Saat melakukan simbolisasi saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Jakarta, Jumat (25/5), Ketua Ketua MPR RI Taufiq Kiemas menegaskan bahwa gereja adalah tempat tumbuhnya spirit dan ide-ide kebersamaan dalam merajut bangsa dan negara ini.
Suami Mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri ini mengingatkan bahwa di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja para pendiri bangsa itu. "Inilah spirit keindonesiaan kita yang membanggakan. Di masa lalu, peran dewan gereja sangat besar dalam merajut kebhinnekaan, sehingga kita dapat menikmati buah manis kerja mereka," katanya.
Dirinya menambahkan juga bahwa Gedung PGI selama ini dipakai tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga umat Islam dan umat lainnya untuk melakukan berbagai kegiatan. Keistimewaan para pendiri gereja itu, kata Taufiq, adalah dalam membangun solidaritas internal gereja-gereja. Taufiq juga mengucapkan terima kasih kepada PGI, yang telah bersama-sama merajut kemajemukan, menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Pembangunan gedung PGI yang diperkirakan selesai tahun 2013 menghabiskan dana sebesar Rp 35 miliar. Saat ini, total anggaran yang masuk sekitar Rp 2,5 miliar. Hadir pada kesempatan itu, Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto T Thohari dan Ibu Melani Leimena Suharli anak dari Pahlawan Nasional yang juga tokoh perjuangan Johanes Leimena.
Sumber: jawaban.com
Baca Selengkapnya...
Senin, 28 Mei 2012
Kamis, 24 Mei 2012
Pemimpin Gereja-Gereja di Kerala, Kutuk Pembunuhan Suster Pembela Hak Suku-suku Tertindas
KERALA (INDIA) - Para pemimpin Gereja-gereja di Kerala, India telah menyatakan terkejut dan marah atas pembunuhan terhadap Suster Valsa Yohanes, seorang pegiat hak-hak warga suku, dua hari lalu.
Biarawati berusia 53 tahun dari Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Yesus dan Maria ditemukan tewas di rumahnya di Distrik Pakur, sebuah daerah terpencil di Negara Bagian Jharkhand, India bagian timur.
Menurut laporan sekelompok massa sekitar 50 orang berkumpul di luar rumahnya di Desa Pachua sesaat sebelum ia tewas. Sedangkan laporan sebelumnya mengatakan kalau biarawati itu ditembak mati.
Uskup Agung dan kepala Gereja Siro-Malabar, Mgr George Alencherry, dan Kuria Uskup Bosco Puthur kemarin mengunjungi keluarga Suster John di Vazhakala, dekat Kochi, pusat komersial di Kerala.
Setelah menyampaikan ucapan belasungkawa Uskup Agung Mayor menyerahkan bantuan kepada para sahabat dari Suster Valsa.
"suster itu telah memberikan hidupnya untuk orang miskin dan berjuang yang panjang untuk mencoba melindungi hak-hak warga suku. Ia telah menunjukkan kepada dunia bagaimana membela orang miskin dan mendedikasikan hidupnya untuk Gereja dan imannya” ujarnya.
Ia juga menuntut kepada pihak yang bertanggung jawab atas kematian biarawati itu untuk dibawa ke pengadilan.
Saudaranya, Suster John, MJ Baby mengatakan dia telah mengingatkan saudarinya untuk tidak kembali ke Jharkhand ketika ia datang ke rumah untuk berlibur pada akhir Agustus.
“Saya mengatakan kepadanya untuk tidak kembali setelah ia bercerita tentang ancaman yang ia telah menerima,” katanya.
Keluarga percaya biarawati itu dibunuh oleh orang-orang terkait dengan perusahaan pertambangan batu bara, Panem Coal Mines dimana suster itu berkampanye menentangnya operasinya di tempat itu karena lebih banyak merugikan warga sekitar daripada memberi keuntungan.
Dengan memberikan pujian kepada biarawati yang tewas itu, ketua Dewan Katolik Latin daerah Kerala, Uskup Agung Calist Soosapakiam Maria mengatakan “Melalui teladan hidup dan keberanian untuk memerangi kejahatan, Suster Yohanes telah menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu mendedikasikan kembali hidup kita untuk iman kita dan bekerja untuk orang miskin.” (Ucanaews/Cathnews Indonesia/Tim PPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Biarawati berusia 53 tahun dari Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Yesus dan Maria ditemukan tewas di rumahnya di Distrik Pakur, sebuah daerah terpencil di Negara Bagian Jharkhand, India bagian timur.
Menurut laporan sekelompok massa sekitar 50 orang berkumpul di luar rumahnya di Desa Pachua sesaat sebelum ia tewas. Sedangkan laporan sebelumnya mengatakan kalau biarawati itu ditembak mati.
Uskup Agung dan kepala Gereja Siro-Malabar, Mgr George Alencherry, dan Kuria Uskup Bosco Puthur kemarin mengunjungi keluarga Suster John di Vazhakala, dekat Kochi, pusat komersial di Kerala.
Setelah menyampaikan ucapan belasungkawa Uskup Agung Mayor menyerahkan bantuan kepada para sahabat dari Suster Valsa.
"suster itu telah memberikan hidupnya untuk orang miskin dan berjuang yang panjang untuk mencoba melindungi hak-hak warga suku. Ia telah menunjukkan kepada dunia bagaimana membela orang miskin dan mendedikasikan hidupnya untuk Gereja dan imannya” ujarnya.
Ia juga menuntut kepada pihak yang bertanggung jawab atas kematian biarawati itu untuk dibawa ke pengadilan.
Saudaranya, Suster John, MJ Baby mengatakan dia telah mengingatkan saudarinya untuk tidak kembali ke Jharkhand ketika ia datang ke rumah untuk berlibur pada akhir Agustus.
“Saya mengatakan kepadanya untuk tidak kembali setelah ia bercerita tentang ancaman yang ia telah menerima,” katanya.
Keluarga percaya biarawati itu dibunuh oleh orang-orang terkait dengan perusahaan pertambangan batu bara, Panem Coal Mines dimana suster itu berkampanye menentangnya operasinya di tempat itu karena lebih banyak merugikan warga sekitar daripada memberi keuntungan.
Dengan memberikan pujian kepada biarawati yang tewas itu, ketua Dewan Katolik Latin daerah Kerala, Uskup Agung Calist Soosapakiam Maria mengatakan “Melalui teladan hidup dan keberanian untuk memerangi kejahatan, Suster Yohanes telah menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu mendedikasikan kembali hidup kita untuk iman kita dan bekerja untuk orang miskin.” (Ucanaews/Cathnews Indonesia/Tim PPGI)
Sumber: Kabargereja.tk Baca Selengkapnya...
Memaknai Pentakosta
Warta Jemaat Minggu 27 Mei 2012
Pencurahan Roh Kudus memberi makna baru di dalam kehidupan para murid Yesus (KPR 2:1-13). Perubahan radikal terjadi di dalam seluruh aspek hidup mereka. Petrus yang menyangkal Yesus diubah menjadi Petrus yang pemberani. Bukan pemberani dalam hal negatif namun dalam hal menyaksikan Injil Kristus. Kata “saksi” adalah martoos yang diterjemahkan martyr, yaitu menjadi saksi atas sebuah peristiwa dan bila perlu membayarnya dengan nyawa untuk mempertahankan kesaksiannya.
Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali (Matius 26:69-75). Ia takut mengakui imannya kepada hamba perempuan Imam besar, sehingga ia menyakiti hati Tuhan. Mungkin ini terdengar wajar bila mengingat tekanan dan intimidasi yang terjadi terhadap para pengikut Yesus. Namun bila kita mengerti bahwa Petrus telah mengalami mujizat-mujizat spektakuler bersama Yesus, maka pengkhianatannya menjadi tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dosa penyangkalan Petrus tidak lebih baik dibandingkan dosa pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus. Perbedaannya: Petrus meresponi perkataan Yesus dan bertobat, sedangkan Yudas mengeraskan hati dan bunuh diri.
Kurang dari dua bulan setelah kegagalan Petrus, Roh Kudus dicurahkan. Petrus, yang penuh Roh Kudus, mengalami perubahan radikal dalam hidupnya, bahkan ia berani mengecam dan menasehati 3000 orang supaya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini (KPR 2:40). Ia juga berani menentang para pemimpin Yahudi saat dilarang memberitakan Injil dengan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Setelah itu kita tahu, penjara menantikannya.
Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk menolong kita berdoa dan menyembah Allah atau memiliki hidup yang penuh kemenangan saja. Namun lebih daripada itu, supaya kita memiliki kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil dimanapun kita berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (KPR 1:8). Baca Selengkapnya...
Pencurahan Roh Kudus memberi makna baru di dalam kehidupan para murid Yesus (KPR 2:1-13). Perubahan radikal terjadi di dalam seluruh aspek hidup mereka. Petrus yang menyangkal Yesus diubah menjadi Petrus yang pemberani. Bukan pemberani dalam hal negatif namun dalam hal menyaksikan Injil Kristus. Kata “saksi” adalah martoos yang diterjemahkan martyr, yaitu menjadi saksi atas sebuah peristiwa dan bila perlu membayarnya dengan nyawa untuk mempertahankan kesaksiannya.
Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali (Matius 26:69-75). Ia takut mengakui imannya kepada hamba perempuan Imam besar, sehingga ia menyakiti hati Tuhan. Mungkin ini terdengar wajar bila mengingat tekanan dan intimidasi yang terjadi terhadap para pengikut Yesus. Namun bila kita mengerti bahwa Petrus telah mengalami mujizat-mujizat spektakuler bersama Yesus, maka pengkhianatannya menjadi tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan. Dosa penyangkalan Petrus tidak lebih baik dibandingkan dosa pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus. Perbedaannya: Petrus meresponi perkataan Yesus dan bertobat, sedangkan Yudas mengeraskan hati dan bunuh diri.
Kurang dari dua bulan setelah kegagalan Petrus, Roh Kudus dicurahkan. Petrus, yang penuh Roh Kudus, mengalami perubahan radikal dalam hidupnya, bahkan ia berani mengecam dan menasehati 3000 orang supaya diselamatkan dari angkatan yang jahat ini (KPR 2:40). Ia juga berani menentang para pemimpin Yahudi saat dilarang memberitakan Injil dengan berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Setelah itu kita tahu, penjara menantikannya.
Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk menolong kita berdoa dan menyembah Allah atau memiliki hidup yang penuh kemenangan saja. Namun lebih daripada itu, supaya kita memiliki kuasa dan keberanian untuk memberitakan Injil dimanapun kita berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (KPR 1:8). Baca Selengkapnya...
Sejak 3 SD, Seks Adalah Duniaku
"Kelas 3 SD, pembantu saya memaksa saya untuk melakukan hubungan seks. Barulah di SMP saya melakukan hal itu lagi, saya melakukan hubungan intim dengan pacar saya. Jadi akhirnya, semua perempuan yang saya pacari rata-rata saya setubuhi karena sudah ketagihan," ungkap Ferry memulai kesaksiannya.
Menginjak kelas 2 SMP, Ferry mulai berhubungan dengan tante-tante. Menjelang kelulusannya dari SMP, Ferry pun pernah digilir oleh teman-teman tante-tante itu. Ferry tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap seks. Bahkan beberapa pacarnya sempat mengandung hasil dari hubungan intim mereka. Pada saat SMP dua orang, di SMA juga dua orang. Ferry pun mengambil abortus sebagai jalan pintas. Dari keempat pacarnya, hanya satu yang dibawa ke dokter dan sisanya melakukan abortus di dukun.
Dari sekian banyak perempuan yang dipacari Ferry, Ferry pun akhirnya bertemu dengan Ida yang saat ini menjadi istrinya. Hubungan Ferry dan Ida diwujudkan sampai ke jenjang pernikahan karena sebelum menikah, Ferry dan Ida sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan. Setelah menikah, Ferry tetap melakukan kebiasaannya tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Seringkali Ferry membohongi istrinya dengan alasan kerja dan dinas ke luar kota, padahal sebenarnya ia hanya bemain dengan perempuan lain. Kemana pun ia pergi, Ferry selalu melakukan perselingkuhan disertai perzinahan.
Hal tersebut terus berlanjut sampai suatu hari Ferry merasa menyesal dan memberitahukan istrinya perihal perselingkuhannya. Pengakuan itu pun tidak dikatakannya dengan jujur sepenuhnya, karena Ferry mengaku ia baru melakukannya untuk pertama kali padahal sebenarnya ia sudah sering melakukannya. Hati Ida pun terluka. Ida merasa harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri diinjak-injak. Sejak itulah Ferry dan Ida pun sering cekcok. Perbedaan pendapat sekecil apapun dapat menjadi masalah besar bagi mereka.
Keributan terus melanda rumah tangga mereka. Bahkan setelah dikaruniai anak pertama, kehidupan rumah tangga mereka tidak juga harmonis. Ida selalu teringat akan kelakuan Ferry dan membayangkan suaminya yang sedang berhubungan dengan perempuan lain. Kemarahan dalam hati Ida pun semakin berkembang.
Suatu hari Ida mengikuti sebuah persekutuan. Salah seorang hamba Tuhan yang juga menjadi teman Ida mengingatkan agar Ida mengikis semua rasa sakit hati yang dirasakannya terhadap Ferry. Semenjak saat itu, Ida selalu berdoa bagi Ferry, suaminya, sekalipun Ferry tetap berselingkuh. Ida pun mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ferry, bahkan dengan iman Ida bersyukur karena Tuhan sudah mengirim suami yang baik kepadanya, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan banyak hal positif lainnya. Ida sering memperkatakan perkataan iman itu di dalam doanya.
Hari demi hari terus berlangsung seperti itu sampai suatu ketika, Ferry mengikuti sebuah camp khusus pria atas bujukan Ida. Dalam camp itu, ada salah seorang hamba Tuhan yang membahas tentang abortus. Ferry pun diingatkan mengenai kejadian di masa lalu hidupnya, bagaimana ia membunuh darah dagingnya sendiri. Pada saat itu, secara pribadi, Ferry berani mengadakan pengakuan dosa secara total dari hati sanubarinya yang terdalam. Hari itu juga, Ferry menelepon ke rumah dan mengakui dosanya di hadapan anak dan istrinya.
"Saya minta ampun sama mama, karena Tuhan sudah jamah saya. Yang saya rasakan, selama ini saya sudah menyiksa mama dan anak-anak," ujar Ferry kepada Ida, istrinya.
Tidak cukup sampai di situ, keesokan harinya subuh-subuh, Ferry sudah kembali menelepon anak-anaknya dari camp. Saat anak sulungnya mengangkat telepon, Ferry pun berucap, "Kakak, papa minta maaf sama kakak karena selama ini papa suka marah-marah sama kakak. Sama adek juga, papa mau minta maaf karena papa selama ini suka nelantarin adek." Anak Ferry hanya dapat menangis, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya menangis mendengarkan semua ucapan ayahnya.
"Saya benar-benar merasakan seperti baru pertama kali menikah kembali. Kasih yang mula-mula itu tumbuh," ujar Ida mengungkapkan perasaannya di awal pertobatan Ferry.
Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Ferry dan Ida. Dengan hati nuraninya, Ferry pun dapat melepaskan keterikatannya terhadap seks dan perselingkuhannya dengan wanita lain. Hubungan yang terjalin di antara Ferry dan Ida pun berjalan dengan baik sekali. Ferry jadi sering mengucapkan kata-kata ‘sayang' kepada anak-anaknya dan menjadi seorang kepala keluarga yang sangat perduli terhadap keluarganya.
"Kalau berbicara Ferry sudah tidak meledak-ledak lagi. Tutur katanya juga sudah baik. Perubahan nyata tampak dari kerinduannya akan pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus, lebih semangat," ujar Fabianus Chandramata, pembimbing rohani Ferry.
"Kami semua dengan anak-anak merasakan damai sejahtera dan suasana sorgawi yang daripada Tuhan," ujar Ida.
"Saya juga tidak mau hidup damai sejahtera yang Tuhan sudah berikan kepada saya, saya hilangkan begitu saja. Saya tidak mau. Saya sudah merasakan kehidupan damai sejahtera dengan keluarga yang saya bina saat ini," ujar Ferry menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Ferry Daniel
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Menginjak kelas 2 SMP, Ferry mulai berhubungan dengan tante-tante. Menjelang kelulusannya dari SMP, Ferry pun pernah digilir oleh teman-teman tante-tante itu. Ferry tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap seks. Bahkan beberapa pacarnya sempat mengandung hasil dari hubungan intim mereka. Pada saat SMP dua orang, di SMA juga dua orang. Ferry pun mengambil abortus sebagai jalan pintas. Dari keempat pacarnya, hanya satu yang dibawa ke dokter dan sisanya melakukan abortus di dukun.
Dari sekian banyak perempuan yang dipacari Ferry, Ferry pun akhirnya bertemu dengan Ida yang saat ini menjadi istrinya. Hubungan Ferry dan Ida diwujudkan sampai ke jenjang pernikahan karena sebelum menikah, Ferry dan Ida sudah jatuh ke dalam dosa perzinahan. Setelah menikah, Ferry tetap melakukan kebiasaannya tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Seringkali Ferry membohongi istrinya dengan alasan kerja dan dinas ke luar kota, padahal sebenarnya ia hanya bemain dengan perempuan lain. Kemana pun ia pergi, Ferry selalu melakukan perselingkuhan disertai perzinahan.
Hal tersebut terus berlanjut sampai suatu hari Ferry merasa menyesal dan memberitahukan istrinya perihal perselingkuhannya. Pengakuan itu pun tidak dikatakannya dengan jujur sepenuhnya, karena Ferry mengaku ia baru melakukannya untuk pertama kali padahal sebenarnya ia sudah sering melakukannya. Hati Ida pun terluka. Ida merasa harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri diinjak-injak. Sejak itulah Ferry dan Ida pun sering cekcok. Perbedaan pendapat sekecil apapun dapat menjadi masalah besar bagi mereka.
Keributan terus melanda rumah tangga mereka. Bahkan setelah dikaruniai anak pertama, kehidupan rumah tangga mereka tidak juga harmonis. Ida selalu teringat akan kelakuan Ferry dan membayangkan suaminya yang sedang berhubungan dengan perempuan lain. Kemarahan dalam hati Ida pun semakin berkembang.
Suatu hari Ida mengikuti sebuah persekutuan. Salah seorang hamba Tuhan yang juga menjadi teman Ida mengingatkan agar Ida mengikis semua rasa sakit hati yang dirasakannya terhadap Ferry. Semenjak saat itu, Ida selalu berdoa bagi Ferry, suaminya, sekalipun Ferry tetap berselingkuh. Ida pun mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ferry, bahkan dengan iman Ida bersyukur karena Tuhan sudah mengirim suami yang baik kepadanya, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan banyak hal positif lainnya. Ida sering memperkatakan perkataan iman itu di dalam doanya.
Hari demi hari terus berlangsung seperti itu sampai suatu ketika, Ferry mengikuti sebuah camp khusus pria atas bujukan Ida. Dalam camp itu, ada salah seorang hamba Tuhan yang membahas tentang abortus. Ferry pun diingatkan mengenai kejadian di masa lalu hidupnya, bagaimana ia membunuh darah dagingnya sendiri. Pada saat itu, secara pribadi, Ferry berani mengadakan pengakuan dosa secara total dari hati sanubarinya yang terdalam. Hari itu juga, Ferry menelepon ke rumah dan mengakui dosanya di hadapan anak dan istrinya.
"Saya minta ampun sama mama, karena Tuhan sudah jamah saya. Yang saya rasakan, selama ini saya sudah menyiksa mama dan anak-anak," ujar Ferry kepada Ida, istrinya.
Tidak cukup sampai di situ, keesokan harinya subuh-subuh, Ferry sudah kembali menelepon anak-anaknya dari camp. Saat anak sulungnya mengangkat telepon, Ferry pun berucap, "Kakak, papa minta maaf sama kakak karena selama ini papa suka marah-marah sama kakak. Sama adek juga, papa mau minta maaf karena papa selama ini suka nelantarin adek." Anak Ferry hanya dapat menangis, ia tak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya menangis mendengarkan semua ucapan ayahnya.
"Saya benar-benar merasakan seperti baru pertama kali menikah kembali. Kasih yang mula-mula itu tumbuh," ujar Ida mengungkapkan perasaannya di awal pertobatan Ferry.
Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Ferry dan Ida. Dengan hati nuraninya, Ferry pun dapat melepaskan keterikatannya terhadap seks dan perselingkuhannya dengan wanita lain. Hubungan yang terjalin di antara Ferry dan Ida pun berjalan dengan baik sekali. Ferry jadi sering mengucapkan kata-kata ‘sayang' kepada anak-anaknya dan menjadi seorang kepala keluarga yang sangat perduli terhadap keluarganya.
"Kalau berbicara Ferry sudah tidak meledak-ledak lagi. Tutur katanya juga sudah baik. Perubahan nyata tampak dari kerinduannya akan pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus, lebih semangat," ujar Fabianus Chandramata, pembimbing rohani Ferry.
"Kami semua dengan anak-anak merasakan damai sejahtera dan suasana sorgawi yang daripada Tuhan," ujar Ida.
"Saya juga tidak mau hidup damai sejahtera yang Tuhan sudah berikan kepada saya, saya hilangkan begitu saja. Saya tidak mau. Saya sudah merasakan kehidupan damai sejahtera dengan keluarga yang saya bina saat ini," ujar Ferry menutup kesaksiannya.
Sumber Kesaksian :
Ferry Daniel
Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Bad Relationship, Mengapa Masih Dipertahankan?
Reina sudah 8 tahun pacaran dengan Rio, namun sebenarnya dalam tiga tahun terakhir hubungan mereka sudah tidak sehat dan Rio makin menunjukan belangnya. Rio sudah beberapa kali ketahuan selingkuh, serta berani bersikap kasar baik secara fisik maupun psikis terhadap Reina. Sebenarnya Reina pun sudah tidak tahan dengan perlakukan Rio, tapi dia tidak bisa mengambil sikap untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah tidak sehat.
Selain kisah Reina masih banyak kisah para wanita yang memilih bertahan dengan kondisi hubungan pacaran yang tidak sehat, berikut beberapa alasan yang mungkin digunakan para wanita untuk mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat itu :
Apa Kata Orang Kalau Saya Putus?
Ada banyak wanita yang berpikir bahwa lebih baik mempertahankan hubungan yang buruk daripada menjadi jomblo. Lebih parah lagi, hal ini dikarenakan mereka takut menjadi bulan-bulanan orang lain karena wanita jomblo dianggap “wanita yang tidak laku”. Mindset ini sangat keliru, jomblo bukanlah akhir dunia, justru sebaliknya, akhir dari sebuah hubungan merupakan awal untuk sesuatu yang baru. Jangan sia-siakan waktu anda untuk sesuatu yang tidak sehat dan akan menghambat perkembangan anda.
Saya tidak yakin bisa mendapatkan yang seperti dia
Salah satu alasan seseorang tetap bertahan dalam sebuah hubungan adalah karena adanya jaminan yang dirasa menguntungkan dirinya. Jaminan ini bisa beragam, mulai dari materi, popularitas, status sosial dan lain sebagainya. Ini adalah fondasi yang salah dalam sebuah hubungan, jika dipaksakan hal ini nantinya akan membawa kehancuran dalam pernikahan.
Tanpanya hidup saya tidak utuh
Banyak wanita yang merasa dirinya menjadi utuh saat bisa mendapatkan seorang pria untuk menjadi kekasihnya. Padahal hal ini sebenarnya tidak akan bisa memuaskan anda sepenuhnya, karena anda tidak akan menjadi utuh sampai anda benar-benar mengerti bahwa anda utuh di dalam Tuhan. Keinginan untuk mendapat penghargaan dalam diri
Saya Mencintai Dia, TITIK!
Cinta memang membutuhkan pengorbanan, namun setiap pengorbanan itu haruslah dilakukan dengan hikmat. Jangan sampai anda dibutakan oleh perasaan anda sehingga anda tidak lagi mengetahui mana yang baik dan tidak. Coba tanya pada orang terdekat anda tentang pengorbanan yang sudah anda lakukan,
Saya yakin dia akan berubah setelah menikah nanti
Setiap orang memang memiliki kesempatan untuk berubah, namun hal itu harus bersumber dari dirinya sendiri. Coba komunikasikan keinginan anda untuk melihat perubahan dalam diri pasangan anda, dan lihat reaksinya. Jika memang selama masa pacaran pasangan anda tidak menunjukan indikasi untuk berubah, mungkin memang dia tidak menginginkannya dan pernikahan tidak akan mengubahnya kebiasaan atau karakter buruknya itu.
Mungkin masih banyak alasan-alasan lain mengapa wanita memilih untuk bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tidak sehat. Namun salah satu hal yang harus dikroscek saat mengalami hubungan yang sudah tidak sehat adalah, tujuan dari pacaran itu sendiri. Jika tujuan atau orientasi pacaran anda adalah untuk menikah maka seharusnya anda memilih pasangan yang terbaik, dan tentu saja melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Selain kisah Reina masih banyak kisah para wanita yang memilih bertahan dengan kondisi hubungan pacaran yang tidak sehat, berikut beberapa alasan yang mungkin digunakan para wanita untuk mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat itu :
Apa Kata Orang Kalau Saya Putus?
Ada banyak wanita yang berpikir bahwa lebih baik mempertahankan hubungan yang buruk daripada menjadi jomblo. Lebih parah lagi, hal ini dikarenakan mereka takut menjadi bulan-bulanan orang lain karena wanita jomblo dianggap “wanita yang tidak laku”. Mindset ini sangat keliru, jomblo bukanlah akhir dunia, justru sebaliknya, akhir dari sebuah hubungan merupakan awal untuk sesuatu yang baru. Jangan sia-siakan waktu anda untuk sesuatu yang tidak sehat dan akan menghambat perkembangan anda.
Saya tidak yakin bisa mendapatkan yang seperti dia
Salah satu alasan seseorang tetap bertahan dalam sebuah hubungan adalah karena adanya jaminan yang dirasa menguntungkan dirinya. Jaminan ini bisa beragam, mulai dari materi, popularitas, status sosial dan lain sebagainya. Ini adalah fondasi yang salah dalam sebuah hubungan, jika dipaksakan hal ini nantinya akan membawa kehancuran dalam pernikahan.
Tanpanya hidup saya tidak utuh
Banyak wanita yang merasa dirinya menjadi utuh saat bisa mendapatkan seorang pria untuk menjadi kekasihnya. Padahal hal ini sebenarnya tidak akan bisa memuaskan anda sepenuhnya, karena anda tidak akan menjadi utuh sampai anda benar-benar mengerti bahwa anda utuh di dalam Tuhan. Keinginan untuk mendapat penghargaan dalam diri
Saya Mencintai Dia, TITIK!
Cinta memang membutuhkan pengorbanan, namun setiap pengorbanan itu haruslah dilakukan dengan hikmat. Jangan sampai anda dibutakan oleh perasaan anda sehingga anda tidak lagi mengetahui mana yang baik dan tidak. Coba tanya pada orang terdekat anda tentang pengorbanan yang sudah anda lakukan,
Saya yakin dia akan berubah setelah menikah nanti
Setiap orang memang memiliki kesempatan untuk berubah, namun hal itu harus bersumber dari dirinya sendiri. Coba komunikasikan keinginan anda untuk melihat perubahan dalam diri pasangan anda, dan lihat reaksinya. Jika memang selama masa pacaran pasangan anda tidak menunjukan indikasi untuk berubah, mungkin memang dia tidak menginginkannya dan pernikahan tidak akan mengubahnya kebiasaan atau karakter buruknya itu.
Mungkin masih banyak alasan-alasan lain mengapa wanita memilih untuk bertahan dalam sebuah hubungan yang sudah tidak sehat. Namun salah satu hal yang harus dikroscek saat mengalami hubungan yang sudah tidak sehat adalah, tujuan dari pacaran itu sendiri. Jika tujuan atau orientasi pacaran anda adalah untuk menikah maka seharusnya anda memilih pasangan yang terbaik, dan tentu saja melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
World Prayer Assembly dan Kebangkitan Nasional
Satu minggu lalu tepatnya mulai Senin 14 Mei 2012 merupakan pekan paling sakralis untuk rakyat Indonesia dan umat Kristen khususnya, dimana gerakan Doa Akbar Sedunia atau World Prayer Assembly 2012 (WPA 2012) berlangsung penuh secara serentak, menjangkau masyarakat disini selama lima hari penuh.
WPA 2012 bukan hanya gerakan doa semata. Namun sebuah gelombang yang membangkitkan sebuah bangsa keluar dari keterpurukan. Hal inilah yang terjadi ketika WPA pertama diselenggarakan di Korea Selatan pada 1984, carut-marut negara ginseng tersebut, perlahan bangkit dan kini menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat didunia. Ini salah satu bukti kekuatan sebuah gerakan doa yang membangkitkan.
Bukan sesuatu yang kebetulan, jika kini WPA diselenggarakan di Indonesia. Kurang lebih 9.000 peserta dengan 2.500 orang di antaranya pimpinan gereja dari 86 negara, datang berdoa untuk sebuah kebangkitan besar di Indonesia, juga dunia pada umumnya. Tepat ditengah carut-marutnya kondisi ekonomi, sosial dan hukum yang terus terkapar membelenggu negara yang kaya akan sumber daya alam terbesar didunia ini.
Momen WPA pekan lalu pun mengambil juga hari peringatan Kenaikan Tuhan Yesus pada 17 Mei, dimana ratusan ribu umat berkumpul dan berdoa di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan serempak digelar di 371 kota di Indonesia. Membuktikan kedahsyatan “waktunya” Tuhan dalam beracara di Indonesia. Hingga WPA selesai pada Jumat 18 Mei pun masih banyak umat yang haus akan WPA dengan menyaksikan berbagai rekaman video kegiatan di website rohani.
Dan selang sehari kemudian, Minggu 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) kembali diperingati, meskipun banyak yang tidak mengetahuinya. Harkitnas menjadi penutup sempurna dalam rangkaian satu pekan gerakan doa WPA. Daripadanya kita disadarkan bahwa penjajahan masih terjadi. Namun bukan dari luar, namun penjajahan dari diri kita sendiri yang malas untuk bangkit dari keterpurukan, dan asyik untuk berkonflik dengan sesama saudara sendiri.
Korelasi inilah sesungguhnya yang harus disadari bersama bahwa, kegerakan doa menjadi pembangkit masyarakat Indonesia untuk bangun dari keterpurukan, dan meraih kembali berkat yang telah Tuhan curahkan, menjadi pribadi yang menjadi berkat bagi sesamanya! Selamat Berdoa…
Sumber : Jawaban.com - Daniel Tanamal Baca Selengkapnya...
WPA 2012 bukan hanya gerakan doa semata. Namun sebuah gelombang yang membangkitkan sebuah bangsa keluar dari keterpurukan. Hal inilah yang terjadi ketika WPA pertama diselenggarakan di Korea Selatan pada 1984, carut-marut negara ginseng tersebut, perlahan bangkit dan kini menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat didunia. Ini salah satu bukti kekuatan sebuah gerakan doa yang membangkitkan.
Bukan sesuatu yang kebetulan, jika kini WPA diselenggarakan di Indonesia. Kurang lebih 9.000 peserta dengan 2.500 orang di antaranya pimpinan gereja dari 86 negara, datang berdoa untuk sebuah kebangkitan besar di Indonesia, juga dunia pada umumnya. Tepat ditengah carut-marutnya kondisi ekonomi, sosial dan hukum yang terus terkapar membelenggu negara yang kaya akan sumber daya alam terbesar didunia ini.
Momen WPA pekan lalu pun mengambil juga hari peringatan Kenaikan Tuhan Yesus pada 17 Mei, dimana ratusan ribu umat berkumpul dan berdoa di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan serempak digelar di 371 kota di Indonesia. Membuktikan kedahsyatan “waktunya” Tuhan dalam beracara di Indonesia. Hingga WPA selesai pada Jumat 18 Mei pun masih banyak umat yang haus akan WPA dengan menyaksikan berbagai rekaman video kegiatan di website rohani.
Dan selang sehari kemudian, Minggu 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) kembali diperingati, meskipun banyak yang tidak mengetahuinya. Harkitnas menjadi penutup sempurna dalam rangkaian satu pekan gerakan doa WPA. Daripadanya kita disadarkan bahwa penjajahan masih terjadi. Namun bukan dari luar, namun penjajahan dari diri kita sendiri yang malas untuk bangkit dari keterpurukan, dan asyik untuk berkonflik dengan sesama saudara sendiri.
Korelasi inilah sesungguhnya yang harus disadari bersama bahwa, kegerakan doa menjadi pembangkit masyarakat Indonesia untuk bangun dari keterpurukan, dan meraih kembali berkat yang telah Tuhan curahkan, menjadi pribadi yang menjadi berkat bagi sesamanya! Selamat Berdoa…
Sumber : Jawaban.com - Daniel Tanamal Baca Selengkapnya...
WPA 2012: Sebuah Gelombang Gerakan Doa Antar Generasi
Adanya jurang pemisah atau pembatas antar generasi seringkali membuat sebuah kegerakan rohani tidak dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hal ini menjadi sebuah perhatian khusus gereja Tuhan dalam pertemuan World Prayer Assembly 2012 yang diselenggarakan di SICC, Sentul pada 14-18 Mei 2012 lalu dengan mencetuskan doa tiga generasi.
Brian Mills, dalam Pleno “Trend Global dan Bagaimana kita Seharusnya Meresponi Kegerakan Doa Global” memaparkan sebuah fakta menyedihkan gereja di Eropa.
“Anak-anak muda di dunia barat, terutama di Eropa barat sudah tidak menerima warisan rohani (dari generasi sebelumnya –red), sehingga saat ini berita Injil menjadi sesuatu yang baru bagi mereka,” demikian ungkap Brian.
Untuk itu Brian mengajak gereja Tuhan untuk melihat visi ke depan dan berdoa dengan strategi. Bukan hanya bereaksi terhadap perubahan dunia, namun membawa agenda Tuhan serta bekerja bersama untuk menggenapi rencana Tuhan.
Dalam pleno yang berbeda Mark McClendon, fasilitator kegerakan Anak Bersinar Bangsa Gemilang juga menyampaikan betapa pentingnya gereja memperhatikan anak-anak.
“Ada orang mengatakan bahwa anak-anak itu seperti spon. Apa saja mereka serap,” demikian jelas Mark. “Apapun yang Anda masukkan kepada mereka, akan keluar dari mereka. Tetapi jika Anda tidak masukkan apa-apa, dunia akan menjadi guru mereka. Media yang akan memuridkan mereka. Dunia yang akan melatih mereka. Jadi kita harus ambil mereka dan latih mereka.”
Menurut Mark, anak-anak bukan hanya seperti spon, tetapi juga seperti sebuah anak panah, harus dibentuk, harus diarahkan lalu dilepaskan. Berdasarkan survey yang didapat oleh Mark, ada sekitar 390 juta anak-anak yang telah dilahirkan baru. Karenanya ia percaya bahwa anak-anak adalah salah satu kunci dari tuaian akhir jaman.
Untuk sebuah tsunami kegerakan rohani, jurang pemisah antar generasi harus dihancurkan. Untuk itu rekonsiliasi antar generasi harus dilakukan dan juga regenerasi dalam tubuh Kristus harus berjalan dengan baik. Mari berikan tempat khusus bagi anak-anak dalam tubuh Kristus, sebagaimana Tuhan juga menganggap mereka istimewa dimata-Nya.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Brian Mills, dalam Pleno “Trend Global dan Bagaimana kita Seharusnya Meresponi Kegerakan Doa Global” memaparkan sebuah fakta menyedihkan gereja di Eropa.
“Anak-anak muda di dunia barat, terutama di Eropa barat sudah tidak menerima warisan rohani (dari generasi sebelumnya –red), sehingga saat ini berita Injil menjadi sesuatu yang baru bagi mereka,” demikian ungkap Brian.
Untuk itu Brian mengajak gereja Tuhan untuk melihat visi ke depan dan berdoa dengan strategi. Bukan hanya bereaksi terhadap perubahan dunia, namun membawa agenda Tuhan serta bekerja bersama untuk menggenapi rencana Tuhan.
Dalam pleno yang berbeda Mark McClendon, fasilitator kegerakan Anak Bersinar Bangsa Gemilang juga menyampaikan betapa pentingnya gereja memperhatikan anak-anak.
“Ada orang mengatakan bahwa anak-anak itu seperti spon. Apa saja mereka serap,” demikian jelas Mark. “Apapun yang Anda masukkan kepada mereka, akan keluar dari mereka. Tetapi jika Anda tidak masukkan apa-apa, dunia akan menjadi guru mereka. Media yang akan memuridkan mereka. Dunia yang akan melatih mereka. Jadi kita harus ambil mereka dan latih mereka.”
Menurut Mark, anak-anak bukan hanya seperti spon, tetapi juga seperti sebuah anak panah, harus dibentuk, harus diarahkan lalu dilepaskan. Berdasarkan survey yang didapat oleh Mark, ada sekitar 390 juta anak-anak yang telah dilahirkan baru. Karenanya ia percaya bahwa anak-anak adalah salah satu kunci dari tuaian akhir jaman.
Untuk sebuah tsunami kegerakan rohani, jurang pemisah antar generasi harus dihancurkan. Untuk itu rekonsiliasi antar generasi harus dilakukan dan juga regenerasi dalam tubuh Kristus harus berjalan dengan baik. Mari berikan tempat khusus bagi anak-anak dalam tubuh Kristus, sebagaimana Tuhan juga menganggap mereka istimewa dimata-Nya.
Sumber: Jawaban.com Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)






