Apa yang langsung terlintas dalam benak anda saat mendengar kata penginjilan? Ada orang yang tidak mengerti apa itu penginjilan, ada pula orang yang langsung tegang atau ketakutan mendengar kata itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab ternyata banyak orang Kristen yang takut bila harus mengabarkan Injil. Mereka takut mendapatkan penolakan atau bahkan penganiayaan dari masyarakat. Ada pula yang merasa diri tidak toleran terhadap agama lain, ada yang takut dicap fanatik dan lain sebagainya.
Dari pengalaman menggembalakan beberapa tahun yang lalu, kami terbeban untuk memperlengkapi jemaat untuk bukan saja bertumbuh kerohaniannya namun juga menjadikan mereka saksi Kristus yang efektif. Hingga kami bukan saja mengadakan pemuridan namun juga pelatihan misi & penginjilan. Kami berhasil mengutus jemaat untuk menjadi misionaris lokal, memberitakan kabar baik pada suku terabaikan. Namun kami juga tidak dapat memungkiri bahwa ada pula jemaat yang mengikuti pelajaran di kelas misi & penginjilan ini, hanya sekedar untuk mendapatkan “pengetahuan”. Dan hal ini tampak saat praktek lapangan “banyak yang berhalangan hadir”. Seolah memberitakan Injil merupakan sebuah tugas yang mengerikan.
Banyak juga orang Kristen beralasan panggilan Tuhan atas hidup mereka bukanlah penginjil, dan menaruhkan beban penginjilan sepenuhnya pada mereka yang terpanggil atau memiliki jawatan sebagai penginjil. Banyak orang percaya bahwa tugas penginjilan “hanya” bagi orang-orang tertentu dengan pengurapan khusus seperti Billy Graham, Luis Palau, Morris Cerullo, Reinhard Bonnke, Oral Roberts, Benny Hinn dan nama besar lainnya. Sebab mereka berpikir bahwa menginjili orang berarti mereka harus mengadakan acara kebaktian penginjilan atau KKR di stadion sepakbola dan lalu berkhotbah mengenai berita keselamatan bagi para hadirin. No wonder! Benarkah pandangan tersebut? Bagaimana di gereja atau tempat pelayanan anda?
Saya percaya bahwa ada jawatan penginjil, Alkitab menyatakan,”IA (Tuhan Yesus) lah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”(Efesus 4:11-13)
Memang ada jawatan penginjil namun penginjilan bukanlah semata tugas dia seorang diri atau hanya sekelompok orang saja. Para penginjil ditugaskan bukan saja mewartakan Kabar Baik bagi yang terhilang tetapi mereka juga bertugas memperlengkapi umat Tuhan bagaimana cara mengabarkan berita Injil. Tuhan menugaskan kita semua untuk menjadi saksi-saksiNya. Dan inilah pesan Tuhan sebelum Ia naik ke sorga,”Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kisah 1:8). Haloooo, ini tugas kita semua sebagai anak Tuhan.
”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Ini adalah sebuah amanat terakhir sebelum YESUS naik ke surga. Sebuah amanat agung yang harus gereja TUHAN lakukan. Namun apa daya, sebagian besar gereja di akhir zaman ini sudah melupakannya dan fokus hanya untuk kepentingan segelintir golongan. Akibat kemandulan gereja dalam mengemban amanat agung ini, lahirlah pelayanan atau organisasi penginjilan (parachurch) di luar institusi gereja.
Gereja harus berfokus pada menghasilkan murid (disciples) dan bukan sekedar pengikut (followers). Juan Carlos Ortiz dalam bukunya Murid Sejati menyatakan bukti kegagalan gereja menghasilkan murid Kristus adalah terlahirnya Sekolah Alkitab. Sebuah kritikan pedas namun dapat menjadi cambuk bagi tiap gembala sidang untuk mulai memperlengkapi jemaat Tuhan menggenapi Amanat Agung Tuhan Yesus. Sampai kini Sekolah Alkitab masih berdiri untuk menopang, puji Tuhan atas hal tersebut. Sekaranglah saatnya bagi gereja TUHAN untuk bangkit dan memperlengkapi umat Tuhan serta mengutus mereka menjadi garam dan terang dunia.
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara seorang murid dan pengikut, seorang Pengikut Kristus yang hanya menginginkan berkat dan identik dengan sesuatu yang bersifat materi. Seorang pengikut akan memuji Tuhan kala segala sesuatu berjalan lancar sesuai kehendaknya. Namun ketika segala sesuatu menjadi sulit, ia dapat dengan mudah melupakan Kristus bahkan beralih iman. Tuhan tidak pernah terkesan dengan mereka yang bermulut manis, sebab IA tahu isi hati setiap manusia.
Sedangkan seorang murid Kristus tahu ketika ia melakukan kehendak Tuhan, maka berkat Tuhan maka berkat Tuhan sudah ada di atas kepalanya dan siap untuk dicurahkan. Seorang murid rela berkorban bagi Tuhan dan sesamanya.
Saya kagum pada kesungguhan dan ketulusan Bunda Teresa (almarhum), yang rela hidup apa adanya untuk dapat melayani kaum yang kurang beruntung di Calcuta, India. Dia tidak menunggu sampai ada pihak donatur datang dan baru bergerak melayani. Saat pimpinan rohaninya tidak mendukungnya, dia tetap percaya bahwa Tuhan yang akan menolong dan membuka jalan. Kala ia tidak memiliki kelas untuk mengajar, kala ia tidak memiliki kapur dan papan tulis; ia mengajar di alam terbuka, menggunakan sebatang kayu untuk menulis dan tanah sebagai media papan tulisnya. Ia mungkin bukan seorang yang cakap mengajar atau berkhotbah tentang kasih namun kasihnya terbukti dengan merawat mereka yang sakit kusta dan aneka penyakit lainnya. Kasihnya meluap dari hubunganya yang dekat dengan Tuhan Yesus. Sungguh kehidupan Bunda Teresa memberikan inspirasi yang luar biasa mengenai kasih Kristus di muka bumi.
Ada banyak strategi penginjilan yang diajarkan. Salah satu pelajaran penginjilan dasar, sebagai contoh ada metode 4 Hukum Rohani yang diperkenalkan oleh Para Navigator. Saya mengenal metode ini kala duduk di bangku Sekolah Alkitab. Dimana metode ini menjadi landasan pola penginjilan kami saat itu. Dimana kami harus praktek lapangan dengan menggunakan cara tersebut.
Di sini saya akan sedikit saja menjabarkan cara penginjilan 4 Hukum Rohani, agar anda memiliki gambaran:
ALLAH INGIN KITA TAHU BAHWA:
Semua orang adalah orang berdosa dan tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Sebagaimana ada tertulis “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)”
Yesus Kristus sudah menyediakan jalan keselamatan. Sebagaimana ada tertulis,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Kita harus bertobat dari dosa-dosa kita, mengakui dan meninggalkannya. Sebagaimana ada tertulis,”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kitadan menyucikan kita dari segala kejahatan.(1 Yohanes 1:9)
Hal menerima atau menolak jalan keselamatan ini akan menentukan nasib kita di akhirat. Sebagaimana ada tertulis “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat pada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada atasnya.” (Yohanes 3:36)
Ada pula metode pengembangan yang hampir sama dari Explosion Evangelism (EE). Kala saya menggembalakan sebuah sidang jemaat di kota Surabaya, saya pun pernah mengutus beberapa staf gereja dan jemaat yang aktif untuk diperlengkapi di EE-Malang.
Ke dua pelayanan ini secara luar biasa dipakai oleh Tuhan dan memberikan fondasi untuk penginjilan yang efektif dalam mengabarkan Injil baik secara individu maupun kelompok. Masih ada juga cara Roman’s Road (pola Jalan Roma), yang sempat saya pelajari saat mengikuti pendidikan theologia.
Saya pernah melakukan penginjilan dengan membagi-bagikan traktat di jalan-jalan, ada pula metode “hit and run”, yang diprakarsai oleh pelayanan JTC melalui traktat bergambarnya yang menarik (Di Indonesia traktat ini dicetak oleh pelayanan Nafiri Allah Terakhir). Dan ada pula traktat tertulis yang dicetak oleh penerbit Gandum Mas. Namun ini semua bukan satu-satunya metode dalam penginjilan. Ada begitu banyak ragam dalam mengabarkan Kabar Baik bagi mereka yang terhilang. Sebagai informasi traktat merupakan penjabaran berita Injil melalui tulisan atau gambar cetak.
Cara-cara di atas ini baik, namun bagi beberapa orang cara tersebut membutuhkan nyali besar atau bahkan kadang menakutkan. Kebanyakan cara penginjilan yang diajarkan di kelas-kelas pemuridan atau school of ministry, mirip dengan salah satu pola di atas. Saya pun mengajar hal ini di kelas penginjilan. Metode itu menjadi salah bila menjadi satu-satunya cara untuk mengabarkan Injil. Tuhan kita kreatif dan dinamis, IA tidak kaku, kuno ataupun statis. Di saat saya merasa frustasi dan gagal memperlengkapi jemaat untuk menggenapi Amanat Agung, saat itulah Tuhan mewahyukan hal-hal baru dan semuanya itu saya tuangkan dalam buku ini.
Buku ini ditulis untuk menyadarkan pada setiap anak Tuhan bahwa penginjilan merupakan tugas kita semua. Tuhan memanggil kita untuk mengikuti teladan hidupNya dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Tuhan. Penekanan dalam buku ini adalah penginjilan bukan sebagai sesuatu yang menegangkan apalagi menakutkan. Kita akan belajar mengenai pola penginjilan yang natural dan bersahabat sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah oleh semua orang.
Apakah anda pernah membaca bagaimana jemaat mula-mula merupakan jemaat yang disukai dan setiap hari jumlah mereka ditambahkan Tuhan(Kisah 2:47)? Mengapa jemaat mula-mula dapat mempengaruhi dunia dalam waktu yang singkat? Padahal kebanyakan dari mereka hidup di tengah aniaya hingga mengungsi keberbagai kota (Kisah 8:1b)?
Bagaimana cara mereka mewartakan berita Injil? Apakah strategi khusus mereka? Metode apa yang mereka gunakan? Darimana mereka memiliki keberanian untuk mengabarkan Injil di tengah situasi yang sesulit itu? INGAT: PENGINJILAN bukanlah sesuatu yang menakutkan sebab merupakan bagian kehidupan kita. Ketika anda hidup dalam ketaatan, berita Injil itu sudah ada dan nampak dalam hidup sehari-hari anda.
Saya percaya bahwa sebenarnya penginjilan bukanlah sesuatu yang menakutkan, tidak perlu biaya besar, tidak perlu keahlian dan pelatihan bertahun-tahun, yang diperlukan adalah hati yang penuh dengan belas kasihan terhadap mereka yang terhilang. Sebagaimana pandangan mata BAPA terhadap mereka yang belum mengenal putraNYA yang tunggal, YESUS KRISTUS atau bahkan mereka yang telah meninggalkan DIA dengan alasan mereka sendiri.
Baca Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label Misi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Oktober 2013
Rabu, 25 September 2013
IRAN: Pelayan Tuhan dipenjara, para tahanan bertobat
IRAN, Teheran (MP) -- Setahun ditahan di Penjara Evin di Iran, Pastor Saeed Abedini diberitakan telah membawa lebih dari 30 orang mengenal Yesus Kristus (Isa al-Masih).
Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat.
"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com.
Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak.
Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat.
"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.
"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya.
Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000.
Sumber : Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat.
"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com.
Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak.
Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat.
"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.
"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya.
Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000.
Sumber : Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Selasa, 24 September 2013
Ketaatan Sister Chang
Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2 Kor 2:9.
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Senin, 23 September 2013
Kesaksian Enoch Wang (MUST READ TESTIMONY!!!)
Enoch Wang adalah pemimpin sebuah gerakan Kristen yang tumbuh dari ajaran Watchman Nee. Saat ini gerakan ini sudah mencapai jutaan orang percaya di seluruh Cina. Saudara Enoch telah menghabiskan 16 tahun dari 20 tahun terakhir ini di penjara demi Injil. Hanya setelah beberapa bulan memberikan wawancara ini, ia ditangkap lagi. Pemimpin penting dari gereja Cina ini berbicara tentang arti gerakan Kembali ke Yerusalem bagi diri-Nya dan ia membagikan sebuah kesaksian luar biasa yang sangat terkenal dan diteguhkan kebenarannya oleh banyak pemimpin gereja di Cina.
Saya pertama kali menjadi seorang Kristen pada tahun 1969 â yaitu saat berlangsungnya Revolusi Kebudayaan. Saat itu saya adalah seorang pimpinan Pasukan Tentara Merah Komunis. Iman saya kepada Allah pada tahun pertama itu sangat dangkal. Pada tahun 1970 saya sungguh-sungguh menjadi seorang anggota partai Komunis, sekalipun saya juga seorang pengikut Kristus! Tanpa menunggu lama, saya dipromosikan dalam posisi kepemimpinan Liga Kaum Muda Komunis, dan pada tahun 1972 saya ditugaskan untuk bekerja di sebuah pabrik senjata milik tentara pembebasan Cina. Barulah pada tahun 1973 saya menjadi serius tentang melayani Tuhan Yesus.
Pertama kali saya masuk penjara karena iman saya kepada Allah adalah dari tahun 1982 hingga 1994. Mereka tidak senang dengan kenyataan bahwa seorang Pasukan Tentara Merah yang ateis dan seorang pemimpin Liga Kaum Muda Komunis sekarang adalah seorang Pendeta Kristen! Dalam tahun-tahun itu mereka berusaha agar saya berpaling dari Tuhan, tetapi karena kasih karunia Allah mereka tidak bisa mengambil harta Allah di dalam hati saya.
Ketika saya ditangkap, putri kecil kami baru berusia tiga tahun. Adalah sangat menyakitkan dipisahkan dari istri dan anak saya, tetapi saat itu saya berharap bahwa orang-orang Kristen setempat bisa mengurus mereka saat saya tidak ada. Pihak penguasa mengetahui hal ini sehingga mereka memutuskan untuk mengawasi keluarga saya untuk mendeteksi apakah mereka memperoleh bantuan dari luar. Saya dihukum sebagai seorang penentang Revolusi dan seorang pengkhianat â sebuah kejahatan paling buruk di Cina. Siapapun yang didapati mencoba untuk menolong keluarga seorang Penentang Revolusi akan dituduh melakukan kejahatan yang sama, sehingga ketakutan akan hukuman akan membuat kawan-kawan Kristen saya tidak bisa membantu keluarga saya.
Kami tinggal di sebuah tanah pertanian, tetapi istri saya tdak tahu bagaimana menanam dan menuai padi, sehingga keluarga saya segera mengalami kelaparan dan menjalani suatu masa yang sangat sulit. Pada musim panas pertama, istri saya berusaha untuk memanen jagung di ladang kami sementara putri saya tinggal di rumah. Usianya yang baru menginjak empat tahun, ia telah belajar bagaimana memasak sehingga ia bisa membantu ibunya! Ia bahkan telah belajar bagaimana menyalakan api dan menanak air untuk memasak mi, atau masakan sederhana lainnya.
Tekanan terhadap putri kecil kami begitu besar. Tidak ada seorang anakpun yang seharusnya menghadapi kehidupan seperti yang harus ia jalani, tetapi Tuhan membantu mereka dan saat ini putri saya adalah seorang wanita muda yang cantik dan melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya.
Setelah saya dipindahkan ke sebuah kamp kerja paksa di sebuah wilayah lain dari provinsi kami, istri dan putrid saya juga pindah ke kota itu agar mereka bisa terus-menerus menjenguk saya. Selama bertahun-tahun, istri saya yang tercinta membesarkan putrid saya sendirian, tanpa dukungan dari sesama orang Kristen, tanpa suami dan tanpa uang. Kadang-kadang mereka harus mengais-ngais tong sampah untuk mencari remah makanan yang bisa mereka makan atau menemukan beberapa barang yang bisa mereka jual di pasar demi beberapa sen uang. Di saat lain, beberapa kali mereka terpaksa mengemis. Dalam sebuah kesempatan, ketika ia berada di titik terendahnya, Allah memberinya penglihatan akan Surga yang mendorong imannya dan membantunya untuk terus melangkah.
Banyak orang di seluruh dunia mendoakan para pendeta di Cina saat mereka dipenjarakan, dan kami berterimakasih untuk dukungan ini. Akan tetapi, perlu diingat juga untuk mendoakan keluarga para pendeta itu, karena penderitaan mereka seringkali lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang ada di dalam penjara. Lagipula, setidaknya saya memperoleh jatah makan setiap hari walau hanya makanan berkualitas rendah.
Kunjungan dari keluarga saya merupakan pengalaman yang pahit-manis. Mereka tidak pernah mengeluh atas kehidupan mereka, tetapi tubuh kurus kurang gizi mereka mengungkapkan pergulatan mereka yang berat. Saya rindu menemui mereka dan merasa dikuatkan saat mereka datang. Tetapi penderitaan karena mengetahui apa yang sedang mereka alami adalah penganiayaan terburuk yang bisa ditimpakan pihak penguasa kepada saya.
Putri saya tidak bisa bersekolah karena kami tidak memiliki uang untuk sekadar membeli buku atau seragam sekolah. Selain itu anak-anak kaum âkontrarevolusiâ diejek dan dilecehkan oleh para guru dan murid-murid lainnya. Saat saya dibebaskan dari penjara, orang-orang percaya di gereja berkumpul dan memutuskan untuk menyekolahkan putri saya ke universitas untuk mengejar ketertinggalan dari tahun-tahun dimana ia harus kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Tuhan telah menolongnya dan tahun ini ia lulus.
Ketika saya akhirnya dibebaskan pada tahun 1994, saya pikir kami akan mengalami pertemuan kembali yang menggembirakan, tetapi saya tidak sepenuhnya menyadari apa yang telah istri dan putri saya alami selama tahun-tahun tersebut. Begitu banyak emosi dan penderitaan yang telah menumpuk selama 13 tahun tertumpah seperti banjir. Saya dan istri saya harus kembali memulai membangun hubungan kami dari awal. Hanya karena kemurahan kasih karunia Tuhan Yesus kami bisa mengalami kemajuan. Sekarang segala sesuatunya telah menjadi baik dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya seorang pasangan yang luar biasa. Tanpa istri saya, saya tidak bisa apa-apa! Tuhan selalu baik bagi kami.
Saat saya masuk penjara, saya beranggapan bahwa gereja saya benar-benar secara doktrin dan praktek, dan bahwa kelompok gereja lain di Cina melakukan kesalahan serius. Karena itu, pada tahun-tahun awal saya kurang atau tidak memiliki hubungan dengan tubuh Kristus lainnya di Cina, karena keyakinan bahwa saya melayani Allah dengan menghindari berhubungan dengan mereka. Barulah setelah saya dibebaskan dari penjara saya belajar untuk memiliki hati Allah bagi seluruh anak-anakNya.
Pada tahun 1997, saat kehidupan keluarga kami semakin mapan, saya ditangkap lagi dan menghabiskan tiga tahun lagi dipenjara. Hal yang sama terjadi saat Brother Yun dan Xu ditangkap, maupun banyak pemimpin gereja rumah lainnya. Saya sedang di dalam penjara ketika Allah secara ajaib memungkinkan Yun bisa meloloskan diri dari penjara, meskipun kakinya telah dipukuli habis-habisan sehingga ia dikenal sebagai âsi pincangâ. Allah secara adikodrati membuka pintu bagi Yun untuk melarikan diri. Saya adalah saksi dari kenyataan bahwa âapabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membukaâ (Wahyu 3:7). Saya ingin membagikan suatu bagian dari kesaksian saya yang langsung terkait dengan visi Kembali ke Yerusalem.
Pada tahun 1995, saya dan istri saya memiliki seorang putri lagi. Saya berusia 45 tahun dan tidak berharap menjadi ayah lagi. Alkitab berkata, âSesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.â (Mazmur 127:3). Kami sangat senang.
Pada Hari Tahun Baru 1997, sebuah pertemuan gabungan diadakan oleh Brother Yun di dekat kota tempat tinggal saya. Para pemimpin dari berbagai jaringan gereja rumah diundang untuk hadir agar kami bisa bersekutu satu dengan yang lain, berdoa bersama, dan meruntuhkan tembok pemisah yang ada diantara berbagai kelompok gereja yang berlainan. Saya sangat ingin hadir karena Tuhan telah menunjukkan kepada saya bahwa kesatuan di dalam gerakan gereja rumah adalah sangat penting jika kami ingin memajukan Injil sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Sebelum kami saling mengampuni dan melakukan rekonsiliasi, saya yakin bahwa Allah tidak akan pernah sepenuhnya memberkati pekerjaan kami.
Pada saat itu keluarga saya sedang dicari polisi. Kami tinggal di lantai empat sebuah apartemen yang masih dalam proses pembangunan. Kami tidak bisa memperoleh tempat tinggal yang wajar karena untuk melakukannya kami harus mendaftar pada penguasa setempat, yang tentu saja akan segera membuat kami tertangkap.
Di pagi hari ketika saya harus berangkat ke pertemuan gabungan itu, saya sedang berbicara di telepon saat saya mendengar teriakan. Istri saya lari memasuki ruangan sambil berteriak histeris. Putri tertua saya, yang berusia 18 tahun, tengah menggendong adiknya, yang saat itu berusia 15 bulan, diatas balkon sambil melihat ke jalan. Entah bagaimana bayi kami terlepas dari gendongannya. Ia jatuh dari lantai empat dengan kepala lebih dahulu mendarat diatas setumpuk batu bata yang ada di jalan.
Istri saya menggendong putri kecil kami sambil menangis. Ia berkata,âCepat, kita harus membawanya ke rumah sakit segera!â Saya segera bisa melihat bahwa bayi itu sudah meninggal dunia. Kepalanya terbentur dan sebagian dari lapisan otaknya keluar melalui bagian depan tengkoraknya yang retak.
Saya berkata, âTidak ada gunanya pergi ke rumah sakit. Ia sudah meninggal dunia. Tidak ada apapun yang bisa dilakukan oleh rumah sakit untuk memperbaiki kondisinya.â Sebuah gejolak emosi menguasai saya. Di satu sisi saya tahu bahwa ia sudah meninggal dunia, sehingga tidak perlu pergi ke rumah sakit. Saya juga tahu bahwa jika kami pergi ke rumah sakit pihak berwenang akan segera mengetahui bahwa kami bukan penduduk yang terdaftar, dan saya akan segera ditangkap dan dikirim kembali ke penjara, kemungkinan besar dengan tuduhan membunuh bayi saya sendiri. Kami akan mendapat masalah karena tinggal secara illegal di sebuah bangunan yang belum selesai, dan keluarga yang telah mengijinkan kami tinggal disana juga akan mendapatkan kesulitan.
Saya juga merasa bahwa insiden ini merupakan serangan langsung dari setan yang bermaksud untuk mengalihkan perhatian saya dan menghalangi saya dan rekan-rekan kerja saya yang akan menghadiri pertemuan gabungan yang penting itu. Setan tidak senang ketika umat Allah berkumpul bersama untuk meruntuhkan tembok-tembok pemisah diantara mereka. Iblis selama bertahun-tahun secara diam-diam mendirikan tembok-tembok pemisah berupa sikap tidak mengampuni, kesalahpahaman, dan prasangka. Saya saat itu tidak terkejut bahwa iblis akan melakukan apapun untuk menghalangi pertemuan itu berlangsung.
Saya pun berlutut dan berdoa. Saya dalam keadaan marah, terguncang dan berduka pada saat yang bersamaan. Saya berkata, âTuhan jika ini adalah kehendakMu bagi gereja di Cina untuk bersatu, maka aku berdoa kepadaMu agar Engkau menghidupkan kembali putriku. Aku berdoa agar hari ini Engkau mengembalikan napas kehidupan ke dalam tubuhnya, besok Engkau akan membuatnya berbicara, dan lusa ia akan kembali bisa berjalan. Tetapi, jika bukan kehendakMu bagi gereja di Cina untuk bersatu, maka aku akan bersembunyi dan tidak akan pernah lagi memberitakan Injil-Mu.â Tentu saja saya akan selalu mempercayai Tuhan, tetapi saya hanya akan menarik diri dari garis depan dan memutuskan untuk menjalani kehidupan yang damai dan tenang.
Sebagian orang Kristen mungkin akan berkata, saya tidak mempunyai hak untuk berbicara kepada Allah seperti itu, tetapi Anda perlu memahami bahwa saya sedang dalam keadaan terguncang dan marah dan saya tahu bahwa kecelakaan ini adalah sebuah tindakan Iblis yang sengaja dirancang untuk menghalangi saya datang ke pertemuan gabungan itu.
Istri saya terus memeluk bayi itu dan menggendong tubuh tanpa nyawa itu. Putri cantik kami telah berhenti bernapas, jantungnya berhenti berdenyut, dan wajahnya pucat.
Pertemuan it akan dimulai pada malam itu di sebuah lokasi sekitar 20 mil jauhnya dari rumah kami. Saya memutuskan untuk mengesampingkan rasa duka saya dan tetap datang ke pertemuan itu sebagai tanda sikap tidak tunduk kepada setan dan sebagai sebuah tindakan iman kepada Allah. Saya juga memutuskan untuk tidak menangis, sekalipun saya sangat berduka di dalam hati saya. Saya ingin menunjukkan kepada iblis bahwa ia tidak akan pernah bisa mengintimidasi atau menghentikan saya.
Di akhir sore itu, saya meninggalkan rumah saya menuju ke pertemuan itu, dibungkus pakaian hangat untuk menghadapi dinginnya udara musim dingin. Saat saya meninggalkan rumah istri saya masih menggendong bayi itu sambil menangis. Bagian otak yang keluar masih terlihat, mengalir keluar dari retakan tulang tengkoraknya. Putri tertua saya hancur hatinya, menyalahkan dirinya karena telah menjatuhkan adiknya dari balkon.
Ketika saya sampai di pertemuan, Brother Yun telah mulai berbicara. Saya dan rekan-rekan pelayanan saya mengambil tempat duduk kami dan tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang telah terjadi. Selama makan malam, kami memutuskan untuk tidak makan. Sebaliknya, kami berpuasa dan berdoa bersama-sama di ruang pertemuan, tetapi saya masih belum mau menceritakan apa yang telah terjadi kepada orang lain. Saya terus mengingatkan Tuhan betapa putri kecil kami adalah berkat yang luar biasa, dan betapa kelahirannya telah mendatangan sukacita bagi saya di usia saya yang ke-45 tahun. Saya menguji hati saya untuk melihat apakah hal ini terjadi karena ada dosa di dalam kehidupan saya.
Saya berkata kepada Tuhan, jika hal ini terjadi karena saya telah melukai hati-Nya maka saya tidak mempunyai alas an mengeluh. âApakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!â (Ayub 2:10, 1:21).
Setelah pertemuan hari pertama itu ditutup, saya tahu keluarga saya membutuhkan saya sehingga saya segera kembali ke rumah dimana saya mendapati istri dan putri saya masih menangis. Mata mereka merah dan bengkak. Istri saya masih menggendong bayi tak bernyawa itu dengan tangannya. Saya membungkuk maju dan mendoakan bayi saya di dalam nama Yesus Kristus. Tiba-tiba saya mendengar seperti suara embusan nafas lemah dari dalam mulutnya, seperti bunyi sendawa kecil. Saya sadar bahwa ia pasti bernafas dan saya, âTerpujilah Tuhan!â Kami berempat tidur di ruang yang sama, tetapi malam itu tak satupun dari kami yang tidur. Karena emosi kami sudah kering, kami hanya duduk disana berdoa secara perlahan. Pada pukul lima pagi, saya bangun dan kembali ke pertemuan gabungan itu dan menghabiskan seluruh hari dengan berdoa dan berdiskusi dengan sesame pemimpin gereja rumah lainnya, yang masih tidak tahu apa yang telah terjadi. Pada pukul sepuluh malam, pertemuan itu berakhir dan saya kembali pulang ke rumah.
Ketika saya memasuki pintu rumah kami, saya menemukan suasana yang berbeda. Putus asa telah berganti dengan sukacita. Istri saya menyusui putri kecil kami. Ia telah bernapas dengan baik, pipinya telah kembali memerah, dan ia lapar! Allah secara ajaib telah menyembuhkan tengkoraknya, dan kulit telah membungkus bagian otaknya yang tadi terlihat. Tidak ada bantuan medis yang telah diberikan kepadanya, kecuali dari Dokter Terbesar, Yesus. Yang tersisa hanyalah luka kecil di tengah dahinya.
Terlepas dari perbaikan yang nyata ini, ia masih jauh dari normal. Ia tidak bisa berjalan atau bergerak, matanya tertutup, dan ia hanya terbaring disana tidak bergerak kecuali bernapas dan menyusu.
Saya memanggil namanya, âSheng Lingâ, yang berarti âberkat rohaniâ. Ketika ia mendengar suara saya, ia berhenti minum susu dan sebuah suara kecil keluar dari mulutnya, seolah-olah ia memberi salam kepada saya. Malam itu saya bisa tidur dengan tenang, karena tahu bahwa Tuhan sedang melakukan sebuah keajaiban besar.
Keesokan paginya, saya kembali bangun awal dan menuju pertemuan di hari ketiga. Ada banyak pertobatan dan pengakuan dosa dari para pemimpin dari berbagai kelompok gereja. Kami mendengar berjam-jam kesaksian tentang bagaimana Allah sedang bekerja di setiap jaringan gereja rumah, dan kami semua menyadari bahwa Tuhan menyertai kelompok gereja lainnya sebagaimana Ia beserta dengan kami. Tahun-tahun kepahitan dan perpecahan runtuh dibawah kaki salib. Air mata mengalir saat kami saling berangkulan dan saling menerima sebagai saudara sejati di dalam Kristus. Iblis tentu sangat marah bahwa kami berkumpul bersama sebagai umat Allah yang bersatu. Ia ingin agar kami terus bekerja secara terpisah, dilemahkan oleh dinding-dinding pemisah. Keinginan Yesus adalah agar anak-anak-Nya berjalan bersama-sama. Dia berdoa dalam Yohanes 17:22-23,
"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. "
Saya yakin bahwa tanpa pertemuan itu, dan pertemuan lainnnya seperti ini, tidak aka nada kesatuan diantara berbagai ranting yang berlainan dari gereja rumah di Cina saat ini. Dalam kondisi kami sebelumnya yang tercerai berai, tidak mungkin kami akan memiliki kemungkinan untuk menaati panggilan Allah untuk membawa Injil melalui Negara-negara yang belum mengenal Allah kembali ke Yerusalem.
Ketika saya kembali ke rumah pada malam itu, istri saya masih menyusui putri saya. Saya mengulurkan lengan saya dan berkata, âSheng Ling, mari ayah gendong kamu.â Ia mengambil satu langkah ke arah saya dan limbung, tetapi kami semua gembira karena ia telah mengambil langkah pertamanya, hanya dua hari setelah ia meninggal dunia dengan otak keluar dari tengkoraknya yang retak. Saya mulai menangis dalam sukacita.
Pada malam ketiga inilah saya menceritakan kepada keluarga saya apa yang telah saya doakan ketika Sheng Ling jatuh dari jendela. Saya berkata kepada mereka, âKetika kamu pertama kali mengambil tubuhnya dari jalan, saya berlutut dan berkata kepada Allah, âAku berdoa agar Engkau mengembalikan nyawanya kedalam tubuhnya, besok Engkau akan membuatnya berbicara, dan lusa ia akan bisa berjalan.â
Ketika mereka mendengar hal ini, mereka sangat bersukacita, karena mengetahui bahwa Allah telah melakukan suatu keajaiban yang besar.
Pada pagi keempat, saya pergi ke pertemuan dengan sukacita yang sangat besar di dalam hati saya. Akan tetapi, antusiasme saya mendadak surut ketika sejumlah pemimpin gereja rumah mengacungkan telunjuknya kepada saya dan berkata, âMereka yang menghadiri pertemuan ini diharapkan untuk tinggal disini. Komitmen untuk bersatu seperti apakah yang Anda miliki jika untuk tetap bersama dengan kami pun Anda tidak bisa, sebaliknya setiap malam Anda justru tergesa-gesa pulang ke rumah begitu pertemuan berakhir?â Saya memang belum menceritakan apapun kepada pemimpin lainnya dalam pertemuan itu, sehingga mereka tidak tahu apa yang tengah terjadi dalam hidup saya.
Dalam sesi terakhir dari pertemuan itu, Brother Yun dijadwalkan untuk berbicara, kemudian para pemimpin bermaksud untuk berdoa bersama sekali lagi sebelum setiap orang kembali ke rumahnya masing-masing. Ketika ia tengah berbicara, putrid tertua saya memasuki ruangan dan dengan girang mulai membisikkan sesuatu ke telinga saya. Ia buru-buru datang ke tempat pertemuan itu untuk memberi tahu saya bahwa adiknya sekarang telah berjalan dan berbicara dengan normal! Pada tahap itulah saya merasa harus berdiri. Saya berkata kepada setiap orang, Saya tahu sekarang bahwa adalah kehendak Tuhan bagi gereja di Cina untuk bersatu!â Di hadapan lebih dari seratus orang pemimpin, saya memberikan kesaksian tentang apa yang telah terjadi pada putri kecil saya. Setiap orang memuji Tuhan. Mereka yang menegur saya karena selalu pulang setiap malam menemui saya dan meminta maaf.
Tuhan bukan hanya menyembuhkan Sheng ling dari kecelakaan itu, melainkan ia juga telah memberkatinya dengan cara yang sangat istimewa. Ia sekarang berusia delapan tahun dan sangat cerdas sehingga di sekolah ia melompat setahun lebih awal dari teman-teman sekelasnya! Ia tidak mengalami dampak kerusakan jangka panjang sebagai akibat kecelakaan yang dialaminya. Yang tersisa hanyalah tanda luka kecil di dahinya. Tampaknya Tuhan memang meninggalkan luka kecil itu untuk mengingatkan kami akan betapa besar kuasa dan kasih karuniaNya.
Anda semua silakan datang dan mengunjungi kami kapanpun! Anda akan melihat bahwa Sheng ling sekarang adalah seorang gadis kecil yang energik dan cerdas, yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya. Namanya yang bermakna âberkat rohaniâ sangat cocok untuknya.
Tuhan pertama kali berbicara kepada saya tentang membawa Injil kembali ke Yerusalem pada tahun 1979. Sejak itu, visi ini telah semakin menjadi tujuan saya dalam melayani Tuhan. Ini adalah perintah yang saya terima dari Tuhan, panggilanNya kepada saya.
Doakan agar gereja di Cina mengenal kehendak Allah sehingga kami akan mempersembahkan diri kami kepada Allah tanpa mendua hati dan ragu-ragu. Doakan agar semakin banyak orang percaya di Cina yang memiliki beban untuk membawa Injil kembali ke Yerusalem.
Doakan agar kami mampu bekerja sama dengan sesama orang percaya dari seluruh dunia sehingga kita bisa menyelesaikan Amanat Agung bersama-sama. Ketika semua bangsa telah menerima kesaksian Injil, akhir zaman akan datang.
Baca Selengkapnya...
Senin, 04 Juni 2012
Bpk. Bounchan: Dipenjara karena Kristus
![]() |
| Bpk. Khum Christian Bounchan Kanthavong |
Bpk. Khum Christian Bounchan Kanthavong mendapat hukuman penjara 13 tahun 8 bulan di Laos karena imannya. Pada awal tahun ini ia dibebaskan. Sebelum ia menjadi orang percaya, Bpk. Bounchan bekerja sebagai asisten gubernur distrik untuk pemerintah komunis.
Pada tahun 1965, Bpk. Bouchan masuk tentara di Laos. Ia kemudian menjadi asisten untuk seorang pejabat penting. Ia pertama kali bertemu dengan orang Kristen pada saat ia dikirim untuk belajar politik di Tha Gnong pada tahun 1975. Pada waktu itu, ia tidak memberi banyak perhatian mengenai Kekristenan, tetapi kemudian sebagai asisten gubernur distrik, ia mengunjungi desa-desa yang terdapat orang Kristen. Ia merasa tertarik dengan ibadah mereka, tapi orang-orang Kristen di sana merasa takut padanya karena jabatannya dalam pemerintahan.
Pada satu waktu, ketika ia menginap bersama sebuah keluarga di sebuah desa, ia mendengar sebuah program radio Kristen yang ditopang oleh VOM. Ia mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Kekristenan, tetapi tidak ada seorang pun yang memberikannya jawaban terperinci. Sebagai seorang yang bekerja untuk pemerintah, Bouchan mempunyai keluasan masuk keluar Thailand untuk urusan bisnis. Di sana, pada tahun 1997, ia mencari orang yang ia dengar berbicara di radio.
Orang-orang Kristen di sana merasa takut dengannya, sama seperti ia sendiri merasa takut jangan-jangan mereka akan melaporkannya kepada pemerintah Laos. Tetapi orang yang ingin ia cari bersedia menemuinya. Ia kemudian membawa Bpk. Bouchan ke sebuah ruangan dan menjelaskan siapa Kristus padanya. Anggota tentara ini dibaptis pada malam itu dan mulai membagikan kabar baik itu ke manapun ia pergi.
Pihak berwenang berulang-ulang memberikan peringatan padanya untuk berhenti berkhotbah. Ia diberhentikan dari pekerjaannya. Pada tanggal 8 Juni 1999 ia ditangkap, dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Pada tanggal 2 Februari 2012, ia dibebaskan, 2 tahun lebih cepat. VOM menopangnya dan keluarganya ketika ia berada dalam penjara, termasuk menyediakan perawatan medis baginya setelah ia bebas.
Berikut ini adalah wawancara staf VOM dengannya segera sesudah kebebasannya. Ia mulai dengan membagikan apa yang terjadi padanya setelah ia dibaptis.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bpk. Bouchan: Saya kembali ke gereja saya dan bicara tentang Yesus. Banyak orang yang hadir; mereka mau menjadi Kristen. Tak berapa lama, seluruh desa mau hadir. Saya tidak tahu bagaimana menuntun mereka kepada Kristus, karena itu saya pergi menemui seorang pemimpin Kristen. Saya katakan, “Saya sudah memberitakan Injil, banyak orang yang ingin menjadi Kristen. Tolong datang dan bimbing mereka kepada Kristus. Saya tidak tahu bagaimana melakukannya.” Tapi ia merasa takut dan ia katakan, “Saya tidak bisa pergi ke sana. Kau juga seharusnya tidak boleh melakukan ini. Kamu bisa dipenjara.” Saya menjawabnya, “Oh, saya bekerja untuk pemerintah. Saya bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku. Saya tahu hukum, dan mereka tidak bisa memenjarakan saya lebih dari dua setengah tahun karena saya belum pernah melakukan apa-apa yang salah.”
Pada tanggal 8 Juni 1999, pada jam 10 pagi, empat dari para penatua gereja di desa saya ditahan oleh polisi. Hanya 30 menit kemudian mereka menahan saya juga, dan mereka menaruh kami di lima ruang kecil yang berbeda.
Saya menulis pesan di selembar kertas kecil meminta mereka untuk mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Saya katakan, “Biarkan saya yang memikul kesalahannya. Saya yang akan menanggungnya, supaya kalian bisa kembali berkhotbah dan memimpin gereja.” Keesokan harinya, mereka dibelenggu dan diinterogasi dua kali. Para penatua mengikuti saran saya dan menyangkal tuduhan yang diberikan. Dua di antara mereka dihukum penjara selama enam bulan sebelum dilepaskan. Dua lainnya dihukum delapan tahun penjara, tetapi keduanya meninggal dunia tiga tahun sebelum masa tahanan mereka berakhir. Saya yang tersisa di penjara.
Dalam penjara, saya selalu bertindak hati-hati. Saya tidak makan makanan yang diberikan di penjara atau diberi oleh polisi. Saya tidak minum air yang mereka beri, kuatir jangan-jangan sudah diracuni. Saya tidak makan makanan mereka sama sekali. Saya harus hati-hati karena saya tahu hidup saya berharga bagi Allah dan pelayananNya.
Banyak kali, polisi yang datang untuk menginterogasi saya, mengatakan dengan halus, “Minumlah segelas air. Kau sedang sakit tenggorokan, dan kau haus. Kau bahkan terdengar haus. Ini, minumlah segelas air ini.” Saya menjawab, “Tidak, terima kasih banyak. Saya tidak haus.” Banyak kali mereka menawarkan makanan dan minuman, tetapi saya tidak menerimanya. Saya juga beri tahu teman-teman saya untuk tidak menerima makanan dan minuman dari mereka, tetapi teman-teman saya tidak mendengar saya.
Dua puluh hari sesudah saya ditahan, mereka melakukan investigasi terhadap saya selama lima hari, kemudian mengatakan, “Kau tidak mengatakan yang sebenarnya. Kami tahu kau sedang mencoba melakukan hal yang buruk terhadap negara.”
Lalu mereka membelenggu saya. Belenggunya terbuat dari kayu, kayunya besar – lumayan besar. Belenggu itu memisahkan kedua kaki saya, dan mereka juga memborgol tangan saya. Mereka kuatir saya akan melarikan diri. Mereka memborgol saya, bahkan mengikat kedua ibu jari saya. Lalu mereka menaruh saya dalam sebuah ruangan gelap selama tujuh hari tanpa makanan.
Salah seorang penjaga datang diam-diam ke ruangan saya pada jam 9 malam dan memberi saya sedikit makanan. Saya bertahan karena makanan itu – sedikit makanan dari penjaga itu.
VOM: Apakah mereka memberimu air minum selama tujuh hari itu?
Bpk. Bounchan: Tidak sama sekali. Ruangan itu sangat kotor, dan saya mendapat kusta. Ya, sama seperti yang di dalam Alkitab. Saya tidak bisa menggaruk tubuh saya karena diborgol, tapi istri saya mengirimkan cabai untuk saya karena mereka tidak mau memberikan saya obat. Saya tidak punya apa-apa selain sedikit nasi dan cabe yang diberi istri saya. Saya berdoa pada Tuhan, mengolek cabe itu dan menggunakannya untuk mengurangi rasa gatal. Saya melakukannya sampai cabe itu habis, dan kulit saya kelihat lebih baik.
Ketika cabe sudah habis, kustanya kelihatan sudah sembuh. Tapi setelah seminggu kemudian, saya merasakan rasa sakit di mata saya seperti sesuatu telah menggit saya. Istri saya datang dan minta izin untuk membawa saya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan karena mata saya, tapi polisi mengatakan, “Ia musuh negara kita. Jangan merawatnya. Biar ia menjadi buta, dan biar ia mati di sini. Kami tidak akan mengizinkan kalian pergi ke rumah sakit.”
Mereka menginterogasi saya 16 kali, dan menanyakan, “Mengapa kau pergi ke desa-desa dan memberi tahu mereka tentang nama Yesus?” Saya jawab, “Tidak, saya tidak berkhotbah tentang nama Yesus. Kalian tahu hukum. Kalian memberi kami saluran untuk melakukan ini karena kami berhak untuk percaya tentang apapun. Saya berkhotbah tentang Allah.” Mereka marah karena saya katakan bahwa menurut hukum saya berhak untuk menceritakan tentang Yesus.
VOM: Sebelum Anda ditahan, ketika Anda berkunjung ke desa-desa, Anda katakan bahwa Anda mengatakan kepada mereka tentang bagaimana menjadi seorang Kristen, tetapi Anda tidak tahu bagaimana menuntun mereka. Pesan apa yang Anda sampaikan kepada mereka pada waktu itu?
Bpk. Bouchan: Saya memberitakan kepada mereka bahwa menjadi seorang Kristen akan membebaskan kalian, dan Allah akan membersihkan hidup mereka. Saya katakan, “Jadilah seorang Kristen, maka kalian akan tahu bahwa kalian harus bertobat. Kalian akan bebas dari tujuh kebiasaan. Kalian bisa dilepaskan dari hati ular, macan, merak atau babi kalian.”
[Pak Bounchan menggunakan sebuah penyajian berita injil dengan menggunakan gambar binatang yang menunjukkan kejahatan hati dan tindakan kita.]
VOM: Jadi ketika Anda katakan pada penjaga bahwa Anda tidak mengkhotbahkan Yesus, Anda tidak berkhotbah tentang namaNya.
Bpk. Bouchan: Ketika saya memberitakan Injil, saya katakan pada mereka untuk datang pada Tuhan dan bertobat. Saya hanya tahu langkah pertama. Saya tidak mengetahui secara mendalam tentang nama Yesus.
VOM: Menurut Anda apa yang membuat begitu banyak orang meresponinya?
Bpk. Bouchan: Kebanyakan mereka adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan – mereka merokok, minum minuman keras dan menyembah roh palsu. Jadi saya katakan pada mereka jika mereka menjadi anak-anak Allah, mereka akan dilepaskan. Hal itu merupakan perubahan yang besar bagi mereka, karena setiap tahun mreka harus mempersembahkan seekor babi, sapi, atau kerbau untuk roh. Ketika saya memberi tahu mereka bahwa Allah bisa melepaskan mereka, hal itu sangat membantu bagi mereka – tidak hanya secara rohani dan jasmani, tetapi secara finansial juga.
Dalam tahanan, saya ditaruh sendirian dalam sebuah ruangan selama satu tahun, dan selama masa itu, saya tidak pernah diberikan sebuah Alkitab. Keluarga saya menganggap bahwa adalah hal yang aneh saya meminta untuk dikirimi Alkitab. Saya bahkan meminta penjaga yang memberikan saya makanan untuk memberi tahu istri saya sebuah pesan. Saya katakan, “Beri tahu istri saya, 'Boleh tolong saya? Bawa sebuah Alkitab untuk saya. Saya tidak bisa hidup tanpa Alkitab. Saya harus membaca Alkitab.”
Setelah satu setengah tahun, mereka mengeluarkan saya. Bukan keluar dari penjara, tetapi dari ruang gelap itu. Segera saya disuruh bekerja keras membawa kayu bakar dua kali sehari. Mereka memaksa saya untuk membawa kayu bakar sebesar paha. Banyak kali saya merasa sangat lelah, tapi polisi akan menaruh senjata di punggung saya dan katakan, “Panggillah Tuhan untuk menolongmu. Berserulah pada Tuhan untuk memberimu kekuatan.”
Saya memberitakan Yesus, dan mereka berkata pada saya, “Kau percaya pada hal yang baik.” Mereka mulai memperlakukan saya dengan sopan, tetapi setelah satu minggu kemudian, mereka semua dipindahkan. Sebuah kelompok polisi yang baru ditugaskan di situ.
VOM: Apa yang Anda lakukan ketika mereka mengejek Anda?
Bpk. Bouchan: Saya tidak mengatakan apa-apa. Satu kali, para penjaga bertanya pada saya jika saya lelah, dan saya katakan pada mereka kalau saya lelah. Seorang penjaga bertanya, “Apa yang kau makan dengan nasi?” Saya katakan, “Tidak ada. Istri saya hanya mengirimkan nasi dan sayur-sayuran.”* Penjaga itu mengatakan, “Uang Yesus bertebaran di seluruh dunia dan di sini juga. Kau seharusnya minta padaNya untuk mengirimkan sejumlah uang untukmu supaya kau bisa membeli makanan yang baik.”
Selama sepuluh tahun, mereka memaksa saya untuk membuka hutan untuk di jadikan ladang padi. Saya melakukannya untuk polisi yang menjaga penjara. Kebanyakan saya akan membuka tanah mereka sendiri, tapi kadang kala saya membuka untuk milik orang lain. Polisi yang mendapat uangnya. Dua kali sehari, mereka memaksa saya untuk pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar.
Pada tahun 2007, mereka percaya pada saya dan tidak mengawasi saya. Mereka membiarkan saya pergi sendiri untuk mengambil kayu bakar. Pada bulan Juli atau Agustus, mereka memberikan saya dua atau tiga jam untuk mengambil kayu bakar karena saat itu air sungai menguap. Saya tahu rutinitas setiap hari, sehingga pada hari pertama saya mengumpulkan kayu cukup untuk dua hari. Pada hari kedua, saya berenang menyebrang sungai yang meluap, lari ke rumah saya, mengambil lima buah Alkitab dan lari kembali. Saya menyembunyikan Alkitab-Alkitab itu dan kemudian membawa kayu bakar kembali ke kamp.
Pada satu hari saya sedang membawa kayu bakar, di dalam tas saya ada Alkitab. Polisi mengatakan pada saya, “Hey, saya mau memeriksa tasmu.” Mereka menemukan Alkitab saya dan membawa saya ke kantor. Mereka memanggil saya ke lantai dua di mana ada banyak polisi. Mereka meminta saya untuk mengatakan kepada mereka tentang buku itu dan memaksa saya untuk membacanya dengan suara nyaring. Setelah saya membaca beberapa waktu lamanya, saya berhenti dan berkata, “Oh, saya tidak bisa menyelesaikannya dalam satu hari, tapi kalau kalian ingin mengetahui lebih banyak, saya akan mengatakannya pada kalian.” Saya sedang membagikan Injil kepada mereka ketika seorang kolonel masuk ke ruangan. “Apa yang kalian sedang lakukan?” tanyanya. Salah satu polisi menjawab, “Kami sedang belajar tentang Yesus. Ini buku Yesus.” Kolonel itu berkata, “Buku jelek itu? Siapa yang bawa itu kemari? Buang sana!”
Lalu saya katakan, “Pak, ini buku yang baik. Mari datang dan lihat jika Anda tak percaya.” Beberapa hari berikutnya, mereka membawa saya ke kantor kolonel itu. Ia berkata, “Sekarang, katakan pada saya tentang bukumu itu.” Ketika seorang polisi yang lain datang ke kantor dan melihatnya tertarik dengan apa yang saya sedang katakan, mereka berdua pun mendengarkan saya. Tak berapa lama, beberapa polisi lainnya masuk untuk mendengarkan saya. Saya memberitakan Yesus, dan mereka berkata pada saya, “Kau percaya pada hal yang baik.” Mereka mulai memperlakukan saya dengan sopan, tetapi setelah satu minggu kemudian, mereka semua dipindahkan. Sebuah kelompok polisi yang baru ditugaskan di situ.
Ketika mereka mengambil Alkitab saya, saya tidak pernah mendapatkannya lagi. Tapi saya punya sebuah Alkitab yang saya kubur di ruang di mana saya tidur. Sebagian lantai rusak, sehingga saya menggali tanahnya dan mengubur Alkitab saya di situ. Saya juga mendengar sebuah program Kristen dari sebuah radio kecil. Saya bahkan mendengar nama saya disebut, dan hal itu memberi saya dorongan. Tapi satu hari polisi datang dan memeriksa sekitar ruangan saya dan di bawah tikar. Mereka menemukan lubang di bawah tempat tidur saya, mengambil Alkitab dan radio dan memberi saya denda. Saya tidak mempunyai uang, karena itu saya menebang bambu dari hutan, membuat kandang ayam dan menjualnya untuk membayar denda itu.
VOM: Bagaimana Anda membawa Alkitab dan radio ke dalam penjara?
Bpk. Bouchan: Istri dan anak-anak saya meninggalkan radio itu di rumah seseorang dekat penjara. Para penjaga percaya pada saya, sehingga ketika saya membawa keranjang untuk mengambil sayur-mayur, mereka membiarkan saya. Saya mengambil tumbuhan dengan daun besar – saya tidak tahu namanya dalam Bahasa Inggris. Saya kemudian menggunakan tumbuhan itu untuk membungkus sebuah Alkitab atau radio ke dalam, saya menaruh sayuran yang lain di atasnya.
VOM: Berapa lama Anda memiliki radio itu sebelum mereka menemukannya?
Bpk Bounchan: Bounchan: Mereka mengambil lima radio dari saya. Beberapa bertahan sampai lima atau enam bulan, tetapi yang lain cepat rusak.
VOM: Bagaimana dengan Alkitab? Berapa banyak Alkitab?
Bpk Bounchan: Mereka mengambil lima Alkitab, tapi saya memiliki enam Alkitab dalam penjara. Akhirnya mereka tak peduli lagi dengan yang keenam. Saya bisa membacanya dengan terang-terangan; mereka tidak keberatan.
VOM: Kapan Anda mendengarkan radio, apakah Anda harus melakukannya diam-diam?
Bpk Bounchan: Saya mendengarnya di bawah jaring nyamuk dengan menggunakan headphone, dan saya masuk di bawah selimut. Ketika saya mendengar bermacam program Kristen, hati saya disegarkan.
Tetapi ketika kelompok penjaga baru datang, mereka menemukan Alkitab saya dan membakarnya. Tidak semuanya terbakar, ada bagian-bagian yang tertinggal. Saya marah, dan mengambilnya dan membacanya terang-terangan, sekalipun hanya tinggal sebagian kecil yang tertinggal. Saya tidak peduli dengan perasaan mereka. Saya menjadi marah dan berdoa, “Oh Tuhan, hukumlah mereka supaya mereka tahu bahwa Engkaulah yang mahatinggi.”
[Beberapa tahun setelah doa Bounchan itu, kepala polisi meninggal karena virus yang menyerang liver, dan empat penjaga lainnya dipenjara karena mencuri dan perdagangan obat terlarang]
Bpk Bounchan: Pada tahun terakhir di penjara, para penjaga minum banyak setelah menyembelih seekor sapi. Seorang kapten lupa pistolnya di atas tempat tidur saya, dan saya melihatnya dan merasa takut. Apa yang harus aku lakukan? Jika saya membawa pistol ini ke kantor, mereka mungkin akan menuduh saya dengan sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya memutuskan untuk menunjukkan pistol itu pada seorang penjaga, dengan berkata, “Pak, saya menemukan pistol ini. Seseorang datang ke pondok saya dan lupa.” Penjaga itu mengatakan, “Lihat nomornya. Oh, ini pistol Kapten Pornchai.” Sebuah pesan disampaikan kepada kapten itu untuk datang menemui saya, tapi ia berkata, “Bounchan mau bertemu saya?” Ia marah. “Mengapa tahanan ini berani memanggil saya? Mengapa ia perlu bertemu dengan saya?” Tapi penjaga itu mendesaknya. Ia sangat marah ketika ia datang pada saya. “Apa yang kau mau?” tanyanya. Saya katakan, “Apakah ini pistol Anda?” dan tingkah lakunya berubah. “Oh terima kasih. Terima kasih. Baik. Terima kasih. Terima kasih banyak,” katanya sambil berlutut di lantai. Kau menyelamatkan pekerjaan saya. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.” Ia menyalami tangan saya. Ia tanyakan apa yang ingin saya makan. Ia menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk saya.
VOM: Kapten itu, ia sungguh berlutut?
Bpk Bounchan: Ya, ia bisa kehilangan pekerjaannya karena kehilangan pistolnya.
Bulan Januari tahun ini, seorang kepada penjara mengatakan pada saya, “Keluarga Anda sangat kuat dalam iman mereka sehingga Kekristen menyebar kemana-mana. Itu sebabnya kau tinggal di sini. Kami tidak bisa membiarkan kau keluar karena keluargamu masih terus menyebarkan Injil. Kalau kau mau dilepaskan, pulang ke rumah, minum dan bermain dan bergabung dengan partai seperti kami – itu hal yang terbaik bagi seseorang di dunia ini – jangan hidup seperti kau ini. Berhenti percaya pada imanmu atau kau akan tetap miskin. Banyak orang percaya yang menjadi miksin dan semakin miskin sampai pada akhirnya tidak percaya sama sekali.”
Tapi saya tahu tinggal sebentar lagi saya akan bebas. Saya katakan padanya, “Kalau Anda berhenti menyembah berhala dari semen, kalau Anda berhenti menyembah berhala dari emas atau perunggu, maka saya akan berhenti menyembah Allahku. Anda tidak mau berhenti. Mengapa Anda mau memaksa saya untuk berhenti?”
Pada tahun 2010, saya dipaksa untuk membersihkan toilet polisi di kamp. Saya harus membawa air dari tempat yang sangat jauh. Saya gunakan dua ember untuk membawa air untuk ditaruh di toilet. Saya lakukan ini setiap hari selama delapan bulan.
Suatu kali saya jatuh karena saya sudah tua dan membawa ember berat berisi air. Ada rasa sakit di bagian punggung, dan saya mencoba untuk berdiri tapi jatuh ke dalam sungai. Polisi mengejek saya sambil berkata, “Hey, mengapa kau tidak memanggil Allahmu untuk memberimu kekuatan?”
VOM: Jadi ketika tentara dan polisi mengejekmu karena imanmu, mengapa kau diam saja?
Bpk Bounchan: Saya takut kalau-kalau mereka akan melakukan suatu kekerasan. Aku sudah melihat penjaga menembak tahanan lainnya yang mencoba menanggapi mereka. Mereka tidak menembakmu, tapi menakutimu. Mereka menembakimu dan kau yang membayar lima dolar untuk setiap peluru.
Pada tanggal 3 September 2010 polisi memberi tahu saya bahwa mereka menerima sebuah surat dari Amerika dan Kanada, tapi saya tidak pernah diijinkan untuk melihatnya. Mereka juga menaruh saya dalam sebuah ruangan kecil tanpa makanan selama 10 hari karena surat itu. Selama 10 hari saya tidak ada makanan atau air, tapi saya ditahan dalam ruangan itu selama sebulan dan lima belas hari.
VOM: Jadi pada satu waktu, ketika nama Anda disebut di program radio Voice of America, hal itu memberi dorongan besar pada Anda. Tapi sekarang [surat] itu mengakibatkan masalah serius bagi Anda.
Bpk Bounchan: Saya mengirim pesan pada istri saya untuk mencari tahu di mana surat itu. Ia coba, tetapi ia tidak bisa menemukan apa-apa. Tapi mereka katakan bahwa surat itu ada pada mereka, dan mereka menaruh saya dalam sebuah ruangan kecil selama sebulan dan lima belas hari. Saya juga harus membayar denda 200,000 kip [kurang lebih Rp 225.000] ketika saya dikeluarkan.
Sebelum saya dikeluarkan dari penjara, pejabat tinggi yang berwenang di penjara itu mengatakan pada saya, “Kalau kau dilepaskan, hentikan kepercayaanmu. Jangan percaya sama sekali. Jangan ambil apapun, dan jangan pergi ke manapun. Jangan berkomunikasi dengan orang Kristen lainnya, atau kau tidak akan mendapatkan apa-apa.” Saya dilepaskan tiga bulan setelah itu.
VOM: Anda tidak kelihatan marah atau merasa kepahitan karena dipenjara. Apakah Anda merasa marah sewaktu Anda masih berada di penjara?
Bpk Bounchan: Saya tidak merasa menyesal, tapi di sisi lain, saya bersyukur kepada Tuhan. Bahkan di penjara, saya tahu Allah menyertai saya, dan saya tahu apa yang Ia telah lakukan untuk saya di kayu salib. Hal itu lebih besar dari apa yang saya alami di penjara.
VOM: Pada waktu kapan Anda merasa sangat lemah atau waktu kapan Anda merasa kesulitan yang sangat? Kapan menurut Anda merupakan waktu terburuk bagi Anda?
Bpk Bounchan: Waktu terburuk bagi saya adalah dari tahun 1999-2001 – sekitar tiga atau empat tahun – karena pada waktu itu saya tidak mempunyai sebuah Alkitab. Saya juga baru menjadi seorang percaya, tapi tetap mempunyai damai sejahtera dalam hati saya. Ketika saya memperoleh Alkitab atau radio, saya akan membaca dan mendengar untuk bertumbuh dalam iman saya setiap hari.
VOM: Jadi pada waktu Anda tidak mempunyai apapun sama sekali. Mengapa Anda tetap setia kepada Allah?
Bpk Bounchan: Saya mengingat sesuatu yang saya dengar di radio. Pembawa acara mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang menciptakan dunia, alam semesta. Ketika saya mendengar kata-katanya, saya memikirkan bumi, bintang-bintang dan bulan, dan saya melihat kemuliaan Allah. Betapa menakjubkan! Kalau tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan itu semua, bagaimana itu semua dapat ada? Ketika saya memandang semua itu, saya melihat bahwa semua itu nyata adanya. Hal itu menghibur dan mendukung saya dan menyebabkan saya bergantung pada iman saya ketika itu.
VOM: Dapatkah Anda mengatakan sedikit tentang bagaimana kelihatannya penjara itu? Gambarkan ruang gelap itu.
Bpk Bounchan: Ruang itu dibuat dengan batu-batu besar dan semen, tapi pintunya terbuat dari besi dengan sebuah lubang seperti jendela. Pada pukul 11.30 pagi, seorang penjaga akan membuka jendela itu dan menjatuhkan makanan. Kemudian pada pukul 3 sore makanan dibawa lagi. Selain itu, saya tidak tahu waktu hari itu. Syukur pada Allah karena pintunya terbuat dari besi. Ada sebuah lubang kecil akibat karatan. Di situ saya akan berdiri dan menaruh hidung saya dilubang itu dan menghirup udara segar.
VOM: Kalau seseorang memberitahu kisah Anda kepada orang Kristen di seluruh dunia, apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan kepada orang-orang yang berdoa untuk Anda?
Bpk Bounchan: Saya berada dalam penjara. Saya tahu bagaimana sulitnya hidup ini, tapi saya ingin mendorong orang percaya di Amerika untuk tetap kuat dalam iman mereka. Saya tahu banyak orang Amerika belum menerima Yesus, tapi kalian mempunyai kebebasan untuk memberitakan Yesus dan membagikan Injil. Pergilah memberitakan Injil dalam nama Yesus karena kalian bisa. Kalian punya hak untuk membaca Alkitab, untuk berdoa dan pergi ke gereja. Saya mohon, lakukan itu.
Saya mohon doakan negara saya Laos, supaya Allah akan mengubah negera ini menjadi negeri milik Tuhan. Doakan supaya setiap orang menerima Yesus Kristus karena saya tahu tidak ada yang berharga dalam hidup ini selain menjadi Kristen dan mengikuti Yesus Kristus.
Terima kasih kepada saudara dan saudari di Amerika, Kanada dan negara lainnya untuk doa Anda yang setia. Saya tahu bahwa saya masih hidup hari ini karena kesetiaan Anda berdoa. Saya sekarang membagikan kesaksian saya karena doa Anda yang berkuasa.
Saya mohon doa untuk hidup saya sekarang ini. Ketika saya hidup, saya ingin hidup saya memuliakan kerajaan Tuhan kita. Saya ingin membagikan Injil dan melakukan hal-hal yang baik untuk memuliakan Dia. Doakan saya. Doakan keluarga saya untuk melayani, dan doakan supaya Allah akan menyediakan apa yang kami perlu.
Anak perempuan Bpk Bounchan, Sangdara, mengingat penyalahgunaan obat oleh ayahnya dan perilaku kasarnya terhadap ibunya. Tetapi ketika ayahnya bertemu Yesus, semua itu berubah. Bahkan dengan ayahnya berada di penjara, pelayanan Kristen keluarga ini terus bertumbuh.
Sangdara: Sejak hari di mana ayah saya pulang dan mengatakan kepada ibu saya tentang Tuhan, kami melihat perubahan yang besar di dalam hidupnya. Ketika ibu saya menjadi marah, ia tidak akan menanggapinya. Ketika ibu saya sudah tenang, ia akan mengulangi, “Apa yang kau pikir tentang Tuhan yang kukatakan beberapa hari lalu?” Ibu saya akan memakinya lagi, tapi ayah saya selalu diam saja. Saya melihat suatu perubahan besar, tapi saya tidak mengerti mengapa ayah saya begitu berbeda atau mengapa ia membiarkan ibu saya berbicara seperti itu padanya. Mengapa ia tidak memukul ibuku seperti sebelum-sebelumnya? Mengapa ia tidak menanggapinya? Setelah itu, ibu saya mulai bertanya-tanya tentang hal yang sama. Sejak ia menjadi seorang Kristen, ia tidak pernah meninggalkan rumah dengan perempuan-perempuan lain. Ia berhenti minum. Ia berhenti meminjam uang dari orang lain.
Kami mempunyai altar untuk roh di rumah kami, tapi satu hari, ia mematahkan altar itu. Ia membongkarnya dan melemparkannya keluar. Kami semua terkejut. Tidak seorang pun yang bisa mengatakan sepatah kata. Beberapa minggu berikutnya, ia bertanya lagi pada ibu saya, “Apa yang kau pikir tentang Tuhan yang kuceritakan padamu? Apakah kita perlu percaya pada Allah ini?”
Ibu saya menjadi marah padanya. Ia mengambil sebuah kendi logam dan memukul kepala ayah saya. Ia masih tidak membalasnya. Kemudian, dua orang laki-laki datang ke rumah saya, membuka Alkitab dan membagikan Injil kepadanya. Ia belajar tentang Allah, dan seminggu kemudian, ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus.
Ketika ayah saya dipenjara, saya melihat ibu saya menjadi sangat haus dan lapar akan Firman Tuhan. Jujur, ia tidak pernah meletakkan Alkitab. Pada malam hari, siang hari, di rumah – ia tidak pernah meninggalkan Alkitab. Saya tidak tahu apa-apa pada waktu itu, tapi saya melihat bahwa ayah saya juga suka membaca buku itu.
Namun ketika itulah saya mengalami bagaimana Allah mengubah kami. Sebelumnya, jika seseorang mengatakan hal-hal yang buruk atau mengutuk saya, saya akan panik dan merasa tak senang. Bahkan ketika gurunya mempermalukan saya di hadapan murid-murid lain dan ketika saya tidak mempunyai teman, saya merasakan kehangatan dalam hati saya. Saya mempunyai damai sejahtera seperti seseorang berdiri di samping saya dan menghibur saya.
VOM: Kapan setelah itu kau melihat ayahmu?
Sangdara: Setelah hampir dua bulan, polisi mengizinkan saya bertemu dengan ayah saya. Ayah saya mengatakan pada saya, “Tetap kuat dalam Tuhan, kasihi Dia, layani Dia dan jangan kuatir dengan aku. Jika mereka akan membiarkanku mati di sini, aku rela mati demi nama Allah.”
Saya bertanya-tanya Allah mana yang dimaksud ayahku. Siapakah Allah? Tetapi dorongan ayah saya mengiang-ngiang di kepala saya: tetap kuat, kasihi dan layani Allah. Hal itu mengganggu pikiranku setiap hari. Saya pergi pada ibu saya, dan ia memberikanku sebuah Alkitab, sambil berkata, “Allah ada di dalamnya. Bacalah.” Setelah saya menjadi orang percaya, saya ingin belajar Alkitab. Saya ingin melayani Allah. Hanya ada tiga orang percaya di daerah kami: ibu saya, salah satu kakak laki-laki saya, dan saya sendiri. Kami duduk di sebuah meja kecil setiap hari Minggu, membaca Alkitab dan berdoa. Kemudian sebuah keluarga bergabung dengan kami, lalu sebuah keluarga. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, banyak orang menghadiri gereja rumah kami. Tak lama, 36 gereja rumah beroperasi di daerah di mana kami tinggal.
Pada waktu ayah saya baru dipenjara, keadaan sangat sulit. Orang-orang memandang remeh dan membenci kami. Di sekolah saya, gurunya mengatakan kepada murid-murid lain, “Inilah putri dari musuh negara kita.” Saya tidak mempunyai teman. Tidak ada yang bicara pada saya di sekolah, dan semuanya memandang remeh terhadap saya.
Namun ketika itulah saya mengalami bagaimana Allah mengubah kami. Sebelumnya, jika seseorang mengatakan hal-hal yang buruk atau mengutuk saya, saya akan panik dan merasa tak senang. Bahkan ketika gurunya mempermalukan saya di hadapan murid-murid lain dan ketika saya tidak mempunyai teman, saya merasakan kehangatan dalam hati saya. Saya mempunyai damai sejahtera seperti seseorang berdiri di samping saya dan menghibur saya.
VOM: Bagaimana perasaanmu sekarang ini dengan kebebasan ayahmu setelah 14 tahun? Bagaimana pemikiranmu sekarang?
Sangdara: Saya sangat bersyukur karena ayahku telah dibebaskan. Lewat masa-masa sulit yang ia lalui di penjara, ia menjadi teladan pelayanan bagi kami yang hidup di luar. Karena kesabarannya, kami dapat melalui banyak masalah. Ia tidak pernah mengeluh, bahkan ketika ia jatuh sakit. Ia tetap mengirimkan pesan pada kami mendorong kami supaya tetap kuat. Ketika ia dilepaskan, hal itu adalah sukacita yang besar bagi keluarga kami.
VOM: Adalah hal yang luar biasa yang dikerjakan Allah di dalam keluarga kalian. Ini adalah cerita yang luar biasa tentang kasih dan kesetiaan Allah.
Sangdara: Karena ayah saya dipenjara, kami mengalami kebaikan, kasih dan kemurahan dari Tuhan. Banyak orang menangis bersama kami, berdoa untuk kami dan mendukung kami. Jika kami tidak mempunyai Allah, doa dan dukungan, pasti kami sudah mendapat masalah. Karena kasih karunia Allah dan karena kasih dan doa yang tak henti-hentinya, kami tak pernah tidur dengan perut kosong sekalipun kami miskin. Tuhan menyediakan bagi kami dengan makanan sehari-hari, dan kami selalu punya cukup makanan.
Terima kasih banyak untuk bantuan dan dukungan Anda yang setia. Karena kalian, kami bisa tegak berdiri dalam iman dan melayani Allah seperti yang sedang kami lakukan hari ini. Apa yang kalian telah lakukan untuk kami, kami lakukan untuk orang lain. Kami akan mengembalikan perbuatan kasih kalian kepada orang lain dan membuatnya hidup bersama mereka.
Sumber: Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Jumat, 01 Juni 2012
Menjadi Imam dan Raja untuk Penginjilan serta Doa
Doa dan penginjilan adalah berkat dan tugas mulia yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya adalah kekuatan besar yang ampuh menembus selubung kegelapan yang terus mengincar manusia. Tuhan sendiri telah memberikan kepada kita kuasa dan kekuatan dalam anugerah “Imam dan Raja” untuk terus memberitakan FirmanNya.
Hal inilah yang disampaikan pendiri Voice in the City Suzette Hattingh ketika membawakan materi “Prayer and Evangelism” dalam World Prayer Assembly di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor Jawa Barat, Selasa (15/5). Pada sesi ini puluhan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela untuk duduk dilantai karena padatnya ruangan yang telah terisi oleh ratusan peserta.
“Peran sebagai Imam tidak bisa saudara sendiri yang mengangkatnya, namun Tuhan sendiri yang akan menetapkan. Dan hal itu telah ditetapkan Tuhan. Artinya Tuhan telah melihat bahwa kita adalah Raja dan Imam. Begitulah cara pandang Tuhan melihat kita,” ujar Suzette.
Mengenai makna dari Imam dan Raja tersebut, Suzette menandaskan bahwa keduanya erat berhubungan sebagai Kuasa Tuhan. “Berbicara mengenai Imam adalah seorang pribadi yang mendominasi mengenai doa. Sedangkan status Raja berarti otoritas, kekuatan, kuasa, mukjizat, tanda ajaib, khotbah. Kita bertindak menyatakan kuasa Tuhan,” tegas Suzette.
Dalam sesi ini Suzette pun menceritakan bagaiman konsep tersebutlah yang membawanya terhadap penginjilan terhadap banyak orang. Bahkan penginjilan dikala dirinya tidak berjalan.
Jika anda secara penuh ingin melihat dan mengetahui materi “Law and Justice” dalam format video ini, silahkan hubungi email lighthousepros@yahoo.com.
Sumber : Jawaban.com - Daniel Tanamal Baca Selengkapnya...
Hal inilah yang disampaikan pendiri Voice in the City Suzette Hattingh ketika membawakan materi “Prayer and Evangelism” dalam World Prayer Assembly di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor Jawa Barat, Selasa (15/5). Pada sesi ini puluhan peserta yang tidak kebagian tempat harus rela untuk duduk dilantai karena padatnya ruangan yang telah terisi oleh ratusan peserta.
“Peran sebagai Imam tidak bisa saudara sendiri yang mengangkatnya, namun Tuhan sendiri yang akan menetapkan. Dan hal itu telah ditetapkan Tuhan. Artinya Tuhan telah melihat bahwa kita adalah Raja dan Imam. Begitulah cara pandang Tuhan melihat kita,” ujar Suzette.
Mengenai makna dari Imam dan Raja tersebut, Suzette menandaskan bahwa keduanya erat berhubungan sebagai Kuasa Tuhan. “Berbicara mengenai Imam adalah seorang pribadi yang mendominasi mengenai doa. Sedangkan status Raja berarti otoritas, kekuatan, kuasa, mukjizat, tanda ajaib, khotbah. Kita bertindak menyatakan kuasa Tuhan,” tegas Suzette.
Dalam sesi ini Suzette pun menceritakan bagaiman konsep tersebutlah yang membawanya terhadap penginjilan terhadap banyak orang. Bahkan penginjilan dikala dirinya tidak berjalan.
Jika anda secara penuh ingin melihat dan mengetahui materi “Law and Justice” dalam format video ini, silahkan hubungi email lighthousepros@yahoo.com.
Sumber : Jawaban.com - Daniel Tanamal Baca Selengkapnya...
Senin, 28 Mei 2012
Peran Gereja Sangat Besar Merajut Kebhinekaan
Saat melakukan simbolisasi saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Jakarta, Jumat (25/5), Ketua Ketua MPR RI Taufiq Kiemas menegaskan bahwa gereja adalah tempat tumbuhnya spirit dan ide-ide kebersamaan dalam merajut bangsa dan negara ini.
Suami Mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri ini mengingatkan bahwa di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja para pendiri bangsa itu. "Inilah spirit keindonesiaan kita yang membanggakan. Di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja mereka," katanya.
Dirinya menambahkan juga bahwa Gedung PGI selama ini dipakai tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga umat Islam dan umat lainnya untuk melakukan berbagai kegiatan. Keistimewaan para pendiri gereja itu, kata Taufiq, adalah dalam membangun solidaritas internal gereja-gereja. Taufiq juga mengucapkan terima kasih kepada PGI, yang telah bersama-sama merajut kemajemukan, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pembangunan gedung PGI yang diperkirakan selesai tahun 2013 menghabiskan dana sebesar Rp 35 miliar. Saat ini, total anggaran yang masuk sekitar Rp 2,5 miliar. Hadir pada kesempatan itu, Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto T Thohari dan Ibu Melani Leimena Suharli anak dari Pahlawan Nasional yang juga tokoh perjuangan Johanes Leimena.
Sumber: jawaban.com Baca Selengkapnya...
Suami Mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri ini mengingatkan bahwa di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja para pendiri bangsa itu. "Inilah spirit keindonesiaan kita yang membanggakan. Di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja mereka," katanya.
Dirinya menambahkan juga bahwa Gedung PGI selama ini dipakai tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga umat Islam dan umat lainnya untuk melakukan berbagai kegiatan. Keistimewaan para pendiri gereja itu, kata Taufiq, adalah dalam membangun solidaritas internal gereja-gereja. Taufiq juga mengucapkan terima kasih kepada PGI, yang telah bersama-sama merajut kemajemukan, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pembangunan gedung PGI yang diperkirakan selesai tahun 2013 menghabiskan dana sebesar Rp 35 miliar. Saat ini, total anggaran yang masuk sekitar Rp 2,5 miliar. Hadir pada kesempatan itu, Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto T Thohari dan Ibu Melani Leimena Suharli anak dari Pahlawan Nasional yang juga tokoh perjuangan Johanes Leimena.
Sumber: jawaban.com Baca Selengkapnya...
Kamis, 24 Mei 2012
Memaknai Pentakosta
Warta Jemaat Minggu 27 Mei 2012
Pencurahan Roh Kudus memberi makna baru di dalam kehidupan para murid Yesus (KPR 2:1-13). Perubahan radikal terjadi di dalam seluruh aspek hidup mereka. Petrus yang menyangkal Yesus diubah menjadi Petrus yang pemberani. Bukan pemberani dalam hal negatif namun dalam hal menyaksikan Injil Kristus. Kata “saksi” adalah martoos yang diterjemahkan martyr, yaitu menjadi saksi atas sebuah peristiwa dan bila perlu membayarnya dengan nyawa untuk mempertahankan kesaksiannya.
Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali (Matius 26:69-75). Ia takut mengakui imannya kepada hamba perempuan Imam besar, sehingga ia menyakiti hati Tuhan. Mungkin ini terdengar wajar bila mengingat tekanan dan intimidasi yang terjadi terhadap para pengikut Yesus. Namun bila kita mengerti bahwa Petrus telah mengalami mujizat-mujizat spektakuler bersama Yesus, maka pengkhianatannya menjadi tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dosa penyangkalan Petrus tidak lebih baik dibandingkan dosa pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus. Perbedaannya: Petrus meresponi perkataan Yesus dan bertobat, sedangkan Yudas mengeraskan hati dan bunuh diri.
Kurang dari dua bulan setelah kegagalan Petrus, Roh Kudus dicurahkan. Petrus, yang penuh Roh Kudus, mengalami perubahan radikal dalam hidupnya, bahkan ia berani mengecam dan menasehati 3000 orang supaya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini (KPR 2:40). Ia juga berani menentang para pemimpin Yahudi saat dilarang memberitakan Injil dengan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Setelah itu kita tahu, penjara menantikannya.
Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk menolong kita berdoa dan menyembah Allah atau memiliki hidup yang penuh kemenangan saja. Namun lebih daripada itu, supaya kita memiliki kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil dimanapun kita berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (KPR 1:8). Baca Selengkapnya...
Pencurahan Roh Kudus memberi makna baru di dalam kehidupan para murid Yesus (KPR 2:1-13). Perubahan radikal terjadi di dalam seluruh aspek hidup mereka. Petrus yang menyangkal Yesus diubah menjadi Petrus yang pemberani. Bukan pemberani dalam hal negatif namun dalam hal menyaksikan Injil Kristus. Kata “saksi” adalah martoos yang diterjemahkan martyr, yaitu menjadi saksi atas sebuah peristiwa dan bila perlu membayarnya dengan nyawa untuk mempertahankan kesaksiannya.
Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali (Matius 26:69-75). Ia takut mengakui imannya kepada hamba perempuan Imam besar, sehingga ia menyakiti hati Tuhan. Mungkin ini terdengar wajar bila mengingat tekanan dan intimidasi yang terjadi terhadap para pengikut Yesus. Namun bila kita mengerti bahwa Petrus telah mengalami mujizat-mujizat spektakuler bersama Yesus, maka pengkhianatannya menjadi tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dosa penyangkalan Petrus tidak lebih baik dibandingkan dosa pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus. Perbedaannya: Petrus meresponi perkataan Yesus dan bertobat, sedangkan Yudas mengeraskan hati dan bunuh diri.
Kurang dari dua bulan setelah kegagalan Petrus, Roh Kudus dicurahkan. Petrus, yang penuh Roh Kudus, mengalami perubahan radikal dalam hidupnya, bahkan ia berani mengecam dan menasehati 3000 orang supaya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini (KPR 2:40). Ia juga berani menentang para pemimpin Yahudi saat dilarang memberitakan Injil dengan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Setelah itu kita tahu, penjara menantikannya.
Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk menolong kita berdoa dan menyembah Allah atau memiliki hidup yang penuh kemenangan saja. Namun lebih daripada itu, supaya kita memiliki kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil dimanapun kita berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (KPR 1:8). Baca Selengkapnya...
Sabtu, 19 Mei 2012
Separuh Muslim Radikal di Afrika Sub-Sahara memilih Memikul Salib Kristus
WASHINGTON DC (AS) - Bagi beberapa orang, kabar baik tentang berpalingnya separuh penghuni Masjid dari kelompok radikal di beberapa negara wilayah Afrika Sub Sahara kepada terang Kristus, adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Namun demikan, kabar ini benar-benar terjadi.
Seperti diberitakan ChristianPost, pada Senin (26/03/2012), Jerry Trousdale, direktur utama dari International Ministries for City Team, dalam bukunya ‘MIRACULOUS MOVEMENTS’ mencatat sekitar separuh populasi muslim radikal di wilayah Afrika Sub Sahara mengalami perubahan hati dan iman sehingga memandang dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat umat manusia.
“Kami telah melayani selama tujuh tahun di Afrika. Sekitar 81 kelompok suku di Afrika, 50 persennya adalah Muslim.” Dijelaskan dari 50 persen suku beragama Muslim, 45 persennya adalah suku Muslim dengan persentase mencapai 100 persen. “Sehingga kita sedang menghadapi sebuah wilayah Islam yang kuat. Mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam sejak seratus tahun yang lalu, lainnya sekitar ratusan tahun lebih” lanjutnya.
Dibeberkan, sekitar 50 persen atau sekurangnya 200.000 Muslim telah datang dan memikul salib Kristus. Malahan sebagian besar dari mereka merupakan mantan Islam radikal dan fundamentalis yang telah membantai ribuan suku tetangga mereka yang beragama Kristen.
“Para mantan sheikh, imam dan pemimpin militan Islam [yang telah menjadi pengikut Kristus] membentuk sekitar 20 persen dari pemimpin Kristen baru di wilayah-wilayah Muslim,” ujarnya.
Termasuk juga berbagai ribuan masjid yang diubah menjadi gedung gereja karena semua warganya telah menjadi Kristen. Sebab kini para pemimpin Kristen - mantan muslim radikal sendirilah yang bergerak dan mendirikan puluhan jemaat Kristen baru di wilayah tersebut.
Fokus Pemuridan
Dalam buku ini, Trousdale juga menuturkan ratusan kisah menakjubkan, menyentuh hati dan menginspirasi dari para mantan muslim ini.
Dikisahkan, para mantan Muslim ini sendiri mengakui telah mengalami mujizat, kesadaran dan penglihatan rohani dari Kristus. Diakui mereka, mereka memilik Kristus bukan karena paksaan, rayuan ataupun ‘tawaran sesaat’ seperti yang sering dituduhkan para pembenci Kristus.
Dibeberkan pula, pemenangan ratusan ribu mantan muslim yang menjadi saksi Kristus ini bukan karena pemberian fisik. Tetapi dengan proses pemuridan, setelah mereka sendiri yang mengakui ingin mengikut Kristus dan menjadi saksi akan kasih Kristus serta menelaah firman Tuhan setiap waktu melalui Alkitab.
Trousdale memberikan kunci atas pemenangan para muslim ini dengan menyatakan, bahwa para pelayan dalam penginjilan janganlah berharap dapat mengabarkan kasih Kristus jika mereka berfokus pada pemberian fisik semata.
“Terlalu sering, pelayanan yang berfokus pada pekabaran Injil secara massal. Dengan membuat aksi secukupnya mereka berharap dapat membuka ‘jala’ dan mendapatkan sebanyak mungkin persentasi ‘ikan’ yang melompat kedalam ‘kapal, [termasuk] dengan mengurangi nilai Injil, mereka mengharapkan kepada pertobatan daripada pemuridan, dengan harapan mereka sendiri yang akan dewasa [dalam Kristus]dan kurang memperhatikan perintah terakhir Yesus yakni, ‘jadikan semua bangsa murid-Ku... dan ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepada mu’ (Matius 28:19-20),” tandasnya. (CP/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Seperti diberitakan ChristianPost, pada Senin (26/03/2012), Jerry Trousdale, direktur utama dari International Ministries for City Team, dalam bukunya ‘MIRACULOUS MOVEMENTS’ mencatat sekitar separuh populasi muslim radikal di wilayah Afrika Sub Sahara mengalami perubahan hati dan iman sehingga memandang dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat umat manusia.
“Kami telah melayani selama tujuh tahun di Afrika. Sekitar 81 kelompok suku di Afrika, 50 persennya adalah Muslim.” Dijelaskan dari 50 persen suku beragama Muslim, 45 persennya adalah suku Muslim dengan persentase mencapai 100 persen. “Sehingga kita sedang menghadapi sebuah wilayah Islam yang kuat. Mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam sejak seratus tahun yang lalu, lainnya sekitar ratusan tahun lebih” lanjutnya.
Dibeberkan, sekitar 50 persen atau sekurangnya 200.000 Muslim telah datang dan memikul salib Kristus. Malahan sebagian besar dari mereka merupakan mantan Islam radikal dan fundamentalis yang telah membantai ribuan suku tetangga mereka yang beragama Kristen.
“Para mantan sheikh, imam dan pemimpin militan Islam [yang telah menjadi pengikut Kristus] membentuk sekitar 20 persen dari pemimpin Kristen baru di wilayah-wilayah Muslim,” ujarnya.
Termasuk juga berbagai ribuan masjid yang diubah menjadi gedung gereja karena semua warganya telah menjadi Kristen. Sebab kini para pemimpin Kristen - mantan muslim radikal sendirilah yang bergerak dan mendirikan puluhan jemaat Kristen baru di wilayah tersebut.
Fokus Pemuridan
Dalam buku ini, Trousdale juga menuturkan ratusan kisah menakjubkan, menyentuh hati dan menginspirasi dari para mantan muslim ini.
Dikisahkan, para mantan Muslim ini sendiri mengakui telah mengalami mujizat, kesadaran dan penglihatan rohani dari Kristus. Diakui mereka, mereka memilik Kristus bukan karena paksaan, rayuan ataupun ‘tawaran sesaat’ seperti yang sering dituduhkan para pembenci Kristus.
Dibeberkan pula, pemenangan ratusan ribu mantan muslim yang menjadi saksi Kristus ini bukan karena pemberian fisik. Tetapi dengan proses pemuridan, setelah mereka sendiri yang mengakui ingin mengikut Kristus dan menjadi saksi akan kasih Kristus serta menelaah firman Tuhan setiap waktu melalui Alkitab.
Trousdale memberikan kunci atas pemenangan para muslim ini dengan menyatakan, bahwa para pelayan dalam penginjilan janganlah berharap dapat mengabarkan kasih Kristus jika mereka berfokus pada pemberian fisik semata.
“Terlalu sering, pelayanan yang berfokus pada pekabaran Injil secara massal. Dengan membuat aksi secukupnya mereka berharap dapat membuka ‘jala’ dan mendapatkan sebanyak mungkin persentasi ‘ikan’ yang melompat kedalam ‘kapal, [termasuk] dengan mengurangi nilai Injil, mereka mengharapkan kepada pertobatan daripada pemuridan, dengan harapan mereka sendiri yang akan dewasa [dalam Kristus]dan kurang memperhatikan perintah terakhir Yesus yakni, ‘jadikan semua bangsa murid-Ku... dan ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepada mu’ (Matius 28:19-20),” tandasnya. (CP/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) : Akulturasi Budaya jadi Kunci Penyebaran Injil
SURABAYA (JATIM) - Akulturasi kebudayaan menjadi salah satu kata kunci dalam sarasehan budaya rutin Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) di Surabaya (10/04/2012). Agenda rutin ISCS ini seperti biasa menghadirkan Bambang Noorsena sebagai pembahas tema yang diberi titel "Dewa-dewa: Siapa Takut?".
Memulai acara dengan menayangkan cuplikan video pertunjukan wayang kulit oleh Ki Manteb, Bambang Noorsena memulai pembahasannya dengan menjelaskan vitalnya peran wayang kulit sebagai media penyebaran agama Islam. Terbukti dengan berhasilnya Wali Songo menempatkan unsur-unsur keislaman dalam wayang kulit sehingga nilai-nilai tersebut bisa diinternalisasi di masyarakat.
Strategi kebudayaan inilah yang dilihat penggagas ISCS ini kurang terlihat dalam komunitas Kristen yang secara umum dilihatnya masih "alergi" terhadap budaya-budaya lokal. Disebutkannya secara umum sikap ini muncul karena tendensi fanatisme teologis tanpa dasar historis yang jelas akan pemahaman suatu kebudayaan.
Dicontohkannya juga mengenai ucapan happy easter yang dianggap sebagian pihak berasal dari budaya pagan yang tidak seharusnya diucapkan umat Kristen. Tepatnya kata easter ini berasal dari bnama Dewi Isthar, dewi Sumeria Kuno. Bambang menjelaskan bahwa walaupun bunyinya mirip, tapi pemaknaan kata ini yang kemudian diasosiasikan dengan kebudayaan pagan kurang tepat.
Dicontohkannya lagi mengenai budaya menghias telur paskah yang ternyata berasal dari tradisi gereja purba yang memahaminya dari kisah Maria Magdalena yang membuat mukjizat dengan merubah warna telur menjadi merah, sehingga sampai sekarang masih ada ikon Maria Magdalena yang memegang telur berwarna merah.
Di akhir pembahasannya, Bambang Noorsena menekankan sekali lagi pentingnya akulturasi kebudayaan sebagai media pekabaran Injil. Penekanan ini bukan hanya muncul sebagai saran, tapi juga hasil evaluasinya mengenai lemahnya penetrasi umat Kristen di kebudayaan lokal. (TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Memulai acara dengan menayangkan cuplikan video pertunjukan wayang kulit oleh Ki Manteb, Bambang Noorsena memulai pembahasannya dengan menjelaskan vitalnya peran wayang kulit sebagai media penyebaran agama Islam. Terbukti dengan berhasilnya Wali Songo menempatkan unsur-unsur keislaman dalam wayang kulit sehingga nilai-nilai tersebut bisa diinternalisasi di masyarakat.
Strategi kebudayaan inilah yang dilihat penggagas ISCS ini kurang terlihat dalam komunitas Kristen yang secara umum dilihatnya masih "alergi" terhadap budaya-budaya lokal. Disebutkannya secara umum sikap ini muncul karena tendensi fanatisme teologis tanpa dasar historis yang jelas akan pemahaman suatu kebudayaan.
Dicontohkannya juga mengenai ucapan happy easter yang dianggap sebagian pihak berasal dari budaya pagan yang tidak seharusnya diucapkan umat Kristen. Tepatnya kata easter ini berasal dari bnama Dewi Isthar, dewi Sumeria Kuno. Bambang menjelaskan bahwa walaupun bunyinya mirip, tapi pemaknaan kata ini yang kemudian diasosiasikan dengan kebudayaan pagan kurang tepat.
Dicontohkannya lagi mengenai budaya menghias telur paskah yang ternyata berasal dari tradisi gereja purba yang memahaminya dari kisah Maria Magdalena yang membuat mukjizat dengan merubah warna telur menjadi merah, sehingga sampai sekarang masih ada ikon Maria Magdalena yang memegang telur berwarna merah.
Di akhir pembahasannya, Bambang Noorsena menekankan sekali lagi pentingnya akulturasi kebudayaan sebagai media pekabaran Injil. Penekanan ini bukan hanya muncul sebagai saran, tapi juga hasil evaluasinya mengenai lemahnya penetrasi umat Kristen di kebudayaan lokal. (TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Jumat, 11 Mei 2012
Alami Berbagai Mujizat, Enam Ribu Muslim di Pakistan Memutuskan Mengikut Terang Kristus
KARACHI (PAKISTAN) - Adalah sebuah fakta yang tidak dapat ditutupi oleh satupun manusia di muka bumi ini, bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar Tuhan yang hidup yang berkuasa atas segala yang ada di semesta.
Seorang penginjil terkemuka dari Kenya, Taras Mekeda menjadi saksi mata atas mujizat dan kuasa Tuhan yang terjadi pada ribuan muslim di Pakistan.
Dipublikasikan Christian Telegraph, pada Sabtu (05/05/2012), Makeda menceritakan pelayanan kebaktian kebangunan rohani yang dilakukannya bersama temannya Dmitry Makarenko selama 3 minggu di Pakistan yang diawali di kota Lahore pada dua minggu awal dan pada minggu ke tiga dilaksanakan kota Karachi. Ia menyatakan puluhan ribu warga baik umat Kristen maupun Muslim mengalami mujizat dan dijamah oleh Kristus.
Dalam tiga minggu itu, berbagai mujizat dan keajaiban terjadi kepada ribuan orang yang hadir di KKR tersebut. Yang luar biasa dari puluhan ribu jemaat Kristen yang hadir ada sekitar 6,000 muslim yang sengaja datang dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengalami mujizat penyembuhan sehingga mereka dengan yakin memilih mengikuti Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.
Makeda menceritakan, teman pelayanannya Sarftaz William dan yang menetap di Pakistan selama beberapa tahun menyatakan umat Kristen di negara itu sangat membutuhkan lawatan dan kebangunan rohani, sehingga untuk melaksanakan Festival ini mereka telah mempersiapkan dalam jangka waktu yang lama.
Kebaktian kebangunan rohani pada untuk jemaat di sekitar kota itupun dilaksanakan atas dukungan dari berbagai denominasi gereja di negara itu. Dan ia mengharapkan ratusan jemaat yang imannya mulai pudar dapat diperbaharui melalui Festival Persahabatan Mujizat ini.
"Di Karachi, atas pertolongan Tuhan, kami mengabarkan Injil Kristus kepada 36,000 orang selama empat hari Festival Persahabatan," tulis Makeda.
Makeda mengakui, walau khawatir akan keselamatan dirinya karena berada di negara yang tingkat kejahatannya tinggi, ia tetap teguh dan yakin bahwa kasih Kristus dapat membuat segala yang mustahil menjadi bisa.
Pada hari pertama pada 19 April 2012, ungkapnya, sekitar 3,000 orang datang mengikuti kebaktian yang bertempat di lapangan sepak bola, banyak jemaat yang batal datang sebab hari itu, hujan deras disertai kilat melanda Karachi. "Jadi giliran saya untuk mengharapkan Yesus turut terlibat."
Usai berkhotbah tentang kuasa Yesus Kristus yang menyembuhkan orang buta, banyak orang mulai berdatangan ke atas panggung dan memberikan kesaksian mereka atas mujizat yang mereka alami. Kemudian ratusan orang secara berkelompok berderet untuk memberikan kesaksian yang mereka alami saat itu.
"Tak terhitung mujizat yang terjadi, banyak orang buta dan tuli yang sembuh, ada puluhan orang yang tumornya hilang seketika. Ada juga seorang anak yang tangannya tidak dapat digerakan karena sakit yang tidak diketahui, mengalami kesembuhan. Satu hal yang sangat diingat adalah sembuhnya seorang pria dari mati kaku tubuhnya setelah terserang stroke. Ada pula wanita yang dapat membuka mulutnya dan berbicara setelah beberapa mendapatkan penyakit yang membuat mulutnya tertutup. Juga seorang wanita muslim yang bersama ayahnya bersaksi bahwa dirinya terlepas dari kuasa iblis setelah menyebut nama Yesus Kristus, ada 30 orang yang juga mengalami hal yang sama." tutur Makeda.
Pada hari kedua usai ibadah dan doa. Dari 150,000 hadirin, ratusan orang pincang yang ingin bersaksi pada hari pertama, maju keatas panggung, mereka berdiri sambil menceritakan mujizat yang mereka alami. Selain juga ribuan warga baik Kristen dan muslim yang berbaris menuju panggung hanya untuk menceritakan mujizat yang mereka alami saat mengikuti kebaktian tersebut.
Lapar Rohani, Haus Mujizat
Para muslim ini, ungkapnya, datang dengan sukarela selain juga untuk membuktikan apakah mereka dapat sembuh dan mengalami mujizat yang telah dialami ribuan umat Kristen. "Mereka lapar secara rohani dan datang untuk mendengarkan kasih dan kuasa dari Yesus."
Namun, kisah tentang mujizat yang dialami ribuan muslim itu pun menjadi kontroversi di negara itu, terutama ketika KKR di Karachi.
"Beberapa hari kemudian, surat kabar Muslim sekuler mengkritisi kami dengan menulis berita tentang 3,000 Muslim yang berpindah menjadi Kristen," kata Makeda. "Saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut, sebab saya tidak mengajak orang untuk berpindah agama, sebab di dunia ini terlalu banyak agama yang tersedia, dan saya hanya membagikan kasih Tuhan tanpa ada diskriminasi".
Dan adalah sebuah sukacita yang besar bagi Makeda dan umat Kristen di Karachi, sebab 3000 muslim tersebut telah melihat kasih sejati Kristus yang tidak dapat terelakkan. (ChristianToday/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Seorang penginjil terkemuka dari Kenya, Taras Mekeda menjadi saksi mata atas mujizat dan kuasa Tuhan yang terjadi pada ribuan muslim di Pakistan.
Dipublikasikan Christian Telegraph, pada Sabtu (05/05/2012), Makeda menceritakan pelayanan kebaktian kebangunan rohani yang dilakukannya bersama temannya Dmitry Makarenko selama 3 minggu di Pakistan yang diawali di kota Lahore pada dua minggu awal dan pada minggu ke tiga dilaksanakan kota Karachi. Ia menyatakan puluhan ribu warga baik umat Kristen maupun Muslim mengalami mujizat dan dijamah oleh Kristus.
Dalam tiga minggu itu, berbagai mujizat dan keajaiban terjadi kepada ribuan orang yang hadir di KKR tersebut. Yang luar biasa dari puluhan ribu jemaat Kristen yang hadir ada sekitar 6,000 muslim yang sengaja datang dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mengalami mujizat penyembuhan sehingga mereka dengan yakin memilih mengikuti Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.
Makeda menceritakan, teman pelayanannya Sarftaz William dan yang menetap di Pakistan selama beberapa tahun menyatakan umat Kristen di negara itu sangat membutuhkan lawatan dan kebangunan rohani, sehingga untuk melaksanakan Festival ini mereka telah mempersiapkan dalam jangka waktu yang lama.
Kebaktian kebangunan rohani pada untuk jemaat di sekitar kota itupun dilaksanakan atas dukungan dari berbagai denominasi gereja di negara itu. Dan ia mengharapkan ratusan jemaat yang imannya mulai pudar dapat diperbaharui melalui Festival Persahabatan Mujizat ini.
"Di Karachi, atas pertolongan Tuhan, kami mengabarkan Injil Kristus kepada 36,000 orang selama empat hari Festival Persahabatan," tulis Makeda.
Makeda mengakui, walau khawatir akan keselamatan dirinya karena berada di negara yang tingkat kejahatannya tinggi, ia tetap teguh dan yakin bahwa kasih Kristus dapat membuat segala yang mustahil menjadi bisa.
Pada hari pertama pada 19 April 2012, ungkapnya, sekitar 3,000 orang datang mengikuti kebaktian yang bertempat di lapangan sepak bola, banyak jemaat yang batal datang sebab hari itu, hujan deras disertai kilat melanda Karachi. "Jadi giliran saya untuk mengharapkan Yesus turut terlibat."
Usai berkhotbah tentang kuasa Yesus Kristus yang menyembuhkan orang buta, banyak orang mulai berdatangan ke atas panggung dan memberikan kesaksian mereka atas mujizat yang mereka alami. Kemudian ratusan orang secara berkelompok berderet untuk memberikan kesaksian yang mereka alami saat itu.
"Tak terhitung mujizat yang terjadi, banyak orang buta dan tuli yang sembuh, ada puluhan orang yang tumornya hilang seketika. Ada juga seorang anak yang tangannya tidak dapat digerakan karena sakit yang tidak diketahui, mengalami kesembuhan. Satu hal yang sangat diingat adalah sembuhnya seorang pria dari mati kaku tubuhnya setelah terserang stroke. Ada pula wanita yang dapat membuka mulutnya dan berbicara setelah beberapa mendapatkan penyakit yang membuat mulutnya tertutup. Juga seorang wanita muslim yang bersama ayahnya bersaksi bahwa dirinya terlepas dari kuasa iblis setelah menyebut nama Yesus Kristus, ada 30 orang yang juga mengalami hal yang sama." tutur Makeda.
Pada hari kedua usai ibadah dan doa. Dari 150,000 hadirin, ratusan orang pincang yang ingin bersaksi pada hari pertama, maju keatas panggung, mereka berdiri sambil menceritakan mujizat yang mereka alami. Selain juga ribuan warga baik Kristen dan muslim yang berbaris menuju panggung hanya untuk menceritakan mujizat yang mereka alami saat mengikuti kebaktian tersebut.
Lapar Rohani, Haus Mujizat
Para muslim ini, ungkapnya, datang dengan sukarela selain juga untuk membuktikan apakah mereka dapat sembuh dan mengalami mujizat yang telah dialami ribuan umat Kristen. "Mereka lapar secara rohani dan datang untuk mendengarkan kasih dan kuasa dari Yesus."
Namun, kisah tentang mujizat yang dialami ribuan muslim itu pun menjadi kontroversi di negara itu, terutama ketika KKR di Karachi.
"Beberapa hari kemudian, surat kabar Muslim sekuler mengkritisi kami dengan menulis berita tentang 3,000 Muslim yang berpindah menjadi Kristen," kata Makeda. "Saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut, sebab saya tidak mengajak orang untuk berpindah agama, sebab di dunia ini terlalu banyak agama yang tersedia, dan saya hanya membagikan kasih Tuhan tanpa ada diskriminasi".
Dan adalah sebuah sukacita yang besar bagi Makeda dan umat Kristen di Karachi, sebab 3000 muslim tersebut telah melihat kasih sejati Kristus yang tidak dapat terelakkan. (ChristianToday/TimPPGI)
Sumber: kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)








