang bisa dianalisa dari kejadian ini adalah bahwa suatu ajaran itu didapatkan secara lisan turun-temurun dari orangtua dan nenek moyangnya, karena di masa itu belum ada catatan firman Allah. Bisa dipastikan bahwa Abraham mendapatkan ajaran itu dari Ayahnya, Terah, dan Terah mendapatkannya dari nenek moyangnya, Nuh, orang benar itu, dan seterusnya. Dan jika diurut terus maka akan sampai kepada Adam. Dengan kata lain meskipun tidak memiliki bukti tertulis, ajaran ini sudah ada sejak masa Adam. Perhatikanlah apa yang dilakukan salah satu anak Adam, yaitu Habel. Ia memberikan persembahan korban bakaran kepada Tuhan dan persembahannya diterima Tuhan (Kej 4:4). Tetapi jika diselidiki dengan seksama, kita tidak menemukan catatan dalam Alkitab sebelumnya yang membahas tentang cara dan jenis persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Hal ini hanya bisa diasumsikan bahwa ajaran itu diberikan Allah kepada Adam dan ia mengajarkannya kepada anak-anaknya.
Dalam Kejadian 18:12-15 terdapat kata “perpuluhan” untuk kedua kalinya dalam Alktiab yaitu tentang Yakub berjanji memberikan persepuluhan. Seperti yang kita ketahui Abraham adalah kakek Yakub, ayahnya Ishak. Hingga pada masa Yakub belum ada firman Tertulis, Alkitab, tetapi pengajaran masih seperti biasanya, diberikan secara turun temurun. Sang ayah bertanggungjawab mengajarkan kebenaran firman Allah kepada anak-anaknya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa Yakub bisa berjanji untuk memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengerti sedikit latarbelakang kejadian ini. Latarbelakangnya demikian, ketika Yakub melarikan diri dari Barsheba ke daerah Mesopotami, ke rumah pamannya, Laban, dalam perjalanannya menuju Haran, di suatu malam, di Betel, Yakub bermimpi,
Di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. . . . (Kej 28:12-15).
Lalu Yakub bernazar (berjanji) kepada Tuhan:
Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej 28:20-22).
Yakub sangat mengerti jika Tuhan memberkatinya, ia harus memberikan persembahan persepuluhan dari apa yang ia terima dari Tuhan. Tidak bisa dipungkiri ajaran ini menjadi ajaran yang sudah menjadi ajaran yang diturunkan secara turun temurun dan dari mulut ke mulut. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ajaran persembahan persepuluhan itu bukanlah ajaran yang didasarkan pada ajaran Hukum Taurat dimana Kitab Taurat diberikan dan dituliskan Musa 400 tahun setelah masa Yakub, yaitu ketika Israel keluar dari Mesir yang dipimpin oleh Musa.
Allah memberikan Hukum Taurat untuk Israel di padang gurun sebagai panduan bagi mereka ketika tiba nantinya di Tanah Perjanjian. Maka berdasarkan analisa ini, kita tidak salah jika kita mempercayai bahwa ajaran persembahan persepuluhan sudah ada sejak masa Adam. Jika demikian, itu berarti Allah menginginkan persembahan tersebut diberikan oleh setiap orang yang pernah hidup di dunia ini, terutama mereka yang telah percaya kepada Tuhan dan menjadi umat Tuhan. Bagaimana dengan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, apakah mereka wajib memberikan persembahan tersebut? Alkitab tidak mencatat lebih rinci tentang kelompok yang tidak percaya. Itu semua menjadi wewenang Tuhan tetapi mereka yang mengasihi Tuhan harus memperhatikan dan menuruti perintah Tuhan.
DOKTRIN PERSEPULUHAN DALAM HUKUM TAURAT
Setelah Allah memberkati Abraham dan keturunannya menjadi suatu bangsa yang besar (Kej 12:1-3), Allah memberikan firmanNya dalam bentu TULISAN untuk diajarkan yaitu hukum Taurat. Allah memakai Musa untuk menuliskan Hukum Taurat yaitu Kelima Buku Musa ketika bangsa Israel masih berada dalam perjalanan munuju tanah Kanaan, Tanah Perjanjian yang diberikan Allah kepada Israel. Dalam buku inilah, diperjelas bahwa setiap umat Israel, harus memberikan persepuluhan ke rumah Tuhan dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah. Orang Israel diperintahkan untuk memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan (Im 27:30-33; Bil 18:21, 24, 26, 28; Ul 12:6, 11, 12; 26:12).
Apa yang dicatat dalam ayat-ayat ini adalah suatu perintah yang akan dilakukan bangsa Israel ketika mereka tiba di tanah Kanaan. Semua keturunan Yakub akan mendapatkan tanah tempat mereka tinggal dan bercocok tanam serta memelihara ternak mereka. Hanya suku Lewi yang tidak memiliki wilayah khusus seperti suku-suku lain. Suku ini menjadi suku yang dikhususkan Allah untuk melayani Tuhan dibait Allah dan hidup disekitar bait Allah. Tetapi mereka tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam dan memelihara ternak. Hidup mereka sepenuhnya dipakai untuk mengurus rumah Tuhan dan melayani Tuhan. Itulah sebabnya persembahan persepuluhan yang diberikan suku-suku Israel ke rumah Tuhan merupakan hak suku Lewi. Mereka akan mendapatkan bagian dari persembahan tersebut namun demikian mereka juga harus memberikan persembahan persepuluhan mereka setelah mereka menerima bagian masing-masing. Tuhan berfirman,
“Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan” (Bil 18:21).
“Sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel” (Bil 28:24).
Butir persembahan persepuluhan ini, dimasukkan Allah sebagai bagian dari perintahNya untuk memperjelas ajaran yang telah diberikan Allah kepada Abram, Nuh, dan Adam. Dengan dituliskannya perintah persembahan persepuluhan ini, maka umat Israel tidak bisa berdalih untuk tidak melakukannya. Ajaran ini bukanlah perintah baru, tetapi perintah tertulis baru yang diberikan Allah ketika Musa memimpin Israel keluar dari Mesir. Allah telah memerintahkan dan umatNya harus melakukannya. Dengan demikian terlihat dengan jelas bahwa ajaran persembahan persepuluhan bukanlah ajaran yang hanya didasarkan oleh Hukum Taurat yang dikhususkan untuk umat Israel, karena jauh sebelum bangsa Israel ada, ajaran ini sudah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang percaya atau umat Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran kekal yang harus dilakukan hingga sekarang ini.
DOKTRIN PERSEPULUHAN DI MASA GEREJA
Apa yang diajarkan Kitab Perjanjian Baru tentang doktrin persepuluhan? Apakah gereja harus melakukan ajaran ini? Melihat penjelasan di atas sangat jelas bahwa ajaran ini tidak dikhususkan untuk kelompok tertentu tetapi suatu ajaran kekal yang harus dilakukan oleh mereka yang mengasihi Tuhan, mulai dari masa Adam hingga masa yang akan datang. Namun dalam hal ini sangat dibutuhkan penjelasan Yesus dan aplikasi pengajaran tersebut dalam kehidupan Kristen pada masa gereja mula-mula yaitu masa rasul-rasul.
Ajaran Yesus tentang Persepuluhan
Banyak orang berpikir bahwa Yesus tidak mengajarkan dan memerintahkan pengikutnya untuk memberikan persembahan persepuluhan karena tidak menemukan suatu ajaran atau tulisan yang ekplisit tentang itu. Namun jika diselidiki dengan seksama, sebenaranya Yesus sendiri selama pelayananNya sungguh-sungguh mengajarkan persembahan Persepuluhan. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Yesus datang untuk meluruskan banyak ajaran yang telah disalahgunakan dan dikesampingkan serta tidak dilakukan orang Israel masa itu. Itulah sebabnya Yesus sering menegur dan mendobrak ajaran, tradisi dan adat istiadat orang Israel yang bertentangan dengan ajaran firman Allah. Setiap ajaran yang tidak sejalan dengan apa yang Allah tuliskan dalam Alkitab akan diluruskan Yesus. Namun demikian kita harus ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengutak-atik ajaran persembahan persepuluhan karena ajaran itu harus dilakukan dan memang setiap orang Israel masa itu mengerti akan kewajiaban mereka untuk memberikan persembahan persepuluhan walaupun dilakukan secara formalitas dan dengan berbagai kesalahan dan kecurangan. Namun dalam pemikiran orang Israel, mereka wajib memberikan persembahan persepuluhan. Kesalahan yang dilakukan sekelompok orang membuat Yesus harus menyinggung ajaran ini, namun bukan untuk membatalkan atau meniadakan ajaran persembahan persepuluhan.
Coba baca Matius 22:15-22 dimana Yesus dicobai oleh orang-orang Farisi perihal membayar pajak kepada Kaisar. Orang-orang Farisi ingin menjebak Yesus dengan suatu pertanyaan, ketika mereka bertanya,
Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? (Matius 22:17).
Namun Yesus mengetahui isi hati mereka yang hanya ingin mencobai Yesus. Lalu Yesus menjawab,
Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (Mat 22:21).
Apa yang wajib diberikan kepada Allah yang berhubungan dengan konteks diatas? Jawabannya adalah persembahan persepuluhan karena persembahan ini merupakan yang wajib dilakukan umat Israel ditambah dengan persembahan khusus lainnya.
Pada kesempatan lain, Yesus menjelaskan ajaran ini, ketika Ia mengucapkan kata-kata kutuk kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus berkata,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23).
Dengan jelas ayat ini memberitahukan bahwa persembahan persepuluhan dan persembahan khusus lainnya memang harus diberikan (wajib) tetapi jangan mengabaikan hal keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Semua doktrin atau ajaran Alkitab harus diajarkan dan tidak bisa menonjolkan yang satu tetapi mengabaikan yang lain termasuk ajaran persembahan persepuluhan. Meskipun ajaran ini tidak secara gamblang diajarkan Yesus, gereja mula-mula mengetahui bahwa ajaran ini merupakan suatu ajaran mutlak yang wajib dilakukan gereja.
Persepuluhan di masa gereja mula-mula
Kisah Para Rasul 4:32-37 merupakan perikope penting yang tidak bisa diabaikan.
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Berdasarkan ayat-ayat diatas, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa persembahan persepuluhan merupakan ajaran yang telah dilaksanakan umat Tuhan pada masa gereja mula-mula. Hal ini sangat jelas terlihat dan dicatat dalam firman Allah, bahwa gereja mula-mula dengan kerelaan hati, mau mengembalikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan. Kisah 4:32-37 memberikan suatu teladan dan gambaran orang-orang percaya yang mengasihi Tuhan pada masa itu. Persembahan persepuluhan bukan merupakan suatu pilihan bagi orang Kristen tetapi keharusan yang disertai dengan kesadaran dan kerelaan untuk mengembalikannya kepada Tuhan. Pada kenyataannya, jemaat gereja mula-mula bukan hanya memberikan sepersepuluh dari berkat Tuhan yang diterima, tetapi memberikan lebih dari 10%; ada yang memberi 20%, 30%, 40%, 50% bahkan lebih daripada itu, seperti yang dicatat dalam Kisah 4:32-37. Mereka menjual harta milik mereka untuk diberikan kepada Tuhan yang kemudian dipergunakan untuk membantu jemaat yang miskin dan berkekurangan. Pengalaman seperti ini tentu sangat jarang dijumpai sekarang ini.
PERSEPULUHAN SEBAGAI BUKTI KASIH KEPADA TUHAN
Jika berbicara tentang dosa yang dilakukan umat Kristen di masa sekarang, mungkin dosa yang paling besar adalah dosa tidak mengembalikan persembahan Persepuluhan. Sering orang Kristen merasa berat untuk memberikan persembahan persepuluhan. Bahkan ada orang merasa, ia harus menjadi seorang yang kaya dulu, baru kemudian memberikan persembahan persepuluhan. Ia harus makmur dulu, baru kemudian mencari Tuhan. Permasalahan yang sangat mendasar dari orang-orang Kristen seperti ini adalah kasih mereka yang sudah semakin menipis (kecil) kepada Tuhan.
Namun di sisi lain, ada juga orang Kristen yang rajin memberikan persembahan persepuluhan dengan maksud untuk mendapatkan berkat yang lebih besar dari Tuhan. Tindakan seperti ini tentu sudah terkontaminasi oleh pengajaran yang tidak baik, khususnya pengajaran gereja tertentu dengan Teologia Sukses atau Teologia Kemakmuran. Mereka memberi bukan karena mengasihi Tuhan tetapi karena pendetanya mengajarkan bahwa jika mereka memberi lebih besar, mereka akan menerima lebih besar lagi dan jika memberi sedikit maka akan menerima sedikit pula. Unsur kasih tidak terdapat pada tindakan seperti ini. Justru ketika mereka tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikan, mereka akan menjadi orang Kristen yang murtad dan kecewa. Mereka akan meninggalkan gereja dan menganggap gereja itu pembohong besar. Orang-orang seperti ini sering ditipu oleh mereka yang menyalah-artikan dan menyalah-gunakan ajaran firman Allah. Mereka hanya mendengar apa yang dikhotbahkan tetapi tidak melihat apa yang diajarkan Alkitab.
Jika diselidiki lebih seksama, memberikan persepuluhan sebenarnya bukan memberi agar Tuhan senang kepada umatnya, tetapi karena persepuluhan itu merupakan hak Tuhan dan wajib diberikan. Itu adalah bagian Tuhan. Jika ingin mengatakan dengan istilah pemerintahan sebuah negara, itu hampir sama dengan pajak yang diberikan kepada pemerintah. Sebagai warga negara yang baik, ia harus membayar pajak karena itu kewajibannya dan bukan agar pemerintah senang terhadapnya. Tentu Tuhan tidak menginginkan umatnya memberikan persembahan persepuluhan seperti memberikan pajak kepada pemerintah. Tuhan ingin umatnya secara sadar mengembalikan persepuluhan karena mereka telah merasakan berkat dan kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Mereka sadar bahwa TUHAN adalah Allah mereka yang sangat mengasihi mereka.
Jadi ketika seseorang memberikan persembahan persepuluhan, sesungguhnya ia ingin mengungkapkan isi hatinya yang penuh dengan ucapan syukur. Dengan kata lain, memberikan persembahan persepuluhan itu merupakan bukti kasih orang percaya kepada Tuhan. Setiap pemberian kepada Tuhan harus selalu didasarkan atas kasih. Seandainya seseorang memberikan sejumlah uang kepada Tuhan, tentu ia mengasihi Tuhan lebih dari nilai uang yang telah diberikan kepada Tuhan. Jika ia lebih mengasihi sejumlah uang tersebut, tentu ia tidak akan memberikannya kepada Tuhan.
Ketika Allah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan memberikan tanah Kanaan sebagai warisan, mereka tidak menolak perintah persembahan persepuluhan. Mereka tahu bahwa kasih karunia Allah bagi mereka telah tak terhitung jumlahnya. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan, dan akan memasuki tanah perjanjian yang makmur. Jangankan sepuluh persen, bahkan sembilan puluh persen pun mereka tidak akan merasa keberatan karena apa yang akan mereka miliki semata-mata pemberian Allah. Kalau dibandingkan dengan keadaan bangsa Israel, orang Kristen sepatutnya memberikan persembahan bukan hanya sepuluh persen melainkan dua puluh persen atau bahkan lebih karena orang Kristen telah dibebaskan dari neraka dan mendapatkan hidup yang kekal dan sorga.
Apakah kasih seseorang lebih besar kepada persepuluhan daripada kepada Tuhan? Jika memang kasihnya lebih besar kepada Allah, sepatutnya ia tidak memiliki masalah untuk mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan. Justru ia harus merasa bersyukur karena bisa mengembalikan sebagian dari apa yang Tuhan berikan kepadanya. Jangan pernah merasa telah berjasa menolong Tuhan ketika memberikan persepuluhan. Jangan juga merasa telah berjasa menolong gereja ketika memberikan persepuluhan, tetapi justru sebaliknya, sadar bahwa itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagai umat Tuhan. Jika tidak mengembalikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan sepatutnya merasa malu menghadap hadirat Tuhan. Bahkan dihadapan Tuhan ia menjadi seorang pencuri (perampok) seperti yang dicatat Nabi Maleakhi dalam Maleakhi 3:8-10,
Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Kata “menipu” di sini memiliki pengertian “mencuri, merampas dan merampok.” Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bangsa Israel “telah kena kutuk.” Jangan beranggapan lagi bahwa ajaran ini hanya untuk umat Israel tetapi ajaran kekal yang harus dilakukan setiap umat Tuhan. Namun orang Kristen sering tidak perduli akan hal-hal rohani seperti itu, mereka lebih memilih menyenangkan hatinya. Ilustrasi dibawah ini mungkin bermanfaat untuk merefleksikan tingkat kerohanian pembaca dan sekaligus menilai seberapa besar kasihnya kepada Tuhan. Lihatlah apa anda memilih hal rohani atau duniawi:
“Apa yang paling mengganggu kamu”:
Seseorang tersesat di neraka. . . . atau satu goresan pada mobil baru kamu?
Tidak mengikuti kebaktian . . . . atau tidak masuk kerja satu hari?
Khotbah 10 menit lebih lama . . . . atau makan siang setengah jam lebih lama?
Gereja tidak bertumbuh . . . . atau taman (kebun) Anda tidak bertumbuh?
Tidak membaca Alkitab . . . . atau tidak membaca Koran?
Pelayanan gereja diabaikan . . . . atau pekerjaan rumah kamu diabaikan?
Tidak mengikuti persekutuan. . . . atau tidak nonton program TV favorit kamu?
Persepuluhan kamu menurun . . . . atau pendapatan/penghasilan kamu menurun? Anak kamu terlambat ke sekolah Minggu dan gereja . . . . atau terlambat ke sekolah umum?
Mana yang benar-benar mengganggu?
PENYALAHGUNAAN DOKTRIN PERSEPULUHAN
Bukan suatu rahasia lagi di kalangan umat Kristen jika persembahan persepuluhan sering dimanfaatkan pemimpin gereja tertentu. Berkenaan dengan kegunaan dari persembahan persepuluhan dalam gereja, ada tiga pandangan yang perlu ditelusuri di sini:
Pertama, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU MILIK PENDETA. Biasanya kelompok yang mempercayai pengajaran ini akan menafsirkan suku Lewi, penerima persembahan persepuluhan di Perjanjian Lama sama dengan Pendeta dalam gereja. Dengan demikian Pendeta mengklaim semua persembahan persepuluhan merupakan milik dan hak prerogatifnya. Dengan motif ini, maka tidak heran jika kelompok seperti ini cenderung ingin membuka gereja sendiri agar ia bisa mendapatkan hak ini. Semakin besar jumlah jemaatnya maka semakin besar uang yang akan didapatkan. Biasanya para asisten dan guru injilnya mendapatkan gaji atas kemurahan Pendetanya sebagai penerima persembahan persepuluhan tersebut. Itulah sebabnya terkadang terdengar pelaksanaan yang ekstrim dalam pemungutan persembahan ini. Bahkan ada yang mengawasi jemaatnya hingga pada penjualan kambing, si pendeta ikut ke pasar agar ia tahu jumlah harga jual kambing itu, dan ia langsung meminta sepersepuluh dari penjualannya. Ada juga yang menentukan minggu tertentu sebagai minggu pengumpulan persembahan persepuluhan dan ketika jemaat tertentu tidak hadir pada kebaktian itu, keesokan harinya pendetanya mengirimkan utusan ke rumah jemaat itu dengan membawa amplop persepuluhan agar dibayarkan. Bahkan karena ajaran itu sudah begitu alami hingga ketika jemaat beli sepuluh buah apel, satu biji apel menjadi milik pendeta dan diantarkan ke rumahnya. Kedengarannya memang aneh, tetapi itu telah dilakukan kelompok tertentu dan membuktikan bahwa ada penyimpangan mengenai persembahan persepuluhan ini.
Kedua, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU BUKAN SEPENUHNYA MILIK PENDETA. Hampir sama dengan kelompok pertama diatas, kelompok ini juga akan menyamakan pendeta dengan Suku Lewi yang menerima hak atas persembahan persepuluhan. Tetapi kelompok akan mengatakan bahwa pendeta hanya berhak mendapatkan sebelas enplop persepuluhan dari seluruh persembahan persepuluhan yang terkumpul. Sama seperti sebelas suku Israel membekali satu suku Lewi melalui persembahan persepuluhan. Pertanyaannya adalah, bagaimana pelaksanaan pengambilan enplop perpuluhan tersebut? Apakah pendetanya mengambil 11 enplop terbanyak setelah diketahui isinya atau mengambil secara acak sebelum membuka isinya, tentu itu menjadi ukuran internal gereja tersebut. Namun pola ini juga memiliki peluang untuk disalahgunakan.
Ketiga, kelompok yang mengajarkan bahwa PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ITU SEPENUHNYA MILIK GEREJA. Biasanya gereja yang mempercayai ajaran ini akan mengumpulkan persembahan persepuluhan itu dan menyerahkannya kepada bendahara gereja untuk dicatat dan disimpan. Pendeta tidak memiliki hak atas persembahan persepuluhan tersebut. Pendeta, guru injil dan staf gereja lainnya mendapatkan gaji atau tunjangan sesuai dengan jumlah yang ditetapkan para penatua (majelis/diaken) gereja sesuai dengan jabatan, lamanya mengabdi, tugas yang diemban, jenjang pendidikan dan kebutuhan dasar pelayanannya. Dengan demikian persembahan persepuluhan, persembahan khusus (kolekte) dan persembahan ucapan syukur jemaat kepada Tuhan dikumpulkan untuk dipergunakan sebagai gaji para hamba Tuhan dan staf gereja serta menjadi modal untuk pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja. Dana itu juga dipakai untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan serta dana pembukaan pelayanan dan pengiriman misi, atau biaya program-program lainnya yang berhubungan dengan pelayanan gereja tersebut. Namun demikian, jemaat yang diberkati melalui pelayanan para hamba Tuhan dalam sebuah gereja masih tetap bisa memberikan persembahan khusus yang ditujukan langsung kepada hamba Tuhan tertentu. Persembahan sedemikian, biasanya akan diberikan langsung oleh bendahara gereja kepada hamba Tuhan yang namanya tertera dalam enplop tersebut jika persembahan itu dimasukkan ke dalam kantong persembahan gereja.
Berdasarkan analisa penulis, kelompok ketiga ini lebih alkitabiah karena dua kelompok terdahulu tidak memiliki dasar untuk menyamakan pendeta dengan suku Lewi. Bayangkan jika sebuah jemaat terdiri dari 5,000 jemaat yang setia memberikan persepuluhan, pendeta itu akan menjadi seorang millionare. Tuhan tidak pernah menjadikan gereja menjadi ladang kekayaan. Petrus yang sering dikatakan sebagai pemimpin rasul di masa gereja mula-mula, yang ketika ia berkhotbah, 3,000 orang bertobat tidak memberikan indikasi bahwa ia pewaris persembahan persepuluhan jemaat Yerusalem masa itu. Ia justru memilih pergi meninggalkan Yerusalem dan gereja besar itu dan memberitakan injil ke luar daerah. Kisah Para Rasul 4:32-37 yang merupakan cara hidup jemaat mula-mula, tidak mencerminkan persembahan jemaat merupakan hak milik para pemimpin gereja tersebut, tetapi semua persembahan dipergunakan untuk kegiatan kerohanian dan kemajuan pemberitaan Injil.
Berilah persembahan persepuluhan kepada Tuhan sebagai bukti kasih kamu kepada Kristus yang telah mengasihi dan menyelamatkan serta memberkati kamu. Berilah persembahan persepuluhan sebagai bukti ketaatan kamu kepada perintah Tuhan.
Sumber: http://dedewijaya.wordpress.com Baca Selengkapnya...
Selasa, 29 November 2011
Jangan Berhenti Melayani Karena Musibah
Setelah Uza mati karena memegang Tabut Tuhan yang tergelincir, Daud merasa sangat ketakutan. Suatu perasaan wajar karena ia berpikir jangan-jangan ia sendiri juga akan mati seperti Uza. Maka ia memutuskan untuk berhenti melayani Tuhan. Ia cuti untuk sementara waktu. Tapi itu bahasa halusnya. Bahasa kasarnya dia ngambek dengan TUHAN. Ia tidak mau peduli lagi dengan apapun mengenai pemindahan Tabut TUHAN.
Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.
Betapa banyak orang Kristen seringkali merajuk dan ngambek dengan tidak lagi mau melayani karena persoalan atau musibah datang. Mereka mundur dan apatis. Tidak lagi mau memikirkan pelayanan Tuhan apalagi mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka minta cuti dan kalau bisa cuti panjang. Katanya istirahat dulu, tapi dalam hati tidak akan lagi melayani. Untung saja Tuhan baik dan tidak membiarkan jantung mereka cuti juga berdenyut. Sungguh Tuhan maha pengasih dan sangat penyayang sehingga DIA membiarkan umatNya yang mengalami persoalan itu bisa duduk dan berbaring sambil merenungkan masalah yang dialami dan mengambil hikmah dari sana.
Tuhan membiarkan Daud selama tiga bulan lamanya dalam keadaan terombang ambing dan perasaan yang campur aduk. Sampai kemudian Daud melihat bahwa kemarahannya, kesedihannya dan semua perasaannya itu tidak berpengaruh terhadap berkat yang Tuhan berikan bagi mereka yang melayani DIA. Meski Daud cuti tapi Tuhan tidak pernah cuti untuk membalaskan semua perbuatan baik umatNYA. Dia memberkati keluarga Obed Edom yang menerima dan memelihara tabut Tuhan itu di dalam rumahnya.
Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
Semua perasaan Daud yang tadinya campur aduk dengan kesedihan hati bahkan marah kepada Tuhan berubah. Ia berpikir bahwa ia tidak harus terus-terusan dalam kondisi itu. Ia mesti bangkit dan melakukan lagi apa yang tadinya ia lakukan. Jika ia mau berkat Tuhan datang kepadanya maka ia harus bangkit, melupakan apa yang dibelakang dan berlari-lari pada hadiah yang Tuhan sudah sediakan. Daud bisa menangani musibah dengan benar bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda)
Sumber: terangdunia.com Baca Selengkapnya...
Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.
Betapa banyak orang Kristen seringkali merajuk dan ngambek dengan tidak lagi mau melayani karena persoalan atau musibah datang. Mereka mundur dan apatis. Tidak lagi mau memikirkan pelayanan Tuhan apalagi mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka minta cuti dan kalau bisa cuti panjang. Katanya istirahat dulu, tapi dalam hati tidak akan lagi melayani. Untung saja Tuhan baik dan tidak membiarkan jantung mereka cuti juga berdenyut. Sungguh Tuhan maha pengasih dan sangat penyayang sehingga DIA membiarkan umatNya yang mengalami persoalan itu bisa duduk dan berbaring sambil merenungkan masalah yang dialami dan mengambil hikmah dari sana.
Tuhan membiarkan Daud selama tiga bulan lamanya dalam keadaan terombang ambing dan perasaan yang campur aduk. Sampai kemudian Daud melihat bahwa kemarahannya, kesedihannya dan semua perasaannya itu tidak berpengaruh terhadap berkat yang Tuhan berikan bagi mereka yang melayani DIA. Meski Daud cuti tapi Tuhan tidak pernah cuti untuk membalaskan semua perbuatan baik umatNYA. Dia memberkati keluarga Obed Edom yang menerima dan memelihara tabut Tuhan itu di dalam rumahnya.
Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
Semua perasaan Daud yang tadinya campur aduk dengan kesedihan hati bahkan marah kepada Tuhan berubah. Ia berpikir bahwa ia tidak harus terus-terusan dalam kondisi itu. Ia mesti bangkit dan melakukan lagi apa yang tadinya ia lakukan. Jika ia mau berkat Tuhan datang kepadanya maka ia harus bangkit, melupakan apa yang dibelakang dan berlari-lari pada hadiah yang Tuhan sudah sediakan. Daud bisa menangani musibah dengan benar bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda)
Sumber: terangdunia.com Baca Selengkapnya...
Senin, 28 November 2011
Segala Sesuatu akan Digoncangkan!
Pesan dari Brian Mills, Penasihat Senior IPC (International Prayer Council)Dua tahun yang lalu Tuhan berbicara kepadaku mengenai hal ini. “Segala sesuatu yang akan dapat digoncangkan akan digoncangkan.” Perlahan aku mulai mengetahui bahwa pada waktunya, semua akan digenapi! Awalnya, ini sangatlah pribadi – seluruh duniaku telah dibaliknya dan dimulai dari keluarga intiku. Banyak pemimpin Kristen lainnya juga telah menghadapi pencobaannya masing-masing – baik dalam bidang emosional, spiritual, fisik, keluarga ataupun pelayanan.
Saat – saat ini kita menyaksikan bagaimana segalanya sedang digoncangkan oleh Tuhan secara global. Perekonomian dunia sedang digoncang oleh krisis Perbankan di Barat dan dampaknya dirasakan secara langsung. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara telah terganggu oleh krisis politik yang menyelimuti, yang mengarah pada kerusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim telah menyebabkan beberapa bencana terjadi di Brazil, Pakistan, Australia, dan banyak Negara lainnya. Guncangan fisik dari kerak bumi dapat menyebabkan bencana alam yang menghancurkan Pakistan, China, Haiti, Indonesia dan lainnya.
Goncangan ini akan terus berlanjut – dan akan ada kejutan-kejutan lainnya yang lebih besar terjadi. Beberapa nilai mata uang akan runtuh. Masalah yang lebih besar akan muncul dan mendatangkan malapetaka. Apa yang kelihatannya baik-baik saja akan digoncangkan. Pertanyaannya adalah “dimanakah para penjaga?” Apakah mereka senantiasa berjaga-jaga atas bangsanya dan apakah ada pengaruh yang masuk mempengaruhi bangsa mereka? Ini adalah waktunya bagi para penjaga dalam doa untuk bertemu satu sama lain dari berbagai negara untuk menemukan suatu tempat bersatu dalam doa, meskipun berbeda di dalam pengertian dan latar belakang.
Karena beberapa penjaga di bangsa-bangsa tercengang mendapati bahwa kesatuan yang ada akan mengalami tantangan dan motivasi akan diuji. Hanya sebuah doa yang terfokus pada kemuliaan Tuhan yang lebih dari kenyamanan kita yang akan menerobos. Ini merupakan suatu ajakan untuk semua penjaga di seluruh dunia. Berjaga dan berdoa!
Brian Mills
IPC Council Member and Senior Advisor
Sumber: gkpb.net Baca Selengkapnya...
Sabtu, 26 November 2011
Akibat kemarahan
Surat Pastoral 20 November 2011
Kemarahan adalah perasaan yang biasa muncul ketika seseorang menghadapi ancaman, hinaan, ketidakadilan atau kekecewaan. Namun, karena keadaan kita yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita sering meresponi perasaan itu dengan cara berbuat dosa.
Salah satu respon berbuat dosa yang umum adalah menyimpan kemarahan sampai menjadi bagian karakter kita. Kemarahan dibiarkan terus bersemayam di dalam diri, akan mengacaukan pikiran dan perasaan. Damai dan sukacita kita hilang, karena keduanya tak mungkin hadir bersama-sama dengan kecemasan dan kekecewaan yang menyertai kepahitan.
Setelah meracuni karakter, kemarahan akan merambah ke aspek hubungan. Kata-kata menyakitkan akan terlontar ibarat panah-panah api, bahkan kepada orang-orang yang tidak menyebabkan kemarahan itu. Selanjutnya, benteng pertahanan diri dipertebal untuk menghindari sakit hati. Hubungan menjadi renggang, tegang dan berujung pada pengasingan diri.
Selain merusak karakter dan hubungan dengan orang lain, akibat paling tragis dari kemarahan adalah hancurnya persekutuan dengan Allah. Kemarahan tidak saja menghalangi karyaNya di dalam dan melalui orang percaya, tetapi juga mendukakan hati Bapa. Bapa rindu mencurahkan berkat kepada anak-anakNya, tetapi tangan yang terkepal penuh amarah tidak akan dapat menerima kekayaan karakter dan panggilan Allah.
Apakah kita menyimpan kemarahan? Kemarahan itu mungkin tersembunyi begitu dalam di jiwa kita sampai kita tak menyadari keberadaannya. Tetapi kepahitan yang menetap dan tak terselesaikan akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Untuk itu kita harus meminta Allah menyingkapkan setiap kemarahan dan kepahitan yang tersembunyi. Buanglah itu dan gantilah dengan memiliki segala kekayaan Kristus. Baca Selengkapnya...
Kemarahan adalah perasaan yang biasa muncul ketika seseorang menghadapi ancaman, hinaan, ketidakadilan atau kekecewaan. Namun, karena keadaan kita yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita sering meresponi perasaan itu dengan cara berbuat dosa.
Salah satu respon berbuat dosa yang umum adalah menyimpan kemarahan sampai menjadi bagian karakter kita. Kemarahan dibiarkan terus bersemayam di dalam diri, akan mengacaukan pikiran dan perasaan. Damai dan sukacita kita hilang, karena keduanya tak mungkin hadir bersama-sama dengan kecemasan dan kekecewaan yang menyertai kepahitan.
Setelah meracuni karakter, kemarahan akan merambah ke aspek hubungan. Kata-kata menyakitkan akan terlontar ibarat panah-panah api, bahkan kepada orang-orang yang tidak menyebabkan kemarahan itu. Selanjutnya, benteng pertahanan diri dipertebal untuk menghindari sakit hati. Hubungan menjadi renggang, tegang dan berujung pada pengasingan diri.
Selain merusak karakter dan hubungan dengan orang lain, akibat paling tragis dari kemarahan adalah hancurnya persekutuan dengan Allah. Kemarahan tidak saja menghalangi karyaNya di dalam dan melalui orang percaya, tetapi juga mendukakan hati Bapa. Bapa rindu mencurahkan berkat kepada anak-anakNya, tetapi tangan yang terkepal penuh amarah tidak akan dapat menerima kekayaan karakter dan panggilan Allah.
Apakah kita menyimpan kemarahan? Kemarahan itu mungkin tersembunyi begitu dalam di jiwa kita sampai kita tak menyadari keberadaannya. Tetapi kepahitan yang menetap dan tak terselesaikan akan mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Untuk itu kita harus meminta Allah menyingkapkan setiap kemarahan dan kepahitan yang tersembunyi. Buanglah itu dan gantilah dengan memiliki segala kekayaan Kristus. Baca Selengkapnya...
Proses Mengampuni
Surat Pastoral 27 November 2011
Mengampuni orang yang sudah sangat menyakiti kita merupakan salah satu "tugas" kita yang paling menantang. Dan hanya memiliki keinginan menaati Allah atau berkata benar, tidak selalu dapat menyelesaikan tugas itu. Ingatan dan rasa sakit atau luka lama bisa menyelinap lagi ke dalam pikiran, mengaduk-aduk rasa marah dan ketidak adilan kita.
Meskipun kita bertanggung jawab untuk segera mengambil inisiatif sesudah mengalami kesakitan, melakukan pengampunan atas sakit hati yang mendalam adalah sebuah proses. Mulailah dengan segera mencegah timbulnya akar pahit. Dan ingatlah: semakin dalam sakit hati itu, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat mengampuni. Tetapi jangan putus asa - Tuhan akan menyertai Anda di setiap langkah itu.
Mengaku di hadapan Tuhan adalah awal dari proses itu. Datanglah kepadaNya dan akuilah segala kegeraman Anda, dan akuilah hal itu sebagai dosa. Sementara Anda menyerahkan kemarahan dan sakit hati Anda kepada Tuhan, persilahkan Dia mulai menyembuhkan hati Anda yang hancur.
Terkadang proses itu juga meliputi mendatangi orang yang bersangkutan dan mengakui sikap Anda yang tidak baik terhadapnya. Kesempatan ini bukanlah saat untuk membenarkan diri atau menunjukkan kesalahannya, melainkan cukup untuk mengakui kesalahan Anda saja. Meskipun kesalahannya tampaknya lebih besar dari sikap tidak mengampuni Anda, jauhilah godaan untuk "membuat jenjang" dosa. Dan serahkanlah penghakiman itu kepada Allah.
Pengampunan membawa kelepasan dari peradangan yang menyertai kemarahan. Dengan menjalani proses itu, Anda akan mulai melihat orang yang menyakiti Anda itu dengan mata belas kasihan. Akhirnya Anda dapat bersyukur kepada Allah atas kesempatan untuk belajar mengampuni dan hidup dalam anugerahNya yang berkelimpahan. Baca Selengkapnya...
Mengampuni orang yang sudah sangat menyakiti kita merupakan salah satu "tugas" kita yang paling menantang. Dan hanya memiliki keinginan menaati Allah atau berkata benar, tidak selalu dapat menyelesaikan tugas itu. Ingatan dan rasa sakit atau luka lama bisa menyelinap lagi ke dalam pikiran, mengaduk-aduk rasa marah dan ketidak adilan kita.
Meskipun kita bertanggung jawab untuk segera mengambil inisiatif sesudah mengalami kesakitan, melakukan pengampunan atas sakit hati yang mendalam adalah sebuah proses. Mulailah dengan segera mencegah timbulnya akar pahit. Dan ingatlah: semakin dalam sakit hati itu, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat mengampuni. Tetapi jangan putus asa - Tuhan akan menyertai Anda di setiap langkah itu.
Mengaku di hadapan Tuhan adalah awal dari proses itu. Datanglah kepadaNya dan akuilah segala kegeraman Anda, dan akuilah hal itu sebagai dosa. Sementara Anda menyerahkan kemarahan dan sakit hati Anda kepada Tuhan, persilahkan Dia mulai menyembuhkan hati Anda yang hancur.
Terkadang proses itu juga meliputi mendatangi orang yang bersangkutan dan mengakui sikap Anda yang tidak baik terhadapnya. Kesempatan ini bukanlah saat untuk membenarkan diri atau menunjukkan kesalahannya, melainkan cukup untuk mengakui kesalahan Anda saja. Meskipun kesalahannya tampaknya lebih besar dari sikap tidak mengampuni Anda, jauhilah godaan untuk "membuat jenjang" dosa. Dan serahkanlah penghakiman itu kepada Allah.
Pengampunan membawa kelepasan dari peradangan yang menyertai kemarahan. Dengan menjalani proses itu, Anda akan mulai melihat orang yang menyakiti Anda itu dengan mata belas kasihan. Akhirnya Anda dapat bersyukur kepada Allah atas kesempatan untuk belajar mengampuni dan hidup dalam anugerahNya yang berkelimpahan. Baca Selengkapnya...
Kamis, 24 November 2011
Akan kugendong engkau sampai ajal tiba (Till death do us part)
Kisah ini dipersembahkan untuk para sahabat yang berencana menikah atau yang telah menikah...
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?
Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!
sumber: http://www.music4bless.net/2011/11/aku-akan-menggendongmu-setiap-pagi.html
Baca Selengkapnya...
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?
Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.
Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”
Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.
Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan, demikian kata Jane.
Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.
Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.
Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.
Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.
Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…
----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!
sumber: http://www.music4bless.net/2011/11/aku-akan-menggendongmu-setiap-pagi.html
Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)







