Milt Rodriguez, salah seorang rekan dari pelayanan The Rebuilders – Amerika Serikat menggambarkan Kerajaan Allah sebagai berikut:
"Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." Kol. 1:13, 14
The Power of the Filter (Kuasa dari filter/penyaring)
Kita semua memiliki pola pikir. Ini merupakan sistem atau cara berpikir kita dalam topik-topik tertentu. Tiap topik memiliki suatu set tersendiri dalam hal pemikiran dan “prinsip-prinsip” yang berhubungan dengan pola pikir tersebut. Sebagai contoh, bila Anda seorang perenang Olimpiade maka Anda akan memiliki sebuah “pikiran” yang tertuju pada suatu olahraga tertentu secara spesifik. Seorang atlit renang dlam benaknya akan senantiasa dipenuhi oleh kata-kata air, bagaimana meluncur dengan cepat melalui air, pakaian renang, tutup kepala, kacamata renang, teknik renang, dan sebagainya. Pemusatan pikiran ini akan menjadi sebuah filter dalam pikiran atlit renang tersebut. Hingga ketika ia melihat air maka pikirannya secara otomatis akan tertuju pada berenang, berlomba, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kejuaraan renang. Saat ia sampai di kolam renang secara otomatis pula ia “melihat” sebuah kejuaraan yang harus dilakoni di depan matanya.
Kita juga melakukan hal yang sama saat membaca firman Tuhan mengenai Kerajaan Tuhan. Orang Kristen memandang topik ini dari berbagai sudut pandangan. Seperti perenang tadi, dalam benak kita sudah ada alur tersendiri mengenai apa itu Kerajaan Tuhan sebagai suatu filter.
Beberapa orang akan berpendapat bahwa Kerajaan Tuhan berbicara mengenai kekuasaan politik dan bagaimana Tuhan Yesus dapat berkuasa melalui anak-anak Tuhan yang menguasai ranah politik suatu negeri. Saudara yang lain melihat Kerajaan Tuhan sebagai pemulihan karunia-karunia rohani seperti kesembuhan, mujizat, kelepasan dari roh jahat, membangkitkan orang mati dll. Ada pula yang memiliki sudut pandang melihat Kerajaan melalui filter penginjilan, kebangunan rohani dan pertumbuhan gereja. Bagi mereka perihal Kerajaan Tuhan berbicara mengenai keselamatan umat manusia melalui pengenalan akan berita Injil. Pandangan lain umpamanya ada pula yang melihat perspektif Kerajaan Tuhan dengan penggenapan dari nubuatan akhir zaman mengenai kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Dan masih banyak lagi pandangan lainnya mengenai Kerajaan Tuhan yang berkembang dalam gereja kita.
Satu Pemikiran Yang Sangat Kita Perlukan
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, Kol. 3:1 - 4
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Kol. 3:9 - 11
Saudara dan saudariku, kita sangat memerlukan pembaharuan budi pekerti kita sebagai ciptaan yang baru. Pembaharuan pikiran ciptaan baru “di dalam Kristus”. Pola pikir Ciptaan Baru!
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 2 Kor. 5:17
Dalam pola pikir baru ini kita dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru. Ini merupakan perspektif dari Allah sendiri. IA memandang dari perspektif “di dalam Kristus!” Bapa hanya melihat dari sudut ini saja. Kita dapat menyatakan ini sebagai pola pikir Allah. DIA melihat segala sesuatu dari “filter” Anak Yang IA kasihi.
"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan," Kol. 2:9
Kita tahu bahwa Allah melakukan segala sesuatu di dalam dan melalui Kristus. Sayangnya, kita kita tidak berpikir dengan pola pikirNya tersebut. Sebab itu kita sangat perlu untuk memperbaharui pikiran kita dengan pola pikir Kristus sebagaimana yang dituliskan Rasul Paulus.
Memandang Kerajaan Tuhan Melalui Pikiran Baru
Kita perlu untuk memeriksa kembali pola pikir kita, apakah pemikiran kita mengenai definisi dan pengertian mengenai Kerajaan Tuhan itu benar atau tidak? Milt Rodriguez menyatakan bahwa selama bertahun-tahun ia hanya melihat Alkitab sebagai buku yang penuh prinsip dan topik rohani. Di dalam topik-topik ini memuat “prinsip-prinsip” yang perlu dipelajari oleh setiap orang percaya. Saya bukan saja diajarkan seperti itu, saya pun mengajarkan orang lain hal yang sama. Saya mengucap syukur terhadap Tuhan pada akhirnya saya menyadari Alkitab bukan mengenai topik dan prinsip tetapi buku mengenai Seorang Pribadi. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, Putra Allah! Kita dapat melihat, Pribadi inilah pusat pemikiran dan tulisan dari Allah. Alkitab bukanlah buku yang sekedar membahas keselamatan, doa, kesembuhan, kebenaran, kekudusan, kasih, pelayanan, gereja, Kerajaan Tuhan dll. Semua ayat firman Tuhan hanya berbicara mengenai satu Pribadi dan menyatakan Pribadi ini saja. (Yohanes 5:39, 40; Lukas 24:27; Wahyu. 1:1; Wahyu 19:13).
Sekarang mari kita lihat “topik” mengenai Kerajaan Tuhan.
Misteri
" Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan." Mrk 4:11
"Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus." Kol. 2:1 - 2
Benih
"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya." Mat 13:24
"Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus." Gal. 3:16
Pertama
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Mat 6:33
"Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. " Kol. 1:18
Harta
"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. " Mat. 13:44
"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. " 2 Kor. 4:7
Pernikahan
"Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” Mat 22:2
"Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. " Ef. 5:28b - 30
Kebun Anggur
"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya." Mat 20:1
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Yohanes 15:5
Ini seharusnya kini menjadi definisi kita mengenai Kerajaan Tuhan. Kerajaan bukanlah sebuah topik pembahasan lainnya yang perlu kita taati. Kerajaan Tuhan adalah seorang Pribadi dan kita dipanggil untuk mengenal dan hidup sepenuhnya dengan Pribadi yang luar biasa ini.
"Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Lukas 17:20, 21
Tuhan berbicara mengenai diriNya sendiri. IA ada dalam pola pikir mereka. Kerajaan ada diantara mereka sebab IA ada diantara mereka! IA ADALAH Kerajaan. Kerajaan Allah adalah tempat Allah merupakan yang terutama, Allah berkuasa dan Allah adalah segalanya. Tempat itu berada di dalam Pribadi Kristus.
Sangat menarik bahwa Paulus tidak banyak menggunakan istilah “Kerajaan” namun Tuhan Yesus secara konstan membicarakannya. Milt Rodriguez percaya bahwa alasan Tuhan Yesus menggunakan istilah “Kerajaan” sebab IA pada umumnya berbicara terhadap bangsa Yahudi, yang pada saat itu berpikir (memiliki filter dalam pikirannya) bahwa ketika Yesus berbicara mengenai kerajaan maka yang akan dipulihkan adalah kekuasaan Israel secara politik. Tuhan Yesus ingin menekankan pada mereka bahwa yang DIA maksudkan dengan Kerajaan Tuhan adalah DIRINYA. Bila kita tilik Paulus berbicara pada bangsa non Yahudi, ia lebih sering menggunakan frase “di dalam Kristus”. Ia menggunakan frase tersebut lebih dari duaratus kali dalam surat-suratnya. Baik Tuhan Yesus maupun Paulus berbicara mengenai sebuah “lokasi”, Lokasi tersebut merupakan Pribadi Yang Mulia.
Warisan
Dalam Perjanjian Lama kerajaan dan tanah Kanaan merupakan sinonim. Tentu kita semua tahu bahwa kerajaan Israel dan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian hanyalah bayangan dari janji yang sebenarnya. Janji sebenarnya adalah Yesus Kristus. Paulus menggunakan gambaran tanah Kanaan sebagai penggambaran betapa kaya dan dalamnya kekayaan di dalam Kristus. (Kis 20:32; Kol. 1:12).
"dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. " Kol. 1:12 - 14
Kita dapat melihat disini bagaimana Paulus menyatukan gambaran dari tanah Kanaan (Yos 14:1) dan Kerajaan AnakNya Yang Kekasih. Kerajaan ini, warisan ini, tanah perjanjian ini tidak lain tidak bukan adalah Tuhan Yesus Kristus yang menjadi bagian setiap orang kudus!
Sumber : simplechurch
Baca Selengkapnya...
Senin, 30 September 2013
Sabtu, 28 September 2013
“PERLUKAH GEREJA MODERN BERUBAH?”
Perubahan dalam dunia adalah sesuatu yang biasa. Kita perlu mengikuti perubahan yang terjadi di dalamnya. Dulu orang mengendarai kuda atau kereta kuda tetapi kini orang mengendarai sepeda motor atau mobil. Dulu orang menggunakan burung merpati untuk memberikan kabar berita lalu digantikan dengan cara surat menyurat atau pengiriman pesan melalui telegram tetapi kini orang dapat menggunakan pesawat telpon atau handphone untuk langsung berbincang-bincang, mengirimkan pesan singkat melalui SMS atau surat melalui e-mail atau berbincang melalui dunia maya yang dikenal dengan istilah chatting. Pada saat saya kuliah di perguruan tinggi di akhir tahun 80-an saya menggunakan mesin ketik manual untuk membuat tugas tetapi kini para mahasiswa menggunakan laptop dan printer. Dulu dapat memasang telpon pribadi di rumah sangat sulit dan mahal tetapi sekarang hampir semua orang memiliki telpon seluler. Siapa yang tidak mau berubah maka ia akan ketinggalan zaman, ia menjadi orang “jadul” (zaman dulu) dan gaptek (gagap teknologi). Begitu pula jika gereja tidak mau berubah bersama dengan Tuhan. Suka atau tidak gereja akan tertinggal, gereja akan dan harus mengalami perubahan. Tetapi sudah dapat diprediksikan bahwa pasti ada saja kelompok yang enggan berubah. Bagaimana menurut para pakar theologia tentang perubahan ini?
Beberapa pakar theologia dan riset memberikan beberapa saran perubahan:
DR. C. Peter Wagner, adalah pakar dalam bidang pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, salah satu seorang pelopor gerakan Gereja Apostolik Baru, Dekan dari Wagner Leadership Institute (WLI) dan Presiden Global Harvest Ministry menyatakan ada 9 pergeseran paradigma yang tengah berkembang:
Dari Pemerintahan denominasi kepada pemerintahan apostolik atau rasuli.
Dari Reformasi Internal kepada pembaharuan apostolik.
Dari Visi gereja kepada visi kerajaan.
Dari Persekutuan gereja berdasarkan warisan (denominasi) kepada persekutuan gereja berdasarkan teritorial (kota).
Dari ekspansi gereja kepada transformasi masyarakat.
Dari bertoleransi pada setan kepada invasi terhadap kerajaan setan.
Dari Pendidikan theologia kepada memperlengkapi pelayan.
Dari muatan doktrin yang berat kepada muatan doktrin yang ringan.
Dari pengudusan Reformed kepada kekudusan Wesley.
George Barna, pakar riset dari Amerika Serikat dan pimpinan Barna Research, telah meneliti hubungan antara gereja dan budaya Amerika Serikat. Ia telah melihat perubahan yang muncul:
Otoritas: Dari sentralisasi kepada desentralisasi.
Kepemimpinan: dari dipimpin pendeta kepada dipimpin orang “biasa”.
Distribusi kuasa: dari vertikal pada horisontal.
Reaksi pada perubahan: dari menolak kepada menerima.
Identitas: dari tradisi dan aturan kepada misi dan visi.
Lingkup pelayanan: dari segala macam kepada spesialisasi.
Praktek: dari diikat oleh tradisi kepada diikat oleh relevansi.
Peranan umat: dari observasi dan support pada partisipasi dan inovasi.
Produk utama: dari pengetahuan kepada transformasi (perubahan)
Faktor sukses: dari ukuran, efisiensi, image kepada kemudahan akses, pemberian dampak dan integritas.
Tantangan utama: dari momentum, hubungan, kepemimpinan dan kepuasan kepada hubungan, kesatuan, kepemimpinan dan keseimbangan.
Efek teknologi: dari merebut perhatian kepada memfasilitasi pertumbuhan.
Sarana bertumbuh: lebih dari sekedar program-program yang dijalankan lebih baik kepada hubungan dan pengalaman yang lebih mendalam.
Prospek pertumbuhan: dari terbatas pada tanpa batas.
Lebih lanjut George Barna pun menyatakan mengenai 10 profil gereja abad 21:
Gereja abad 21 menolak agama mati.
Gereja abad 21 kembali menemukan sukacita mendengar suara Tuhan.
Gereja abad 21 bergerak dalam penginjilan lintas budaya.
Gereja abad 21 peduli hubungan dari pada program dan organisasi.
Gereja abad 21 memberi keleluasaan pada kreatifitas.
Gereja abad 21 menaruh perhatian terhadap rekonsiliasi.
Gereja abad 21 memiliki pemahaman yang matang tentang peperangan rohani.
Gereja abad 21 menerima konsep “Gereja seKota”
Gereja abad 21 memberikan perhatian kepada pelayanan sosial.
Gereja abad 21 menyembah Allah dengan bebas.
Lain lagi pernyataan Eddie Gibbs, Profesor pertumbuhan gereja di School of World Mission di Fuller Theological Seminary:
Dari hidup di masa lalu kepada berurusan dengan masa kini.
Dari berorientasi terhadap “pasar” kepada berorientasi pada misi.
Dari birokrasi hirarki kepada jaringan apostolik.
Dari menyekolahkan profesional kepada mentoring pemimpin.
Dari mengikuti selebritis rohani kepada menjumpai orang kudus.
Dari menarik pengunjung kepada mencari yang terhilang.
Dari belonging (menerima/keanggotaan) ke believing (percaya/pemuridan).
Dari orthodoxy yang mati kepada iman yang hidup.
Dari jemaat generik kepada komunitas yang berinkarnasi.
Sedangkan Wolfgang Simson dari DAWN Ministries memberikan 15 tesis tentang reinkarnasi gereja (dalam bukunya yang fenomenal Houses That Changes The World):
Gereja adalah gaya hidup, bukan seri pertemuan agamawi.
Waktu untuk merubah sistem.
Reformasi ke tiga (reformasi struktur)
Dari bangunan bait Allah ke gereja yang bertemu di rumah.
Gereja harus menjadi kecil untuk bertumbuh menjadi besar.
Tidak ada gereja yang hanya dipimpin oleh seorang gembala saja.
Potongan yang benar – dipersatukan dengan cara yang salah.
Allah tidak meletakkan gereja di tangan kependetaan yang birokratif.
Dari kekristenan yang terorganisir menjadi kekristenan yang organisme.
Dari menyembah penyembahan menjadi penyembah Allah.
Berhenti membawa orang ke gereja dan mulai membawa gereja ke orang-orang.
Menemukan kembali “perjamuan Tuhan” sebagai perjamuan yang nyata dengan makanan yang nyata.
Dari berbagai denominasi kepada perayaan sekota.
Mengembangkan roh tahan uji terhadap aniaya.
Gereja yang pulang ke rumah.
Robert Fitts, pimpinan Outreach Fellowship International dan penulis buku Church in the House (Gereja di Rumah) memberikan pandangan 40 tren perubahan terhadap transformasi gereja, sebuah buah pemikiran pada kealamiahan dan fungsi gereja:
1. Dari kehidupan berpusat pada pertemuan kepada kehidupan berpusat pada Kristus. (teladan Yesus adalah melayani secara spontan, setiap hari, situasi dimana saja tanpa perencanaan, setiap saat.)
2. Dari Kekristenan kepada Kristus. (Bukan sebuah filosofi, sistem, pergerakan atau agama, tetapi seorang pribadi . . . KRISTUS DALAM DIRIMU!)
3. Dari gedung gereja kepada gereja di rumah. (Menjadi sederhana untuk mudah bermultiplikasi)
4. Dari pertumbuhan yang meningkat hanya dari dalam kepada pertumbuhan dari dalam dan luar yang meningkat. (Baik akibat pertambahan maupun multiplikasi)
5. Dari pelayanan seorang gembala (pendeta) kepada pelayanan lima jawatan (Kita memerlukan ke lima pelayanan jawatan tersebut.)
6. Dari keimamatan khusus kepada keimamatan setiap orang percaya (Membawa Tuhan kepada orang-orang melalui kesaksian kita dan doa syafaat)
7. Dari organisasi kepada organisme (Hati-hati! Lawan dari hirarki adalah anarki)
8. Dari penyembahan tiap minggu kepada penyembahan setiap saat. (Penyembahan itu lebih dari hanya sekedar menyanyi)
9. Dari membawa orang ke gereja kepada membawa gereja kepada orang-orang. (Doa yang membakar. "Bapa, bawa aku ke dalam jalan salibMu hari ini, bawalah aku hari ini bertemu dengan orang yang lapar akan Engkau atau sedang membutuhkan . . . ")
10. Dari simbolis kepada substansi perihal Perjamuan Makan (Suci) (Lakukan sesering mungkin)
11. Dari denominasi kepada jejaring yang dipimpin Roh Kudus (Mengidentifikasi diri dengan gereja sekota)
12. Dari kehormatan sosial kepada menjadi GARAM & TERANG (Menggonjang-ganjingkan dunia)
13. Dari pertunjukan oleh kaum imam profesional kepada I Korintus 14:26. ("Setiap orang yang memiliki pengajaran. .
.") 14. Dari berdasarkan program kepada gereja berdasarkan rumah (Liturgi, Penginjilan, Informal)
15. Dari sistem pendidikan seminari kepada sistem pemuridan (Sekolah Alkitab sederhana)
16. Dari perpuluhan kepada memberikan semuanya sesuai Perjanjian Baru (Kedermawanan dengan janji penghargaan)
17. Dari penundukan diri secara selektif (hanya pada denominasinya) kepada penundukan diri total (tunduk kepada otoritas yang ditunjuk Allah)
18. Dari jabatan kepada fungsi ("Jangan memanggil seorang pun guru, ayah, rabi, dll. . .")
19. Dari gereja independent kepada gereja inter-dependent (terhubung dengan gereja se-kota untuk saling menolong, menguatkan dan menasehati)
20. Dari keanggotaan tersurat kepada anggota Tubuh Kristus (kita merupakan anggota dari seorang dengan yang lainnya)
21. Dari sistem roda kepada pokok anggur (mengutus tim penanam gereja sederhana di rumah-rumah)
22. Dari kesatuan organisasi kepada kesatuan rohani (hanya tinggal satu langkah menuju kesatuan. . .SALING MENERIMA)
23. Dari Safeway atau Circle K kepada Safeway dan Circle K (menerima semua yang Tuhan terima). CATATAN: Safeway dan Circle K merupakan gerai mini market, maksudnya keragaman “nama” gereja modern.
24. Dari “kita dan mereka” kepada “kita” (Menolak untuk mengizinkan roh pemecah belah dalam persekutuan kita)
25. Dari hanya menanam gereja bergedung kepada menanam gereja dimana saja secara spontan. (menyadari ekklesia dapat bertemu dimana saja)
26. Dari belenggu kepada kemerdekaan bagi kaum wanita (Kis 2:17-18 , Gal. 3:26-28)
27. Dari sistem presbiteri (majelis) tanpa orang-orang kepada majelis bersama orang-orang (Kis 15:22)
28. Dari kesewenang-wenangan kepada petunujk alkitabiah dari penatua-penatua yang telah ditetapkan (I Tim. 3, Titus 1)
29. Dari “gembala saya” kepada “gembala-gembala saya” (guru-guru, penginjil-penginjil, rasul-rasul, nabi-nabi)
30. Dari membangkitkan pemimpin-pemimpin kepada mengangkat para hamba. (Kerajaan Allah bertanah rata)
31. Dari visi lokal kepada visi dunia (tiga cabang kepercayaan dalam gereja)
32. Dari membangun kerajaan saya kepada membangun KerajaanNya (Mari saya menolongmu untuk menggenapi visimu.)
33. Dari gereja bertembok kepada gereja se-kota. (Mereka memenuhi Yerusalem dengan pengajaran mereka)
34. Dari rasa takut mengalami pencurian domba kepada takut memiliki domba (Kis 20:28-31)
35. Dari berpusatkan pada gembala kepada membuat semua orang menjadi gembala. (Kis 20:28-31)
36. Dari menggunakan kata “gereja” kepada menggunakan frase “tubuh Kristus." (Kis 19:32-41)
37. Dari pembatasan kepada persekutuan yang tidak dirintangi. ( Saya anggota dari tiap gereja di dalam kota.)
38. Dari diliputi kelalaian kepada ketenangan. (tanaman tomat, api, starter motor)
39. Dari tipe kuliah kepada tipe belajar Alkitab secara interaktif. (Tubuh melayani dirinya sendiri dengan kasih.)
40. Dari piramid kepada kue pancake dalam pengertian kita akan penundukan diri terhadap otoritas. (Saya tunduk kepada Raja segala Raja dan setiap otoritas rohani yang Tuhan utus dalam hidup saya.)
Saya rasa pernyataan dari para pakar di atas cukup banyak untuk menjadi bahan permenungan kita semua. Saya berharap dari hasil permenungan tersebut kita semua dapat berubah ke arah yang lebih baik sebab makin mengerti kehendak Tuhan yang sempurna. Baca Selengkapnya...
Kamis, 26 September 2013
Permisi Gan...Admin mau buka lapak jualan buat cari sesuap nasi...moga-moga ada yang beli :)
Ane, Hengky Candra, Admin blog ini, menerima pemesanan tas home industri dengan minimal order 50 pcs per model. Cocok bagi Agan yang mau menjadikannya sebagai :
1. Souvenir ulang tahun yang dibagikan kepada teman-teman sekolah yang hadir pada pesta ulang tahun anak Agan;
2. Souvenir di acara retreat, seminar atau outbond di gereja Agan (bagi yang Nasrani);
3. Souvenir bagi para karyawan Agan di dalam acara gathering atau training perusahaan/instansi Agan;
4. Menjualnya kembali di toko Agan atau sebagai reseller.
5. Harga yang murah namun dengan kualitas bahan yang berani bersaing dengan merek-merek branded seharga Rp. 100.000,- s/d Rp. 150.000,-
Produk ini cocok bagi Agan yang tidak terlalu mementingkan merk namun juga tidak suka mengkompromikan kualitas. Tas home industry ini memang berbeda dengan buatan pabrik, meski demikian itu tidak berarti kalah kualitas, karena selain home industri tidak memerlukan biaya mesin/produksi yang tinggi layaknya pabrik sehingga bisa lebih murah, home industri juga dibuat dengan sentuhan tangan perajin profesional dan telah berpengalaman membuatkan bagi instansi-instansi pemerintahan maupun swasta ataupun LSM, sekolah/Universitas, organisasi, dlsb.
Kualitas bahan tas tebal, halus dan kuat, tas didesain berdinding double, ada lapisan dinding dalam dan lapisan dinding luar. Untuk sementara model yang Ane pasang baru yang ini terlebih dahulu, nanti akan Ane sempatkan menyusulkan beberapa model yang lain. Atau jikalau Agan punya desain model dan kombinasi warna tersendiri juga dipersilakan meng-order, dengan memberikan contoh spek/model/warna secara detail dan meng-email-nya ke hengkycandra1978@gmail.com.
Barang selesai dibuat kira-kira dalam tempo 3 atau 4 minggu, harap maklum karena banyaknya antrian orderan dan terbatasnya karyawan mempengaruhi lamanya pembuatan. Harga dibawah ini belum termasuk bordir / logo / hiasan (bisa pesan sesuai selera). Harga tersebut juga belum termasuk ongkos kirim. Kami menerima pengiriman ke seluruh penjuru Indonesia.
Baca Selengkapnya...
1. Souvenir ulang tahun yang dibagikan kepada teman-teman sekolah yang hadir pada pesta ulang tahun anak Agan;
2. Souvenir di acara retreat, seminar atau outbond di gereja Agan (bagi yang Nasrani);
3. Souvenir bagi para karyawan Agan di dalam acara gathering atau training perusahaan/instansi Agan;
4. Menjualnya kembali di toko Agan atau sebagai reseller.
5. Harga yang murah namun dengan kualitas bahan yang berani bersaing dengan merek-merek branded seharga Rp. 100.000,- s/d Rp. 150.000,-
Produk ini cocok bagi Agan yang tidak terlalu mementingkan merk namun juga tidak suka mengkompromikan kualitas. Tas home industry ini memang berbeda dengan buatan pabrik, meski demikian itu tidak berarti kalah kualitas, karena selain home industri tidak memerlukan biaya mesin/produksi yang tinggi layaknya pabrik sehingga bisa lebih murah, home industri juga dibuat dengan sentuhan tangan perajin profesional dan telah berpengalaman membuatkan bagi instansi-instansi pemerintahan maupun swasta ataupun LSM, sekolah/Universitas, organisasi, dlsb.
Kualitas bahan tas tebal, halus dan kuat, tas didesain berdinding double, ada lapisan dinding dalam dan lapisan dinding luar. Untuk sementara model yang Ane pasang baru yang ini terlebih dahulu, nanti akan Ane sempatkan menyusulkan beberapa model yang lain. Atau jikalau Agan punya desain model dan kombinasi warna tersendiri juga dipersilakan meng-order, dengan memberikan contoh spek/model/warna secara detail dan meng-email-nya ke hengkycandra1978@gmail.com.
Barang selesai dibuat kira-kira dalam tempo 3 atau 4 minggu, harap maklum karena banyaknya antrian orderan dan terbatasnya karyawan mempengaruhi lamanya pembuatan. Harga dibawah ini belum termasuk bordir / logo / hiasan (bisa pesan sesuai selera). Harga tersebut juga belum termasuk ongkos kirim. Kami menerima pengiriman ke seluruh penjuru Indonesia.
Pesan 50-100 Pcs = Harga Rp. 47.000,-/pcs
Pesan 101-150 Pcs = Harga Rp. 45.000,-/pcs
Pesan 151-200 Pcs = Harga Rp. 43.000,-/pcs
Pesan 201-250 Pcs = Harga Rp. 40.000,-/pcs
Untuk pemesanan :
sms ke HP : 089 613 680 280 atau add Pin BB : 224546FA
Transfer Via Bank : Mandiri, BCA, BII, dan Permata.
NB: Ane jamin jualan ini bukan akal-akalan atau rekayasa. Ane pertaruhkan nama baik Ane serta beberapa blog Ane yang yang sudah lumayan traffiknya ini. Sebagai seorang pengikut Kristus pantang buat Ane untuk berbuat tidak jujur atau menjahati / mengakali konsumen, Ane siap dihukum Tuhan Yesus jika sampai mengakali/tidak jujur pada konsumen. Bahkan Ane ambil untungnya juga mepet sekali, karena sudah Ane bilang diatas lapak ini cuma sekedar untuk mencari sesuap nasi bagi keluarga. Sesegera mungkin setelah barang jadi pasti akan Ane kirim ke tempat tujuan, sesuai order.
1. Kode TS002 Merah
Tampak Depan (Merk Sample Ane buat blur..)
Tampak Belakang
Tampak Atas 1
Tampak Atas 2
2. Kode TS002 Biru
Tampak Depan (Merk Sample Ane buat blur..)
Tampak Belakang
Tampak Atas 1
Tampak Atas 2
Tampak Samping
Rabu, 25 September 2013
IRAN: Pelayan Tuhan dipenjara, para tahanan bertobat
IRAN, Teheran (MP) -- Setahun ditahan di Penjara Evin di Iran, Pastor Saeed Abedini diberitakan telah membawa lebih dari 30 orang mengenal Yesus Kristus (Isa al-Masih).
Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat.
"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com.
Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak.
Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat.
"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.
"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya.
Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000.
Sumber : Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Hal ini diungkapkan oleh Naghmeh Abedini, sang isteri, ketika menjadi pembicara di sebuah pertemuan di Liberty University, Amerika Serikat.
"Mereka banyak kali telah mengatakan padanya bahwa mereka akan membebaskannya dan mengijinkannya kembali pada keluarga kami, dengan anak-anak dan saya, jika ia menyangkal iman Kristennya, [namun] ia tetap teguh berdiri di penjara itu," demikian ungkap sang isteri seperti dilaporkan theblaze.com.
Pastor Saeed menjadi Kristen tahun 2000 lalu dan menjadi salah satu tokoh kebangunan gereja di Iran. Pernikahannya dengan Naghmeh yang berkewarganegaraan AS memberikannya kesempatan untuk memiliki dual-citizenship, Iran dan AS. Saat ini mereka telah dikaruniakan dua orang anak.
Pastor Saeed ditahan di pertengahan 2012 lalu sementara berupaya membangun sebuah panti asuhan. Ia dituduh pemerintah Republik Islam Iran membahayakan keamanan nasional. Pada persidangan di awal 2013 ia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Pastor Saeed kepada isterinya di permulaan tahun ia mengungkapkan tentang penganiayaan mental dan fisik yang harus dialaminya dalam tahanan, termasuk tidak diijinkan berobat.
"Bagi saya mengetahui bahwa begitu banyak di antara mereka sekarang mengenal Kristus, semua itu menjadi tidak sia-sia. Aku tahu bahwa penahanannya tidaklah sia-sia," ungkap sang isteri seperti dikutip Christianpost.com.
"Anak-anak begitu ingin supaya ia kembali, tapi kami bangga bahwa ia lebih memilih Kristus dari kami, bahkan lebih dari berkumpul bersama kami, ia telah memilih untuk mempertahankan imannya," ungkapnya.
Saat ini petisi untuk pembebasan Pastor Saeed di beheardproject.com telah mencapai lebih dari 600.000.
Sumber : Menarapenjaga.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Selasa, 24 September 2013
Bau tak sedap otoritarianisme dalam gereja
Kepemimpinan pada strata "puncak piramida" dalam kehidupan bergereja sering mengidap ‘penyakit kekuasaan’. Dunia juga tahu bahwa pusat kekuasaan selalu rentan dan tidak imun terhadap korup ; makin melimpahnya kekuasaan maka makin terbuka lebar kemungkinan penyalahgunaannya. Praktek manipulasi, dominasi bahkan intimidasi makin tumbuh subur. Entah pada ujung-ujungnya berhubungan dengan keuangan, moralitas atau arogansi. Sering para elite rohani menegaskan bahwa otoritas mereka diperlukan untuk mengontrol dan menjaga kawanan. (Meski disisi lain juga mengundang pertanyaan tentang siapa yang mengontrol mereka? Apakah mereka kebal dosa? Bisa meng"excuse" kesalahan sendiri karena statusnya adalah mandataris Tuhan dan cenderung "tidak bisa salah" ? Kepada siapa secara pribadi mereka memberikan pertanggungjawaban atas keuangan dan moralitas? ). Perlu terus menjadi kritis mengenai seberapa jauh implikasi dan aplikasi soal topik bahasan tersebut supaya kebenaran tentang otoritas tidak diserongkan dan proses pembodohan terus terjadi.
Jika ketidak-seimbangan mengenai hal tersebut tidak terkoreksi maka pada akhirnya otoritarianisme akan tumbuh subur dalam gereja. Proses memberdaya(kan) sering melenceng menjadi proses memperdaya. Apa akarnya? Meski tidak semua akar permasalahannya bisa diungkapkan dalam coretan singkat ini tetapi pada hemat penulis salah satu akar masalahnya adalah pemahaman yang tidak seimbang tentang prinsip penundukan diri dalam Ibrani 13:17 di kalangan pemimpin rohani. Ungkapan ‘tunduk dan taatilah pemimpinmu’ pada ayat tersebut telah dipahami bahkan diterapkan pada konteks yang kurang tepat, sekaligus menjadi senjata ampuh yang digunakan dalam proses manipulasi dan intimidasi terhadap jemaat/pengikut demi kepentingan sepihak, sang pemimpin.
Ada baiknya menjadi jujur tentang situasi tersebut dan melakukan studi serta kajian lebih mendalam lagi. Karena perilaku dibentuk oleh apa yang kita tahu, maka salah pengetahuan berarti salah kelakuan. Hidup kita dibentuk oleh berita yang kita dengar dan hayati. Kebenaran soal kepemimpinan dan penundukan diri pun harus dilihat pada sudut pandang yang seimbang. Kalau kita melihat kata Yunani yang relevan dengan kekuasaan/otoritas rohani maka kata tersebut adalah: exousia. Kata ini biasanya diterjemahkan sebagai 'kekuatan (power)' atau pun 'kekuasaan (otoritas)', dalam bahasa Inggrisnya adalah 'authority'.
Yang menarik adalah bahwa pada Perjanjian Baru, tidak disebutkan bahwa seorang percaya mempunyai 'kekuasaan/otoritas/exousia' seorang terhadap yang lainnya (sekalipun memiliki otoritas atas banyak hal yang lain). Kita punya otoritas/kekuasaan terhadap hal-hal, dan bahkan roh- roh di udara, tetapi tidak pernah terhadap orang Kristen lainnya. Hal ini menimbulkan debat yang mengejutkan mengenai kepemimpinan dan otoritas/kekuasaan rohani. Raja-raja mempunyai otoritas/kekuasaan terhadap subjek mereka; Paulus mempunyai otoritas/kekuasaan dari para imam untuk menganiaya gereja (Kisah 9:14, 26:10-12). Tetapi semua itu dari luar gereja. Di dalam gereja, seorang percaya tidak pernah dikatakan mempunyai exousia terhadap yang lainnya, tanpa memperhatikan posisi atau pun wibawa mereka.
Siapakah yang harus seseorang patuhi? Di sini, jawabannya menarik juga. Jika kita mengamati penggunaan kata “hupakouo”, yang merupakan bahasa Yunani yang berarti 'obey/patuh/taat' maka kita akan menemukan bahwa kita harus mentaati Tuhan, Injil (Roma 10:16) dan pengajaran para rasul (Filipi 2:12, II Tesalonika 3:14). Anak-anak mentaati orang tua mereka, dan hamba kepada tuannya (Efesus 6:1, 5) Apakah hubungan antara orang percaya terhadap para pemimpin jemaat ada dalam konteks "ketaatan" tersebut ? Jika seperti itu, maka hal tersebut tidak dikatakan dalam Perjanjian Baru.
Bagaimana dengan teks dalam Ibrani 13:17, yang berkata: 'taatilah pemimpinmu?' Teks ini menarik, karena memberikan pengertian yang dalam mengenai pengertian kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Keterangan sebelum ini sudah menekankan sisi negatifnya -- bahwa mereka tidak punya otoritas/kekuasaan rohani dalam arti yang biasanya, dan bahwa orang percaya tidak dikatakan harus mentaati mereka, dalam kerangka pengertian "exousia". Bagaimanapun juga, Perjanjian Baru bersikeras bahwa ada pemimpin-pemimpin dalam jemaat lokal dan kehadiran serta pelayanan mereka penting bagi kesehatan dari jemaat. Masalahnya adalah pada konsep kepemimpinan itu sendiri; bersumber dari kebenaran rohani atau konsep kepemimpinan yang dari duniawi? Ada petunjuk dalam Ibrani 13:17. Jika Anda mengamati kata kerja yang diterjemahkan menjadi 'obey/mentaati', Anda akan menemukan kata 'peitho' yang berarti 'membujuk'/persuasi. Dalam bentuk kata yang dipakai di sini (middle-pasif) berarti sesuatu seperti 'biarkan dirimu dibujuk oleh' atau 'mempunyai kepercayaan dalam'.
Sekarang ini sangat membantu. Orang-orang percaya harus membiarkan diri mereka untuk dibujuk oleh para pemimpin mereka. Pemimpin diberi kehormatan tertentu yang membuat kata-kata mereka lebih berbobot dari yang sebenarnya mereka punyai dalam dan dari diri mereka sendiri. Memiliki kemampuan persuasif. Dan para jemaat yang lain harus condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita harus membiarkan diri kita untuk dibujuk oleh para pemimpin -- tidak untuk mentaati mereka membabi buta/tanpa berpikir, tapi berdiskusi dengan mereka sementara kita condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. .
Kata kerja lain yang digunakan dalam Ibrani 13:17 menguatkan kesimpulan ini. Ketika teks ini mendesak orang-orang untuk tunduk pada pemimpin, ini tidak menggunakan jenis kata dalam Perjanjian Baru untuk kata 'submit / tunduk' yang kata aslinya adalah “hupotassomai”, yang bermakna konotasi: sesuatu seperti menaruh diri sendiri dalam suatu organisasi di bawah pimpinan orang lain. Kata itu berbeda. Ini adalah “hupeiko”, bukan hupotassomai dan ini hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Ini berkonotasi bukan suatu struktur di mana kita tunduk, tetapi suatu peperangan dimana setelah itu orang menyerah/mengalah. Gambarannya (bila dalam kemiliteran) adalah suatu diskusi yang serius, suatu pertukaran tempat ketika suatu partai menyerah. Ini lebih kepada membiarkan diri kita dibujuk oleh pemimpin-pemimpin jemaat, daripada tunduk tanpa perlawanan pada mereka seperti yang kita lakukan pada kekuasaan dan struktur kehidupan yang ada.
Hal ini menjadikan masuk akal dengan kriteria pemimpin dalam surat-surat pastoral. Karakter adalah hal terpenting bagi pemimpin -- mereka harus 'dapat-dihormati’. Jika mereka seharusnya menjadi 'pembujuk', itu berarti mereka harus dengan sangat unggul dapat dihormati, karena orang jenis inilah yang cenderung kata-katanya dapat dianggap serius/penting. Jenis dari 'kemampuan untuk dapat dihormati' yang diuraikan di sana meminjam arti kata kredibilitas dari pemimpin, karena itu memberi kita kepercayaan untuk membuat kita membuka diri sebagai jemaat untuk dibujuk oleh mereka. Bukannya menuntut penghormatan berlebihan atas otoritasnya sementara kehidupannya tidak berkarakter dan kredibel.
Kita harus mengambil ide tentang kepemimpinan dari Perjanjian Baru, bukan dari dunia. Maka, kita harus memulai bukan dengan konsep duniawi dari kepemimpinan, tetapi dengan ide alkitabiah dari kata 'pembujuk' dan mencoba untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari kita. Benar bahwa orang yang olehnya jemaat dibujuk, menerima sejenis penghormatan dan kekuasaan/ otoritas. Tetapi ini bukan kekuasaan yang membabi buta seperti praktek dari banyak otoritas/ kekuasaan rohani dewasa ini.
Kita sudah melihat bahwa otoritas rohani itu berdasarkan kepercayaan yang sungguh-sungguh pada pemimpin. Tapi pemimpin juga berdasar pada kebenaran. Pemimpin jemaat harus mencintai kebenaran dan benci untuk didengarkan ketika mereka tidak menunjukkan integritas dan kredibilitas sejati. Lebih lagi, kebenaran itu penting sekali dalam ke-persuasif-an pemimpin. Tapi persuasif menuntut adanya dialog; dan dialog membutuhkan keaktifan partisipasi dari semua jemaat. Seorang pemimpin yang punya karisma untuk membujuk orang untuk melakukan yang tidak benar, dan melakukannya, itu jahat/sihir. Dan buruk juga, jemaat yang mengikuti secara membabi buta.
Terbujuk pada suatu kebohongan adalah bentuk terburuk dari perbudakan. Pemimpin-pemimpin dalam jemaat terikat dengan kebenaran dan melayaninya jauh di atas pelayanan mereka terhadap yang lain. Dan jemaat terikat dengan tanggung jawab untuk berdialog mengenai kebenaran. Kepercayaan yang ditimbulkan oleh pelayanan itu berbahaya jika tidak dikoordinasi dengan ketundukan pada kebenaran Injil. Jika kebenaran dan kepercayaan tidak berjalan bersama-sama dalam dasar kepemimpinan dalam jemaat, maka kepercayaan yang diciptakan dalam pelayanan ini akan menjadi suatu bentuk yang jelas dari kekuatan-kekuatan yang kita sebut manipulasi.
Kepemimpinan Kristen yang murni, berdasarkan pada kebenaran dan kepercayaan, tidak pada kepemimpinan gaya dunia. Kepemimpinan dalam jemaat disebut sebagai kehidupan pelayanan yang dapat-dihormati. Kehidupan yang kredibel dan berintegritas seperti itu menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Pemimpin, seperti semua anggota Tubuh Kristus, tunduk pada kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang adalah Kristus sendiri. Seharusnya otoritarianisme kepemimpinan dan pasifnya kepengikutan tidak ada dalam kehidupan bergereja kita. - Cornelius Wing -
Sumber: gerejaperjanjianbaru.blogspot.com Baca Selengkapnya...
Jika ketidak-seimbangan mengenai hal tersebut tidak terkoreksi maka pada akhirnya otoritarianisme akan tumbuh subur dalam gereja. Proses memberdaya(kan) sering melenceng menjadi proses memperdaya. Apa akarnya? Meski tidak semua akar permasalahannya bisa diungkapkan dalam coretan singkat ini tetapi pada hemat penulis salah satu akar masalahnya adalah pemahaman yang tidak seimbang tentang prinsip penundukan diri dalam Ibrani 13:17 di kalangan pemimpin rohani. Ungkapan ‘tunduk dan taatilah pemimpinmu’ pada ayat tersebut telah dipahami bahkan diterapkan pada konteks yang kurang tepat, sekaligus menjadi senjata ampuh yang digunakan dalam proses manipulasi dan intimidasi terhadap jemaat/pengikut demi kepentingan sepihak, sang pemimpin.
Ada baiknya menjadi jujur tentang situasi tersebut dan melakukan studi serta kajian lebih mendalam lagi. Karena perilaku dibentuk oleh apa yang kita tahu, maka salah pengetahuan berarti salah kelakuan. Hidup kita dibentuk oleh berita yang kita dengar dan hayati. Kebenaran soal kepemimpinan dan penundukan diri pun harus dilihat pada sudut pandang yang seimbang. Kalau kita melihat kata Yunani yang relevan dengan kekuasaan/otoritas rohani maka kata tersebut adalah: exousia. Kata ini biasanya diterjemahkan sebagai 'kekuatan (power)' atau pun 'kekuasaan (otoritas)', dalam bahasa Inggrisnya adalah 'authority'.
Yang menarik adalah bahwa pada Perjanjian Baru, tidak disebutkan bahwa seorang percaya mempunyai 'kekuasaan/otoritas/exousia' seorang terhadap yang lainnya (sekalipun memiliki otoritas atas banyak hal yang lain). Kita punya otoritas/kekuasaan terhadap hal-hal, dan bahkan roh- roh di udara, tetapi tidak pernah terhadap orang Kristen lainnya. Hal ini menimbulkan debat yang mengejutkan mengenai kepemimpinan dan otoritas/kekuasaan rohani. Raja-raja mempunyai otoritas/kekuasaan terhadap subjek mereka; Paulus mempunyai otoritas/kekuasaan dari para imam untuk menganiaya gereja (Kisah 9:14, 26:10-12). Tetapi semua itu dari luar gereja. Di dalam gereja, seorang percaya tidak pernah dikatakan mempunyai exousia terhadap yang lainnya, tanpa memperhatikan posisi atau pun wibawa mereka.
Siapakah yang harus seseorang patuhi? Di sini, jawabannya menarik juga. Jika kita mengamati penggunaan kata “hupakouo”, yang merupakan bahasa Yunani yang berarti 'obey/patuh/taat' maka kita akan menemukan bahwa kita harus mentaati Tuhan, Injil (Roma 10:16) dan pengajaran para rasul (Filipi 2:12, II Tesalonika 3:14). Anak-anak mentaati orang tua mereka, dan hamba kepada tuannya (Efesus 6:1, 5) Apakah hubungan antara orang percaya terhadap para pemimpin jemaat ada dalam konteks "ketaatan" tersebut ? Jika seperti itu, maka hal tersebut tidak dikatakan dalam Perjanjian Baru.
Bagaimana dengan teks dalam Ibrani 13:17, yang berkata: 'taatilah pemimpinmu?' Teks ini menarik, karena memberikan pengertian yang dalam mengenai pengertian kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Keterangan sebelum ini sudah menekankan sisi negatifnya -- bahwa mereka tidak punya otoritas/kekuasaan rohani dalam arti yang biasanya, dan bahwa orang percaya tidak dikatakan harus mentaati mereka, dalam kerangka pengertian "exousia". Bagaimanapun juga, Perjanjian Baru bersikeras bahwa ada pemimpin-pemimpin dalam jemaat lokal dan kehadiran serta pelayanan mereka penting bagi kesehatan dari jemaat. Masalahnya adalah pada konsep kepemimpinan itu sendiri; bersumber dari kebenaran rohani atau konsep kepemimpinan yang dari duniawi? Ada petunjuk dalam Ibrani 13:17. Jika Anda mengamati kata kerja yang diterjemahkan menjadi 'obey/mentaati', Anda akan menemukan kata 'peitho' yang berarti 'membujuk'/persuasi. Dalam bentuk kata yang dipakai di sini (middle-pasif) berarti sesuatu seperti 'biarkan dirimu dibujuk oleh' atau 'mempunyai kepercayaan dalam'.
Sekarang ini sangat membantu. Orang-orang percaya harus membiarkan diri mereka untuk dibujuk oleh para pemimpin mereka. Pemimpin diberi kehormatan tertentu yang membuat kata-kata mereka lebih berbobot dari yang sebenarnya mereka punyai dalam dan dari diri mereka sendiri. Memiliki kemampuan persuasif. Dan para jemaat yang lain harus condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita harus membiarkan diri kita untuk dibujuk oleh para pemimpin -- tidak untuk mentaati mereka membabi buta/tanpa berpikir, tapi berdiskusi dengan mereka sementara kita condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. .
Kata kerja lain yang digunakan dalam Ibrani 13:17 menguatkan kesimpulan ini. Ketika teks ini mendesak orang-orang untuk tunduk pada pemimpin, ini tidak menggunakan jenis kata dalam Perjanjian Baru untuk kata 'submit / tunduk' yang kata aslinya adalah “hupotassomai”, yang bermakna konotasi: sesuatu seperti menaruh diri sendiri dalam suatu organisasi di bawah pimpinan orang lain. Kata itu berbeda. Ini adalah “hupeiko”, bukan hupotassomai dan ini hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Ini berkonotasi bukan suatu struktur di mana kita tunduk, tetapi suatu peperangan dimana setelah itu orang menyerah/mengalah. Gambarannya (bila dalam kemiliteran) adalah suatu diskusi yang serius, suatu pertukaran tempat ketika suatu partai menyerah. Ini lebih kepada membiarkan diri kita dibujuk oleh pemimpin-pemimpin jemaat, daripada tunduk tanpa perlawanan pada mereka seperti yang kita lakukan pada kekuasaan dan struktur kehidupan yang ada.
Hal ini menjadikan masuk akal dengan kriteria pemimpin dalam surat-surat pastoral. Karakter adalah hal terpenting bagi pemimpin -- mereka harus 'dapat-dihormati’. Jika mereka seharusnya menjadi 'pembujuk', itu berarti mereka harus dengan sangat unggul dapat dihormati, karena orang jenis inilah yang cenderung kata-katanya dapat dianggap serius/penting. Jenis dari 'kemampuan untuk dapat dihormati' yang diuraikan di sana meminjam arti kata kredibilitas dari pemimpin, karena itu memberi kita kepercayaan untuk membuat kita membuka diri sebagai jemaat untuk dibujuk oleh mereka. Bukannya menuntut penghormatan berlebihan atas otoritasnya sementara kehidupannya tidak berkarakter dan kredibel.
Kita harus mengambil ide tentang kepemimpinan dari Perjanjian Baru, bukan dari dunia. Maka, kita harus memulai bukan dengan konsep duniawi dari kepemimpinan, tetapi dengan ide alkitabiah dari kata 'pembujuk' dan mencoba untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari kita. Benar bahwa orang yang olehnya jemaat dibujuk, menerima sejenis penghormatan dan kekuasaan/ otoritas. Tetapi ini bukan kekuasaan yang membabi buta seperti praktek dari banyak otoritas/ kekuasaan rohani dewasa ini.
Kita sudah melihat bahwa otoritas rohani itu berdasarkan kepercayaan yang sungguh-sungguh pada pemimpin. Tapi pemimpin juga berdasar pada kebenaran. Pemimpin jemaat harus mencintai kebenaran dan benci untuk didengarkan ketika mereka tidak menunjukkan integritas dan kredibilitas sejati. Lebih lagi, kebenaran itu penting sekali dalam ke-persuasif-an pemimpin. Tapi persuasif menuntut adanya dialog; dan dialog membutuhkan keaktifan partisipasi dari semua jemaat. Seorang pemimpin yang punya karisma untuk membujuk orang untuk melakukan yang tidak benar, dan melakukannya, itu jahat/sihir. Dan buruk juga, jemaat yang mengikuti secara membabi buta.
Terbujuk pada suatu kebohongan adalah bentuk terburuk dari perbudakan. Pemimpin-pemimpin dalam jemaat terikat dengan kebenaran dan melayaninya jauh di atas pelayanan mereka terhadap yang lain. Dan jemaat terikat dengan tanggung jawab untuk berdialog mengenai kebenaran. Kepercayaan yang ditimbulkan oleh pelayanan itu berbahaya jika tidak dikoordinasi dengan ketundukan pada kebenaran Injil. Jika kebenaran dan kepercayaan tidak berjalan bersama-sama dalam dasar kepemimpinan dalam jemaat, maka kepercayaan yang diciptakan dalam pelayanan ini akan menjadi suatu bentuk yang jelas dari kekuatan-kekuatan yang kita sebut manipulasi.
Kepemimpinan Kristen yang murni, berdasarkan pada kebenaran dan kepercayaan, tidak pada kepemimpinan gaya dunia. Kepemimpinan dalam jemaat disebut sebagai kehidupan pelayanan yang dapat-dihormati. Kehidupan yang kredibel dan berintegritas seperti itu menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Pemimpin, seperti semua anggota Tubuh Kristus, tunduk pada kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang adalah Kristus sendiri. Seharusnya otoritarianisme kepemimpinan dan pasifnya kepengikutan tidak ada dalam kehidupan bergereja kita. - Cornelius Wing -
Sumber: gerejaperjanjianbaru.blogspot.com Baca Selengkapnya...
KETIKA TUHAN - AGAMA TAK BERDINDING
Menyikapi Surat SPB 2 Menteri tentang: Rumah Ibadat
Oleh: Stevanus Soebagja
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat.
Surat Peraturan Bersama (SPB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat—yang merupakan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1969—telah ditandatangani.
Selanjutnya, surat yang sudah dikenal sebagai sumber polemik ihwal pendirian rumah ibadat—termasuk yang memicu pelarangan ibadat—itu akan melalui tahap implementasi di lapangan.
Seperti sudah diduga sebelumnya, reaksi yang terjadi adalah beberapa rumah yang dijadikan tempat ibadah di tutup oleh warga. Penutupan lebih karena tidak di penuhinya persyaratan sesuai SPB.
Secara tidak langsung tersirat bahwa terpenuhinya syarat sesuai SPB lebih tinggi nilainya daripada ibadat itu sendiri. Substansi ibadat kepada Tuhan mengalami degradasi, tidak lebih penting dari persyaratan pendirian rumah ibadat.
Transformasi Ibadah
Terlepas dari perdebatan soal perlu tidaknya izin pendirian rumah ibadat (dalam praktiknya mencakup pula izin beribadat), sisi positif kasus ini membuka mata perihal keber-agama-an baru. Baru di sini bukan berarti pertama kali ada, tetapi baru dalam arti pemeluk agama disadarkan akan ketidak-terbatasan Tuhan yang menjadi tujuan ibadat, yang mestinya juga terbawa dalam ketidak-terbatasan cara beribadat kepada-Nya.
Mereka yang menentang SPB sebagai revisi SKB mengatakan bahwa ibadat tidak perlu memakai izin. Setiap pemeluk agama berhak untuk membangun rumah ibadat dan melaksanakan ibadat sesuai keyakinannya, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Di satu sisi pernyataan ini benar dan berupaya meletakkan ideal beragama di tengah masyarakat plural. Namun di sisi lain juga menjadi absurt karena dengan menolak syarat izin pendirian rumah ibadat yang sudah ditetapkan pemerintah, justru telah mengingkari sifat ketidak-terbatasan Tuhan—yang berizin atau tidak, memenuhi syarat atau tidak—tidak terpengaruh olehnya. Ketidak-terbatasan Tuhan mestinya akan membuka peluang cara beribadat baru kepada-Nya.
Bahwa sekalipun ibadat harus mempunyai izin dengan tanda tangan ber-KTP dari jemaah sebanyak 90 orang dan dari masyarakat sekitar 60 tanda tangan sesuai syarat SPB, menjadi absurt jika disandingkan dengan sifat ke-Maha-an Tuhan tadi.
Izin memang bisa menghambat pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat dengan cara dan kebiasaan yang sudah berjalan. Tapi peraturan yang dirasakan membatasi itu mestinya justru membuka cara beribadat baru yang tak habis-habisnya, sesuai sifat-Nya yang Maha Tak Terbatas.
Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat terhambat soal izin di atas. Yang terhambat hanya pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat sebagai kebiasaan selama ini, namun tetap tak terbatas dalam cara beribadat baru, yang bebas dari “terkondisikan” untuk meminta izin seperti disyaratkan.
Tuhan, rumah ibadat dan cara beribadat kepada-Nya bebas dari aturan politik dan legitimasi sosial. Itu semua bukan soal perlu atau tidak perlu izin, tetapi memang substansinya tidak mengenal izin karena sifatnya yang transenden, rohaniah, bahkan imaniah yang undang-undang pun tidak bisa menjangkaunya.
Dengan membuka wawasan dan kesadaran baru tentang sifat ke-maha-an Tuhan, setiap upaya manusia untuk membatasi pendirian rumah ibadat (yang notabene diyakini juga rumah untuk bertemu dengan Tuhan, bahkan “Rumah Tuhan”) hanya menjadi penghambat kecil, bahkan akan tergerus oleh sifat Maha Tak Terbatas. SPB tidak lagi dipandang sebagai hambatan karena Tuhan akan membuka cara beribadat yang baru dan kreatif. Sebuah transformasi ibadat.
“Tuhan tanpa Rumah”
Pasca penandatanganan SPB yang bisa dilakukan ialah membuka seluas mungkin cara beragama baru yang tidak terbentur pada soal izin mendirikan rumah ibadat. Dengan kata lain, upaya matematikanisasi kegiatan spiritual—dengan syarat 90 jemaat ber-KTP dan 60 orang lingkungan sekitar sebagai “baptis politik” pemerintah dan “baptis sosial” warga sekitar—agar ibadat aman dan sah, perlu disikapi dengan membuka pintu teologi baru atas pendirian “rumah Tuhan” dan rutinitas beribadat kepada-Nya.
Sebetulnya tidak ada yang hilang, sekalipun rumah ibadat tidak boleh didirikan atau bahkan yang sudah berjalan ditutup. Meski rumah ibadat diidentikkan sebagai “rumah Tuhan”, penutupan rumah ibadat tidak berarti “Tuhan kehilangan rumah”.
Justru sebaliknya, pendirian rumah ibadat termasuk pelanggaran dan penutupan hanya karena tidak memenuhi syarat sehingga tidak berizin, mengingatkan kembali tentang substansi “Tuhan tanpa rumah”.
Meminjam terminologi Kristen, dimana Anak Manusia (baca: Tuhan) tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Jangankan rumah ibadat, rumah-Nya, bantal saja tak punya. Teologi “Tuhan tanpa rumah” ini justru membebaskan agama dan umat untuk mencari cara ibadat yang tak terbatasi oleh bangunan dan ritual-ritualnya.
Rumah ibadat adalah seluruh alam semesta, yakni dimana saja dan ritual-ritual peribadatan langsung terefleksikan pada keseharian hidup umat beragama dari hati, pikiran ke perilaku sebagai jantung dan etalase ibadat itu sendiri. Selama ini telah terjadi institusionalisasi ibadat, bahwa ibadat hanya dalam rumah ibadat saja, di luar itu dianggap belum atau tidak melakukan ibadat.
Agama tanpa Tembok
Dalam konteks agama, matematikanisasi izin pendirian dan kegiatan peribadatan di dalamnya, justru membuka peluang lahirnya agama tanpa tembok (religion without wall) sebagai konsekuensi teologi “Tuhan tanpa rumah”. Hal mana sejalan dengan prinsip-prinsip universal agama bahwa agama bukan sekedar ditandai dengan bangunan fisik atau ritual ibadat. Tetapi agama adalah organisme hidup, kumpulan mereka yang percaya kepada yang transenden. Primary concern agama dalam hal ini ialah manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, dan bukan semata tempat ibadat dan simbol-simbol keagamaan.
Dakwah agama dengan demikian juga tidak terbatas pada komunitas jemaah lokal (at stated times), tetapi dengan terbebas dari sindrom pendirian rumah ibadat, agama justru dibukakan ladang dakwah baru di mana saja. Sikap agama terhadap SPB yang mensyaratkan pendirian rumah ibadat dengan demikian seharusnya disikapi kebalikannya, yakni dengan menerima tanpa syarat (unconditional acceptance).
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat. Ia lebih mendorong praktek agama yang lebih inklusif dibanding sebelumnya yang tetap mempertahankan etalase rumah ibadat, simbol dan ritual yang eksklusif.
Inilah pokok terpenting dari polemik SPB. Tidak perlu dikhawatirkan bahwa SPB akan melarang hak beribadah seseorang. Meski fenomena rumah ibadat ditutup dengan alasan tidak memenuhi persyaratan SPB, hal ini justru menjadi batu penguji tingkat keber-agama-an seseorang.
Kita tahu bahwa memeluknya seseorang kepada suatu agama lebih karena panggilan yang bersifat transenden yang diyakininya, bahwa dengan percaya kepada agamanya inilah ia menjadi orang yang beruntung dan diselamatkan. Ini berarti memeluk agama membutuhkan a Call (sebuah panggilan). Dengan tidak adanya tempat beribadat, keber-agama-an seseorang justu dikondisikan untuk mendahulukan a Call-nya (panggilan kepada agamanya) daripada sekedar tersedianya a Wall (tembok rumah ibadat).
Sisi postif SPB ialah kemungkinannya melahirkan pola keber-agama-an baru yang kuat karena penekanan pada a Call dan bukan sekedar a Wall. Panggilan agama yang tertoreh di relung hati yang paling dalam yang memancar pada kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar pergi ke rumah ibadat dengan mengusung simbol agama dan ritualismenya yang rentan.
KOMPAS, Sabtu, 3 Juni 2006 (halaman 14) Baca Selengkapnya...
Oleh: Stevanus Soebagja
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat.
Surat Peraturan Bersama (SPB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat—yang merupakan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1969—telah ditandatangani.
Selanjutnya, surat yang sudah dikenal sebagai sumber polemik ihwal pendirian rumah ibadat—termasuk yang memicu pelarangan ibadat—itu akan melalui tahap implementasi di lapangan.
Seperti sudah diduga sebelumnya, reaksi yang terjadi adalah beberapa rumah yang dijadikan tempat ibadah di tutup oleh warga. Penutupan lebih karena tidak di penuhinya persyaratan sesuai SPB.
Secara tidak langsung tersirat bahwa terpenuhinya syarat sesuai SPB lebih tinggi nilainya daripada ibadat itu sendiri. Substansi ibadat kepada Tuhan mengalami degradasi, tidak lebih penting dari persyaratan pendirian rumah ibadat.
Transformasi Ibadah
Terlepas dari perdebatan soal perlu tidaknya izin pendirian rumah ibadat (dalam praktiknya mencakup pula izin beribadat), sisi positif kasus ini membuka mata perihal keber-agama-an baru. Baru di sini bukan berarti pertama kali ada, tetapi baru dalam arti pemeluk agama disadarkan akan ketidak-terbatasan Tuhan yang menjadi tujuan ibadat, yang mestinya juga terbawa dalam ketidak-terbatasan cara beribadat kepada-Nya.
Mereka yang menentang SPB sebagai revisi SKB mengatakan bahwa ibadat tidak perlu memakai izin. Setiap pemeluk agama berhak untuk membangun rumah ibadat dan melaksanakan ibadat sesuai keyakinannya, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Di satu sisi pernyataan ini benar dan berupaya meletakkan ideal beragama di tengah masyarakat plural. Namun di sisi lain juga menjadi absurt karena dengan menolak syarat izin pendirian rumah ibadat yang sudah ditetapkan pemerintah, justru telah mengingkari sifat ketidak-terbatasan Tuhan—yang berizin atau tidak, memenuhi syarat atau tidak—tidak terpengaruh olehnya. Ketidak-terbatasan Tuhan mestinya akan membuka peluang cara beribadat baru kepada-Nya.
Bahwa sekalipun ibadat harus mempunyai izin dengan tanda tangan ber-KTP dari jemaah sebanyak 90 orang dan dari masyarakat sekitar 60 tanda tangan sesuai syarat SPB, menjadi absurt jika disandingkan dengan sifat ke-Maha-an Tuhan tadi.
Izin memang bisa menghambat pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat dengan cara dan kebiasaan yang sudah berjalan. Tapi peraturan yang dirasakan membatasi itu mestinya justru membuka cara beribadat baru yang tak habis-habisnya, sesuai sifat-Nya yang Maha Tak Terbatas.
Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat terhambat soal izin di atas. Yang terhambat hanya pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat sebagai kebiasaan selama ini, namun tetap tak terbatas dalam cara beribadat baru, yang bebas dari “terkondisikan” untuk meminta izin seperti disyaratkan.
Tuhan, rumah ibadat dan cara beribadat kepada-Nya bebas dari aturan politik dan legitimasi sosial. Itu semua bukan soal perlu atau tidak perlu izin, tetapi memang substansinya tidak mengenal izin karena sifatnya yang transenden, rohaniah, bahkan imaniah yang undang-undang pun tidak bisa menjangkaunya.
Dengan membuka wawasan dan kesadaran baru tentang sifat ke-maha-an Tuhan, setiap upaya manusia untuk membatasi pendirian rumah ibadat (yang notabene diyakini juga rumah untuk bertemu dengan Tuhan, bahkan “Rumah Tuhan”) hanya menjadi penghambat kecil, bahkan akan tergerus oleh sifat Maha Tak Terbatas. SPB tidak lagi dipandang sebagai hambatan karena Tuhan akan membuka cara beribadat yang baru dan kreatif. Sebuah transformasi ibadat.
“Tuhan tanpa Rumah”
Pasca penandatanganan SPB yang bisa dilakukan ialah membuka seluas mungkin cara beragama baru yang tidak terbentur pada soal izin mendirikan rumah ibadat. Dengan kata lain, upaya matematikanisasi kegiatan spiritual—dengan syarat 90 jemaat ber-KTP dan 60 orang lingkungan sekitar sebagai “baptis politik” pemerintah dan “baptis sosial” warga sekitar—agar ibadat aman dan sah, perlu disikapi dengan membuka pintu teologi baru atas pendirian “rumah Tuhan” dan rutinitas beribadat kepada-Nya.
Sebetulnya tidak ada yang hilang, sekalipun rumah ibadat tidak boleh didirikan atau bahkan yang sudah berjalan ditutup. Meski rumah ibadat diidentikkan sebagai “rumah Tuhan”, penutupan rumah ibadat tidak berarti “Tuhan kehilangan rumah”.
Justru sebaliknya, pendirian rumah ibadat termasuk pelanggaran dan penutupan hanya karena tidak memenuhi syarat sehingga tidak berizin, mengingatkan kembali tentang substansi “Tuhan tanpa rumah”.
Meminjam terminologi Kristen, dimana Anak Manusia (baca: Tuhan) tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Jangankan rumah ibadat, rumah-Nya, bantal saja tak punya. Teologi “Tuhan tanpa rumah” ini justru membebaskan agama dan umat untuk mencari cara ibadat yang tak terbatasi oleh bangunan dan ritual-ritualnya.
Rumah ibadat adalah seluruh alam semesta, yakni dimana saja dan ritual-ritual peribadatan langsung terefleksikan pada keseharian hidup umat beragama dari hati, pikiran ke perilaku sebagai jantung dan etalase ibadat itu sendiri. Selama ini telah terjadi institusionalisasi ibadat, bahwa ibadat hanya dalam rumah ibadat saja, di luar itu dianggap belum atau tidak melakukan ibadat.
Agama tanpa Tembok
Dalam konteks agama, matematikanisasi izin pendirian dan kegiatan peribadatan di dalamnya, justru membuka peluang lahirnya agama tanpa tembok (religion without wall) sebagai konsekuensi teologi “Tuhan tanpa rumah”. Hal mana sejalan dengan prinsip-prinsip universal agama bahwa agama bukan sekedar ditandai dengan bangunan fisik atau ritual ibadat. Tetapi agama adalah organisme hidup, kumpulan mereka yang percaya kepada yang transenden. Primary concern agama dalam hal ini ialah manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya, dan bukan semata tempat ibadat dan simbol-simbol keagamaan.
Dakwah agama dengan demikian juga tidak terbatas pada komunitas jemaah lokal (at stated times), tetapi dengan terbebas dari sindrom pendirian rumah ibadat, agama justru dibukakan ladang dakwah baru di mana saja. Sikap agama terhadap SPB yang mensyaratkan pendirian rumah ibadat dengan demikian seharusnya disikapi kebalikannya, yakni dengan menerima tanpa syarat (unconditional acceptance).
Agama tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat. Ia lebih mendorong praktek agama yang lebih inklusif dibanding sebelumnya yang tetap mempertahankan etalase rumah ibadat, simbol dan ritual yang eksklusif.
Inilah pokok terpenting dari polemik SPB. Tidak perlu dikhawatirkan bahwa SPB akan melarang hak beribadah seseorang. Meski fenomena rumah ibadat ditutup dengan alasan tidak memenuhi persyaratan SPB, hal ini justru menjadi batu penguji tingkat keber-agama-an seseorang.
Kita tahu bahwa memeluknya seseorang kepada suatu agama lebih karena panggilan yang bersifat transenden yang diyakininya, bahwa dengan percaya kepada agamanya inilah ia menjadi orang yang beruntung dan diselamatkan. Ini berarti memeluk agama membutuhkan a Call (sebuah panggilan). Dengan tidak adanya tempat beribadat, keber-agama-an seseorang justu dikondisikan untuk mendahulukan a Call-nya (panggilan kepada agamanya) daripada sekedar tersedianya a Wall (tembok rumah ibadat).
Sisi postif SPB ialah kemungkinannya melahirkan pola keber-agama-an baru yang kuat karena penekanan pada a Call dan bukan sekedar a Wall. Panggilan agama yang tertoreh di relung hati yang paling dalam yang memancar pada kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar pergi ke rumah ibadat dengan mengusung simbol agama dan ritualismenya yang rentan.
KOMPAS, Sabtu, 3 Juni 2006 (halaman 14) Baca Selengkapnya...
Ketaatan Sister Chang
Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2 Kor 2:9.
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Ketika Allah berbicara kepada Sister Chang, seorang pemimpin gereja rumah dari Henan, Dia menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dia memerintahkannya untuk pergi dan memberitakan Injil di luar kantor polisi setempat. Tindakan semacam ini akan membuatnya ditangkap, sekalipun di negara barat. Dan di Cina komunis, ini adalah sebuah cara yang meyakinkan untuk mengundang hukuman berat. Tetapi, semakin lama Sister Chang mendoakan hal ini, semakin jelas suara Allah yang terus memberitahunya untuk melakukan hal itu. Akhirnya, ia tidak melihat pilihan lain kecuali menaati Allah.
Berdiri di luar kantor polisi, ia dengan berani memberitakan Injil kepada orang-orang yang melihatnya dengan keheranan. Dalam beberapa menit, beberapa polisi menyeretnya ke dalam dan menahannya. Di mata manusia ketaatannya tampak konyol, tetapi Allah bisa melihat hal-hal yang tidak kita lihat.
Sister Chang dihukum tanpa pengadilan dan ia dikirim ke penjara wanita, dimana ia ditempatkan diantara ribuan jiwa yang terhilang. Ia dengan berani dan penuh kasih memberitakan Injil kepada sesama tahanan. Cahaya Injil menyebar seperti api. Hanya dalam tiga bulan, 800 wanita percaya kepada Yesus! Seluruh suasana penjara menjadi berubah, dan suara-suara pujian dan penyembahan yang baru terdengar di lorong-lorong penjara dan di halaman.
Direktur penjara sangat keheranan dengan perubahan suasana tersebut dan ia bisa merunutnya ke khotbah Sister Chang. Ia lalu membawa Sister Chang ke kantornya dan berkata, "Kamu telah membuat pekerjaan saya jadi mudah! Tidak ada lagi perkelahian diantara para tahanan dan para wanita itu menjadi lembut dan patuh. Kami membutuhkan lebih banyak orang seperti kamu untuk bekerja disini. Mulai hari ini, kami telah memutuskan untuk membebaskan kamu. Kami ingin memberimu pekerjaan sepenuh waktu di penjara ini, dan kami akan menggaji kamu 3.000 yuan per bulan (Sekitar Rp. 3.500.000,- sebuah harta karun untuk ukuran desa Henan). Direktur itu melanjutkan, "Kami juga akan memberimu sebuah mobil dan seorang sopir, dan akan memberimu rumah."
Sister Chang dengan singkat mempertimbangkan tawaran itu, dan kemudian menjawab, "Dua puluh tahun yang lalu aku menjadi murid Yesus Kristus dan Dia selalu indah bagiku. Aku tidak percaya tawaran mobil, sopir, dan gaji yang Anda berikan adalah sesuai dengan apa yang Yesus ingin perbuat dengan hidupku, karena aku adalah milik-Nya. Yang ingin aku lakukan hanyalah memberitakan Kabar Baik."
Terlepas dari penolakannya atas tawaran itu direktur tersebut tetap melepaskannya dari penjara pada hari itu, dan ia terus melanjutkan pelayanannya bagi Tuhan.
Melakukan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan selalu mengandung berkat. Jangan membantah, melawannya, dan mencoba untuk memikirkan rinciannya. Pokoknya kerjakan saja. Ini adalah salah satu tanda dari seorang murid sejati Yesus Kristus.
(Kita bisa saja berdalih bahwa itu hanya salah satu cara Allah dalam memakai orang-orang untuk memenangkan dunia dan ada banyak cara lain yang Allah bisa pakai yang tidak melulu musti seperti itu. Baik...pendapat Anda ada benarnya, namun kita juga seharusnya tidak bisa memungkiri "value Injil" yang Allah kehendaki seperti KETAATAN PENUH pada Allah; KEBERANIAN menjalankan Amanat Agung; DINAMIKA SPONTANITAS hubungan akrab dengan Roh Kudus; KERELAAN menanggalkan kenyamanan/kemapanan hidup (bahkan kalau perlu: nyawa) - apabila diperlukan - dan menyambutnya sebagai Hak dan Harta Istimewa untuk turut mengalami persekutuan dalam penderitaan Kristus; dan YANG PASTI konsep kerangka kerja Tuhan SERING berbeda jauh dengan konsep/kerangka kerja manusia, perbedaannya seperti langit dan bumi - inilah fenomena paradoks yang terjadi dalam Kerajaan Allah). Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)



